Posts tagged ‘Masjid Agung Sunda Kelapa’

Ibadah Haji

Haji sebagai salah satu Rukun Islam mempunyai tujuan yang sangat mulia. Seringkali orang tidak memahami apa tujuan ibadah haji, sehingga begitu pulang dari ibadah haji, tidak banyak didapatkan hikmah dan manfaatnya. Kalau kita kaji firman Allah di dalam Surah Al-Hajj ayat 27-28, Allah telah memaparkan hikmah dan manfaat ibadah haji yang sangat banyak, yaitu:
(lebih…)

Iklan

12 Desember 2008 at 10:45 AM 1 komentar

Menapaktilas Perjalanan Nabi Ibrahim

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim“. (Q.S. Al-Baqarah: 124)
(lebih…)

10 Desember 2008 at 6:30 AM 1 komentar

Makna Qurban

Qurban adalah suatu ibadah yang ditetapkan oleh Islam yang dasarnya terdapat di dalam Alquran Surah Al-Kautsar:

(1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. (2) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (3) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (Q.S. Al-Kautsar: 1-3)
(lebih…)

9 Desember 2008 at 5:17 PM 9 komentar

Pengaruh Agama di Dalam Kehidupan

PENGARUH AGAMA DI DALAM KEHIDUPAN

Disarikan dari Ceramah Ahad

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Abudin Nata, M.A.

pada tanggal 23 November 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Seorang pakar pendidikan dari Malaysia bernama Hasan Langgulung pernah mengatakan, bahwa dunia Islam dahulunya pernah mengalami kejayaan dan menjadi superpower selama kurang lebih 7 abad yang peninggalannya hingga saat ini masih bisa kita lihat. Islam dahulu pernah menguasai Spanyol selama 7 abad, dan masih banyak sisa-sisa arsitektur Islam di negara ini. Bahkan Spanyol pernah tercatat di dalam Guinness Book of Record sebagai negara yang paling tinggi kunjungan wisata antar negaranya. Hal ini dikarenakan adanya arsitektur dan bangunan yang Indah di negara ini, seperti di Seville, Granada, yang semuanya itu adalah karya-karya besar Umat Islam.

Islam juga pernah berkuasa di India, Sisilia, Italia, dan beberapa negara lainnya. Ketika itu Umat Islam maju dalam berbagai bidang: kedokteran, arsitektur astronomi, botani, farmakologi, dan seluruh cabang ilmu pengetahuan modern. Hal ini menurut Hasan Langgulung dikarenakan Umat Islam saat itu mengamalkan Asmaul Husna. Mengamalkannya bukan hanya sekedar dihafal dan dibaca, melainkan juga menghayati makna yang terkandung di dalamnya. Misalkan, Allah bersifat “Al-‘Alim” (Maha Mengetahui), maka untuk menghayatinya kita juga berusaha untuk menjadi orang yang ‘alim, menjadi orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Allah juga bersifat “Al-Musawwir” (Maha Kreatif, Maha Inovatif, Maha Menghasilkan karya-karya besar), maka untuk menghayatinya kita juga semestinya menjadi orang yang kreatif.

Kita bersyukur kepada Allah, bahwa dalam kesempatan ini kita me-recharge (mengisi) kembali agar kita memiliki spirit dengan nilai-nilai, dengan sifat-sifat Allah, dan tentunya juga sesuai dengan praktek dan contoh yang diberikan oleh Rasulullah.

Allah berfirman:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Q.S. Ar-Ruum: 30)

Pada ayat ini, Allah dengan tegas menyatakan dalam kalimat perintah: Fa aqim wajhaka (Maka hadapkanlah wajahmu). Jadi, kata “aqim” merupakan fi’il ‘amr, yang bisa berarti mendirikan, membangun, mengkonstruksi, ataupun menciptakan sesuatu yang kuat.

Di sini kita mencermati, bahwa dalam beragama memang harus secara sungguh-sungguh, jangan setengah hati, dan juga harus total. Jika kita ingin mendirikan suatu bangunan yang kokoh, maka kita tidak boleh asal-asalan mendirikannya. Kita harus mengundang arsiteknya perencananya, ada tes tanahnya, lalu kemudian didesain konstruksi dengan situasi tanahnya, bahan materialnya, waktu pengerjaannya, pengalaman, dan lain sebagainya, sehingga bangunan tersebut menjadi kokoh.

Maka hadapkanlah wajahmu. Dari seluruh panca indera kita, pada tubuh ini terdiri dari berbagai macam organ, yang semua unsur fisik tersebut diwakili oleh wajah. Wajah juga mencerminkan berbagai macam perasaan kita: sedih, senang, murung, susah, dan perasaan-perasaan lainnya akan tercermin di wajah ini.

Ketika kita bertemu dengan orang lain, maka wajah pulalah yang kita tampakkan. Senyum yang kita berikan juga bisa mengalirkan energi. Rasulullah mengatakan, bahwa di antara sedekah yang murah-meriah adalah senyum. Dengan senyum yang terpancar dari wajah kita, maka akan ada komunikasi batin dan ada energi yang masuk ke orang yang kita ajak berkomunikasi. Lalu orang yang kita ajak berkomunikasi itu juga tersenyum membalas senyuman kita. Jika sudah sama-sama tersenyum, maka urusan selanjutnya akan lancar.

Jika di dalam ayat tersebut menyatakan untuk menghadapkan wajah, maka berarti dalam beragama bukan hanya wajah, melainkan semuanya harus ikut beragama. Mata kita ikut beragama, yaitu dengan cara jangan melihat yang diharamkan oleh Allah. Telinga kita juga ikut beragama, yaitu dengan cara tidak mendengarkan hal-hal yang bisa membawa bencana. Tangan kita beragama, yaitu dengan mengerjakan hal-hal yang baik-baik. Kaki kita beragama, yaitu dengan pergi ke tempat yang baik. Hati kita bergama, yaitu hanya kita peruntukkan kepada yang lurus-lurus di jalan Allah. Jadi, semua yang ada pada diri kita ini hadapkanlah kepada agama secara totalitas.

Di kalangan para ahli, ada kajian-kajian tingkatan beragama. Tingkatan tersebut, yaitu:

Pertama, fiqh

Yang mengatur tata cara beragama adalah fiqh. Karena itulah, para ulama sepakat menjadikan ilmu fiqh fardhu ‘ain untuk dituntut. Ilmu fiqh merupakan ilmul hal, yaitu ilmu yang selalu berkaitan dengan kehidupan keseharian kita. Mulai dari kita lahir hingga meninggal dunia, maka fiqh lah yang bekerja. Dengan ilmu fiqh, maka ada standard untuk kita melaksanakan berbagai macam amal ibadah. Kalau kita mau bekerja dengan rapi, maka harus ada SOP (Standard Operasional Prosedur). Dalam hal ini, fiqh merupakan SOP kita dalam melakukan berbagai macam amal ibadah. Semuanya bermula dari fiqh, dan karena itu fiqh tidak boleh kita tinggalkan.

Kedua, sufistik (tasawwuf)

Untuk bisa beragama secara holistik (menyeluruh), maka kita naik ke tingkat selanjutnya, yaitu tingkat sufistik (tasawwuf), yang disebut sebagai mystical approach (pendekatan sufistik). Ketika kita salat, ternyata Allah hadir di dalam diri kita. Kadang-kadang pikiran kita ke mana-mana ketika menunaikan ibadah salat. Kalau ketika salat kita ingat di pasar, maka berarti tasawwufnya belum ada. Pada saat seseorang salat, jika fiqh dilengkapi dengan tasawwuf, maka sebenarnya ada dialog di dalam salatnya itu. Di dalam setiap ayat dan bacaan-bacaan yang kita lafazkan ketika salat, itu sebenarnya ada sahut-sahutan dengan malaikat, namun kita tidak mendengar sahutan dari malaikat tersebut. Karena itulah, janganlah terlalu cepat ketika kita melafazkan bacaan-bacaan salat tersebut. Lafaz-lafaz ketika salat harus kita baca secara tertib. Maka dengan dimensi sufistik ini, maka sifat-sifat Allah akan mengalir, energi-energi tersebut akan mengalir di dalam diri dan kehidupan kita.

Sudah banyak kajian-kajian tentang kecerdasan emosional, dan itu sudah masuk ke dalam manajemen bisnis. Ada buku yang ditulis oleh seorang ahli di bidang komunikasi tentang kecerdasan emosional yang sering dirujuk oleh para komunikator. Ia mengatakan, kalau seseorang mempunyai kecerdasan emosional, maka ucapannya itu akan memiliki resonansi, akan memiliki vibrasi (getaran). Dari resonansi itu, ketika dia menyalurkan sifat kasih sayang, maka sifat kasih sayangnya itu menempel kepada orang tersebut. Ketika dia menyalurkan sifat sabar, maka sifat sabarnya itu menempel kepadanya. Ketika dia menyalurkan sifat ikhlas, maka sifat ikhlasnya itupun menempel kepadanya. Terjadinya komunikasi seperti ini, antara lain dengan pendekatan spiritual emosional. Ilmu tasawwuf mengatur kita dalam hal ini, sehingga kita mempunyai spirit, mempunyai jiwa.

Menurut suatu penelitian, seorang pimpinan yang memiliki kecerdasan emosional, maka akan menyebabkan karyawannya bekerja secara produktif. Hal ini dikarenakan karyawannya merasa ada aliran energi yang baik yang diisikan kepada mereka, yang kemudian menjadikan mereka bisa bekerja dengan penuh semangat dan gairah. Yang masuk ke dalam diri mereka adalah virus-virus yang disebut oleh David McClelland sebagai Need of Achievement, yaitu semangat untuk membangun. Karena itulah, dalam hal ini pemimpin menjadi sangat penting. Ketika virus yang dimasukkannya adalah virus negatif (virus yang buruk): seperti rasa benci, iri, dengki, hasud, maka orang yang dimasuki oleh virus tersebut akan error dan hang.

Ilmu yang mengatur hal seperti ini adalah aspek tasawwuf. Imam Al-Ghazali (dalam kitabnya Ihya Ulumuddin) mencoba memadukan antara fiqh dan tasawwuf. Beliau mengatakan, agar kehidupan ini bermakna, maka fiqh didampingi dengan tasawwuf. Seperti misalnya ketika beliau sedang berwudhu’, maka menurutnya, berwudhu’ itu bukan hanya sekedar mencuci tangan luarnya supaya bersih, tetapi ketika mencuci tangan harus ada dialog dengan tangan: “Hai tangan, apa yang kau perbuat hari ini? Apakah perbuatannya baik atau buruk?”

“Hai kaki, apa yang telah kau perbuat?”

Dijawab oleh kaki, “Saya sudah berbuat baik, yaitu membantu seorang tua renta untuk menyeberangi jalan.”

Ketika mencuci kepala, maka kita tanyakan, “Hai kepala, apa yang telah kau pikirkan hari ini?”

Ketika mencuci mulut, maka kitapun bertanya, “Hai mulut, apa yang telah kau ucapkan hari ini?”

Ketika mencuci telinga, kitapun menanyakan, “Hai telinga, apa yang kau dengar hari ini?”

Dengan melakukan semua ini, maka kita akan mendapatkan dua macam kebersihan. Jika pada fiqh adalah kebersihan lahir, yang disebut sebagai thaharah. Sedangkan pada tasawwuf adalah kebersihan batin, yang disebut sebagai tazkiyah.

Ketiga, ideologi

Tingkatan ini adalah tingkat program, yaitu pendekatan ideologis. Ideologis adalah pemikiran-pemikiran yang sudah matang, pemikiran-pemikiran yang sudah dikaji secara mendalam, lalu kemudian menjadi program, dan program ini harus dilaksanakan. Dalam kaitan ini, maka ketika selesai salat kita mengucapkan “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh” ke sebelah kanan dan kiri. Apakah artinya ini? Apakah hanya sekedar menolehkan kepala? Kalau hanya sekedar menolehkan kepala, robot juga bisa. Lantas, apakah sebenarnya makna dari salam ke kanan dan ke kiri tersebut? Maknanya adalah, bahwa ibadah salat yang sudah kita bangun, spirit yang sudah kita lakukan, itu semuanya harus menjadi program yang terwujud di dalam kehidupan, yaitu kita lihat keadaan di kiri kanan kita, keadaan di sekitar lingkungan kita.

Karena itulah, ibadah mahdhah (hablumminallah) itu harus diikuti dengan hablumminannas. Ketika kita menengok ke kanan dan ke kiri, maka kita melihat apakah masalah yang harus dihadapi di dalam masyarakat. Mungkin di sebelah rumah kita ada anak yatim yang perlu disantuni. Mungkin juga di sebelah kita ada orang yang sakit parah yang memerlukan pertolongan, ada orang yang sedang mengalami kesulitan, dan sebagainya, yang ini harus kita lihat dan kita bantu. Dalam konteks inilah masuk ke dalam program yang sifatnya aksi (gerakan). Ini merupakan bagian yang ketiga dari ajaran agama. Setelah kita mengamalkan aspek fiqhnya, aspek tasawwufnya, kemudian masuk kepada aspek sosial. Berkaitan dengan hal ini, para ahli sering melihat, bahwa terkadang masih ada kesenjangan antara aspek fiqh (ritual), aspek spiritual, dan aspek sosialnya. Padahal kalau kita teliti, ternyata seluruh ibadah di dalam Islam mempunyai dampak sosial.

Imam Ayatullah Khomaini pernah membandingkan, ternyata ayat yang berkaitan dengan ibadah sosial lebih banyak dibandingkan ayat yang berkaitan dengan ibadah mahdhah (ibadah individual).

Jika saudara-saudara kita sekarang sebagian sudah berada di Makkah Al-Mukarramah (sedang menunaikan ibadah haji), yang tidak lama lagi akan melaksanakan puncak ibadah haji, cobalah renungkan makna ibadah haji ini. Ternyata makna dari ibadah haji ini penuh dengan nilai-nilai sosial, semangat perjuangan.

Thawaf apakah hanya sekedar berputar-putar mengelilingi Ka’bah?

Ternyata makna dari thawaf adalah, bahwa hidup ini harus dengan perjuangan. Dan setiap perjuangan harus dimulai dengan menyerap nilai Allah. Karena itulah, thawaf dimulai dari ruknul yamani. Kita mulai dengan mengucapkan: “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,” lalu kitapun mengelilingi Ka’bah. Jadi, perjuangan itu dimulai dari niat semata-mata karena Allah. Terus mengelilingi, kemudian ketika sampai lagi di ruknul yamani, kita mengucapkan lagi “Allahu akbar“.

Kemudian kita melakukan sa’i.

Sa’i juga memiliki makna perjuangan, yaitu jalan-jalan kecil, lari-lari kecil. Di dalam sejarahnya, sa’i adalah memperjuangan keselamatan manusia, yaitu Ismail (puteranya Nabi Ibrahim, yang kemudian setelah dewasa juga diutus menjadi nabi). Ismail yang ketika itu masih bayi dan ibunya (Siti Hajar) ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di tengah padang pasir yang tandus.

Pada waktu itu Nabi Ibrahim berdoa (seperti termaktub di dalam Alquran):

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo`a: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali“. (Q.S. Al-Baqarah: 126)

Itulah yang ditinggalkan dan dipesankan oleh Nabi Ibrahim ketika meninggalkan Siti Hajar dengan putranya yang masih kecil (Ismail).

Jadi dalam sejarahnya, sa’i merupakan perjuangan menyelamatkan bayi, menyelamatkan manusia. Di dalam perjuangan itu, dimulai dari Bukit Shafa. “shafa” artinya bersih, niat semata-mata karena Allah. “marwa” artinya berkembang. Ada perjuangan, kemudian kemanusiaan.

Begitu juga ketika wukuf di Padang Arafah. “arafah” artinya mengenal, yaitu mengenal secara mendalam. Mengenal, melihat, mengetahui, bukan dengan panca indera, melainkan dengan hati nurani. Maka orang yang wukuf di Padang Arafah, ia akan semakin arif dan bijaksana. Dia mengetahui, bahwa betapa dirinya di hadapan Allah sangat faqir.

Maka digambarkan pada waktu itu manusia tidak boleh membawa apa-apa: pangkat, harta, kedudukan, semuanya ditinggalkan, kemudian hanya mengenakan pakaian putih. Mengapa demikian? Mengapa orang yang berhaji itu harus meninggalkan semua pakaian kebesarannya? Hal ini agar jangan sampai mengganggu hubungan manusia dengan Allah. Hubungan manusia dengan Allah kadang-kadang terganggu oleh berbagai macam faktor: kadang-kadang terganggu oleh pakaian. Jika kita memakai jas, berdasi, dan mentereng, rasanya lain dibandingkan orang yang hanya mengenakan pakaian yang biasa saja, seakan-akan orang yang berpakaian biasa saja itu tidak bonafit. Kalau kita mengenakan pakaian yang indah-indah, maka rasanya kita ini yang paling tampan sedunia. Begitu juga kalau mengenakan pakaian jenderal (militer), seakan-akan kita ini begitu gagah dan sangat berkuasa.

Jadi, pakaian yang kita kenakan itu memberikan dampak psikologis, memberikan pengaruh kejiwaan kepada orang yang memakainya. Maka dalam pelaksanaan ibadah haji, lepaskan semua pakaian itu, supaya hubungan dengan Allah tidak terganggu. Dengan begitu, maka dia menjadi orang yang arif.

Allah berfirman:

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (Q.S. Al-Baqarah: 197)

Seperti yang termaktub pada ayat di atas, bahwa selain dilarang berbuat “rafats” (berkata yang menimbulkan hal-hal yang bisa membangunkan syahwat), juga dilarang untuk fusuq (melakukan pelanggaran), dan jidaala (bertengkar/berbantah-bantahan). Fusuq berarti orang yang tahu hukum tetapi melanggar. Jangan bertengkar berarti masuk ke masalah sosial, supaya bisa membangun komunikasi yang baik.

Dari cuplikan ayat di atas, betapa kita lihat, bahwa ajaran Islam itu terkait dengan masalah sosial. Pada ayat-ayat yang lain (berkaitan dengan ibadah haji) juga ditegaskan, bahwa dilarang membunuh binatang dan memotong tanaman (lihat Al-Maidah ayat 1, 2, 95). Bahkan di akhirat nanti, seperti yang termaktub pada sebuah hadis qudsi disebutkan:

Suatu ketika, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Wahai para sahabat, tahukah kamu, siapakah di akhirat nanti yang menjadi orang yang bangkrut?”

Dijawab oleh para sahabat, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak mempunyai dinar (uang emas) dan dirham (uang perak).”

Kata Rasulullah, “Bukanlah itu, melainkan orang yang bangkrut itu adalah orang yang datang menghadap Allah dengan membawa pahala salat, pahala zakat, pahala puasa, pahala haji, dan pahala lainnya. Tapi datang malaikat melaporkan: Ya Allah, orang ini memang betul pahala ibadahnya banyak, tetapi orang ini pernah mencaci maki, orang ini pernah menyakiti hati orang lain di depan umum, orang ini pernah menuduh tanpa bukti, orang ini pernah memukul orang lain, orang ini pernah mencuri, orang ini pernah menumpahkan darah. Akhirnya orang tersebut tidak jadi masuk ke surga, ia ditahan.”

Seperti apakah ditahannya? Pahala kebaikan dari salat, zakat, puasa, haji, dan pahala-pahala lainnya dibagi-bagikan kepada orang yang pernah disakitinya, sampai habis pahala yang dimilikinya. Setelah habis pahala kebaikan ibadahnya itu, tinggallah keburukan orang-orang yang dizaliminya yang kemudian ditimpakan kepadanya. Maka kemudian dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Ibadah yang kita lakukan itu harus berdimensi sosial. Kalau dikaitkan lebih jauh lagi, ternyata masalah sosial itu menjadi prioritas. Misalkan jika kita puasa, yang puasa tersebut kita laksanakan sambil melakukan perjalanan. Perjalanan itu bisa meletihkan. Alquran menyatakan, bahwa kita yang berada di dalam perjalanan diperbolehkan untuk berbuka. Atau juga ketika kita dalam keadaan sakit, yang menurut penelitian para dokter, bahwa jika puasanya diteruskan, maka sakitnya akan bertambah parah. Karena itulah, menurut yang termaktub di Alquran, kita diperbolehkan berbuka jika dalam keadaan sakit. Ini artinya, bahwa ibadah di dalam Islam pun memperhatikan keselamatan manusia.

Dimensi sosial inilah yang kita inginkan, yang bermula dari aspek fiqh, aspek tasawwuf, yang kemudian meningkat kepada aspek sosial. Dari sini kemudian naik tingkat lagi ke tingkat ke empat, yaitu pendekatan logikal, kita perkuat argumentasi kita. Kita perkaya keagamaan kita dengan berbagai bahan bacaan, sehingga keberagamaan kita itu menjadi kokoh.

Menurut beberapa buku, akhir-akhir ini menunjukkan keadaan, yaitu orang-orang semakin percaya bahwa ajaran Islam memang ajaran yang terkemuka, ajaran Islam yang bisa memecahkan problem.

Sekarang ini sedang terjadi krisis ekonomi global. Sudah banyak yang stress, ada juga yang bunuh diri, juga ada yang menjadi orang gila. Pengaruhnya ternyata sudah sampai ke Indonesia, antara lain harga hasil pertanian dan perkebunan anjlok, sehingga para petaninya banyak yang stress. Menurut informasi dari media massa, bahwa akan terjadi PHK lebih dari 12 ribu orang.

Dalam keadaan seperti ini, maka agama yang harus menjadi pegangan, karena agama memberikan pedoman bagi manusia dalam seluruh keadaan. Antara lain kini semakin diyakini, bahwa Sistem Ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang paling kuat. Menurut Islam, mata uang itu adalah emas dan perak. Karena mata uang yang paling kuat adalah mata uang emas, yang ternyata hampir tak terkena goncangan.

Menurut ajaran Islam, juga dilarang untuk melakukan monopoli. Islam sudah menawarkan satu prinsip ekonomi yang balance (seimbang). Di dalam Islam dipersilakan untuk kaya. Tetapi bersamaan dengan kekayaan, dia bersedekah, dia berinfak, dia berzakat, dan dia berwakaf. Maka ketika dia makmur, yang lain pun juga ikut makmur. Namun, orang yang diberi zakat dan infak pun jangan ketergantungan terus-menerus. Sebaiknya, ketika diberi zakat, maka harus ada perubahan ke depannya. Jika tahun ini dia diberi zakat, maka tahun yang akan datang dialah yang memberi zakat.

Di dalam krisis ini, mental spiritual Islam sudah memberikan petunjuk, dan itu cukup banyak. Antara lain, misalnya ketika orang menghadapi keadaan pailit (bangkrut), keadaan kekurangan, maka Islam memberikan tuntunan untuk bersabar. Di dalam psikologi modern, sabar diartikan sebagai regresi, yaitu menurunkan kadar ambisi kita. Rasulullah pernah mengatakan (dan juga di dalam ajaran agama lain), bahwa sebab manusia stress itu karena terlalu tinggi obsesinya. Dengan bersikap sabar, maka jika dia menginginkan 100, maka kemudian kadarnya diturunkan menjadi 60. Selain sabar, yaitu sabar untuk menerima kenyataan dari standar 100 diturunkan menjadi 60, juga pada saat yang bersamaan dia juga bersyukur kepada Allah.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (Q.S. Ibraahim: 7)

Dengan bersyukur, sekecil apapun yang didapatkan, maka di hadapan orang yang bersyukur menjadi bermakna. Tetapi bagi orang yang tidak pernah bersyukur, maka berapapun menjadi tidak ada artinya. Misalkan dia mendapatkan untung sejuta, lalu dia berkata, “Ya…, hanya sejuta. Kemarin untungnya 3 juta.” Besoknya lagi dia mendapat 700 ribu, lalu dia berkata, “Ya…, cuma 700 ribu. Kemarin untungnya sejuta.” Sehingga tak pernah ada habisnya ia mengeluh.

Bagi orang yang bersyukur, ketika ia berada dalam keadaan yang sulit, maka ia akan bertawakkal kepada Allah.

Agama sudah memberikan petunjuk-petunjuk yang lengkap untuk menghadapi semua ini. Maka pada Q.S. Ar-Ruum ayat 30 dikatakan: fa aqim wajhaka. Ternyata kalimat ini luas sekali artinya, baik itu dimensi fiqh, tasawwuf, sosial, ideologi, dan dimensi kognitifnya.

Fa aqim wajhaka liddiini. Menurut para ahli ilmu nahwu, kata “ad-diin” di sini bentuknya ma’rifat. Di dalam Ilmu Nahwu, ada nakirah dan ada ma’rifat. Jika nakirah adalah umum, misalkan kata “diinun“, maka ma’rifat adalah khusus, misalkan kata “ad-diin“. Dalam hal ini, agama yang dimaksud adalah agama yang diturunkan oleh Allah, bukan agama yang dihasilkan dari seminar, bukan pula agama hasil penelitian, tetapi agama yang “that is the revelation from God in The Holy Quran“, yaitu agama yang diwahyukan oleh Tuhan di dalam kitab suci Alquran.

Mengenai orisinalitas Alquran, maka hal ini sudah terbukti. Hal ini sudah bisa dibuktikan, misalkan melalui pendekatan sejarah. Bahwa Alquran ditulis pada zaman Rasulullah masih hidup, dan beliau yang langsung mengedit Alquran tersebut, yang ini menurut istilah pada Ilmu Ulumul Qur’an disebut tauqif (penetapan Rasulullah). Jadi, ketika turun ayat Alquran, maka Rasulullah langsung memerintahkan para sahabat ketika itu untuk menyusun urutan surah dan ayat Alquran seperti yang bisa kita baca hingga saat ini (kini mungkin seperti menyusun dan menyimpan berkas-berkas di dalam file-file).

Di samping itu, penyusunan Alquran ini juga dibantu oleh para penghafal Alquran ketika itu. Jadi, kalau ada lembaran-lembaran Alquran itu yang hilang, maka masih ada back-upnya (sesuai dengan yang dihafal oleh para penghafal). Dan memang pada masa itu, tradisi di Arab adalah tradisi menghafal, sedangkan tradisi baca-tulis mungkin tidak ada, dan kalaupun ada, maka tidak sepenting tradisi menghafal. Oleh karena itulah, tradisi menghafal tersebut hingga saat ini masih ada di Arab. Menghafal Alquran bahkan menjadi persyaratan untuk masuk ke perguruan tinggi. Setelah seseorang masuk ke perguruan tinggi, barulah orang tersebut bertahassus dia mau menjadi apa. Misalkan mau menjadi dokter, silakan, tetapi dokter yang hapal Alquran. Mau menjadi ahli pertanian, silakan, tetapi ahli pertanian yang hapal Alquran. Mau menjadi insinyur, silakan, tetapi insinyur yang hapal Alquran. Mau menjadi tentara, silakan, tetapi tentara yang hapal Alquran. Sehingga agama itu betul-betul menjiwai seluruh aspek kehidupan.

Ada masa yang disebut sebagai Golden Age (Masa Emas). Masa ini pada setiap anak yaitu dari berumur 4 hingga 12 tahun (masa anak ketika TK hingga lulus SD). Inilah masa keemasan, di mana memori anak dengan mudah bisa menghapal. Menurut Ilmu Neurologi (ilmu tentang syaraf), bahwa pada otak manusia itu ada 200 milyar sel otaknya. Pertumbuhannya mulai dari dalam rahim (ketika terjadi ‘alaq). Pembentukan sel tersebut dalam setiap detik sekitar 25 ribu sel yang berkembang, hingga terus berkembang sekitar 200 milyar sel otak manusia tersebut. Sel-sel ini ada Golden Age-nya, di mana ada masa memorizing.

Suatu saat saya berkunjung ke Iran (tepatnya di Kota Teheran). Di sana saya menemukan 200 anak di bawah umur 10 tahun yang sudah hapal Alquran. Anak-anak ini juga pernah dites di London. Kecepatan mereka untuk mencari ayat Alquran dibandingkan dengan kecepatan komputer, ternyata anak-anak ini lebih cepat dibandingkan komputer.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Ternyata sistem komputer belum bisa menyaingi otak manusia. Diprediksi, bahwa baru pada tahun 2030 akan ada komputer yang servernya itu bisa menyimpan seperti halnya sel otak manusia. Tapi, sepertinya saya tak terlalu yakin akan prediksi ini. Otak manusia yang diciptakan oleh Allah memorizingnya begitu kuat.

Di sinilah kemudian kepada agama, di mana Alquran berpedoman kepada Ad-Diin, kemudian diperkuat oleh Hadis Rasulullah, kemudian diperkuat lagi oleh keterangan para ulama, seperti yang termaktub pada Alquran:

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisaa: 59)

Menurut Imam Al-Maraghi dalam Kitabnya Tafsir Al-Maraghi, bahwa Ulil Amri itu ada dua macam: Al-Amru fiddiin (yaitu ulama) dan Al-Amru fiddaulah atau Al-Amru fiddunya (yaitu umara’). Jadi menurut Imam Al-Maraghi, bahwa ulama dan umara’ itu sama-sama ulil amri. Maka berdasarkan ayat ini, bahwa kawin di bawah tangan itu sebenarnya tidak sah, karena tidak mentaati ulil amri. Apalagi dalam hal ini kaidahnya adalah maslahatul mursalah (kemaslahatan umat).

Liddiini haniifa (beragama itu dengan tulus). Metode beragama memang berbeda dengan metode yang lainnya. Misalkan di dalam metode ilmu pengetahuan, bahwa sebelum kita menerima dan mempercayai sesuatu, maka kita skeptis dahulu terhadap hal tersebut. Kita harus ragu dan memverifikasi dahulu hal tersebut. Setelah teruji benar, barulah kita menerima dan mempercayai hal tersebut. Tetapi agama tidak boleh begitu. Agama diterima dahulu, karena agama adalah dari Allah yang sudah pasti benar. Kita meyakini bahwa agama adalah dari Allah dan sudah pasti benar.

Dengan agama, hidup jadi mempunyai tujuan jangka panjang. Dengan agama, hidup kita menjadi semakin tenang, karena dimiliki oleh Allah. Mudah-mudahan keberagamaan kita semakin mantap, semakin mempunyai nilai resonansi, semakin memiliki vibrasi, getaran di dalam kehidupan, sehingga akan membawa manfaat di dunia dan akhirat. [Aan]

5 Desember 2008 at 11:46 AM 3 komentar

Provokator Haji

PROVOKATOR HAJI

Disarikan dari Ceramah Ahad

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub, M.A.

pada tanggal 16 November 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Sesuai dengan catatan yang dapat dipercayai, bahwa pada tahun 1994, jamaah haji Indonesia hanya 150 ribu orang. Quotanya adalah 220 ribu, yang ini sejak beberapa tahun lalu quota tersebut sudah selalu terpenuhi. Karena itulah, jika mendaftar untuk berhaji sekarang, maka baru bisa berangkat pada tahun 2010. Inilah karena begitu banyaknya orang yang pergi haji. Mengapa bisa menjadi banyak seperti ini? Hal inilah yang akan kita bahas kali ini.

Menurut catatan sejarah, bahwa Rasulullah mempunyai kesempatan tiga kali untuk beribadah haji. Tetapi selama hidupnya dengan tiga kali kesempatan itu, hanya satu kali Rasulullah melaksanakan ibadah haji.

Rasulullah mempunyai kesempatan ratusan kali untuk beribadah umrah, bahkan ribuan kali kesempatan. Tetapi Rasulullah melaksanakan ibadah umrah hanya empat kali: yang pertama gagal (6 H), karena Mekkah masih dikuasai oleh orang-orang musyrik, yang ketika itu baru diizinkan untuk berumrah pada tahun 7 H.

Pada tahun 8 H, Mekkah sudah dikuasai oleh Islam, tetapi Rasulullah tidak melakukan ibadah umrah dan haji. Pada tahun 9 H, Rasulullah barulah melaksanakan ibadah umrah. Pada tahun 10 H, Rasulullah melaksanakan ibadah umrah bersama haji. Jadi selama hidupnya, Rasulullah hanya melaksanakan umrah yang sunnah itu sebanyak dua kali.

Bandingkan dengan orang Indonesia yang jika mempunyai uang, maka maunya berumrah setiap bulan, serta berhaji setiap tahun. Dan ternyata bukan cuma di Indonesia, di negara-negara lain pun juga seperti itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini dikarenakan:

Pertama, ada anggapan, bahwa semakin sering ke Mekkah, maka orang tersebut akan semakin baik; baik dalam hal ibadahnya karena sering datang ke rumah Allah, baik juga karena kantongnya.

Ada anggapan di sebagian daerah di Indonesia, jika seorang pria sudah pernah berhaji sebanyak dua kali, maka dia akan mudah untuk mencari istri yang kedua. Mengapa bisa demikian? Karena orang yang sudah berhaji sebanyak dua kali ini dianggap bagus. Jika anggapan ini benar, maka Rasulullah tidaklah bagus, karena selama hidupnya Rasulullah hanya berhaji sebanyak satu kali.

Kedua, karena gencarnya iklan dan promosi untuk haji dan umrah. Cobalah lihat pada harian seperti Republika, di sana oknum-oknum kyai dan oknum-oknum ustadz semuanya menjadi bintang iklan haji dan umrah. Dan ternyata hal seperti ini tidak hanya di Indonesia, di negara lain pun seperti itu.

Tadinya saya pikir, mungkin fenomena ini hanya terjadi di Indonesia, sehingga saya tidak mempunyai kecurigaan apa-apa. Pada Bulan Syawwal (November tahun lalu/2007), saya berada di Chicago-Amerika Serikat. Di sebuah restoran, saya ambil koran-koran, yang ternyata isinya banyak sekali iklan haji dan umrah. Mulai saat itu, saya sudah mulai curiga, kok di semua negara yang ada Umat Islamnya, ternyata koran-koran penuh dengan iklan haji dan umrah? Ini ada apanya? Jika hal ini terjadi di Indonesia saja, tentunya hanya sesuatu yang biasa-biasa saja. Ternyata, hampir di semua negara juga seperti itu, seperti ada yang menggerakkan.

Waktu itu, kami sudah mulai curiga akan fenomena ini. Menurut perkiraan saya, mungkin ada aktor intelektualnya di balik fenomena ini.

Mengapa orang dianjurkan untuk berbondong-bondong pergi haji, bukannya diajurkan untuk membangun Umat Islam. Padahal menurut suatu penelitian yang dilaporkan oleh Sekretaris Dewan Fatwa Republik Arab Syiria, bahwa setiap tahun (setiap musim haji), Umat Islam melemparkan dana untuk ibadah Haji Sunnah sebanyak 5 milyar Dolar Amerika (jika dikurs-kan sekarang yaitu kurang lebih 55 trilyun Rupiah). Ini belum termasuk yang umrah, khususnya umrah pada Bulan Ramadan (Rasulullah saja tidak pernah melakanakan umrah pada Bulan Ramadan).

Jadi, dana sebanyak itu terlempar begitu saja. Pulang dari haji, ternyata keadaan tetap seperti ini (Umat Islam bukan semakin sejahtera).

Kecurigaan ini kemudian berubah ketika pada pertengahan Ramadan yang lalu, kami berada di Kota West Palm Beach-Florida-Amerika Serikat. Ketika itu, kami mendapatkan informasi dari seorang Muslim Indonesia yang bekerja di suatu perusahaan di sana (perusahaan itu milik orang Yahudi). Setiap menjelang musim haji, pemilik perusahaan itu menganjurkan pegawai-pegawainya yang muslim untuk pergi haji. Waktu itu saya tanyakan kepada orang itu, “Yang membiayai siapa, Pak?” Jawab orang itu, “Ya…, membiayai sendiri.”

Lantas kemudian muncul pertanyaan pada saya, “Apakah kepentingannya orang Yahudi menganjurkan orang Islam untuk berduyun-duyun pergi haji?” Apakah orang Yahudi itu ingin mendapatkan pahala? Tapi dia kan tidak mempercayai Agama Islam? Dia juga tidak menginginkan uangnya, karena ia bukan pemimpin perusahaan penerbangan, bukan juga KBIH, apalagi pembimbing haji. Lantas apakah kepentingannya?

Kepentingannya adalah, agar Umat Islam membuang dananya untuk sesuatu yang tidak wajib. Dana Umat Islam jangan dipakai untuk mengentaskan kemiskinan, untuk membangun rumah sakit-rumah sakit Islam, untuk membangun kesejahteraan Umat Islam, dan sebagainya. Itulah kepentingan mereka.

Menurut FAO (Organisasi Pertanian dan Pangan PBB), bahwa di dunia kini masih dihuni oleh 830 juta orang miskin. Dengan catatan, bahwa yang miskin adalah orang yang penghasilannya kurang dari 2 dolar sehari (sekitar 20 ribu rupiah). Jadi, mereka yang penghasilannya kurang dari 20 ribu rupiah per-hari, maka itu disebut miskin. Dari 830 juta orang miskin itu, 700 juta nya adalah orang Islam.

Karena itulah, saya sekarang bukan lagi curiga, tetapi sudah yakin, bahwa tangan-tangan Yahudi sudah bermain dalam urusan haji. Maka orang Islam selalu digenjot supaya pergi haji terus, jangan ada yang membantu anak yatim yang terkena bencana tsunami di Aceh, jangan ada yang mengentaskan kemiskinan, melainkan uangnya lebih baik digunakan untuk melaksanakan ibadah haji saja terus-menerus. Inilah yang saya sebut sebagai “Provokator Haji”.

Ketika Umat Islam sedang terpuruk, masih banyak anak yatim yang terlantar, juga masjid-masjid yang terbengkalai, padahal Islam adalah agama yang anti kemiskinan. Buktinya, ketika Rasulullah kedatangan Kabilah Mudhar di Madinah, ternyata Kabilah Mudhar ini orang-orangnya kurus-kurus, kurang gizi, pakaiannya compang-camping.

Melihat Kabilah Mudhar seperti ini, maka Rasulullah marah. Bukan marah kepada orang-orang Kabilah Mudhar yang miskin-miskin, melainkan marah kepada para sahabat, “Mengapa Kabilah Mudhar dibiarkan miskin seperti itu?”

Rasulullah menganjurkan supaya mereka disantuni langsung di masjid. Mendengar anjuran Rasulullah ini, maka ada yang bangun kemudian pulang ke rumah, setelah itu balik lagi ke masjid dengan membawa sekarung gandum kemudian menyerahkannya untuk Kabilah Mudhar. Begitu melihat ini, maka yang lainnya pun balik ke rumah masing-masing dan kemudian kembali lagi ke masjid dengan membawa bahan-bahan makanan, pakaian, dan sebagainya untuk diberikan kepada Kabilah Mudhar. Lalu Rasulullah berkata:

Man sanna bil Islami sunnatan hasanatan balaghu ajruha wa ajruman ‘amilabiha min ghayri an yanqusa min ujurihim syay-an (Siapa yang merintis perbuatan yang baik dalam Islam, maka dia akan mendapatkan pahala perbuatannya itu dan perbuatan orang-orang lain yang mengikutinya).

Hal ini menunjukkan, bahwa Islam adalah agama yang anti kemiskinan. Islam adalah agama yang membawa rahmat (wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin). Islam adalah agama yang membawa rahmat untuk seluruh alam. Rahmat itu bukan hanya untuk manusia (baik itu muslim ataupun kafir), sedangkan binatang saja juga mendapatkan rahmat tersebut.

Menurut suatu riwayat, seorang yang memberikan minuman kepada anjing yang kehausan, ternyata dosanya diampuni oleh Allah, yang artinya ia bisa masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing.

Yang namanya “‘alamin” itu adalah apa saja yang eksis di muka bumi ini, baik itu manusia (baik yang muslim maupun yang kafir), binatang, tumbuh-tumbuhan, dan apa saja yang ada di alam ini. Rasulullah mengatakan, bahwa siapa saja yang membunuh seekor burung (‘usfur = burung yang kecil) tanpa ada haknya, maka dia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Diperbolehkan kecuali ada haknya? Para sahabat bertanya, apakah haknya? Rasulullah mengatakan, bahwa burung tersebut boleh dibunuh, tetapi harus dimakan, jangan untuk main-main, misalkan hanya untuk dijadikan sebagai hiasan.

Karena itulah, di dalam hadits banyak disebutkan mengenai pelestarian lingkungan. Sampai-sampai Rasulullah menyatakan untuk tidak membunuh kodok.

Di Australia ada undang-undang yang menyatakan larangan untuk membunuh kodok, termasuk juga burung-burung dan binatang-binatang lainnya. Begitu juga di Amerika Serikat dan Kanada, yang jika kita sedang berada di sana, maka akan terlihat tupai dan burung berkeliaran di sekeliling rumah. Bahkan di Kanada, kita tidak boleh menebang pohon, walaupun pohon itu berada di depan rumah kita, kecuali ada izin dari pemerintah. Inilah rahmatan lil ‘alamin. Tetapi yang lebih banyak mempraktekkannya bukanlah Umat Islam. Mungkin kebanyakan Umat Islam lebih senangnya merusak saja.

Jadi, Islam itu adalah agama yang merupakan rahmat kepada seluruh penghuni alam, bukanlah agama yang individual saja. Kalau Islam itu rahmat, berarti kita sebagai Umat Islam harus peduli terhadap orang lain.

Islam bukanlah hanya agama individual yang tidak ada kepedulian sama sekali terhadap orang lain. Islam adalah agama individual, dan sekaligus agama sosial. Islam adalah agama yang membina keshalehan individual, sekaligus keshalehan sosial.

Oleh sebab itulah, meskipun Rasulullah mempunyai uang dan kesempatan untuk berhaji sebanyak tiga kali, ternyata Rasulullah melaksanakannya cukup satu kali saja. Lantas uangnya yang lain dipergunakan untuk apa? Ternyata dipergunakannya untuk berinfak. Ketika Rasulullah tinggal di Madinah, maka:

Pertama, ada kewajiban untuk berjihad melawan serangan-serangan orang kafir. Jihad memerlukan dana. Maka uang Rasulullah dipergunakan untuk membiayai jihad, begitu juga dengan para sahabat.

Wa jahidu bi anfusikum wa amwalikum (Berjihadlah dengan jiwa raga dan harta kalian).

Kedua, menyantuni janda-janda miskin dan anak-anak yatim.

Rasulullah mengatakan:

As-sa’i ‘alal armalati wal miskin kal mujahid fi sabilillah (Orang yang menyantuni para janda, para miskin, maka dia seperti orang yang berjihad di jalan Allah).

Bahkan juga dikatakan, seperti orang yang selalu berpuasa setiap hari dan salat tahajjud setiap malam.

Rasulullah juga mengatakan:

Ana wa kafilul yatim kahataini fil jannah (Saya bersama orang yang menyantuni anak yatim seperti dua jari ini di surga).

Surganya Rasulullah tentunya bukan surga yang biasa, melainkan surga yang paling tinggi tingkatannya, yang ini hanya diberikan kepada Rasulullah dan orang-orang yang menyantuni anak yatim.

Ketiga, menyantuni orang-orang yang sedang belajar Islam kepada Rasulullah ketika itu.

Umumnya, jika orang disuruh untuk menyantuni anak yatim, tentunya akan berpikir dua kali, malas, dan berbagai macam alasan lainnya. Tetapi, jika disuruh haji, maka orang akan langsung mendaftarkan diri.

Haji adalah ibadah yang paling rawan godaan dan provokator. Tidak ada salat itu ayatnya disebut “lillah”, misalkan “wa lillahi aqimush shalah” atau “wa lillahi iqamatush shalah“, meskipun salat itu juga harus lillahi ta’ala. Zakat dan puasa juga demikian. Tetapi untuk haji, ayatnya yang satu diawali dengan “lillah” dan yang satunya lagi ditutup dengan “lillah“.

Wa lillahi ‘alannaasi hijjul baiti manis thatha’a ilaihi sabiilaa (Hanya karena Allah, wajib bagi manusia untuk menjalankan ibadah haji di baitullah bagi yang mampu).

Ayat yang lain ditutup dengan lillah:

Wa atimmul hajja wal ‘umrata lillah (Kerjakanlah haji dan umrah lillahi ta’ala).

Mengapa untuk ibadah yang lain pada ayat yang memerintahkannya tidak disebutkan “lillah“, padahal dalam pelaksanaannya juga harus lillahi ta’ala?

Hikmahnya apa dan mengapa? Karena ibadah haji adalah ibadah yang paling rawan godaan, paling rawan provokator, baik provokator yang berupa setan dan iblis yang tidak kelihatan, maupun setan dan iblis yang kelihatan yang berupa manusia.

Maka, jika kita dalam keadaan terpuruk seperti sekarang ini, mengapa masih ada orang yang berhaji bolak-balik setiap tahun. Ada yang sampai tujuh kali, bahkan ada yang ingin lebih dari itu.

Dalam keadaan Umat Islam terpuruk seperti sekarang ini, ternyata kita masih ada yang berhaji berkali-kali, jor-joran umrah, maka cobalah tanya pada diri sendiri, kita ini mengkuti siapa? Jika ada yang mengatakan bahwa ia mengikuti perintah Allah seperti yang disebutkan di dalam Alquran, maka tanyakan kepadanya, tolong sebutkan ayat mana yang memerintahkan seperti itu? Jika ada yang mengatakan bahwa ia mengikuti Rasulullah, maka katakan kepadanya, bahwa Rasulullah tak pernah berhaji berkali-kali, tak pernah Rasulullah melakukan umrah hingga berkali-kali.

Inilah yang dikhawatirkan, bahwa orang seperti ini sudah terkena provokasi yang dibisikkan oleh provokator kepada hawa nafsu untuk melakukan ibadah haji lagi, bahwa orang yang pergi haji berkali-kali itu hebat, jaminannya surga.

Ð __È_D___œ_ _ô_3896 Patut juga diingat, apakah haji yang dilakukan itu mabrur? Haji yang mabrur itu syaratnya ada tiga:

Pertama, niatnya harus lillahi ta’ala.

Kedua, manasiknya harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Ketiga, uang yang dipakai untuk ongkos naik haji haruslah uang yang halal.

Uang yang halal itu maksudnya adalah uang yang diperoleh dari perbuatan yang halal. Halal ataupun haram itu adalah hukum. Hukum itu tidak berkaitan dengan benda. Hukum itu hanya berkaitan dengan perbuatan manusia, yaitu manusia yang mukallaf (manusia yang sudah dikenai hukum). Karena itu, perbuatan yang dilakukan oleh binatang tidaklah dikenai hukum.

Jika ketiga syarat di atas dilaksanakan, barulah mendapatkan haji mabrur.

Orang yang naik haji dengan menggunakan biaya yang diperoleh melalui cara yang haram, maka dijamin oleh Allah hajinya tidak akan diterima.

Rasulullah bersabda:

Innallaha laa yaqbalu shalatan min ghayri thahuurin wa shadaqatan min uluulin (Allah tidak akan menerima sembahyang tanpa bersuci, dan Allah tidak akan menerima shadaqah dari hasil korupsi).

Teladanilah Rasulullah. Jika beliau memiliki uang, maka uangnya itu disalurkannya: Pertama, untuk membiayai jihad fi sabilillah. Kedua, untuk menyantuni janda-janda miskin dan anak-anak yatim akibat peperangan. Ketiga, untuk menyantuni orang-orang yang sedang belajar Islam pada Rasulullah ketika itu.

Orang-orang yang belajar Islam pada Rasulullah ketika itu jumlahnya ratusan orang, mereka tinggal di Masjid Nabawi, pakaian mereka hanya beberapa helai, dan mereka tidur di masjid. Lantas dari manakah mereka mendapatkan makan? Rasulullah mengatakan:

“Siapa yang punya makanan untuk satu orang, maka ajaklah dua orang pelajar shufah untuk makan. Yang mempunyai makanan untuk dua orang, maka ajaklah empat orang pelajar shufah untuk makan. Yang mempunyai makanan untuk empat orang, maka ajaklah delapan orang pelajar shufah untuk makan.”

Rasulullah sendiri setiap hari meransum kurang lebih untuk 70 orang. Ini semuanya adalah bentuk-bentuk dari infak. Dan itulah yang dikerjakan oleh Rasulullah, bukanlah setiap bulan umrah, bukan pula setiap tahun berhaji. Karena itulah, jika kita ingin berhaji mengikuti seperti Rasulullah, maka ikutilah Rasulullah secara keseluruhan, baik cara maupun jumlahnya.

Sering ada yang mengeluhkan kepada saya, bahwa ia baru pergi haji sekali, tetapi rasanya belum puas. Lalu saya tanyakan kepadanya, “Yang belum puas itu apanya? Apakah thawafnya, wukufnya, sa’inya, melontar jamrahnya, atau jalan-jalan dan belanjanya yang belum puas?”

Saya katakan kepadanya, “Seribu kali anda pergi haji, maka tetap anda tidak akan puas, sebab puas itu bisa saja merupakan hembusan bisikan setan.”

“Jangan dipakai untuk anak yatim, karena tidak akan ada yang tahu. Tetapi jika pergi haji, maka akan banyaklah yang tahu bahwa kamu pergi haji, akan banyaklah yang memujimu” mungkin seperti itulah bisikan setan.

Karena itulah, untuk memberi santunan kepada anak yatim, orang miskin, dan menyumbang untuk masjid misalkan, orang banyak yang enggan untuk melakukannya. Tetapi jika untuk pergi haji berkali-kali, maka banyak sekali yang bersemangat. Di sinilah godaan setannya, betapa begitu rawannya ibadah yang satu ini (haji).

Bagi yang baru pertama kali akan melaksanakan ibadah haji, maka mantapkanlah niatnya. Yang sudah punya kemampuan untuk pergi haji, segeralah berhaji. Jangan sampai rukun Islam yang kelima diubah menjadi beli mobil. Karena ada orang seperti ini, yaitu yang tidak mau menjalankan rukun Islam yang kelima, melainkan rukun Islam yang kelima diganti untuk membeli mobil. Jika ada yang seperti ini, maka ia sudah berdosa. Pergi haji cukup dengan uang sejumlah 35 juta rupiah ia tidak mampu, tetapi jika untuk membeli mobil yang harganya mencapai ratusan juta rupiah ia mampu. Katanya ia tidak mempunyai uang untuk berhaji. Ya wajar saja, karena uangnya dipakai untuk membeli mobil.

Jika ada orang yang seperti ini, maka juallah mobilnya itu, kemudian gunakan uangnya untuk berhaji. Tetapi patut pula diingat, setelah pergi haji, lalu punya uang lagi, maka ikutilah Rasulullah, yaitu infakkanlah uang tersebut. Janganlah kemudian jika memiliki uang lagi, lalu uang tersebut digunakan untuk pergi haji lagi dengan alasan belum puas dan sebagainya.

Dalam hal ini, teladanilah Rasulullah, yaitu berhaji cukup sekali, berinfak ribuan kali.

Hati-hatilah terhadap provokator-provokator haji. Jangan sampai yang kedua dan ketiga kita berhaji karena terkecoh dan terpancing dengan provokasi-provokasi itu. Saya sendiri termasuk orang yang pernah ditawari untuk hal-hal seperti ini.

Waktu pertama kali pulang dari haji pada tahun 1985, saya ditawari untuk mencari jamaah ibadah umrah dan haji. Tawarannya begitu menggiurkan, yaitu jika saya bisa mendapatkan 15 orang jamaah, maka saya bisa pergi haji gratis, pergi umrah gratis. Kalau bisa mendapatkan 30 orang, maka saya bisa pergi haji dengan istri saya. Bukan hanya itu, karena nanti setiap hari saya akan diberi uang saku sejumlah 50 dolar.

Jika saya menerima tawaran ini, maka mungkin saya akan memprovokasi orang-orang untuk pergi haji dan umrah dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, dan seterusnya. Saya mungkin akan menganjurkan dengan embel-embel hadis, yang ujung-ujungnya saya hanya berkepentingan untuk mengumpulkan dolar. Karena semakin banyak orang yang mengikuti ajakan saya, maka akan semakin pula dolar yang saya dapatkan. Kalau sudah seperti ini, maka kantong saya semakin tebal, dan mungkin kami akan dijuluki sebagai ustadz ataupun kyai KPD (Kyai Pemburu Dolar).

Jika ini saya lakukan, berarti saya sudah menjual ayat dan hadis demi kepentingan dolar. Ketika itu, Almarhum Guru saya mengingatkan, agar saya jangan ikut-ikutan mengurus haji. Kalau sekedar membimbing haji mungkin tidak apa-apa. Tapi kalau sampai membuat perusahaan yang mengurusi dan mengelola haji, yang nanti kalau uang sudah banyak sekali, tentunya saya akan kaya raya, uang bertumpuk, dan saya bingung akan menyalurkan ke mana uang tersebut.

Alhamdulillah, saya tidak sampai tergoda akan tawaran dan provokasi dari provokator haji tersebut. Saya tidak menjadi pembimbing haji, tidak menjadi pengelola haji, tetapi kemudian saya menjadi pengkritik haji.

Mudah-mudahan bagi yang akan menunaikan ibadah haji nantinya bisa mendapatkan haji yang mabrur. Dan yang sudah haji, maka perbanyaklah infak, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Tidak usah ada pikiran untuk berhaji yang kedua dan ketiga kali, melainkan ikutilah Rasulullah: Berhaji cukup sekali, berinfak ribuan kali. [Aan]

5 Desember 2008 at 11:35 AM 1 komentar

Kajian Kitab Hadits Nashahihul ‘Ibad

KAJIAN KITAB HADITS NASHAHIHUL ‘IBAD

Disarikan dari Ceramah Dzuhur yang disampaikan oleh Dr. KH. Zakky Mubarak, M.A. pada tanggal 4 September 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Hadis Pertama

Rasulullah bersabda:

‘An ‘Abdullah ibni ‘Amrin, qaala: qaala rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam, arrahimuna yarhamuhurrahman.

Dari ‘Abdullah ibn ‘Umar, berkata: bersabda Rasulullah SAW, orang-orang yang pengasih, mereka akan dikasihi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih.

Bahwa orang-orang yang mengasihi sesamanya di dunia ini, maka pasti akan dikasihi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Karena itulah, misi dari Islam adalah kasih sayang. Dari namanya sendiri, bahwa Islam adalah keselamatan dan kedamaian. Dan jelas sekali surah pertama di dalam Alquran menyatakan mengenai hal ini (Al-Fatihah ayat pertama). “Bismillahirrahmanirrahim” (dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

Di dalam ajaran Islam, jika kita mencermati akhlak dari orang-orang yang agamanya sudah termasuk tingkat tinggi, jangankan terhadap manusia, terhadap hewan dan tumbuh-tumbuhan pun ada akhlak yang diterapkan. Bahkan dalam hadits yang lain ditegaskan oleh Rasulullah, bahwa ada seorang perempuan yang masuk ke dalam neraka disebabkan ia mengurung seekor kucing di dalam kamarnya, kemudian kucing itu kelaparan dan kehausan, hingga kemudian kucing itu mati.

Terhadap hewan saja kita semestinya berakhlak baik, apalagi terhadap sesama manusia.

Di dalam hadis lain juga ditegaskan, bahwa ada seorang wanita jalang, dalam suatu perjalanan di padang pasir, ia mengalami kehausan. Kemudian ia menemukan suatu oase (perigi/sumur) di tengah-tengah padang pasir. Oase itu begitu dalamnya, dan untuk mengambil airnya begitu susah. Kemudian wanita itu turun ke oase tersebut, lalu ia pun minum sepuas-puasnya. Setelah ia minum, ia naik lagi ke atas. Ketika sudah di atas, ia menjumpai seekor anjing yang kelihatan kehausan. Wanita tersebut begitu yakin, bahwa anjing tersebut begitu hausnya, seperti halnya ia yang barusan mengalami kehausan. Kemudian wanita tersebut mengambilkan air untuk diberikan kepada anjing tersebut. Ia pun turun ke sumur tersebut dan menampung air yang diambilnya dengan sepatu yang sedang dipakainya. Setelah itu dia naik lagi, kemudian memberikan air tersebut kepada anjing yang sedang kehausan itu.

Rasulullah mengatakan, bahwa wanita tersebut tergolong ahli surga, karena mengasihi seekor anjing.

Para sahabat kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, apakah ada kebaikan dari berbuat baik terhadap seekor binatang?”

Rasulullah pun menjawab, “Pada setiap makhluk hidup, anda berbuat baik, maka anda akan mendapatkan pahala.”

Jadi, begitu luar biasanya misi yang ditegakkan oleh Islam. Karena itu, Rasulullah memperlakukan hewan begitu baiknya. Bahkan unta beliau diberi nama, yaitu “al-quiswa“. Bukan hanya itu, benda-benda mati seperti pisau dan sebagainya diberi nama oleh Rasulullah (ada nama tersendiri bagi benda-benda mati tersebut). Dalam hal ini, Rasulullah memanusiakan benda mati. Tentunya berbeda sekali dengan umumnya kita yang tidak bisa berbuat semestinya terhadap sesama manusia, apalagi terhadap makhluk yang lainnya.

Karena itulah, ditegaskan:

Irhamu mawfil ardhi, yarhamukumaa fissama’.

Kasihanilah orang-orang yang ada di bumi, akan mengasihani kamu semua yang ada di langit.

Setiap orang yang mengasihi sesama di muka bumi ini, maka penduduk langit, para malaikat, termasuk pencipta alam ini (Allah SWT) akan merahmati orang yang seperti ini.

Di dalam hadits yang lain juga ditegaskan:

Man rahima wa lawzabi hata ‘ushuurin rahimahullahu yawmal qiyamah.

Siapa yang mengasihani orang lain, meskipun hanya sekedar menyembelih seekor burung yang kecil untuk menghormati orang lain, Allah akan merahmati orang tersebut di hari kiamat.

Dalam sejarahnya, Bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang sangat hormat terhadap tamu. Bahkan digambarkan di dalam legenda orang-orang Arab, bahwa ada seorang Arab yang bernama Khatim Ath-Thayyi. Ia ini sangat baik terhadap tamu. Semua tamunya ia beri makan, serta ia beri segala macam. Sampai suatu saat, dia hanya mempunyai satu-satunya seekor kuda yang sangat bagus, luar biasa, dan tentunya mahal.

Kemudian Kaisar Byzantium mendengar bahwa kudanya Khatim Ath-Thayyi ini luar biasa. Akhirnya Kaisar Byzantium mengirim empat orang untuk mendatangi Khatim Ath-Thayyi dengan tujuan untuk membeli kuda tersebut, berapapun harganya.

Waktu tamu asing ini (utusan Kaisar Byzantium) datang, Khatim Ath-Thayyi tidak memiliki apa-apa lagi. Ia hanya tinggal mempunyai kuda tersebut. Akhirnya kuda tersebut dipotongnya untuk disuguhkan kepada tamu asingnya itu.

Tamu tersebut beberapa hari menginap di rumahnya, dan dalam beberapa hari itu juga, tamu tersebut belum menyampaikan maksud kedatangannya. Khatim Ath-Thayyi pun terus mengurus tamunya itu, termasuk juga makan dan minumnya. Pada hari ketiga, barulah tamu tersebut menyampaikan maksudnya, bahwa mereka adalah utusan dari Kaisar Byzantium yang bertujuan untuk membeli kuda yang dimiliki oleh Khatim Ath-Thayyi berapapun harganya.

Mendengar ini, Khatim Ath-Thayyi tersenyum dan mengatakan, bahwa karena ia sudah tak mempunyai apa-apa lagi, maka kuda yang dimaksud itu sudah menjadi santapan mereka bersama-sama dalam beberapa hari tersebut semenjak sang tamu berada di rumahnya.

Inilah suatu legenda di kalangan orang-orang Arab, bahwa mereka itu orang-orang yang sangat menghormati tamu. Karena itulah, “duyufurrahman” (tamu Allah/jamaah haji) di Mekkah dan Madinah dimuliakan begitu luar biasa.

Hadis kedua

Ahabbunnaasi ilallaahi an faa-uhum linnaas. Wa ahabbul a’mali ilallaah sururun yudkhiluhu ‘ala muslimin.

Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada sesama manusia). Dan amal (aktifitas) yang dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan (kegembiraan) yang disampaikan kepada sesama muslim.

Diriwayatkan, ketika Rasulullah mengutus Muadz bin Jabal dan Abu Musa Asy’ari sebagai gubernur di Yaman Barat dan Yaman Timur, Nabi berpesan ketika kedua sahabat tersebut akan berangkat, yaitu tiga pesan pokok yang merupakan dasar ajaran agama Islam:

Pertama, “yassira wa laa tu’assira” (permudahlah oleh kalian dan jangan dipersulit).

Kedua, “basysyira wa laa tunaffira” (gembirakan mereka oleh kamu berdua, dan jangan kalian takut-takuti).

Ketiga, “sururun bidkhiluhu ‘ala muslim” (bawakan berita gembira/menyenangkan orang muslim itu baik).

Begitu kita menyenangkan seorang muslim, itu berarti melebihi sedekah. Rasulullah mengatakan, “fa bi fadshin thalib (dengan wajah yang cerah)”. Dengan wajah yang simpatik, itu sudah merupakan bagian dari sedekah.

Qaulun ma’rufun wa maghfiratun khairum min shadaqatin irba’ ra’aza” (ucapan yang bagus, ampunan, wajah yang cerah, lebih baik dari sedekah yang disertai dengan menyebut-nyebut).

Inilah yang disebutkan hadis ini, bahwa kita harus datang, pergi, kembali, memberikan berita gembira kepada sesama kita, jangan menakut-nakuti, jangan mengancam, jangan sampai orang lain merasa dengan adanya kita, maka keadaan akan menjadi sulit, sehingga permudahlah semuanya.

Aw yaqsifu anhu qurbahu” (atau orang itu datang ataupun pergi ke manapun bisa menghilangkan kesulitan orang lain).

Aw yaqdhi an hudayna” (atau dia bisa membantu orang yang mempunyai hutang yang tak bisa bayar).

Aw yadhudu an huju’a” (atau menghilangkan kelaparan di tengah-tengah kehidupan masyarakat).

Wal an’am syiima ahin fii haajatin ahabbu ilallaahi min a’taqifa fii haazal masjid” (Dan hendaklah jika anda berjalan dengan seseorang dalam rangka memenuhi kebutuhannya, lebih dicintai oleh Allah daripada i’tiqaf di masjid ini/masjid Madinah).

Kita tegaskan, bahwa di mana pun kita pergi, kita berangkat, kita kembali, ataupun kita bergaul, maka kita harus mendatangkan rahmat untuk sesama. I’tiqaf yang dimaksudkan oleh Rasulullah adalah I’tikaf selama sebulan di Masjid Nabawi-Madinah.

Wa man kaffa ghadabahu, sataruhullahu aaratahu (Dan siapa yang dapat menahan amarahnya, maka Allah akan menutup aibnya).

Jadi, setiap orang yang bisa menahan amarahnya, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut.

Wa man kaazima ghizahu, wa law syaa-an yamdiyahu, amdahullahu maa laa Allahu qalbahu raja-an yawmal qiyamah (Dan siapa yang dapat mengendalikan amarahnya, meskipun ia bisa melampiaskan amarahnya itu, maka Allah akan memenuhi hati orang tersebut dengan pengharapan-pengharapan di hari kiamat).

Kita dizalimi dan disakiti orang lain, maka sebenarnya kita bisa membalas orang tersebut. Tapi kita kemudian tidak membalasnya, malahan kita memaafkan, maka Allah akan memenuhi hati kita dengan suatu harapan-harapan yang sangat indah nantinya pada hari kiamat.

Hidup kita ini memang sudah selayaknya dengan raja’ (harapan/optimisme). Tapi jika hidup disertai dengan pesimisme, maka kita akan gagal.

Wa innassu al-khuluqi yufsidul amala (Dan sesungguhnya akhlak yang buruk itu dapat membinasakan amal-amal kita).

Seandaikan beramal baik itu adalah menanam pohon, maka kita harus memperhatikan hama-hama pohon yang kita tanam itu. Kalau kita menanam pohon meskipun dipupuk sedemikian rupa, tapi hamanya tidak diberantas, maka akan hancurlah pohon yang kita tanam itu. Akhlak yang buruk bagaikan hama yang menggerogoti tanaman.

Yang merusak amal kita antara lain: akhlak yang buruk, adab yang buruk, namimah (mengadu domba), riya’, dan juga hasad. Bahkan Rasulullah mengatakan:

Al-hasadu ya’kulul hasanat kama ta’kulun naarul hathaba (Hasad itu dapat merusak kebaikan-kebaikan seseorang bagaikan api yang membakar jerami).

Bayangkanlah api yang membakar jerami, habislah semuanya, sehingga tinggallah debunya yang halus diterbangkan angin.

Kama yufsidul khalla al-ashala (Sebagaimana merusakkannya cuka yang dicampurkan ke dalam madu).

Hadis ketiga

Saya’ti zamaanun ‘ala ummati, Yafirruuna ‘anil ‘ulama wal fuqaha, Fayabtaliya humullaahu bi tsalaasaati baliyyaatin: Awwaluha yarfa’ullahul barakah min kasbihin, Wats-tsaniyah, yushallitullahu ta’ala alaihim sulthaanan zaalima, Wats-tsaalisatu, yakhrujuuna minaddunya bi ghayri iimaan.

Akan datang di suatu masa menimpa ummatku, di mana mereka umatku itu banyak yang lari dari para ulama dan para fuqaha, maka Allah akan mencoba menguji orang tersebut dengan tiga bahaya: Pertama, Allah akan mengangkat berkah-Nya dari usaha mereka. Kedua, Allah akan menguji orang-orang tersebut dengan diberi pemimpin yang zalim. Ketiga, orang-orang tersebut meninggal dunia dalam keadaan tidak membawa iman. []

18 September 2008 at 7:06 AM 2 komentar

Esensi Puasa Ramadhan dalam Perspektif Alquran

ESENSI PUASA RAMADHAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN

Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Prof. Dr. H.M. Quraish Shihah, M.A. pada tanggal 7 September 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Di dalam Alquran, ada dua kata yang digunakan untuk makna puasa dari segi bahasa.

Pertama, “shiyam“; kutiba alaykumush shiyam.

Kedua, “shaum“; inni nazartu lirrahmanish shauma.

Shaum dan shiyam berasal dari akar kata yang sama, yaitu: menahan diri.

Sewaktu Maryam (Ibu Nabi Isa) melahirkan, orang-orang menuduhnya yang bukan-bukan. Lalu Maryam pun mengatakan:

Inni nazartu lirrahmanish shauman fala tukallimay yauma insiya.

Aku bernazar puasa (menahan diri), karena aku menahan diri, maka aku menahan diri tidak mau berbicara kepada seorang manusia pun.

Tidak mudah seseorang menahan diri untuk membela dirinya ketika dituduh macam-macam. Inilah puasa yang dimaksudkan oleh Alquran, yaitu dengan kata shaum.

Yang diwajibkan kepada kita bukanlah shaum, melainkan shiyam. Shiyam adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.

Jadi, shaum adalah menahan diri, sedangkan shiyam adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.

Persamaan shaum dan shiyam, bahwa kedua-duanya adalah menahan diri. Orang yang tidak menahan dirinya dalam hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama, maka dinamakan bahwa orang tersebut tidak shaum dan tidak melakukan shiyam.

Ada orang yang berpuasa (tidak makan tidak minum) hanya bertujuan untuk menguruskan badan. Dalam puasa yang kita lakukan, bukan hal-hal seperti ini yang akan kita capai.

Ada orang yang berpuasa (dalam arti tidak makan saja). Ini juga “shaum”, tapi bukan “shiyam”.

Ada orang yang berpuasa dengan tujuan untuk berbela sungkawa.

Para ulama mengatakan, bahwa sebenarnya dalam konteks shiyam, ada penampakan bela sungkawa kepada orang-orang yang tidak berpunya yang tidak bisa makan. Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa puasa yang kita lakukan adalah untuk menampakkan bela sungkawa kepada orang-orang yang tidak berpunya, tapi ini bukanlah esensi dari puasa yang dilakukan tersebut.

Esensi shiyam

Mengapa Allah memerintahkan kita untuk berpuasa? Memang, pada ayat yang memerintahkan puasa disebutkan: la allakum tattaqun (agar kamu bertakwa). Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa tujuan puasa itu adalah agar kita bertakwa. Tetapi itu di ujung sana. Ada jalan yang harus ditempuh oleh yang berpuasa agar bisa sampai ke sana.

Kata takwa mencakup segala macam kebajikan. Ilmu itu takwa, sabar itu takwa (bagian dari takwa). Ada yang mengatakan, bahwa puasa yang kita lakukan adalah untuk menenun pakaian takwa. Lebaran nanti, barulah pakaian takwa tersebut kita kenakan. Wa libasut taqwa zalika khair.

Sebutlah apa saja dari kebaikan, maka itu termasuk ke dalam takwa. Jadi, kalau kita mengatakan takwa, maka segala macam kebaikan ada di dalamnya. Takwa adalah istilah yang digunakan oleh Alquran untuk menggambarkan dima ul khair (himpunan dari segala macam kebaikan).

Jika Alquran mengatakan, bahwa diwajibkan kepada kamu berpuasa supaya kamu bertakwa, maksudnya adalah supaya terhimpun dalam dirimu segala macam kebajikan. Jadi jelaslah, bahwa puasa bukanlah cuma menahan diri (sabar) untuk tidak makan dan tidak minum.

Ada hadits Rasulullah yang cukup terkenal, hadits ini merupakan sabda Rasulullah yang merupakan firman Allah, yang firman Allah tersebut tidak termaktub di dalam Alquran, tetapi disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menyusun kata-katanya. Kalau Alquran merupakan firman Allah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril yang redaksinya langsung dari Allah. Kalau ini, ada yang dikatakan oleh Rasullah, ada yang dikatakan oleh Jibril.

Rasulullah bersabda, Allah berfirman:

Ash-shaumuli wa ana azzibi.

Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan memberi ganjaran-Nya.

Jadi untuk ibadah puasa, malaikat hanya mencatat, tanpa melakukan kalkulasi berapa ganjaran yang didapatkan. Bandingkan dengan membaca Alquran, kalau kita membacanya terbata-bata, maka setiap huruf 10 pahalanya. Kalau kita membacanya lancar, maka 20 pahalanya. Kalau kita mengerti artinya, maka 70 pahalanya.

Ada ulama yang mengatakan, bahwa sebenarnya lebih baik membaca Alquran itu satu juz saja tetapi kita mengerti artinya, daripada membaca 30 juz tetapi tidak mengerti artinya.

Allah mengatakan, bahwa puasa itu untuk-Nya, Dia lah yang akan memberinya pahala.

Ada orang yang berpuasa cuma menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Ada juga yang berpuasa menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, dan menahan diri untuk tidak memaki orang lain. Ada juga yang berpuasa tidak makan, minum, hubungan suami istri, tidak memaki orang lain, dan dia belajar, membersihkan hatinya, serta tidak dengki.

Jadi, yang tahu hati itu hanyalah Allah. Karena itulah, tidak bisa lantas digeneralisir. Akulah yang akan memberi pahalanya, kata Allah.

Para ulama memahami sabda Rasulullah yang merupakan firman Allah ini dengan mengatakan: Karena puasa itu adalah rahasia antara yang berpuasa dengan Allah, maka itu sebabnya Allah berfirman: puasa untuk-Ku.

Ada juga yang mengatakan, bahwa esensi (tujuan akhir) dari puasa adalah takwa. Dia untuk Allah, yang kemudian ditafsirkan, bahwa untuk Allah yang dimaksud itu adalah rahasia.

Pendapat yang lebih baik mengatakan, untuk Allah maksudnya adalah untuk meneladani Allah. Orang yang berpuasa itu, dengan puasanya, dia meneladani Allah sesuai dengan kemampuannya sebagai makhluk.

Kebutuhan apa yang paling mutlak harus kita miliki?

Ada kebutuhan yang sangat mutlak kita miliki, yang kita tidak bisa sama sekali jika tidak memperolehnya. Hal ini adalah udara. Allah mengatakan, bahwa ini adalah di luar kemampuan manusia.

Allah tidak membutuhkan apa-apa, termasuk tidak membutuhkan udara. Sesudah udara, yang kita butuhkan adalah makan dan minum. Apakah Allah makan dan minum? Ternyata Allah tidak makan dan minum. Karena itulah, teladanilah Allah, yaitu jangan makan dan minum.

Tetapi, kita tidak bisa mencontohi Allah dalam sifat-sifat-Nya ini. Contohilah sesuai dengan kemampuan kita. Karena itulah, Allah kemudian mengatur, bahwa menurut penilaian Allah, yang mampu dilakukan oleh manusia adalah dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Ini adalah normal

Seandainya ada seorang manusia yang tidak bisa melakukannya, di Alquran disebutkan:

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. [Q.S. Al-Baqarah: 184]

Orang yang bisa puasa tetapi sangat berat untuk berpuasa, maka orang tersebut janganlah berpuasa. Orang yang seperti ini, berarti ia tidak mampu memenuhinya, Karena itulah, orang seperti ini membayar fidyah saja.

Allah itu tidak makan, dan Allah memberi makan. Karena itulah, jika berpuasa, contohilah Allah, berilah makan kepada orang lain, berilah makan berbuka puasa kepada orang lain, sesuai dengan kemampuan kita.

Ternyata bukan hanya ini.

Allah ar-rahman, apakah kita bisa bersikap ar-rahman kepada orang lain? Allah ar-rahim, apakah kita bisa bersikap ar-rahim kepada orang lain?

Rahman adalah memberi rahmat kepada seluruh makhluk, baik itu manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan seluruh makhluk Tuhan, termasuk juga merahmati orang-orang kafir.

Rahim, yaitu memberi rahmat kepada orang-orang yang beriman.

Malik, yaitu raja (penguasa). Kita bukan raja, bukan penguasa, tetapi apakah kita tidak bisa menjadi raja, apakah kita tidak bisa menjadi penguasa? Bisa. Kita menjadi raja terhadap diri kita. Kita mempunyai tentara, anggota tubuh kita ini adalah tentara kita. Kita mempunyai alat yang bisa digunakan untuk meraih keinginan dan nafsu kita. Jadi rajalah terhadap diri kita.

Jadi, raja adalah orang yang bisa menguasai dirinya.

Quddus artinya suci. Suci adalah gabungan dari tiga hal: benar, baik, dan indah. Kalau cuma benar, tapi tidak baik, maka itu bukanlah suci. Misalkan, jika ada satu orang melakukan kesalahan, maka orang tersebut perlu dibenarkan. Jika orang tersebut kita tegur di depan umum, maka apa yang kita lakukan itu benar, tetapi tidak baik. Jika kita tegur dia sendirian (tidak di depan orang banyak), tetapi cara kita menegurnya tidak indah, karena dengan cara memaki-maki dan kasar.

Allah itu quddus, suci, semua yang datang dari-Nya itu benar, baik, dan indah.

Yang mencari kebenaran itu menghasilkan ilmu. Yang mencari kebaikan itu menghasilkan akhlak. Yang mencari keindahan itu menghasilkan seni. Karena itulah, bagi orang yang berpuasa jika meneladani al-quddus, maka bisa menjadi ilmuwan, budiman, dan seniman.

‘Alim, artinya maha mengetahui. Karena itulah, jadikanlah waktu puasa ini untuk belajar. Salah satu buktinya, Alquran itu turun pertama kali pada Bulan Ramadhan dengan ayatnya “iqra’” (bacalah/belajarlah).

Membaca Alquran pada Bulan Ramadhan memang merupakan suatu amal ibadah yang baik, tapi jangan hanya sekedar dibaca, melainkan dipelajari. Dan bukan cuma Alquran, kita juga bisa mempelajari yang lainnya. Dan kita juga tidak harus dari pagi hingga sore hanya membaca Alquran. Ternyata ada hal-hal lain yang juga harus dan bisa kita pelajari. Bagi ibu-ibu, mungkin bisa belajar masak, merias, merangkai bunga, dan membuat kerajinan tangan. Semua itu ilmu. Jangan membatasi kebaikan hanya pada persoalan-persoalan yang kita anggap itu persoalan agama murni. Bacalah koran dan majalah yang baik. Nonton televisi yang acaranya baik-baik.

Ghaniy, artinya kaya. Kaya adalah tidak butuh kepada sesuatu. Allah dinamakan “ghaniy“, karena Allah tidak membutuhkan sesuatu.

Tahsabuhum aghniyaa-a minat ta’affuf.

Orang yang tidak mau meminta-minta, bukan berarti dia tidak butuh. Dia sebenarnya butuh, tetapi karena harga dirinya begitu tinggi, sehingga dia tidak mau meminta-minta.

Semakin sedikit kebutuhan kita, maka semakin kayalah kita. Karena itulah, orang yang mempunyai kelebihan, maka ia harus mencari siapa yang tidak memiliki kelebihan. Karena boleh jadi, yang tidak butuh ini malu untuk meminta.

Selain ghaniy, ada juga mughniy. Mughniy artinya memberi kekayaan. Allah itu kaya, juga memberi kekayaan. Karena itulah, kita patut meneladani Allah yang kaya dan juga memberi kekayaan.

Kekayaan itu seperti lingkaran (360 derajat). Kalau kecil lingkarannya, maka besarnya adalah 360 derajat. Kalau lingkarannya besar, maka besarnya 360 derajat juga. Kalau besar, tapi tidak sampai lingkarannya, maka bukanlah 360 derajat.

Banyak orang yang lingkarannya sudah begitu besar, tetapi lingkaran tersebut tidak sampai 360 derajat, maka ini bukanlah orang kaya. Sebaliknya, ada juga orang yang penghasilannya kecil, tetapi ia puas dengan usaha maksimalnya, maka inilah orang kaya.

Ambillah semua sifat-sifat Allah ini, pelajari esensinya. Bagus sekali jika kita membaca Asmaul Husna, tetapi tujuannya jangan hanya sekedar membaca, tetapi memahami dan meneladani sifat-sifat Allah tersebut.

Di beberapa negara Timur Tengah, yang ditonjolkan adalah sifat “karim“, yang artinya baik. Misalkan surat. Bagaimanakah surat yang baik? Yaitu surat yang isinya baik, kata-katanya baik, sampulnya baik, dan alamatnya pun baik dan benar.

Di sini, yang jadi karim itu adalah semua yang baik apa yang ia sifati. Allah itu karim. Tentunya kita tidak bisa membayangkan, bahwa Allah itu memberi sebelum kita meminta. Allah itu kecewa jika kita tidak meminta. Apakah ada di antara kita yang kecewa bila tidak dimintai sesuatu kepada kita?

Allah karim, maka teladanilah itu. Pada Asmaul Husna, itulah esensi ataupun jalan yang mengantar seseorang yang berpuasa sampai kepada takwa.

Rasulullah suatu ketika pada akhir Jum’at terakhir Sya’ban, beliau berkhutbah Jum’at.

“Wahai jama’ah, Bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang. Ada empat hal yang hendaknya kamu raih di Bulan Ramadhan: dua hal yang menjadikan Tuhan ridha kepadamu, dan dua hal yang menjadikan Allah senang kepadamu, yaitu: pertama, syahadat laa ilaa ha illallah. Kedua, memohon ampun kepada-Nya.”

Sebagai Umat Islam, seringkali kita memahami petunjuk Rasulullah ataupun petunjuk Alquran itu hanya teks saja. Kita tidak masuk ke substansinya. Karena itulah, dalam tradisi para tetua, khususnya menjelang berbuka puasa, biasanya membaca doa, yang bunyinya:

Asyhaduan laa ilaa ha illallah, astaghfirullah, nas alukal jannah, wa na’uzu bika minannaar.

Ini sebenarnya adalah hadits Rasulullah.

Perbanyaklah bacaan seperti ini, tetapi bukan hanya sekedar bacaan (ucapan), melainkan hayatilah maknanya.

Tidak ada Tuhan selain Allah, berarti tidak ada penguasa di alam raya ini kecuali Allah. Seandainya berkumpul semua makhluk untuk memberi kita manfaat, maka takkan bisa manfaat itu menyentuh kita, kecuali seizin Allah. Tak ada yang bisa memberi pengaruh terhadap sesuatu, kecuali Dia (Allah).

Syahadat kita sering disentuh oleh debu, karena itu perlu dibersihkan dari debu-debu tersebut. Rasulullah bersabda:

Jaddidu imaanakum sa’atan fa sa’ah.

Perbaharui imanmu dari saat ke saat.

Wa kaifa nujaddid?

Bagaimana kami memperbaharui iman kami?

Aksiru min qauli laa ilaa ha illallah.

Perbanyak mengucapkan laa ilaa ha illallah.

Begitu banyaknya sikap kita yang kadang meluruhkan laa ilaa ha illallah.Misalkan jika ada yang mempercayai bahwa angka 13 adalah angka sial, mempercayai ramalan bintang, dan yang semacamnya.

Suatu ketika di Hudaybiyah, setelah Shalat Shubuh, Rasulullah duduk-duduk, lalu beliau berkata:

Hari ini ada yang percaya Tuhan tidak percaya bintang, ada yang percaya bintang tidak percaya Tuhan. Yaitu yang beranggapan bahwa bintang tertentu itu bisa memberikan keuntungan.

Hal seperti ini ada di benak kita, dalan hidup keseharian kita.

Yang paling disenangi Allah di Bulan Ramadhan adalah syahadat laa ilaa ha illallah. Tujuannya adalah bertakwa kepada Allah.

Tidak ada orang yang tidak mempunyai dosa. Maka di sinilah tempatnya untuk bertaubat. Kalau kita melakukan itu, maka Allah senang kepada kita.

Apa yang merugikan kita jika kita tidak mendapatkannya di Bulan Ramadhan?

Laa ghinaa ankum an huma, tas aluuna ul jannah, wa tasta-iluna-u minannaar.

Di bulan inilah tempatnya kita meminta surga, dan di bulan ini pula tempatnya kita meminta dijauhkan dari neraka.

Ada sebuah hadits yang mengatakan, bahwa di Bulan Ramadhan ini, pintu surga dibuka, pintu neraka tertutup. Banyak penafsirannya, tetapi kita ambil yang mudah saja.

Kalau kita di rumah, ada tamu mau datang, maka pintu rumah kita buka sebelum dia datang ataukah setelah ia datang, baru pintu rumah kita buka? Jawabannya, sebelum tamu itu datang, pintu rumah sudah kita buka, supaya tamu tersebut tak perlu mengetuk pintu rumah kita dan menunggu di luar.

Tapi kalau orang jahat mau masuk penjara, apakah pintu penjara tersebut sudah dibuka atau belum?

Mengenai hal ini, terdapat pada Surah Az-Zumar ayat 71-74:

{71} Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.

{72} Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

{73} Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.

{74} Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.

Kalau penghuni surga dikatakan “wa futhihat“, kalau penghuni neraka tidak memakai “wa“. Mengapa yang pertama ada “wa“, sedangkan yang kedua tidak?

Pada ayat tersebut ingin digambarkan, bahwa penghuni surga itu kalau diantar masuk ke surga, dia dapati pintu surga sudah terbuka. Kalau penghuni neraka, nanti ketika sampai di sana, barulah pintunya dibuka. Setelah penghuni neraka itu masuk, pintunya ditutup lagi.

Di Bulan Ramadhan ini, pintu surga terbuka, sehingga kita tidak perlu mengetuk dan kita bisa langsung masuk. Jangan ketuk pintu neraka, karena itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang jahat.

Kalau waktu terbuka (pintu surga), lalu kita tidak masuk, maka rugilah kita. Kalau waktu tertutup (pintu neraka) kita ketuk, maka rugilah kita. Ini lagi obral, maka carilah banyak-banyak. Carilah amal yang baik, berbobot, harganya murah. Inilah waktunya.

Yang masuk surga, maka pasti terhindar dari neraka. Orang yang masuk neraka pasti terhindar dari surga. Karena di akhirat hanya ada dua tempat, yaitu surga dan neraka.

Man yuhyiha anin-naar wa uqtilal jannah faqad faaza.

Siapa yang disingkirkan (walaupun sedikit) dari neraka, maka dia beruntung, karena dia masuk surga.

Pertanyaannya, mengapa Rasulullah mengajarkan kita untuk memohon surga dan berlindung dari neraka?

Ada yang mengatakan, bahwa doa itu diulang-ulang, karena merupakan suatu perbuatan yang baik. Dalam hal ini, berarti kita mendesak Allah. Allah itu tidak seperti manusia. Manusia jika didesak, maka akan marah. Sedangkan Allah, kalau tidak kita desak, maka Dia akan marah.

Janganlah ketika kita berdoa dengan mengatakan, “Ya Allah, jika Engkau berkenan”, melainkan mintalah dengan cara merengek dan mendesak Allah, karena inilah yang Dia sukai. Ulang-ulangilah doa itu. Di sini, permintaan untuk dimasukkan ke surga itu sebenarnya diulangi, namun redaksinya saja yang diubah, “Ya Allah, masukkanlah aku ke surga, jauhkanlah aku dari neraka.”

Apakah ada yang masuk neraka dulu, setelah itu barulah masuk surga?

Rasulullah mengatakan, “Siapa yang akhir hidupnya ucapannya adalah laa ilaa ha illallah, maka dia akan masuk ke surga. Tetapi jika dia berdosa, maka dicuci dulu di neraka.”

Doa itu seakan-akan berkata, “Ya Allah, masukkanlah aku ke surga tanpa melalui neraka.” Konsekwensinya, berkenaan dengan konteks Ramadhan, maka janganlah lakukan perbuatan yang bisa mengantar kita ke neraka, karena Allah sudah menutup pintu neraka dan membuka pintu surga. Begitu kita jalan, maka ada persimpangan jalan: ada jalan yang ke kiri dan ada jalan yang ke kanan. Jalan yang ke kiri kalau di luar Bulan Ramadhan maka pintunya terbuka, dan jalan yang ke kanan pintunya juga terbuka, sehingga kita bebas untuk memilih antara kedua jalan tersebut. Jalan yang ke kiri ada lampu merah sebagai tanda untuk kita tidak menuju ke jalan tersebut. Sudah ada penghalang seperti itu, tapi kita masih juga menuju ke jalan tersebut, mengapa kita tidak menuju kepada jalan yang kanan. Jika seperti ini, tentunya Allah akan begitu murka kepada kita.

Takwa itu bukan hanya shalat. Jika ada yang berhalangan (misalkan bagi perempuan) sehingga tidak bisa beribadah puasa, shalat, dan membaca Alquran, ternyata banyak amal baik yang bisa dilakukan yang mungkin lebih baik dari shalat dan puasa sunnah. Bagi seorang perempuan yang berhalangan, itu bukanlah keinginan kita, melainkan adalah kehendak Allah. Apakah ada amalan yang bisa dilakukan sebagai pengganti dari shalat, puasa, dan membaca Alquran? Ternyata banyak sekali penggantinya. Bacalah buku yang bermanfaat, membantu orang, senyum, sedekah, yang itu semua adalah bagian dari makna “takwa” yang merupakan arah yang dituju oleh puasa. Itulah esensinya.

Rasulullah bersabda:

Qammin shaa-imin laysalahu min shiyamihi illal ju’u wal ‘athas.

Banyak orang yang puasa, tetapi tidak mencapai esensinya, melainkan hanya lapar dan haus.

Dari segi hukum ia mungkin berpuasa, tetapi bukan itu yang dimaksudkan oleh Allah. Maksud dari puasa adalah kendalikan diri, hiasi diri. Itulah esensi dari puasa. []

18 September 2008 at 6:58 AM 8 komentar

Pos-pos Lebih Lama


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 431,510 hits
November 2017
S S R K J S M
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • Pernah dengar khutbah Shalat Juma'at. Sepanjang khutbahnya bercerita tentang satu mitologi Yunani Kuno. Awak kira tu khatib salah tempat lah 2 hours ago
  • Tak terlalu suka jika khutbah Shalat Juma'at tu isinya apa2 yg lagi diriuh2kan di media massa. Nampak kali khatibnya tu terbawa2 opini media 2 hours ago
  • Nama akun Twitter-nya pakai nama salah satu negeri di Borneo Barat, tapi isi twit-nya tak ada satu pun yg berkenaan dgn negeri yg dimaksud. 3 hours ago
  • Retweeted I Love Papua (@love_papua): “Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun ada... fb.me/AM1Pi1yJ 1 week ago
  • RT @love_papua: “Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun ada orang yang memiliki kepandaian tinggi, akal budi, da… 1 week ago

%d blogger menyukai ini: