Menulis Bagai Menyusun Puzzle

12 Juni 2015 at 1:30 AM Tinggalkan komentar


puzzle2

Menelusuri jejak langkah yang membekas di jalan setapak demi setapak dengan cara menulis, sambil mengumpulkan puzzle yang telah terserak tercerai berai entah ke mana. Menulis itu bagaikan menyusun puzzle yang ada di dalam pikiran. Dengan menulis, maka puzzle yang tercerai-berai itu tersusun menjadi sesuatu yang berarti.

Yang pertama harus ditulis adalah menulis itu sendiri. Ketika huruf pertama tergores, maka akan terus bermunculan huruf-huruf yang lainnya. Semuanya mengalir. Lambat-laun terangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, hingga tersusun suatu tulisan yang utuh.

Tulislah huruf pertama. Tatap huruf tersebut sedalam-dalamnya. Dari satu huruf itu akan berpendaran huruf-huruf lainnya, bagai secercah cahaya lilin yang terangi gelap.

Tidak mesti yang ditulis duluan itu diletakkan di awal dan yang ditulis belakangan diletakkan di akhir. Jangan terpaku pada kerangka tulisan. Kerangka tersebut hanyalah acuan awal. Bisa saja ketika menulis agak berbeda dengan kerangka tersebut. Sebenarnya ada aturan dalam menulis, tapi tidak ada aturan yang baku berkaitan dengan tulis-menulis.

Jangan bingung ketika akan mulai menulis. Jika sudah bingung di awal menulis, maka sebenarnya sudah gagal sebelum memulai.

Waktu yang ideal untuk menulis bagi setiap orang itu begitu subjektifnya. Ada yang begitu lancar menulis ketika santai, namun ada juga yang sebaliknya. Ada yang lancar menulis ketika emosinya stabil, ada juga yang sebaliknya.

Menulis adalah pekerjaan yang mensinergikan antara indera, rasio, dan emosi. Karena itulah, menulis merupakan aktivitas yang superkompleks.

Abaikan semua teori dan aturan menulis. Kini, hal terpenting yang harus dilakukan adalah menulis, menulis, dan menulis. Abaikan semua teori dan aturan menulis, kemudian langsunglah menulis. Ada juga yang menyatakan bahwa tips terbaik menulis adalah: Lupakan semua tips, mulailah menulis. [~]

Hanafi Mohan
Ciputat, 31 Oktober – 3 November 2011

** Tulisan ini sebelumnya dimuat di Laman Blog Arus Deras

Entry filed under: Catatan Lepas, Serba-serbi Menulis. Tags: .

Kilas Waktu di Simpang Tiga Kapuas-Landak Raja Ali Haji, Muqaddimah Kitab “Bustân al-Kâtibîn”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 393,074 hits
Juni 2015
S S R K J S M
« Mei    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Top Clicks

  • Tak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: