Indonesia, Bangsa yang Ghafuurun Rahiim (Pengampun dan Penyayang)

10 Maret 2010 at 2:55 PM 2 komentar


Beberapa waktu yang lalu setelah mendengarkan Kajian Tafsir Alquran yang disampaikan oleh K.H. Husein Hamid Al-Athas di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta pada tanggal 25 Februari 2010, menarik kiranya beberapa hal yang disinggung oleh beliau berkaitan dengan kondisi negeri ini. Masih hangat di tengah-tengah kita kasus Bank Century, Cicak versus Buaya, Prita Mulyasari, dan beberapa yang lainnya berkenaan dengan penegakan hukum di negeri ini. Selain itu, masih sering pula kita dengar Fatwa Haram ini dan itu yang kontroversial, yang seringnya tak diindahkan oleh umat Islam sendiri, entah karena apa.

Bagi yang sering berburu, tentunya tak asing lagi dengan binatang pemburu dan binatang hasil buruan. Seperti halnya binatang pemburu (misalkan anjing pemburu) yang setelah memburu kemudian hasil buruannya diberikan kepada tuannya. Hasil buruan itu diambil oleh si tuan, kemudian dipotong sedikit, lalu diberikan potongan yang sedikit itu kepada si anjing pemburu. Kira-kira nasibnya anjing pemburu kasihan atau tidak?

Apa yang dialami oleh anjing pemburu ini mungkin hampir mirip dengan yang dialami oleh para ulama dan pejabat di negeri ini. Mungkin tak sedikit para ustadz, kyai, ataupun ulama, serta para pejabat di negeri ini yang diberlakukan seperti anjing pemburu. Mereka disuruh berburu, memberikan fatwa, diperalat untuk berbagai macam tujuan. Ujung-ujungnya yang paling senang tentunya adalah si tuan yag menyuruh berburu, karena mereka yang mendapatkan keuntungan dunia. Sedangkan di akhirat nanti, ulamanya lah yang dituntut lebih dahulu, karena ulamanya yang tahu mengenai halal dan haram, mengenai yang haq dan yang bathil.

Sebelum si tuan (pejabat, konglomerat, dan sebagainya) yang telah memanfaatkan jasa si ulama untuk kepentingan dirinya (si tuan), maka ulamanya lah dahulu yang masuk ke jurang api neraka. Karena itulah, orang yang rugi adalah yang menjual akhiratnya untuk dunianya. Namun yang lebih rugi lagi adalah yang menjual akhiratnya untuk dunianya orang lain. Seperti halnya anjing pemburu, sekembalinya dari berburu, sudah capek memburu ke sana ke mari, kemudian hasil buruan diserahkan kepada tuannya. Namun alangkah sedihnya, si tuan hanya memberikan sedikit hasil buruan tersebut kepada si anjing.

Begitu juga yang terjadi pada para pejabat negeri ini yang dimanfaatkan oleh konglomerat. Si konglomerat minta tanda tangan dan dilancarkan urusannya kepada si pejabat dengan imbalan bahwa si pejabat nantinya akan mendapatkan mobil yang mahal dan mewah (mungkin seperti mobil Baby Benz). Senanglah si pejabat diiming-iming dengan hadiah yang mahal dan mewah seperti itu, sehingga muluslah urusan si pejabat.

Si pejabat memang mendapatkan yang dijanjikan oleh si konglomerat. Tapi si pejabat mungkin tidak tahu, lupa, pura-pura tidak tahu, atau mungkin pura-pura lupa bahwa yang didapatkan oleh si konglomerat tentunya lebih besar, bertrilyun-trilyun, dan tidak sebanding dengan imbalan yang diterimanya. Oleh si konglomerat, duit yang telah didapatkannya kemudian dibawa kabur ke luar negeri. Yang terjadi kemudian, si pejabat ditangkap, sedangkan konglomeratnya lari lenggang kangkung menyelamatkan diri ke luar negeri.

Sungguh pejabat yang seperti ini sangat bodoh luar biasa. Si pejabat mengatakan, “Sungguh luar biasa, Om Fulan kirimin saya Baby Benz.” Dia tak tahu, padahal uang negara yang telah digelontorkan kepada si konglomerat. Begitu datang penangkapan, si konglomerat lari ke luar negeri, kemudian si pejabat ditangkap.

Kita tentunya tahu bahwa Bangsa Indonesia ini punya watak pemaaf. Setelah beberapa tahun kemudian, si konglomerat kembali lagi ke negeri ini, kemudian mendeirikan lagi bank baru. Sungguh menakjubkan, ternyata nama si konglomerat sudah dibersihkan. Mereka (para pejabat) mengatakan, “Innallaaha ghafuurun rahiim. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Masa’ sih kita nggak memaafkan orang yang berdosa?” Dulu kakek moyangnya mendirikan Bank Q, kemudian setelah itu dia dan anaknya melarikan diri ke luar negeri. Kemudian anaknya datang dan kembali lagi ke negeri ini mendirikan Bank X.

Seperti diketahui bersama, bahwa pendiri Bank Century itu sudah bermasalah bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali. Tapi kemudian para pejabat mengatakan, “Kita harus ghafuurun rahiim, karena Allah ghafuurun rahiim.”

Jadi, sungguh yang jadi korban kemudian adalah rakyat kecil. Mencuri 4 buah jagung, hukumannya yaitu masuk penjara selama 4 bulan. Sedangkan Kasus Skandal Bank Century tak jelas nasibnya, jangan-jangan sebentar lagi akan dipeti-eskan (dibekukan—tidak diselediki lagi karena dianggap tak ada kasus). Oleh karena itu, kalau nyolong (mencuri) jangan tanggung-tanggung. Kalau nyolong tanggung-tanggung, maka tak ada yang mau berbelas kasihan, tak ada yang mau memanggil dan mendekati kita. Tapi kalau nyolongnya besar, maka si perampok malahan di Kepolisian dicium tangannya, kamarnya indah, bebas keluar masuk kapanpun dia mau.

Makanya kalau mau nyolong jangan tanggung-tanggung. Kalau mau masuk neraka jangan tanggung-tanggung, toh di neraka nanti hidupnya pasti akan susah. Jangankan di akhirat, di dunia juga dirinya menjadi susah jika ketahuan telah mencuri, bahkan sampai dipukuli oleh massa. Kalau begitu keadaannya, maka sekalian saja nyolong 5 Trilyun, sehingga kalau masuk penjara bisa negosiasi.

Jadi betul-betul proses yang terjadi di Indonesia luar biasa. Nyolong 4 jagung hukumannya 4 bulan, nyolong coklat 2 biji hukumannya berat, tapi yang nyolong 6,7 Trilyun dibiarkan begitu saja. Kalau negara kita seperti ini, berarti kita telah mempermalukan diri kita. Oleh karena itu, kita ingin para pemimpin di atas bangkit menegakkan keadilan, sehingga kehormatan bangsa yang 250 juta penduduknya yang mayoritas beragama Islam ini kembali kehormatannya.

Tapi memang kita patut bersyukur. Alahmdulillah, bangsa kita ini pemaaf, berlapang dada, dan suka memberikan ampun. Kalau ditampar sekali pipi kanan, besok diserahkan lagi yang kanan. Kalau pipi kiri yang ditampar, maka besoknya diserahkan lagi yang kiri. Innallaaha ghafuurun rahiim. Kalau ini mental bangsa kita, bukannya berarti kita berbelas kasihan, melainkan kita siap menerima untuk dilecehkan dan dipermainkan.

Kita berharap, mudah-mudahan Presiden kita insya Allah mengeluarkan keputusan dan mengambil tindakan tegas. Siapapun yan berbuat salah haruslah dihukum, sedangkan yang benar diberikan apresiasi. Dan kita tidak ingin ceramah para ulama dipolitisir untuk mengangkat ataupun menjatuhkan seseorang.

Kalau seseorang merasa dirinya diawasi oleh Allah, insya Allah takkan ada hal-hal seperti ini. Mudah-mudahan para ustadz, kyai, dan ulama di negeri ini tidak dekat-dekat dengan para koruptor. Jika para ulama kemasukan makanan dari para koruptor dan pejabat beramasalah, maka besok-besoknya fatwa si ulama akan berubah dan disesuaikan dengan pesanan sponsor. Kalau si ulama sudah dimasuki setan, tentunya bukan hanya si ulama yang bermasalah, melainkan keluarganya dan orang-orang yang mengikutinya juga jadi bermasalah terkena imbasnya. [Hanafi Mohan-Ciputat, Rabu 10 Maret 2010]

Sumber gambar:
1) http://kaliaja.blogspot.com/
2) http://snhadi.wordpress.com/

Tulisan ini dimuat di: https://thenafi.wordpress.com/

Entry filed under: Beriman secara Lapang. Tags: , , , , .

Lingkungan Taat Beragama Terpesona di Sidratil Muntaha

2 Komentar Add your own

  • 1. rona  |  1 Juni 2010 pukul 4:40 AM

    ada yang lebih penting lagi untuk perbaikan negeri ini, yaitu masing-masing bagian hendaknya melaksanakan kewajiban di bidangnya agar hasilnya maksimal, maksimalkan tupoksi dan urusi urusan sesuai dengan keahliannya,

    Suka

  • 2. Pujex Carlox's blog  |  2 Juni 2011 pukul 4:56 PM

    […] Indonesia, Bangsa yang Ghafuurun Rahiim (Pengampun dan Penyayang) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 393,074 hits
Maret 2010
S S R K J S M
« Feb   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Clicks

  • Tak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: