Posts tagged ‘Iman’

Tingkatan Zuhud Dihubungkan dengan Hal yang Disukai

TINGKATAN ZUHUD DIHUBUNGKAN DENGAN HAL YANG DISUKAI

Disarikan dari Pengajian Tasawuf yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. pada tanggal 13 Agustus 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ada petuah-petuah para pendahulu kita (termasuk juga sahabat), dan juga ada hadis Rasulullah yang menyatakan:

Apabila kamu melihat seseorang hamba yang telah diberinya diam dan zuhud, dekatilah hamba itu. Sesungguhnya dia akan mengajarkanmu ilmu hikmah. (Al-Hadits).

Jika ada di antara kita, orang tersebut tidak banyak maunya, tidak cerewet, tidak neko-neko, pandangannya lurus. Lantas orang itu juga menampilkan penampilan zuhud. Sesungguhnya orang itu mempunyai uang, memiliki kekuasaan, tetapi orang tersebut tidak mau menampilkan diri sebagaimana halnya orang yang kaya dan berkedudukan. Rasulullah mengatakan, bahwa dekatilah orang tersebut, karena orang tersebut akan memberi hikmah.

Apakah hikmah?

Hikmah yaitu suatu informasi yang langsung menembus hati kita. Sekalipun orang itu bukan sarjana, juga bukan tokoh masyarakat, tapi apabila orang itu menampilkan dua kriteria ini (pendiam dan zuhud), maka orang seperti ini adalah kekasih Tuhan.

Seorang guru pernah mengatakan, jika pergi ke suatu kampung, carilah masjid yang paling tua di kampung itu. Datanglah lebih awal ke masjid tersebut, misalkan jauh sebelum salat maghrib. Kemudian carilah orang yang paling pertama masuk ke masjid tersebut. Orang tersebut biasanya duduk tafakkur dan juga tidak berkata-kata. Orang yang datang paling awal itu biasanya juga pulang paling akhir. Jika mendapati orang seperti ini, maka dekatilah ia, mintalah orang itu untuk mendoakan kita.

Orang yang seperti ini biasanya bukanlah orang sembarangan. Insya Allah orang seperti ini sudah mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Tuhan. Apalagi menurut orang-orang di sekitar tempat itu, bahwa pekerjaan orang tersebut memang seperti itulah adanya. Maka, bersahabatlah dengan orang tersebut, karena dia bukanlah orang sembarangan.

Jika engkau menginginkan dicintai oleh Allah, maka berzuhudlah di dunia ini. (di akhirat tentunya sudah tidak ada lagi zuhud). Rasulullah telah menjadikan sifat zuhud sebagai sebab dicintai oleh Allah. Jika ingin dicintai oleh Allah, maka berzuhudlah.

Apakah zuhud?

Zuhud adalah menghindari diperbudak oleh dunia (bukanlah membenci dunia). Orang yang dicintai oleh Allah adalah orang yang berada pada tingkatan derajat yang paling tinggi. Siapakah itu? Yaitu orang-orang yang menampilkan penampilan zuhud. Pemahaman sebaliknya (mafhum mukhalafah), bahwa orang yang mencintai dunia itu mendatangkan kemurkaan Allah.

Orang yang berorientasi kepada dunia, seolah-olah hidupnya hanya untuk menikmati dunia, menggenggam dunia, maka orang yang seperti ini tidak akan dicintai oleh Tuhan. Kita mencari-cari dunia, bukanlah kita segala-galanya untuk dunia. Dunia adalah kendaraan menuju akhirat, bukanlah kita yang sebaliknya dinaiki dunia.

Hadis lain mengatakan:

Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah akan memasukkan hikmah ke dalam hatinya. Maka lisannyapun berkata dengan hikmah. Allah mengenalkan kepadanya akan penyakit dunia dan obatnya sekaligus. Lalu Allah akan mengeluarkannya dari dunia dengan selamat ke dalam negeri kesejahteraan (surga).

Bagi orang yang zuhud, ada vibrasi positif yang mengalir di dalam diri orang tersebut, sehingga ucapan-ucapan orang yang seperti itu adalah hikmah, seperti tidak ada satu katapun yang mubazir yang keluar darinya, tak ada sepotong katapun yang sia-sia keluar dari mulut orang tersebut.

Ada orang yang berbicara selama dua jam, tetapi tidak ada yang bisa ditangkap, atau hanya sedikit sekali. Ada juga orang yang pendek bicaranya, tapi padat maknanya, mengiang-ngiang di telinga kita, dan tidak akan pernah terlupakan. Itulah ciri-ciri kekasih Tuhan.

Ada orang yang kiaiy besar, profesor doktor, sangat ilmiah, menarik pembawaannya, tetapi ketika kita pulang ke rumah, maka terlupakanlah semua yang disampaikan orang itu. Atau mungkin kita ingat, tapi tidak mempunyai daya tukik untuk mencegah kita melakukan dosa dan maksiat.

Tetapi sebaliknya, orang yang sudah terinstalasi ke dalam dirinya hikmah dari Allah, maka setiap kali kita akan melakukan dosa dan maksiat, maka terbayang-bayanglah wajah orang itu.

Rasulullah bersabda:

Celakalah bagi dunia, celakalah bagi dinar dan dirham. (Al-Hadits)

Maksudnya, jangan sampai mata uang itu yang membuat kita kalap, membuat kita buta, dan yang membuat kita terlena.

Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, Allah telah melarang kami menyimpan emas dan perak. Maka apakah yang seharusnya kami simpan?”

Dijawab oleh Rasulullah, “Salah seorang dari kamu hendaknya selalu membuat lisannya selalu berzikir, membuat hatinya untuk bersyukur, dan isteri yang shalihah yang membantunya untuk urusan akhirat.”

Mungkin banyak para isteri yang justeru mengajak para suaminya untuk menuntut dunia. Dan tidak sadar menjauhkan suaminya dari akhirat.

Firman Allah:

Perbekalan masa depan di rumah abadi (syurga) nanti adalah at-taqwa. (Al-Qur’an)

Umar ibn Khattab berkata: “Berzuhud terhadap dunia itu menenangkan hati dan jasad.

Kalau ada di antara kita yang tidak tenang, selalu gelisah, kering, walaupun sedang banyak uang, itu tandanya kita kurang zuhud.

Zuhud itu menenteramkan batin,

Bilal (sahabat, yang kemudian menjadi muazzinnya Rasulullah) berkata: “Sesungguhnya Allah menyuruh kita untuk berzuhud terhadap dunia. Akan tetapi kita malah menyukainya.

Ada orang yang di dalam pikirannya itu selalu uang. Untuk hal-hal yang tidak mendatangkan keuntungan materil baginya, maka ia takkan melakukannya.

Sengaja untuk menghindarkan akhirat, memburu dunia, maka dalam hal ini sebenarnya Tuhan sudah memalingkan perhatian orang tersebut ke dunia saja, dan hilang akan akhiratnya.

Tingkat Zuhud

Zuhud yang pertama, yaitu jika seorang yang berzuhud kepada dunia, tapi orang ini menyukai dunia, hatinya cenderung kepada dunia. Ini adalah tingkatan zuhud yang standard.

Zuhud yang kedua, yaitu ketika seseorang yang meninggalkan dunia dengan ringan, gampang sekali meninggalkan urusan dunia, karena dianggapnya hina dan dihubungkannya kepada apa yang diinginkan. Tak ada artinya dunia ini jika dibandingkan dengan kemulian akhirat.

Tingkatan ini sebenarnya juga masih ada kelemahan, karena kadang-kadang juga masih riya’. Ada orang yang meriya’kan zuhudnya. Orang yang seperti ini, pasti bukanlah contoh zuhud.

Zuhud yang ketiga, yaitu seorang yang berzuhud dengan ringan, tanpa beban, dia berzuhud dengan kezuhudannya. Inilah tingkatan yang paling tinggi.

Orang yang zuhud, tidak memandang kepada zuhudnya, kecuali ia memandang kepada yang dizuhudkannya. Orang yang zuhud sejati, dia tidak sadar bahwa dirinya itu zahid (zuhud).

Kalau ada orang yang menyadari dirinya berbuat baik, maka ini memang baik, tapi belumlah yang terbaik. Yang kita cari adalah kita tidak sadar kalau kita sudah melakukan kebaikan. Kita sudah tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan itu adalah kebaikan. Karena kalau seseorang masih sadar kalau dia sudah melakukan kebaikan, maka suatu waktu nanti dia akan riya’.

Tingkatan Zuhud yang dihubungkan dengan hal yang disukai

Tingkatan paling rendah, zuhudnya karena takut akan siksaan.

Tingkatan menengah, zuhudnya karena mengharapkan pahala. Ia lupakan neraka, tapi ia memohon surga. Maka ia melakukan perbuatan baik karena diiming-imingi oleh surga.

Tingkatan tertinggi, zuhudnya karena suka kepada Allah, bukan takut neraka, bukan ingin surga. Dia takut, dan dia mencintai Tuhannya. Berharap bertemu dengan Allah, hatinya tidak peduli lagi dengan kenikmatan-kenikmatan dan azab. Inilah zuhudnya orang-orang yang mencintai Allah. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang ma’rifah.

Tidak ada orang yang mencintai khusus kepada Allah, kecuali orang-orang yang mengenali Tuhannya. Tidak mungkin jiwa kita akan mampu mengenali Tuhan kalau kita ini berlumuran dosa.

Tiga cara mendekati Tuhan

Pertama, ketika kita sudah melakukan dosa, maka cara masuk yang paling baik untuk dekat dengan Tuhan adalah dengan beristighfar. Ketika beristighfar, maka di situ terbayanglah ketakutan kita terhadap Allah yang Maha penyiksa. Maka pada saat itu nyali kita menjadi kecil, dan kita menjadi sangat kecil dan takut kepada Tuhan. Inilah cara masuk yang paling bagus untuk dekat kepada Allah.

Kedua, dia tidak berdosa, tetapi orang itu ditimpa musibah: anaknya meninggal, suami atau isterinya tiba-tiba sakit keras. Ada musibah, maka ia pasti ingat Tuhan. Pada posisi seperti ini juga merupakan jalan masuk untuk menuju Tuhan.

Pasti kita ingat Tuhan pada saat melakukan dosa. Jika ada orang yang sudah tidak ingat lagi dengan Tuhan ketika dia melakukan dosa, maka jenis orang seperti ini merupakan jenis orang yang dibenci oleh Tuhan.

Ketika kita melakukan dosa, ternyata kita masih takut, masih ingat Tuhan, masih bertobat, maka itu adalah tanda-tanda bahwa kita masih di dalam lingkup cinta Tuhan. Tapi kalau sudah tidak ada lagi panggilan istighfar setelah kita melakukan dosa dan maksiat, maka memang sudah mati orang itu secara spiritualnya, sekalipun biologisnya masih hidup.

Ketika ditimpa musibah kemudian kita dekat dengan Tuhan, maka itu adalah undangan. Yang menjadi persoalan adalah bagi orang yang sudah dekat dengan Tuhan, yang maqamnya sudah tinggi, tidak ada musibah yang bisa mengingatkan dirinya lebih dekat dengan Tuhan. Tidak pernah lagi mau melakukan dosa, sehingga tidak ada pemancing yang sangat kuat untuk mendekatkan dirinya dengan Tuhan.

Seperti inilah yang dialami oleh umat Islam secara umum. Soal isi perut tidak ada masalah, deposito sudah cukup, tanpa kerjaan, sudah pensiun, tapi insya Allah tujuh turunan takkan terlantar. Pakaian, kendaraan, rumah, semuanya tidak ada maslah. Fasilitas primer, sekunder, dan luxury nya pun sudah lengkap. Orang yang seperti ini membutuhkan metode untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Biasanya orang yang terfasilitasi seluruh kehidupannya, maka sulit untuk intensif dekat dengan Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan biasanya karena ada gelombang besar kehidupan yang menimpanya. Jadi Tuhan itu identik dengan Maha Penolong. Ketika kita sudah tidak membutuhkan pertolongan karena kita sudah merasa cukup, maka pada saat itu kita menjadi susah untuk dekat dengan Tuhan. Cara yang paling tepat untuk orang yang seperti ini ialah lewat pintu ar-raja’.

Hati-hatilah orang yang tenang karena dunianya lengkap, biasanya jiwa orang itu tidak akrab dengan Tuhan. Jangan pernah membiarkan hubungan kita dengan Tuhan biasa-biasa saja. Apakah kita akan terus membiarkan diri kita biasa-biasa saja dengan Tuhan? Yang kita inginkan adalah hubungan intensif itu sendiri. Dan intensitas kehidupan kedekatan dengan Tuhan itu memang harus diupayakan. Musibah tidak ada masalah. Dosa tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah pada saat kita stabil.

Orang stabil membutuhkan apa yang disebut dengan ar-raja’, yaitu rasa harap yang sangat dalam terhadap Tuhan.

Ar-raja’ adalah sesuatu yang tidak permanen, sifatnya masih keluar-masuk. Ada pula yang disebut dengan hal (fluktuatif/berubah-ubah). Yang kita inginkan adalah permanen. Kalau itu sudah permanen, maka itulah yang disebut sebagai maqam.

Pada umumnya, situasi batin kita sebagai orang awam barulah setingkat hal, yaitu misalkan kalau lagi lagi mood, maka dekatlah dengan Tuhan. Padahal yang kita rindukan adalah, sedetik pun kita takkan pernah mau berpisah dengan Tuhan.

Apa lagi yang seharusnya kita lakukan setelah fase ar-raja’ ini?

Yang kita inginkan adalah yang disebut sebagai fase mahabbah. Inilah yang abadi. Kalau kita menjadi pencinta sejati terhadap Tuhan, maka hati ini takkan pernah menjadi gersang. Semua penderitaan itu terasa nikmat.

Permasalahannya adalah ketika kita berada dalam keadaan normal. Ini adalah ujian yang paling berat. Pada umumnya, kita tidak pernah ada yang resah, karena fasilitas hidup kita sudah lengkap. Kalau kita hidup pada batas normal seperti ini, maka jangan sampai hidup kita nanti sepanjang itu pula berjauhan jarak dengan Tuhan, kita hanya mengingat Tuhan pada saat shalat lima waktu, itupun mungkin hanya separuh dari salat itu kita mengingat Tuhan.

Kalau perut kekenyangan, terlalu banyak makan daging, kalorinya berlebihan, energi berpikirnya segar, biasanya Tuhan itu berjarak. Tuhan itu lebih gampang muncul di perut lapar ketimbang perut kekenyangan. Hidup yang paling berarti di dunia ini adalah selalu dekat dengan Tuhan.

Jadi, ada empat situasi batin yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Dosa dan maksiat, musibah, hajat yang sangat besar, dan situasi normal.

Kita mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan mengenai dosa, apalagi bagi orang yang sudah sering mendapatkan siraman rohani, intensif mengikuti pengajian, karena secepatnya kita akan beristighfar jika melakukan dosa, walaupun hanya dosa kecil.

Kita juga tidak mengkhawatirkan kalau ada musibah, karena kita pasti akan mengembalikan segalanya kepada Tuhan.

Kita juga tak terlalu khawatir jika ada kebutuhan yang sangat besar, walaupun dibutuhkannya begitu darurat. Kita tak perlu meragukannya, karena kita pasti akan meminta bantuan kepada Allah.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika kita sedang tidak dalam keadaan membutuhkan apa-apa dalam kehidupan ini (kehidupan kita normal). Ini yang harus dicermati. Jika dalam keadaan seperti ini, apakah yang harus kita lakukan?

Dalam keadaan seperti ini, yang bisa kita lakukan adalah:

– Ar-raja’, yaitu kita jangan mau kehilangan Tuhan. Kalau sepanjang hari ini kita belum ingat Tuhan, sedangkan kita selalu berzikir, shalat, dan ibadah lainnya, tapi ingat kepada Tuhan begitu dangkalnya, tentunya ini merupakan suatu permasalahan. Kedangkalan ingatan kita terhadap Tuhan merupakan pertanda, bahwa Tuhan itu jauh. Bukan Tuhan jauh dari kita, tetapi kitalah yang menjauhkan diri kita dengan-Nya. Cepatlah mengembalikan posisi batin itu. Kembalilah akrab dengan Tuhan.

Dalam situasi normal, jangan pernah meninggalkan shalat-shalat sunnat rawatib. Jangan hanya ketika ada masalah saja kita baru melakukan shalat sunnat rawatib. Jangan pula pernah meninggalkan shalat-shalat sunnat yang lain, termasuk juga jangan mengurangi jumlah rakaat salat dhuha, salat tahajjud, dan salat-salat sunnat lainnya yang biasa kita lakukan. []

Iklan

13 September 2008 at 8:01 AM 1 komentar

Sya’ban Gerbang Ramadhan

SYA’BAN GERBANG RAMADHAN

Disarikan dari Kuliah Dhuha yang disampaikan oleh KH. Adi Warman Kariem pada tanggal 17 Agustus 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Pada periode Mekkah, ayat yang mewajibkan untuk berpuasa di Bulan Ramadhan itu belum turun, yaitu:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Jadi, pada periode Mekkah, belum ada kewajiban untuk berpuasa di Bulan Ramadhan, karena ayat mengenai perintah tesebut (ayat di atas) belum turun. Tapi, meskipun dalam periode Mekkah tersebut belum ada kewajiban untuk berpuasa di Bulan Ramadhan, namun Rasulullah dan para sahabat telah terbiasa berpuasa. Ada dua jenis puasa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah dan umat Islam ketika itu (periode Mekkah), yaitu: pertama, puasa setiap tanggal 13, 14, dan 15 (setiap bulannya), yang biasa disebut sebagai puasa hari putih. Kedua, puasa pada tanggal 10 Muharram. Inilah dua jenis puasa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah dan umat Islam ketika itu. Hampir-hampir seperti wajib, tapi sebetulnya tak ada kewajiban untuk puasa jenis ini, sehingga kita menyebutnya sebagai puasa sunnah.

Ketika Rasullah dan umat Islam hijrah ke Madinah, barulah ayat yang memerintahkan untuk melaksanakan puasa di Bulan Ramadhan itu turun. Ayat tersebut turun pada Bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah. Karena itulah, Sya’ban merupakan gerbangnya Ramadhan.

Pada Bulan Rajjab, maka kita berdoa, “Allahumma bariklana fi Rajjab wa Sya’ban, wa balikna Ramadhan.” (Ya Allah, berkahilah kami di Bulan Rajjab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami untuk bertemu dengan Bulan Ramadhan).

Banyak sekali hadits yang menceritakan keistimewaan Bulan Rajjab dan Sya’ban. Salah satunya adalah:

Pada Bulan Sya’ban itu (tepatnya yaitu ketika Nisfu Sya’ban), maka Allah akan turun ke langit dunia. Allah akan melihat, siapa saja hamba-Nya yang meminta ampun, maka Allah akan memberikan ampunan kepada semuanya. (Al-Hadits)

Dalam redaksi yang lain juga disebutkan:

Allah akan turun ke langit dunia, maka Allah memberikan ampunan semua hamba-Nya, kecuali dua jenis manusia: pertama, orang yang mensyirikkan Allah. Kedua, orang yang dalam hatinya ada permusuhan dengan orang lain. (Al-Hadits)

Sebenarnya tidak ada keraguan mengenai malam Nisfu Sya’ban. Yang yang menjadi perbedaan pendapat adalah apa yang kita lakukan pada malam Nisfu Sya’ban tersebut.

Pada tahun kedua hijriyah, muncul beberapa kewajiban. Selain kewajiban mengenai puasa di Bulan Ramadhan, juga muncul kewajiban untuk membayar zakat fitrah. Sedangkan perintah mengenai kewajiban zakat maal baru muncul pada tahun kedelapan hijriyah.

Mengapa Bulan Sya’ban menjadi begitu penting? Karena, jika kita tidak mempersiapkan diri (dalam arti ruh kita) untuk menghadapi Ramadhan, maka ketika Ramadhan habis, ternyata kita tidak mendapatkan apa-apa, karena ruh kita belum siap untuk berhubungan dengan Allah.

Allah tidaklah menilai berapa rakaat kita salat tarawih, berapa banyak kita mengkhatamkan Alquran, berapa malam dan berapa lama kita salat tahajjud, bahkan Allah juga tidak menilai berapa banyak zakat dan sedekah yang kita bayar, melainkan yang dinilai oleh Allah adalah keikhlasan kita dalam mencari keridhaan-Nya.

Karena itulah, sudah semestinya kita bersungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi datangnya Bulan Ramadhan. Bagi yang mempersiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh menghadapi Bulan Ramadhan, seperti yang dikatakan oleh Rasulullah, bahwa barangsiapa yang senang, atau sekedar senang saja dengan datangnya Bulan Ramadhan, maka syurga adalah balasannya.

Senang yang dimaksud adalah bagi orang-orang yang memang sudah sejak Bulan Rajjab, atau setidaknya sejak Bulan Sya’ban sudah mempersiapkan dirinya (dalam arti ruhnya) untuk menghadapi datangnya Bulan Ramadhan.

Allah berfirman:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-‘Ankabuut: 69)

Kuncinya di sini adalah kesungguhan diri kita mempersiapkan datangnya Bulan Ramadhan. Jika diibaratkan, maka Nisfu Sya’ban adalah lampu kuning, yang menandakan bahwa sebentar lagi Ramadhan akan menjelang. Kalau sudah lampu kuning, tinggal setengah bulan lagi Ramadhan, sedangkan kelakuan kita masih seperti sebelum-sebelumnya: hati belum dibersihkan dan dipersiapkan, sehingga ketika Bulan Ramadhan datang, ternyata kita belum apa-apa. Ramadhan kemudian berlalu begitu saja tanpa ada kesan, melainkan sekedar “illal ju’ wal athas” (sekedar tidak makan, sekedar tidak minum).

Ingatlah ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya (Ismail). Allah mengatakan:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-Hajj: 37)

Allah tidak membutuhkan darah kambing, tidak membutuhkan daging kambing, tidak membutuhkan kulit kambing, melainkan kitalah (manusia) yang membutuhkan semua itu. Allah hanya sekedar mengecek, apakah manusia mau “sami’na wa ’atha’na”. Apakah manusia siap melaksanakan apa yang dikatakan-Nya.

Kesungguhan Nabi Ibrahim inilah yang kemudian oleh Allah dibalas. Karena Nabi Ibrahim sungguh-sungguh memberikan yang terbaik yang dimilikinya. Karena kesungguhannya untuk selalu memberikan yang terbaik, maka anak yang ditunggu-tunggunya (Ismail) yang diperintahkan untuk dikurbankan, kemudian Allah ganti dan Allah balas dengan yang terbaik.

Lihatlah bagaimana kesungguhan Siti Hajar. Waktu itu ia ditinggal di lembah Bakkah (Mekkah), yang ketika itu belum ada apa-apanya selain hanya lembah yang sunyi. Bayangkanlah, ketika itu Siti Hajar ditinggal sendirian oleh Nabi Ibrahim, Siti Hajar hanya ditemani anaknya (Ismail) yang masih kecil.

Ia (Siti Hajar) bertanya kepada Nabi Ibrahim, “Hai Ibrahim, engkau meninggalkanku di sini apakah karena kehendakmu atau karena perintah Allah? Kalau kehendakmu sendiri, aku tak mau, sama saja engkau sudah menelantarkan isteri dan anakmu. Tapi kalau ini merupakan perintah Allah, maka aku akan mentaatinya.”

Siti Hajar waktu itu tidak membawa cangkul, tidak membawa alat mengebor untuk menemukan air. Apakah yang dilakukan Siti Hajar? Yang dilakukannya adalah selalu memberikan yang terbaik dan selalu bersungguh-sungguh. Yang bisa dilakukan oleh Siti Hajar hanyalah berlari dari Shafa ke Marwa. Ternyata air yang dicari itu tidak ada. Kemudian ia kembali lagi berlari ke Shafa, walaupun ia tahu sebelumnya bahwa di Shafa juga tidak ada air, namun ia tetap mencarinya. Begitu seterusnya beberapa kali bolak-balik berlari antara Shafa dan Marwa. Tapi ia terus bersungguh-sungguh berusaha untuk mendapatkan air tersebut. Menurutnya, bahwa mustahil Allah akan menelantarkan dia dan anaknya.

Akhirnya, ternyata yang menemukan zam-zam adalah Ismail (anaknya), bukanlah Siti Hajar. Artinya, jika kita beribadah kepada Allah, jika kita sungguh-sungguh berjuang di jalan Allah, maka janganlah egois. Bisa saja Siti Hajar berkata, “Yang capek berlari aku, tapi mengapa Ismail (anakku) yang mendapatkannya.”

Ternyata Siti Hajar tidak berkata seperti itu. Terserah Allah akan memberikan rezeki lewat mana. Bayangkanlah jika para pejuang yang dahulunya berjuang melawan penjajah, tapi mereka (para pejuang itu) egois, maunya merdeka secepatnya pada saat itu juga.

Yang Allah minta bukanlah hasil, melainkan usaha yang kita lakukan. Yang menikmati kemerdekaan adalah kita sekarang, sedangkan para pejuang yang dahulunya berjuang ternyata tidak merasakan hasil dari perjuangannya. Mereka juga mungkin tidak tahu ratusan tahun kemudian barulah negeri ini merdeka. Dalam Bahasa Arab disebut “Man jadda wa jada” (siapa yang mau sungguh-sungguh, maka dialah yang mendapatkan hasilnya).

Kesungguhan inilah yang membedakan orang-orang yang beriman yang oleh Rasulullah dikatakan:

Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya Bulan Ramadan, balasannya adalah surga jannatun na’im. (Al-Hadits)

Tapi, jika kita tidak bersungguh-sungguh mempersiapkan diri, maka kita bukanlah termasuk yang disebutkan oleh Rasulullah itu.

Ketika menjalankan ibadah puasa Ramadhan, maka yang dihitung oleh Allah bukanlah banyaknya rakaat shalat tarawih, bukanlah banyaknya khataman Alquran, dan bukan pula panjangnya bacaan Alquran ketika shalat tarawih, melainkan yang dinilai oleh Allah adalah kesungguhan dan keikhlasan kita berjuang di jalan-Nya.

Kesungguhan seperti ini juga dilakukan oleh para sahabat Rasulullah. Dalam suatu kesempatan, ketika Rasulullah sedang berkumpul dengan para sahabatnya, ada seorang pemuda yang lewat di depan mereka. Pemuda itu badannya tegap, masih muda, kuat, dan tangkas. Maka sahabat yang hadir ketika itu mengatakan kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, jika pemuda tersebut mengikuti kita berjihad, sepertinya cocok dan pas sekali.”

Lalu dijawab oleh Rasulullah, “Apabila pemuda tadi keluar dari rumahnya demi berusaha mencari rezeki untuk anak-anaknya yang masih kecil, maka itulah yang dinamakan fi sabilillah. Jika ia keluar dari rumahnya sungguh-sungguh untuk mencari rezeki di jalan Allah, maka itulah yang dinamakan fi sabilillah. Kalau pemuda ini keluar dari rumahnya sungguh-sungguh mencari rezeki dan berusaha untuk memberi makan orang tuanya yang sudah tua, maka itulah yang dianamakan fi sabilillah. Apabila pemuda ini keluar dari rumahnya untuk kemegahan dirinya, untuk riya’, agar dipuji oleh orang lain, maka itulah yang dinamakan fi sabilisy-syaithan.”

Dalam hal ini, sebenarnya adalah persoalan ruh. Perbuatannya sama, sama-sama bekerja, sama-sama berusaha sungguh-sungguh, tapi yang Allah nilai bukanlah perbuatan fisiknya, melainkan keikhlasannya hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah.

Rezeki itu adalah rahasia Allah. Setiap orang sudah ditentukan banyak dan sedikitnya rezeki yang ia dapatkan.

Diriwayatkan, bahwa suatu ketika Sayyidina Ali naik keledai, lalu datang ke masjid. Dilihatnya di depan masjid ada seorang pemuda yang sedang duduk-duduk. Melihat itu, Sayyidina Ali bermaksud untuk menitipkan keledainya itu kepada pemuda tersebut. Niat Sayyidina Ali, bahwa nanti setelah selesai shalat, maka beliau akan memberi sedekah kepada pemuda tersebut sebanyak satu dinar. Kemudian masuklah Sayyidina Ali ke dalam masjid untuk shalat, setelah sebelumnya menitipkan keledainya kepada pemuda tersebut.

Ketika Sayyidina Ali selesai shalat, lalu keluar dari masjid, ternyata si pemuda tersebut sudah tidak ada. Keledainya masih ada, tapi cangkang keledainya sudah tidak ada. Sehingga Sayyidina Ali berprasangka, jangan-jangan si pemuda yang dititipi keledai tersebut malahan bukan menjaga keledai, melainkan mencuri cangkang keledai. Lalu Sayyidina Ali pun memanggil seorang temannya untuk pergi ke pasar mencari pemuda yang dimaksud. Sayyidina Ali menitipkan satu dinar kepada temannya itu untuk membeli cangkang keledai tersebut dari pemuda yang dimaksud.

Ketika temannya Sayyidina Ali itu pergi ke pasar, ternyata benar, ia menemukan pemuda tersebut sedang menjual cangkang keledai yang dimaksud seharga satu dinar. Lalu temannya Sayyidina Ali itu pun membeli cangkang keledai yang dimaksud dari pemuda tersebut. Ketika temannya Sayyidina Ali itu kembali menghadap Sayyidina Ali, ia pun menceritakan apa yang sudah ditemuinya di pasar, bahwa benarlah apa yang disangkakan oleh Sayyidina Ali.

Mendengar ini, Sayyidina Ali berkata, “Subhanallah, ternyata pemuda tersebut memilih untuk mendapatkan satu dinar yang haram dibandingkan satu dinar yang halal.”

Jika si pemuda tersebut sabar sedikit saja, tentunya ia akan mendapatkan satu dinar yang halal. Namun karena ia tidak sabar, maka ia mendapatkan satu dinar yang haram. Pertanyaannya, apakah rezekinya itu bertambah? Ternyata rezeki yang ia dapatkan dari cara yang haram tersebut tidak bertambah. Memang sudah dari sananya mendapatkan rezekinya sebanyak itu, maka sebanyak itu jugalah yang akan ia dapatkan, walau dengan cara apapun ia lakukan. (kisah ini dikutip dari Buku “La Tahzan”).

Masih dari Buku “La Tahzan”, juga dikisahkan:

Ada dua kelompok nelayan: satu kelompok selalu berbuat maksiat terus, sedangkan kelompok yang satunya lagi selalu tekun beribadah. Tapi tangkapan ikan pada kelompok nelayan yang selalu berbuat maksiat itu ternyata jauh kebih banyak dibandingkan dengan kelompok nelayan yang tekun beribadah. Jadi, kelompok nelayan yang tekun beribadah mulai pusing dihadapkan pada kenyataan tersebut. Mengapa seperti ini, mereka sudah tekun beribadah, tapi rezekinya sedikit, sedangkan yang suka mengerjakan maksiat malahan mendapatkan rezeki yang melimpah. Akhirnya, nelayan-nelayan yang tekun beribadah itu merundingkan hal tersebut sesama mereka. Mereka merundingkan untuk mencoba melakukan maksiat kecil-kecilan, siapa tahu ada perubahan akan rezeki yang mereka dapatkan. Akhirnya diputuskanlah, kemudian mereka mencoba melakukan maksiat kecil-kecilan.

Ternyata benar, setelah mereka melakukan maksiat, tangkapan ikan mereka menjadi melimpah ruah. Di antara tangkapan ikan yang banyak itu, ada satu ikan yang besar. Ketika dibelah perutnya, ternyata di dalam perutnya ditemukan mutiara yang nilainya tak terhingga. Pada saat itu, nelayan-nelayan tersebut berdecak keheranan akan hasil tangkapan mereka tersebut. Mereka lalu mengira, jangan-jangan ini bukan rezeki dari Allah, melainkan karena bantuan setan. Kemudian mereka merundingkan lagi akan hal tersebut. Akhirnya mereka sepakat untuk membuang mutiara tersebut, karena mereka beranggapan bahwa mutiara tersebut tidak halal untuk mereka ambil. Kemudian atas kesadaran mereka, para nelayan tersebut pun insaf, lalu bertobat, dan taat lagi kepada Allah.

Setelah taat lagi kepada Allah, mereka beralih dari tempat semula mereka mendapatkan ikan yang melimpah ruah sebelumnya, berpindah ke tempat lain. Setelah taat lagi kepada Allah, dan pencarian ikan pun mereka lakukan di tempat lain, ternyata tangkapan mereka masih tetap banyak.

Jadi dalam hal ini hanyalah persoalan waktu, bukanlah persoalan mengerjakan maksiat atau tidak. Sudah dari sananya seperti itu, maka seperti itu saja. Walaupun mereka kini kembali tekun beribadah, ternyata tangkapannya tetap banyak. Di antara tangkapan yang banyak itu, ditemukan lagi ikan yang besar, lalu ikan itu dibelah perutnya Ternyata di dalam perut ikan tersebut didapat lagi mutiara yang sebelumnya sudah mereka buang itu. Jadi, kalau memang sudah rezeki, walaupun kita buang, maka rezeki tersebut akan kembali lagi.

Dalam berbisnis, usaha, bekerja, maka janganlah pernah berpikiran untuk melakukan yang haram. Karena yang haram itu takkan pernah bisa untuk menambah rezeki kita.

Siapa saja yang mau menjadi kasirnya Allah, maka dia akan dipilih oleh Allah untuk menjadi kasir-Nya. Kalau kita mendapatkan rezeki, lalu rezeki itu kita simpan untuk diri kita sendiri, maka Allah mengatakan, bahwa kita tidak cocok menjadi kasir-Nya. Tetapi jika kita mendapatkan rezeki dari Allah, kemudian rezeki itu kita berikan lagi kepada orang lain, maka kita cocok menjadi kasirnya Allah.

Kewajiban puasa turunnya pada Bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah. Kewajiban zakat turun pada tahun kedua hijriyah juga. Tapi pada periode Mekkah, apakah Rasulullah dan umat Islam ketika itu tidak memberi sedekah dan infak? Ternyata Rasulullah dan umat Islam ketika itu memberi sedekah dan infak.

Sebelum turun ayat yang mewajibkan zakat, maka turunlah ayat:

(1) Alif Laam Miim. (2) Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (Q.S. Al-Baqarah: 1 – 3)

Jadi, pada periode Mekkah memang tidak ada perintah untuk berzakat. Yang ada adalah perintah untuk menafkahkan sebagian rezeki kepada orang yang membutuhkan. Karena ayat inilah, ketika itu para sahabat selalu berlomba-lomba untuk memberikan sedekah. Ada yang datang untuk mensedekahkan sepertiga dari hartanya, kemudian ada lagi yang ingin menyedekahkan setengah dari hartanya, setelah itu ada lagi yang ingin menyedekahkan dua pertiga dari hartanya, kemudian Abu Bakar Shiddiq mengatakan, bahwa ia ingin menyedekahkan seluruh hartanya.

Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yang akan kau tinggalkan untuk anak dan istrimu?”

“Cukuplah Allah dan Rasul-Nya,” jawab Abu Bakar.

Jadi, waktu itu para sahabat memiliki semangat untuk bersedekah habis-habisan. Kemudian turunlah ayat yang memerintahkan kewajiban zakat. Pesan yang ingin disampaikan oleh ayat yang memerintahkan kewajiban zakat ini adalah agar para sahabat tidak usah habis-habisan untuk bersedekah. Yang wajib untuk dizakatkan hanya 2,5 persen.

Tentunya berbeda dengan keadaan kita kini. Bagi kita kini mungkin ada saja alasan yang dibuat-buat untuk menghindari kewajiban membayar zakat, misalkan: nisabnya belum sampailah, haulnya masih kurang, dan alasan-alasan lainnya.

Tapi kalau kita “wa mimmaa razaqnaa hum yunfiquun”, maka Allah mengatakan bahwa kita cocok menjadi kasir-Nya. Allah akan menitipkan rezeki-Nya bukan hanya untuk kita saja, melainkan untuk kita, juga untuk orang lain.

Teladanilah Rasulullah dalam hal ini. Jika di luar Bulan Ramadhan, beliau sangat gemar bersedekah. Ketika Bulan Rajjab, maka sedekahnya bertambah. Ketika Bulan Sya’ban, sedekahnya bertambah lagi. Dan ketika Bulan Ramadhan, maka sedekahnya akan bertambah, dan bertambah lagi. Inilah rahasianya jika kita ingin menambah rezeki.

Rezeki kita takkan pernah habis, karena menurut Allah kita cocok untuk menjadi kasir-Nya. Jika kita mendapatkan rezeki, lalu kita memberikan lagi rezeki tersebut kepada orang lain, maka Allah akan terus menambah rezeki kita. Tetapi, jika ketika kita mendapat rezeki, lalu hanya kita makan untuk diri kita sendiri, maka oleh Allah mungkin hanya diberi sebesar itu saja, karena hanya untuk kita makan sendiri. Sedangkan jika rezeki yang kita dapatkan tersebut juga kita berikan kepada orang lain, maka oleh Allah rezeki tersebut akan terus ditambah, karena rezeki tersebut bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi dititipkan juga untuk diberikan kepada orang lain.

Terlepas dari apa yang kita lakukan pada malam Nisfu Sya’ban, maka sudah tak dapat disangkal lagi bahwa Malam Nisfu Sya’ban itu memang memiliki keutamaan. Jika kita tidak sungguh-sungguh mempersiapkan (terutama ruh kita) untuk menghadapi Bulan Ramadhan, maka nantinya kita tidak terasa, tahu-tahu Ramadan sudah habis, kita hanya “illal ju’ wal athas”, hanya mendapatkan lapar dan haus.

Sya’ban gerbangnya Ramadhan. Sebentar lagi Ramadhan akan datang. Siapkanlah diri kita baik-baik dengan sungguh-sungguh. Allah tidak melihat berapa rakaat shalat tarawih kita, berapa kali kita khatam Alquran, berapa banyak uang yang kita sedekahkan, melainkan yang Allah lihat adalah bagaimana kita melakukan segala perintah-Nya sungguh-sungguh hanya untuk mencari keridhaan Allah. []

13 September 2008 at 7:49 AM 2 komentar

“The Da Vinci Code” Tak Hanya Mengguncang Iman Kristiani

The Da Vinci Code
Tak Hanya Mengguncang Iman Kristiani


Oleh: Hanafi Mohan


Mungkin aku termasuk seorang yang terlambat membaca Novel “The Da Vinci Code” karya Dan Brown, karena novel ini untuk pertama kalinya terbit pada tahun 2003 (edisi Bahasa Inggris). Kemudian terbit di Indonesia (edisi Bahasa Indonesia) pada tahun 2004 dan 2005. Kini sudah tahun 2008. Jadi boleh dikatakan, bahwa aku adalah orang yang terlambat membaca Novel yang menarik ini. Namun bagiku, tak ada kata terlambat untuk membagi apa yang kumengerti dari isi novel yang kubaca itu. Karena bagiku, mungkin saja setiap orang memiliki pandangan yang berbeda setelah membaca isi novel tersebut, tak terkecuali aku.

Kini, aku sudah menyelesaikan membaca Novel “The Da Vinci Code”. Ketika dalam proses membacanya, aku selalu membuat perkiraan-perkiraan (persangkaan-persangkaan), bagaikan seorang detektif. Dan ternyata, persangkaan-persangkaanku itu begitu banyak yang meleset. Di akhir novel, aku baru bisa tersenyum dan menarik napas lega, setelah sebelumnya begitu banyak ketegangan-ketegangan di dalam novel ini.

Agar lebih menarik, bacalah novel ini secara berurutan dari awal sampai akhir. Buatlah suatu catatan mengenai persangkaan-persangkaan kita, yang mana persangkaan-persangkaan kita itu biasanya akan runtuh ketika kita membaca halaman-halaman selanjutnya. Catatlah temuan baru itu. Dan kemungkinan, persangkaan-persangkaan kita berdasarkan temuan-temuan baru itu juga akan runtuh ketika kita membaca halaman-halaman selanjutnya. Catat terus perkembangan novel. Jangan lupa juga untuk mencatat hal-hal yang menurut kita menarik, seperti teka-teki, sandi, kode, dan simbol yang terpecahkan, yang teka-teki, sandi, kode, dan simbol itu saling berkaitan dan memiliki banyak arti. Catat juga hal-hal lainnya yang kita anggap menarik, seperti fakta sejarah dan mengenai doktrin-doktrin agama. Pada novel ini mengenai doktrin Kristen.

Bagi pembaca yang beragama selain Kristen, novel ini juga menarik untuk kita baca, agar kita bisa kembali menyelami keyakinan agama kita selama ini, yang ternyata begitu banyak metafora-metafora yang metafora-metafora itu sudah kita anggap sebagai suatu kebenaran itu sendiri, yang dapat dikatakan bahwa metafora-metafora itu sudah menjadi doktrin dan dogma yang sangat sulit untuk digugat.

Di halaman-halaman akhir novel, betapa aku terkejut. Ternyata Kapten Bezu Fache tak lain adalah seorang Polisi yang profesional dalam menjalankan tugasnya (karena persangkaanku sebelumnya, bahwa Kapten Bezu Fache termasuk ke dalam komplotan pembunuhan ini, yaitu yang menurut perkiraanku adalah Komplotan Opus Dei). Karena berkatnyalah kemudian, kasus pembunuhan yang misterius ini dapat terungkap, yaitu dengan tertangkapnya Sir Leigh Teabing (Guru), dan sekaligus Prof. Langdon dan Sophie Neveu dapat diselamatkan.

Uskup Aringarosa tak lain hanyalah seorang Uskup di Opus Dei (Pemimpin tertinggi di Opus Dei) yang sedang menghadapi kesulitan, dan dia tidak mengenal sama sekali “Guru”. Tawaran dari “Guru” diterimanya, karena ia ingin keluar dari kesulitan tersebut. Tapi akhirnya dia dapat menyadari, bahwa ia tak lebih telah ditipu oleh “Guru”. Dan ternyata Silas, anak didiknya itu, tak lebih hanya seorang mantan penjahat, yang dengan menjalankan tugas misterius itu dia berharap bisa menebus dosanya. Akhirnya, Silas (menurutku) sepertinya kembali menjadi orang baik (di akhir cerita, sepertinya Silas mati, karena tertembak oleh Polisi). Dan juga Opus Dei tidak terlibat dalam kasus ini, karena Uskup Aringarosa hanya dijebak oleh Sir Leigh Teabing (Guru).

Dan terakhir, Langdon dan Sophie Neveu setelah memecahkan keberadaan Holy Grail, yang mana Holy Grail itu sepertinya hanya perumpamaan. Karena Holy Grail memang tak ada di tempat yang sesuai dengan petunjuk sandi Sauniere. Yang ada adalah kemudian, Sophie Neveu dapat bertemu dengan Neneknya dan adik laki-lakinya, yang selama ini dia ketahui dari kakeknya (Sauniere) bahwa Nenek dan adik laki-lakinya itu juga menjadi korban kecelakaan mobil bersama-sama dengan kedua orang tuanya.

Yang membuat aku bingung, kejadian di novel ini hanya berlangsung semalaman, dilanjutkan dengan pagi hingga sore hari kemudian (mungkin hanya berkisar sekitar kurang-lebih 20 jam, atau mungkin bisa pendek dari itu), yaitu dari terbunuhnya Sauniere pada jam 10.46 malam di Paris, hingga tertangkapnya Guru (Sir Leigh Teabing) di London (di Novel, waktu tertangkapnya tak dijelaskan, namun sekilas dapat diperkirakan mungkin sore hari besoknya).

Kronologi singkatnya secara berurutan:
Dari pukul 10 malam hingga sekitar 6 pagi di Paris.
1) 10.46 malam (Museum Louvre-Paris): Sauniere terbunuh.
2) 12.32 dinihari (Hotel Ritz-Paris): Langdon masih berada di Hotel Ritz-Paris.
3) Kemudian Langdon sudah berada di Museum Louvre (jamnya tidak disebutkan).
4) Langdon dan Sophie Neveu ke Stasiun Kereta Api (tak disebutkan jamnya)
5) Langdon dan Sophie Neveu berada di Bank Penyimpanan Zurich-Cabang Paris.
6) Tengah malam (jamnya tak disebutkan): berada di Puri Villette milik Leigh Teabing-Paris.
7) Melakukan penerbangan dari Paris ke London (jamnya tak disebutkan).

6.30 pagi hingga Sore di London
1) 6.30 : mendarat di London
2) 7.30 berada di Gereja Kuil-London
3) berada di Perpustakaan King’s College (pagi-waktu jelasnya tak dituliskan).
4) Biara Westminster-London (waktunya tak dituliskan)
5) Tertangkapnya Guru (Sir Leigh Teabing), mungkin sekitar sore hari.

Yang membuat aneh lagi, latar tempatnya pun berpindah-pindah, bahkan dari Paris hingga ke London (tempat dengan jarak yang mungkin tak dapat dikatakan dekat). Dengan cerita yang sungguh mencekam itu, mungkinkah hanya dalam waktu yang pendek itu (sekitar kurang lebih 20 jam) semua itu terjadi? Entahlah. Tapi yg pasti, novel ini begitu menarik, dan layak untuk dibaca.

Jika pada komentar dikatakan bahwa Novel “The Da Vinci Code” ini sudah menggoyang iman Kristiani. Maka bagiku, setelah aku menyelesaikan membaca novel tersebut, memang benar komentar itu. Bahkan aku ingin menambahkan, bahwa novel tersebut, jika dibaca dengan teliti dan tidak hanya literal, oleh siapa saja, oleh penganut agama apa saja, maka novel tersebut sepertinya juga akan menggoyang iman siapa saja pada agama apa saja. Contohnya aku kini (aku beragama “Islam”), semakin mempertanyakan doktrin-doktrin dan dogma-dogma yang dipegang dan diyakini oleh umat Islam selama ini yang sekilas seperti cerita kartun. Seperti yang umat Islam yakini selama ini pada cerita Adam dan Hawa sebagai manusia pertama yang tadinya hidup di Syurga, yang kemudian dibuang ke bumi karena telah melakukan dosa. Pada cerita Nabi Muhammad menerima wahyu (yang merupakan keyakinan umat Islam selama ini), yang dikatakan bahwa Nabi Muhammad berhadap-hadapan dengan Malaikat Jibril bagaikan dua orang yang sedang berdialog. Pada cerita lainnya yang diyakini umat Islam juga disebutkan, bahwa suatu waktu ketika Nabi Muhammad menerima wahyu, Beliau melihat Malaikat Jibril sebagai perantara penyampai wahyu tersebut terlihat sangat besar sekali dengan sayapnya yang menutupi langit. Dan yang paling kontroversial dari keyakinan umat Islam selama ini adalah cerita mengenai Isra’ Mi’raj, yaitu peristiwa ketika Nabi Muhammad melakukan perjalanan dalam semalam (mungkin hanya dalam beberapa jam) dari Masjidil Haram (Mekah-Arab Saudi) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem-Palestina), kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsa ke “Sidratul Muntaha” yang terletak di atas “langit ke tujuh”, kemudian bertemu dengan Tuhan (juga dikatakan bertemu dengan Nabi-nabi sebelumnya, seperti Nabi Isa, Nabi Musa, dan Nabi Ibrahim). Sungguh perjalanan yang misterius, supranatural, suprahuman, dan cenderung tak masuk akal. Tidakkah hal-hal seperti ini banyak sekali dalam agama-agama (termasuk Islam), yaitu cerita-cerita yang tak masuk akal, dan kita hingga kini terus dengan setia (terpaksa ataupun tidak terpaksa) untuk mempercayai bahwa peristiwa tersebut memang terjadi secara “nyata”.

Aku kira para komentator itu (Amirah Latifah, Sidnan Al-Faruqi, Ain Muhammadi, dan Adian Husaini – komentar mereka dimuat oleh Majalah Insani, April 2005) tidak hanya harus melihat Novel “The Da Vinci Code” itu dalam kaitannya dengan iman Kristiani, namun alangkah lebih baiknya mereka juga menyadari, bahwa di dalam agama Islam juga banyak doktrin-doktrin dan dogma-dogma yang juga harus kita pertanyakan, seperti halnya Dan Brown yang sudah berani mempertanyakan mengenai doktrin-doktrin Kristiani tersebut. Sehingga kita sebagai umat Islam tidaklah akan terus-menerus mengatakan bahwa Agama Islam-lah yang paling bersih dan paling benar, sedangkan agama lain itu kotor dan salah.

Aku rasa, Dan Brown tidak hanya menembak sasarannya kepada umat Kristen. Namun karena ia penganut Kristen, maka sasaran yang sangat dia pahami untuk dituju adalah umat Kristen. Tapi walaupun begitu, aku yakin, sebagai sastrawan, Dan Brown tetap menyelipkan pesan-pesan universal yang itu bisa dimengerti oleh umat agama apa saja. Yaitu bahwa kontroversi mengenai ajaran agama tersebut bukan hanya menimpa agama Kristen, namun juga menimpa agama-agama lainnya (Islam misalkan). Dan hal itu bisa secara jelas kita baca dalam Novel “The Da Vinci Code” ini. Namun, karena yang kita lihat melulu selalu kesalahan pada agama lain (apalagi novel ini membahas mengenai doktrin Kristen), maka kita lupa, bahwa di dalam agama kita (Islam)-pun sebenarnya banyak sekali ajaran, keyakinan, dan dan doktrin yang kontroversi. Namun, karena kita sudah terlanjur membenci agama Kristen, maka semakin menjadi-jadilah kita mengatakan bahwa Kristen adalah agama yang sesat. Padahal saya tetap yakin (dan jika pembaca mau membaca secara teliti lagi dan tidak hanya literal), bahwa Novel “The Da Vinci Code” ini juga tak sedikit menyelipkan pesan, bahwa agama apapun di dunia ini pasti memiliki doktrin dan dogma yang mungkin hampir serupa dengan yang terjadi pada masyarakat Kristen, yang jika ada yang menentang doktrin dan dogma tersebut (atau yang memiliki ajaran atau keyakinan yang berbeda dengan mayoritas umat), maka dia akan dianggap sesat dan kafir. Tidakkah selama ini kita sebagai Umat Islam juga mengalami hal tersebut?

Di Novel tersebut dituliskan, bahwa Uskup Aringarosa dan Silas adalah penganut Kristen yang fanatik, yang di dalam novel diceritakan dapat dengan mudah dimanfaatkan dan diperalat oleh Guru (Sir Leigh Teabing). Jika Silas adalah orang yang baru mengenal Agama Kristen, maka Uskup Aringarosa adalah orang yang sudah lama mengenal Agama Kristen, apalagi ia adalah seorang Uskup dan Pemimpin tertinggi Opus Dei. Bukankah di Islam sendiri begitu banyak orang-orang seperti ini? Yaitu yang kelihatannya sangat taat dan fanatik terhadap keyakinan yang ia imani, dan kemudian para penganut Islam yang fanatik ini akan sangat mudah dimanfaatkan dan diperalat oleh orang-orang (ataupun lembaga) yang memiliki kepentingan tersembunyi. Dan anehnya, para penganut Islam yang fanatik ini tidak sadar bahwa ia diperalat dan dimanfaatkan. Yang mereka tahu, bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah demi membela “agama” (membela “Tuhan”).

Ciputat, Sabtu-19 Januari 2008 Pukul 18.22 WIB

Hanafi Mohan
Sang Pencari

13 Juli 2008 at 1:15 PM 15 komentar

Kajian Tafsir Surah Al-Furqan (25): 63-77

KAJIAN TAFSIR SURAH AL-FURQAN (25): 63-77

Disarikan dari Pengajian Umum

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A.

pada tanggal 22 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Pada Surah Al-Furqan ayat 63-77 menggambarkan, bahwa ada sebelas sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Menurut Allah, orang-orang beriman yang memiliki sebelas sifat tersebut memperoleh gelar ibadurrahman, yaitu hamba-hamba Allah yang akan mendapatkan rahmat yang paling besar di sisi Allah SWT. Rahmat-rahmat Allah yang paling besar tersebut yaitu kedudukan atau derajat-derajat yang paling tinggi yang diperoleh oleh mereka di surga kelak.

Orang-orang yang beriman itu harus melaksanakan seluruh kewajiban yang diwajibkan oleh Allah kepada mereka. Apabila mereka melalaikan kewajiban-kewajiban tersebut, maka mereka akan mendapatkan siksaan yang amat pedih dari Allah SWT. Sebaliknya, apabila mereka menunaikan kewajiban-kewajiban yang diberikan tersebut, maka mereka akan mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT.

Sifat-sifat yang dikemukakan di sini adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman setelah menunaikan berbagai kewajiban yang diwajibkan kepada mereka. Seperti yang termaktub pada Surah al-Furqaan ayat 63-77, sebelas sifat yang dimaksud tersebut adalah:

Pertama, sifat tawadhu’.

Tawadhu’ adalah lawan dari sifat takabbur. Tawadhu’ adalah sifat yang selalu merendah, merupakan sifat yang sangat disukai oleh Allah. Jika orang yang memiliki sifat ini adalah orang yang sangat disukai oleh Allah, maka orang yang memiliki sifat takabbur adalah orang yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Di dalam suatu hadits disebutkan, jika ada seseorang yang di dalam dirinya terdapat sifat sombong walaupun hanya sebesar biji zarrah (biji sawi), maka Allah akan mengharamkan surga baginya.

Takabbur adalah orang yang menganggap dirinya besar, padahal dia tidak besar. Orang yang mengaku memiliki banyak hal, tapi sebenarnya ia tidak memiliki apa-apa. Padahal kata Allah, bahwa apa yang mereka miliki itu tidak ada maknanya sedikitpun. Karena itulah, mereka menambahkan sifat di dalam dirinya dengan apa yang tidak mereka miliki. Untuk menjadikan diri kita tawadhu’ adalah dengan berpandangan bahwa apa yang kita miliki tidak ada arti apa-apa dibandingkan dengan yang dimiliki oleh Allah SWT.

Sifat sombong adalah sifat yang merupakan fitrah yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Tidak ada seorangpun yang tidak memiliki sifat sombong. Hanya saja, ada orang yang membiarkan kesombongannya menjadi subur, dan ada juga yang bisa menahan kesombongannya, sehingga kesombongannya tidak pernah muncul.

Firman Allah pada Surah Al-Furqaan ayat 63:

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (Q.S. Al-Furqaan: 63)

Pada ayat tersebut dengan jelas menyebutkan, bahwa ‘ibaadurrahman itu adalah mereka yang berjalan di muka bumi ini dalam keadaan tawadhu’, dalam keadaan tunduk, dalam keadaan merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang sangat kecil, tak mempunyai kekayaan apapun, tak memiliki ilmu apapun, walaupun orang lain memandang bahwa dirinya adalah orang yang berilmu, orang yang kaya, ataupun orang yang memegang jabatan tinggi.

Pertanyaannya, mampukah kita bersikap tawadhu’? Harus diingat, bahwa sikap takabbur itu akan muncul kapanpun dan di manapun. Jika kita tidak berhati-hati, maka sikap tersebut akan menjadi subur, akan berkembang dengan sendirinya karena kondisi dan keadaan di mana kita hidup. Karena itulah, menurut Rasulullah, sombong terhadap orang yang sombong itu adalah sebuah kebajikan sedekah. Mengapa? Karena kalau kita menahan kesombongan seseorang, sebenarnya kita mendekatkan orang tersebut kepada surga. Karena, jika ada kesombongan di dalam hati seseorang, maka diharamkan kepadanya untuk mendapatkan surga. Jika kita sombong terhadap orang yang sombong sehingga orang tersebut menjadi tidak sombong, maka sebenarnya kita telah menjauhkannya dari neraka dan mendekatkannya kepada surga.

Kedua, selalu mengucapkan ucapan-ucapan yang baik (al-kalamuth thayyib).

Maksudnya adalah, bahwa orang tersebut senantiasa mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, walaupun orang lain selalu mengejeknya dengan kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan. Artinya, bahwa ‘ibaadurrahman adalah orang-orang yang senantiasa mengeluarkan ucapan-ucapan yang baik, senantiasa bersikap dengan sikap yang baik, senantiasa menimbulkan kebajikan-kebajiikan walaupun di tengah orang-orang yang tidak mau berbuat kebajikan kepadanya.

Biasanya, jika mendengar ada orang yang mengejek kita, maka kita akan membalasnya dengan ucapan-ucapan yang lebih kasar dibandingkan orang yang mengejek kita tersebut. Kalau ada yang memaki kita, maka kita akan membalasnya lebih dari satu kali makian. Jika ada orang yang berbuat jahat kepada kita sebanyak sekali, maka kita akan membalasnya lebih dari sekali. Itulah fitrah manusia.

Dalam ayat ini disebutkan, bahwa jika ada orang-orang yang bodoh yang menyapa dia, kalau ada orang-orang yang mengejek dia dengan kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan baginya, maka dia akan menyampaikan kalimat-kalimat yang baik kepada orang yang mengejeknya itu. Tapi secara fitri, hal ini tak mudah untuk dilakukan. Malahan sebaliknya, seringkali perbuatan kebajikan dibalas dengan kejahatan (air susu dibalas dengan air tuba).

Rasulullah menyatakan, bahwa orang yang paling baik akhlaknya adalah orang-orang yang apabila diputuskan hubungan silaturahmi, maka ia tidak akan memutuskan hubungan tersebut. Misalkan: ada orang yang tidak mau datang ke rumah kita, tapi kita tetap mendatangi rumah orang tersebut. Hal ini tak mudah untuk dilakukan, karena biasanya jika ada orang yang tidak mau datang ke rumah kita, maka kita akan semakin menjauhi orang tersebut.

Rasulullah juga menyatakan, bahwa orang yang paling baik akhlaknya adalah orang yang suka memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadanya.

Ketiga, yaitu orang beriman yang suka tahajjud di malam hari.

Firman Allah pada Al-Furqaan ayat 64:

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. (Q.S. Al-Furqaan: 64)

Bangun di malam hari setelah tidur, untuk kemudian melakukan shalat tahajjud bukanlah hal yang mudah dilakukan. Tetapi apabila kita membiasakan diri, maka secara otomatis pada saatnya kita akan terbangun, sehingga hal seperti ini mudah saja untuk dilakukan. Mengapa tahajjud ini penting? Karena jika ibadah dilakukan di tempat yang sepi, maka konsentrasi kita akan lebih terpusat, dibandingkan ibadah di tengah keramaian.

Menurut pandangan para ulama, shalat tahajjud merupakan shalat sunnat muakkad, yaitu shalat sunnat yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah. Shalat sunnat tahajjud biasa dilakukan paling tidak dua raka’at, umumnya dilakukan delapan raka’at, ditambah dengan witir tiga raka’at. Begitu besar pahala yang didapatkan oleh orang-orang yang senantiasa melaksanakan shalat tahajjud, karena tidak banyak orang yang mampu melakukan shalat tahajjud itu pada setiap malamnya.

Keempat, yaitu merasa takut akan siksa Allah SWT.

Firman Allah pada Al-Furqan ayat 65-66:

(65) Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal“.

(66) Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (Q.S. Al-Furqaan: 65-66)

Orang yang senantiasa takut terhadap azab Allah, maka akan menyebabkannya selalu mematuhi dan mentaati perintah-perintah Allah dan senantiasa meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an digambarkan, bahwa di saat menghadapi sakaratul maut, maka bagi mereka yang belum memiliki persiapan menghadapi alam kubur dan alam akhirat itu lalu meminta kepada Allah untuk menunda kematiannya, karena mereka belum banyak melakukan ibadah kepada Allah. Lalu Allah menjawab, “Apabila ajal mendatangi seseorang, maka ajal tersebut tak bisa diundur dan tidak juga bisa dipercepat.”

Jika kita selalu mengingat akan azab Allah, maka pada saat itulah keinginan kita akan muncul untuk melakukan ibadah kepada-Nya. Patut diingat, bahwa azab yang kita terima tak pernah ada habisnya. Dimulai pada saat kita menjalani sakaratul maut, kemudian berlanjut ketika berada di dalam kubur. Kemudian terus berlanjut hingga ketika dibangkitkan dan dikumpulkan di padang mahsyar. Menurut riwayat, bahwa di padang mahsyar nanti matahari itu sejengkal di atas kepala, dan manusia pada saat itu kondisinya berbeda-beda. Ada yang selalu merasa dingin dan sejuk, walaupun matahari berada di atas kepalanya. Ada juga yang merasa badannya terbakar, karena dibakar oleh matahari.

Pendeknya, ketika di padang mahsyar, maka manusia sudah merasakan alam atau suasana yang berbeda sesuai dengan amal kebajikannya. Bagi yang mendapatkan siksaan, maka siksaan tersebut akan terus berlanjut. Ketika berada di dalam neraka, siksaan tersebut takkan pernah ada habisnya. Setelah kulitnya terbakar oleh api neraka, kemudian kulit tersebut diganti lagi dengan yang baru. Setelah itu dibakar lagi, kemudian diganti lagi, dan begitu seterusnya tak pernah berhenti.

Seorang muslim yang baik yang akan mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat nanti adalah mereka yang senantiasa ada di dalam dirinya itu rasa takut terhadap siksaan Allah SWT. Dan karena rasa takut akan siksaan Allah itulah, maka kita akan menjadi orang yang senantiasa patuh terhadap perintah-Nya.

Kelima, yaitu sederhana (moderat) di dalam berinfaq.

Firman Allah pada Al-Furqan ayat 67:

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Q.S. Al-Furqan: 67)

Pada ayat di atas dengan jelas menyebutkan, apabila manusia atau orang yang beriman yang ingin membelanjakan sesuatu, maka ketika membelanjakan tersebut dia tidak boleh terlalu boros, dan juga tidak boleh terlalu kikir.

Di dalam ayat lain Allah menyebutkan:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (Q.S. Al-Israa’: 26)

Jadi, tidak boleh ada sikap boros, dan tidak boleh juga kikir, melainkan berada di tengah-tengah (moderat). Kalau kita berbelanja, maka belanjalah sesuai dengan keperluan. Kalau bersedekah, jangan sampai memberikan sedekah terlalu banyak. Hanya karena bangga dengan pahala bersedekah sehingga kita bersedekah terlalu banyak, sedangkan kita lupa akan kebutuhan kita sendiri.

Allah juga mengingatkan, bahwa orang-orang yang bersifat boros itu adalah saudara-saudaranya syaitan, seperti yang termaktub pada Surah Al-Israa’ ayat 27 berikut ini:

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Israa’: 27)

Tetapi jangan juga karena mengingat akan kebutuhan kita, lalu kita tidak mau mengeluarkan apa yang kita miliki, hingga zakat sekalipun tidak mau dikeluarkan. Itulah orang yang kikir sebenarnya. Dalam hal ini, kita harus bersikap moderat, tidak kikir dan tidak juga boros, namun berada di antara keduanya (moderat).

Pada Surah Al-Israa’ ayat 29 juga disebutkan:

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (Q.S. Al-Israa’: 29)

Jadi, jangan juga kita membelanjakan sesuatu sampai habis, dan jangan pula kita enggan membelanjakan apa yang ada pada diri kita. Hal ini tak mudah dilaksanakan, karena pada umumnya manusia itu bersifat konsumtif. Sifat konsumtif yang tak bisa ditahan yang kemudian menjadi-jadi, itulah yang disebut pemborosan. Tapi kalau menahannya juga menjadi-jadi, itulah yang dinamakan kikir. Di dalam hadits Nabi juga disebutkan, bahwa: “Urusan yang terbaik adalah urusan yang di tengah-tengah.”

Keenam, menjauhkan diri dari sifat syirik.

(68) Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya).

(69) (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.

(70) kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(71) Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

(Q.S. Al-Furqan: 68-71)

Syirik itu pada hakikatnya adalah sifat yang senantiasa menyekutukan Allah. Seseorang yang menganggap bahwa selain Allah itu ada tuhan yang lain lagi, maka dapat dikategorikan sebagai syirik. Kalau seseorang melakukan penyembahan terhadap Allah, tapi dalam suasana yang lain dia juga melakukan penyembahan terhadap yang selain Allah, maka itu juga dapat disebut sebagai syirik. Menurut ulama, syirik yang seperti ini dinamakan syirik akbar (syirik besar). Syirik akbar adalah syirik yang berupa menyekutukan Allah SWT dengan sembahan atau penyembahan yang selain dari Allah.

Kemudian ada juga yang dinamakan syirik asghar (syirik kecil). Menurut para ulama, syirik asghar salah satunya adalah riya’. Mengapa? Karena ketika beribadah, yang ia harapkan bukanlah keridhaan Allah, tetapi karena sesuatu yang selain dari Allah. Ibadah yang dilakukannya bukanlah diniatkan untuk Allah, tetapi karena yang selain Allah. Kalau ada seseorang yang melakukan shalat bukan karena Allah, tetapi karena yang lain, maka inilah yang disebut sebagai syirik asghar.

Berkaitan dengan syirik akbar, di dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan, bahwa mereka yang syirik itu apabila mati, maka dosa karena syiriknya tersebut tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Dosa tersebut takkan pernah diampunkan oleh Allah, jika saat ia meninggal dunia tak pernah memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa syiriknya itu. Karena itu, banyak sekali hal-hal yang menjauhkan seseorang dari surga, salah satu di antaranya adalah syirik.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Q.S. An-Nisaa: 48)

Ketujuh, menjauhkan diri dari melakukan perbuatan membunuh yang diharamkan oleh Allah SWT.

Seperti yang termaktub pada Surah Al-Furqan ayat 68, bahwa selain syirik, melakukan pembunuhan terhadap orang lain juga merupakan perbuatan dosa besar. Berkaitan dengan ini, ada juga orang yang melakukan pembunuhan, tetapi pembunuhan itu atas perintah hukum. Pembunuhan jenis ini tidak dikategorikan sebagai pembunuhan yang dilarang oleh Allah. Misalnya, ada seseorang yang melakukan pembunuhan terhadap orang lain, lalu dia itu diadili oleh hakim, dan hakim memutuskan bahwa dia akan juga dibunuh dengan hukum qishash. Maka mereka yang melakukan eksekusi hukuman mati terhadap orang yang dikenai hukum qishash tersebut tidaklah dikategorikan dalam rangka membunuh sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT, karena eksekusi hukuman mati tersebut berdasarkan perintah hukum.

Dalam kaitan dengan hukum qishash ini, ada ketentuan-ketentuan tertentu yang berlaku. Misalnya: dalam sebuah negara, jika negara memutuskan berdasarkan keputusan pengadilan bahwa si A akan dihukum qishash, maka itu tidak dianggap sebagai pembunuhan yang dilarang oleh Allah. Tetapi jika ada sekelompok orang di dalam sebuah negara yang mereka (orang-orang itu) memberlakukan hukuman qishash kepada seseorang tanpa adanya keputusan pengadilan yang sah, maka hal ini dikategorikan bukanlah pelaksanaan hukuman qishash yang sesuai dengan tuntunan syari’ah. Karena itu, bagi mereka yang memberlakukan pembunuhan seperti ini, maka mereka telah melakukan pembunuhan terhadap jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh.

Berkaitan dengan ini, Allah mengingatkan, bahwa barangsiapa yang membunuh seseorang, maka seolah-olah dia itu telah membunuh semua manusia, seperti termaktub pada ayat berikut ini:

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (Q.S. Al-Maidah: 32)

Kedelapan, menjauhkan diri dari perbuatan berzina.

Seperti yang termaktub pada Surah Al-Furqan ayat 68, bahwa selain syirik dan membunuh, melakukan perzinahan juga merupakan perbuatan dosa besar. Karena itu, bagi pelakunya akan diberikan siksaan yang berlipat ganda oleh Allah di akhirat nanti, seperti yang termaktub pada Surah Al-Furqaan ayat 69: (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.

Tetapi pada Surah Al-Furqaan ayat 70 dan 71 memberikan kabar gembira kepada kita: [70] kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [71] Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. (Q.S. Al-Furqan: 70-71)

Yang dimaksud pada ayat tersebut, jika sudah pernah terjadi hal-hal yang seperti itu (syirik, pembunuhan, dan zina), maka Allah membukakan pintu taubat, lalu bertaubatlah kepada Allah. Tapi pernyataan ini jangan dipelintir. Kalau begitu syirik dulu, baru kemudian bertaubat, karena Allah pasti akan mengampuni. Kalau begitu membunuh dulu, nantikan Allah akan membukakan pintu taubat. Kalau begitu berzinah dulu, nanti malam shalat lail kemudian berdo’a, minta ampun dan bertaubat, maka Allah akan mengampuni. Tentunya bukan ini sebenarnya yang dimaksud.

Itulah sebabnya, bagi manusia yang bersalah, apabila dia bertaubat, maka kesalahannya itu akan dihapuskan oleh Allah SWT. Setelah dosa dan kesalahannya dihapuskan oleh Allah SWT, maka kalau bertaubat lagi, maka akan ada tumpukan pahala dari taubatnya yang akan diberikan oleh Allah. Jika ia bertaubat lagi, sedangkan dosanya sudah tidak ada lagi, maka pahala bertaubatnya akan ditambahkan lagi oleh Allah SWT. Karena itulah, tindakan bertaubat dan beristighfar itu tidak hanya dilakukan setelah kita melakukan perbuatan-perbuatan dosa, tetapi kalau memungkinkan di sepanjang kehidupan kita selalulah kita bertaubat.

Perbuatan zina adalah perbuatan dosa besar yang menurut Rasulullah, bahwa orang yang berzina itu tidak layak kalau diundang untuk menghadiri sebuah majelis. Ini merupakan siksaan sosial.

Kesembilan, menjauhkan diri dari bersaksi palsu.

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Q.S. Al-Furqaan: 72)

Saksi palsu bisa muncul kapan saja. Hal ini biasanya terjadi apabila dengan menjadi saksi palsu itu maka akan mendapatkan keuntungan. Sekarang ini banyak sekali terjadi orang yang memberikan kesaksian palsu. Misalkan: sebenarnya kasus tersebut seharusnya dimenangkan oleh pihak A, tapi hakim kemudian memberikan kemenangan kepada pihak B, karena semua saksi memberatkan pihak A. Dalam hal ini, mereka yang menjadi saksi palsu itu sudah melakukan dosa besar. Menjadi saksi palsu itu membahayakan kemaslahatan di dalam masyarakat.

Kesepuluh, senang menerima nasehat yang baik.

Dikatakan oleh Al-Qur’an:

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. (Q.S. Al-Furqaan: 73)

Jadi, orang yang termasuk kategori orang beriman yang mendapat gelar ‘ibaadurrahman itu adalah orang yang senantiasa menerima nasehat-nasehat yang baik yang diberikan oleh orang lain, orang yang senantiasa mendapatkan pengajaran dan pelajaran dari orang-orang yang memberikan pelajaran-pelajaran yang baik. Termasuk di dalam hal ini adalah orang yang senang mencari ilmu adalah orang yang senang menerima nasehat.

Kesebelas, senantiasa berdo’a dan bermunajjat kepada Allah.

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Furqaan: 74)

Bukan hanya berdoa untuk dirinya, juga berdoa untuk keluarganya, untuk anak cucunya agar menjadi orang-orang yang baik dan orang-orang yang shaleh di belakang hari. Orang-orang yang seperti ini dikatakan oleh Al-Qur’an adalah orang-orang yang akan mendapatkan ganjaran yang paling tinggi di surga nanti yang akan diberikan oleh Allah SWT, seperti termaktub pada Surah Al-Furqaan ayat 75-77:

(75) Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,

(76) mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.

(77) Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)”.

(Q.S. Al-Furqaan: 75-77)

Kesebelas hal ini bukanlah hal yang mudah dilakukan. Tetapi marilah kita melatih diri dan membiasakan untuk memiliki kesebelas sifat dan sikap ini, seperti yang diungkapkan Al-Qur’an pada Surah Al-Furqan ayat 63-77 ini. [hAns]


13 Juni 2008 at 1:19 PM 20 komentar

Tips Menjadi Orang yang Paling Bahagia

TIPS MENJADI ORANG YANG PALING BAHAGIA

Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar M.A.

pada tanggal 25 Februari 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Kita tidak meragukan, bahwa semua orang pernah merasakan kebahagiaan. Tetapi pertanyaannya: Bagaimanakah merasakan kebahagiaan itu lebih lama di dalam diri kita? Apa kiat-kiatnya agar kita bisa mempertahankan perasaan bahagia tersebut?

Mempertahankan rasa kebahagiaan memang tidak gampang. Ada orang yang bekerja keras, namun yang ia dapat bukan kebahagiaan dan ketenangan, melainkan kekeringan hidup. Ini merupakan pertanda, bahwa tidak secara otomatis orang yang bekerja keras akan mendapatkan kebahagiaan. Ada orang yang kehidupannya terlihat sangat santai, tetapi justru pada saat yang bersamaan, rasa bahagia itu langgeng di dalam dirinya.

Jadi, kebahagiaan tidak diukur dengan banyaknya materi yang kita kumpulkan, sehatnya badan kita, ataupun shalehnya keturunan-keturunan kita. Tetapi sesungguhnya, kebahagiaan dan kesejahteraan yang paling puncak adalah ketenangan jiwa kita.

Ada beberapa tips yang dihimpun para ulama setelah memperdalami Al-Qur’an dan Hadits. Tips menjadi orang yang paling bahagia tersebut adalah:

Pertama, keimanan menghapuskan keresahan.

Tidak ada kebahagiaan tanpa iman yang kuat. Tanpa keimanan, orang-orang yang tidak memiliki prinsip keyakinan di dalam jiwanya hanya akan mencapai kamuflase kehidupan. Sehingga, yang bisa menancapkan kebahagiaan di dalam diri kita adalah keimanan. Keimanan seperti apakah yang dimaksud tersebut?

Keimanan menghapuskan keresahan dan melenyapkan kegundahan. Keimanan adalah kesenangan yang diburu oleh orang-orang yang bertauhid dan hiburan bagi orang-orang yang ahli ibadah. Tauhid dan ibadah itu muaranya adalah kebahagiaan dan ketenangan. Pertanyaannya: Bagaimana mewujudkan keimanan yang bisa mengundang kebahagiaan? Bagaimana melakukan ibadah yang bisa menghasilkan ketenangan?

Keimanan memang kepada Allah SWT. Ibadah memang semata-mata untuk Allah, tidak dimaksudkan untuk untuk membahagiakan diri kita sendiri. Maksudnya, kita beribadah bukan karena ingin bahagia. Orang yang beriman dan beribadah karena mendambakan suatu kebahagiaan dan ketenangan, maka seolah-olah kebahagiaan dan ketenangan tersebut merupakan tuhan keduanya selain Allah SWT.

Iman dan ibadah itu tujuannya kepada Allah SWT, akan tetapi dampak dari keimanan dan ibadah tersebut adalah ketenangan. Bukan tujuan kita beriman dan beribadah supaya kita bahagia dan hidup tenang. Jika kita beriman dan beribadah hanya untuk mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan, berarti kita telah merendahkan posisi ibadah kita (misalkan shalat) hanya menjadi meditasi. Tujuan dari meditasi adalah untuk mencapai ketenangan batin, dan juga kebahagiaan rohani. Bagi Umat Islam, tujuan kita beribadah bukanlah untuk memperoleh ketenangan batin, melainkan ketenangan batin itu hanya sebagai akibat, bukanlah merupakan suatu tujuan.

Jika ada orang beribadah hanya untuk memperoleh ketenangan duniawi dan juga ketenangan batin, maka belumlah ia dapat disebut sebagai seorang mukhlishin (orang yang ikhlash).

Orang yang beriman dan beribadah hanya dengan tujuan kebahagiaan, maka dia pasti akan memperoleh kebahagiaan serta ketenangan tersebut. Tetapi, kebahagiaan dan ketenangan yang ia dapatkan itu tidaklah permanen. Yang bisa mempermanenkan kebahagiaan dan ketenangan tersebut adalah ibadah yang lillahi ta’ala.

Seringkali kita putus asa, misalkan kita sudah sering Shalat Tahajjud dan Puasa Sunnat, tetapi mengapa hati kita tak pernah bisa tenteram, serta tak pernah merasakan bahagia? Hal ini karena ibadah yang telah dilakukan tersebut hanya bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan dan ketenangan batin, bukan untuk memperoleh ridha Allah SWT.

Kita bukan menyembah ketenangan batin, karena tujuan kita beribadah bukanlah untuk mendapatkan ketenangan batin tersebut. Tujuan kita beribadah adalah untuk memohon ridha Allah SWT. Adapun nantinya setelah melakukan ibadah tersebut kita kemudian mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan, maka itu merupakan bonus dari penghambaan diri kita kepada Allah SWT. Kita jangan pernah kecewa jika setelah beribadah ternyata kebahagiaan dan ketenangan tersebut tidak pernah muncul di dalam hati kita.

Apakah yang menyebabkan kebahagiaan tersebut? Kita mungkin bisa mengatakan, ibadah. Tetapi, ibadah yang sangat intensif dan berkualitas itu sebenarnya dipicu oleh ketenangan batin. Misalkan, jika kita sedang mengalami stress, cemas, takut, atau sedang sakit, apakah kita bisa beribadah dengan baik? Apakah ada ketenangan dalam beribadah tersebut? Jawabannya, tidak ada. Jadi, kedua-duanya adalah saling tunjang-menunjang. Ibadah yang baik akan melahirkan ketenangan batin. Ketenangan batin akan melahirkan kualitas ibadah yang baik.

Dalam hal ini, yang patut diperhatikan adalah permulaan niat kita (innamal a’malu bin-niat), yaitu: Innash-shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin, bukanlah li tatma innil qulub (untuk ketenangan jiwa).

Jika ada orang yang beribadah hanya bertujuan untuk ketenangan batinnya, maka ia telah menurunkan kualitas ibadahnya menjadi seperti meditasi. Sedangkan meditasi bisa dilakukan oleh orang yang tidak bertuhan sekalipun. Yang penting, ketika meditasi tersebut ia bisa memfokuskan perhatiannya, misalkan dengan membayang-bayangkan suatu tempat yang indah dan tenang. Ketika bermeditasi, orang tersebut bagaikan sedang “fly” setelah minum obat penenang ataupun mengkonsumsi narkotika. Sehingga, jika efek dari obat tersebut habis, maka kembali ia mengalami ketidaktenangan.

Jadi, tips untuk menjadi orang yang paling bahagia adalah: beriman dan beribadah semata-mata hanya karena Allah SWT. Bukanlah tujuan kita untuk memperoleh kebahagiaan, ketenangan, serta ketenteraman batin, melainkan semua itu hanyalah efek samping dari penyembahan (ibadah) kita kepada Tuhan. Akan tetapi, Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Adil.

Kebahagiaan yang diperoleh karena sebelumnya memang diniatkan sebagai suatu tujuan, dibandingkan dengan kebahagiaan yang diperoleh karena sebelumnya diniatkan hanya karena Allah SWT, maka kebahagiaan yang pertama tidak permanen, sedangkan kebahagiaan yang kedua adalah permanen. Pada yang kedua tersebut (yang diniatkan karena Allah SWT), bahkan kita akan merasakan suatu ketenangan walaupun ibadah tersebut dilakukan ketika sedang sakit. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena ibadah yang kita lakukan hanyalah karena Allah SWT.

Ubahlah paradigma kita! Jika selama ini kita mungkin pernah mendengar para penceramah yang mengatakan: ala bi dzikrillah tatmainnil qulub (ketahuilah, bahwa dengan mengingat Allah, maka kita akan mendapatkan ketenangan batin). Sehingga muncullah di pikiran kita, bahwa untuk mendapatkan ketenangan batin, maka kita harus menyembah Tuhan. Hal tersebut tentunya salah.

Janganlah motivasi ketenangan batin tersebut yang membuat kita beribadah kepada Allah SWT, melainkan kita beribadah adalah untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Ridha Allah itulah nantinya yang akan melahirkan kebahagiaan yang permanen. Tanpa ridha dari Allah, maka kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang permanen tersebut.

Jika selama ini kebahagiaan itu tidak permanen, mungkin karena motivasi kita beriman dan beribadah bukanlah untuk mendapatkan ridha-Nya, melainkan kita terlalu egois. Belum apa-apa, kita sudah mengharapkan kebahagiaan dan ketenangan batin. Shalat Tahajjud yang rakaatnya panjang-panjang, serta puasa dan ibadah-ibadah lainnya, dilakukan dengan diboboti pamrih-pamrih yang sangat individual. Jadi, mana untuk Tuhan? Semuanya hanya untuk dirinya sendiri. Pura-pura saja sujud, pura-pura saja rakaat shalatnya banyak, tapi tujuannya bukan untuk Allah, melainkan hanya untuk egoisme dirinya sendiri. Padahal, aqimish-shalata li dzikri (dirikanlah shalat untuk menghayati dan mengingat Aku).

Seharusnya Shalat Tahajjud tersebut diniatkan untuk memberikan sesuatu yang terbaik dan terindah kepada Tuhan. “Inilah kadoku kepada-Mu ya Allah, sebagai tanda syukur terima kasihku kepada-Mu. Kuberikan ibadahku yang sangat tulus kepada-Mu, tanpa diembel-embeli oleh tujuan-tujuan jangka pendekku.” Kalau perlu tanpa berdo’a, karena Tuhan Maha Tahu. Dia lebih tahu apa yang kita inginkan. Yang penting, munajatnya yang paling panjang, bukan doanya. Selama ini mungkin kita tak pernah bermunajat, yang ada adalah doa, yaitu daftar keinginan.

Kedua, karena adanya keimanan dan keyakinan yang sangat kuat tersebut, maka tingkat tawakkal kita menjadi bertambah.

Semakin ma’rifat kita menjadi klop, maka semakin keimanan kita itu mencapai sasaran. Semakin ibadah kita hanya bertujuan untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT, maka perasaan pasrah diri (tawakkal) pasti akan terwujud di dalam diri kita.

Jika perasaan tawakkal itu muncul, maka yang lalu telah berlalu, dan yang telah pergi biarlah pergi. Biarkanlah masa lampau itu berlalu, dan juga jangan membebani kita lagi. Karena kita yakin bahwa Allah itu Maha Ada, Maha Adil, dan Maha Kuasa, maka kita serahkan diri kita kepada-Nya. Orang yang sudah beriman seperti ini, itulah orang yang telah mencapai ma’rifah yang sesungguhnya.

Jangan dipikirkan yang telah berlalu, karena telah pergi dan telah selesai. Orang yang selalu terbebani masa lampaunya, berarti ia telah meragukan Allah sebagai Maha Pemaaf. “Fa iza ‘azamta fa tawakkal ala-llah”. Setelah kita melakukan yang perfect dan terbaik untuk Allah, maka kemudian ber-tawakkal-lah kita kepada Allah. Tetapi jika kita telah melakukan dosa yang begitu banyak, lalu kemudian kita ber-tawakkal kepada Allah tanpa sebelumnya didahului dengan bertaubat, maka itu bukanlah disebut menyembah Tuhan, melainkan sebaliknya, yaitu mengejek dan menghina Tuhan.

Kalau sudah seperti itu, maka akan muncul sikap penerimaan Qadha’. “Qadha’” adalah garis tangan. Karena garis tangan kita memang sudah seperti ini, maka mau diapakan lagi. Kita sudah berusaha, tapi tetap saja seperti ini. Namun, jika kita tak pernah berusaha, namun berpasrah saja dengan garis tangannya itu, maka ini bukanlah dinamakan garis tangan, melainkan kemalasan.

Yakinlah, bahwa doa dan ibadah akan mampu mengubah takdir. Misalkan tertulis di Lauhul Mahfudz, bahwa hari ini kita akan mati. Kemudian lewat dari waktu kematian tersebut, ternyata kita tidak mati. Apakah ini berarti bahwa Lauhul Mahfudz tersebut salah? Jawabannya, Lauhul Mahfudz tidaklah salah. Karena di atas Lauhul Mahfudz masih ada Allah SWT. Malaikat hanya bisa mengetahui sampai Lauhul Mahfudz, tetapi tidak ada yang bisa memahami isi dari pengetahuan Tuhan.

Misalkan pada sebuah doa disebutkan: “Allahumma thawwil umurana (Ya Allah, panjangkanlah umur kami!)” Berkaitan dengan doa tersebut, bukankah telah ditetapkan di Lauhul Mahfudz, bahwa kita lahir pada tanggal sekian bulan sekian, kemudian akan wafat pada tanggal sekian bulan sekian. Yang ada di Lauhul Mahfudz itu adalah catatan formal, sedangkan catatan de facto-nya hanyalah Allah yang tahu.

Terimalah qadha’ yang telah pasti dan rizki yang telah dibagi itu dengan hati yang terbuka. Segala sesuatu itu ada ukurannya. Karena itu, enyahkanlah kegelisahan.

Jika kita sudah bersusah payah mencari rizki, tetapi kemudian rizki yang didapatkan hanya itu saja, maka mungkin itulah yang terbaik untuk kita. Memang sedikit, tapi itulah intinya berkah yang kita dapatkan. Untuk apa kita mendapatkan banyak, tapi tanpa berkah. Mana yang lebih baik, sedikit tapi berkah, atau banyak tapi tidak berkah? Maunya kita, yaitu banyak tapi berkah. Seandainya ada pilihan, sedikit tapi berkah, atau banyak tapi tidak berkah? Tentunya kita akan memilih sedikit tapi berkah. Buat apa banyak tapi tidak berkah, kalau kemudian kita dimasukkan ke penjara.

Berikutnya, bahwa dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenteram, dosa akan diabaikan, Allah akan menjadi ridha, dan tekanan hidup akan terasa ringan.

Orang yang selalu merasakan beban hidupnya menjadi semakin berat, maka orang tersebut adalah orang yang tidak ikhlas. Orang yang ikhlas tidak akan pernah merasakan kelebihan beban di dalam hidupnya. Mengapa? Karena ia akan mengembalikan semuanya kepada Allah. Orang yang selalu merasakan kelelahan di dalam hidupnya juga merupakan gejala tidak ikhlas. Sepertinya ia tidak ikhlas menjadi hamba di muka bumi ini. Sepertinya ia tidak ikhlas menjadi khalifah di atas dunia ini.

Berikutnya, janganlah kita menanti ucapan terima kasih dari sesama. Jika ada orang yang berbuat sesuatu dan kemudian menanti terima kasih, itu pasti ia tidak ikhlas. Melelahkan hidup seperti itu. Cukuplah pahala dari zat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Tak ada yang harus kita lakukan terhadap orang yang iri dan dengki kepada kita. Biarkan orang tersebut sibuk sendiri. Jangan kita layani orang-orang yang dengki dan iri terhadap kita tersebut. Yang penting, hidup kita lurus (shiratal mustaqim), jalan terus kita menuju Allah, biarkanlah orang tersebut berurusan dengan-Nya. [Hans]

8 Juni 2008 at 1:17 PM 12 komentar

Pos-pos Lebih Baru


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 496.449 hits
September 2019
S S R K J S M
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: