Posts tagged ‘Sunda Kelapa’

Menapaktilas Perjalanan Nabi Ibrahim

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim“. (Q.S. Al-Baqarah: 124)
(lebih…)

10 Desember 2008 at 6:30 AM 1 komentar

Makna Qurban

Qurban adalah suatu ibadah yang ditetapkan oleh Islam yang dasarnya terdapat di dalam Alquran Surah Al-Kautsar:

(1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. (2) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (3) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (Q.S. Al-Kautsar: 1-3)
(lebih…)

9 Desember 2008 at 5:17 PM 9 komentar

Puasa

PUASA

Disarikan dari Pengajian Tasawuf yang disampaikan oleh Drs. H. Wahfiudin, M.BA., pada tanggal 20 Agustus 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ayat yang menegaskan mengenai perintah berpuasa di Bulan Ramadhan adalah:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al-Baqarah: 185)

Sedangkan pada Al-Baqarah ayat 183 menyebutkan:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Pada Al-Baqarah ayat 183 hanya memerintahkan kewajiban puasa, namun tanpa menyebutkan waktu yang pasti mengenai kewajiban puasa tersebut. Sedangkan pada Al-Baqarah ayat 185 secara tegas menyebutkan bahwa kewajiban berpuasa tersebut adalah di Bulan Ramadhan.

Pada Al-Baqarah ayat 185 menyebutkan:

…fa man syahida min kumusy-syahra fal yashumhu …

… siapa yang menyaksikan di antara kamu datangnya bulan itu (Bulan Ramadhan), maka berpuasalah ….

Bulan Ramadhan adalah bulan kesembilan menurut penanggalan hijriyah. Ramadhan berasal dari kata “ramadha” (panas yang menghanguskan), sebab sebelum kedatangan Islam, penghitungan kalender itu berdasarkan pada matahari. Sehingga Bulan Ramadhan waktu itu setara dengan September. Dan memang kita ketahui, bahwa musim panas di Jazirah Arabia adalah pada bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Pada Bulan Juni, Juli, dan Agustus adalah puncak musim panas. Sehingga setelah Juni, Juli, Agustus terbakar oleh sinar matahari, maka September adalah sedang panas-panasnya. Siangnya begitu panjang. Pukul setengah empat sudah masuk waktu Shubuh. Matahari membakar batu. Ketika maghrib, matahari terbenam. Batu yang terbakar terkena sinar matahari seharian, kemudian mulai dingin. Tapi belum dingin betul, pagi lalu muncul lagi. Kemudian terkena panas lagi. Begitulah berbulan-bulan. Karena itulah, bulan yang panas menghanguskan disebut sebagai Bulan Ramadhan.

Setelah Ramadhan, maka masuklah Bulan Syawwal. Syawwal berasal dari kata “syawwala”. Biasanya di gurun-gurun pasir itu ada sumur (oase). Maka air di sumur itu setelah bulan-bulan yang panas itu lalu diangkat. Karena airnya habis ditimba, maka sumur itu menjadi kering. Syawwala artinya sumur yang sudah mengering karena airnya diangkat.

Pada Al-Baqarah ayat 183 disebutkan, bahwa puasa itu telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum Umat Nabi Muhammad.

Di Injil-Kitab Jeremia (36) ayat 9 disebutkan:

Adapun dalam tahun yang kelima pemerintahan Yoyakin bin Yosia, Raja Yahuda, dalam bulan yang kesembilan, orang telah memaklumkan puasa di hadapan Tuhan bagi segenap rakyat di Yerusalem. (Injil)

Jadi, sudah ada perintah puasa untuk umat-umat terdahulu (sebelum Umat Nabi Muhammad) melalui nabi-nabi yang diutus kepada umat tersebut. Bahkan Nabi Musa, dia naik ke gunung yang begitu tinggi, tembus ke awan, lalu tinggallah ia di atas gunung selama 40 hari 40 malam untuk melakukan ibadah i’tikaf. Karena itulah, di dalam dunia Islam ada kelompok-kelompok tarikat yang mempunyai tradisi suluk (khalwat) selama 40 hari. Inilah tradisi Nabi Musa. Di dalam Alquran, mengenai hal ini dijelaslan pada Surah Al-A’raf ayat 142, bahwa Nabi Musa digembleng selama 30 hari, kemudian lulus, lalu Allah tambahkan 10 hari lagi, sehingga menjadi 40 hari.

Nabi Isa pun digembleng 40 hari 40 malam. Seperti yang tertulis di Injil, bahwa Nabi Isa kemudian dibawa oleh roh (Jibril) ke padang gurun untuk diuji. Maka, setelah berpuasa 40 hari 40 malam, akhirnya laparlah Nabi Isa.

Dari hal ini, dapatlah kita ketahui, bahwa umat-umat terdahulu (sebelum Umat Nabi Muhammad) juga berpuasa. Di dalam Injil Lukas juga disebutkan mengenai Puasa Senin-Kamis. Yang menarik, adalah bagaimana sikap berpuasa seperti yang tertulis di Injil Matius:

Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram wajahmu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat, bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya, yaitu dikagumi oleh orang. (Injil)

Pesan moral yang ada di Injil sebenarnya sama dengan pesan moral di Agama Islam, yaitu kalau sedang berpuasa, janganlah ditunjuk-tunjukkan bahwa kita sedang berpuasa.

Di dalam Hadits Qudsi, Rasulullah menyampaikan pesan:

Allah tabara wa ta’ala berkata: setiap amal (perbuatan) keturunan Adam untuk si anak Adam itu sendiri, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan memberikan ganjarannya langsung. (Hadits Qudsi)

Pesan hadits qudsi ini adalah, bahwa setiap orang yang berbuat baik, maka orang tersebut bisa mengira-ngira ganjaran yang akan ia peroleh. Tetapi puasa, maka ganjarannya tidak ada yang tahu, hanya Allah yang tahu, dan itu adalah rahasia manusia dengan Allah.

Kembali kepada Injil Matius, juga disebutkan:

Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu (oleh Tuhan) yang ada di tempat tersembunyi. (Injil)

Puasa itu adalah urusan kita dengan Tuhan saja, jadi tak usah terlalu dinampak-nampakkan. Jika di hari-hari biasa (selain Bulan Ramadhan) kita bisa beraktivitas normal seperti biasanya, maka di Bulan Ramadhan pun selayaknya kita juga harus tetap beraktivitas seperti biasanya, masuk bekerja seperti biasanya tanpa harus terlambat, bekerja seperti biasanya tanpa harus bermalas-malasan.

Janganlah karena puasa kemudian menjadikan kita selalu minta keringanan. Sesungguhnya puasa itu bukanlah sesuatu yang akan mencelakakan kita, melainkan adalah sesuatu yang akan menggembleng kita. Dan orang takkan mati karena puasa.

Keistimewaan Ramadhan

Karena banyaknya keistimewaan Ramadhan (bulan rahmat, pengampunan, dan sebagainya), menurut Rasulullah:

Kalaulah orang mengetahui kebaikan-kebaikan yang ada pada Bulan Ramadan, niscaya mereka akan menginginkan agar Ramadan berlangsung sepanjang tahun. (Al-Hadits)

Rasulullah juga memberikan pesan:

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bulan Allah yang penuh berkah, rahmah, dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah, hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam yang paling utama. Saat demi saatnya adalah saat-saat yang paling utama. Inilah puncak segala bulan, penghulu segala bulan. (Al-Hadits)

Jika kita cermati lagi pesan Rasulullah tersebut, bahwa Ramadhan adalah bulan yang malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama.

Kita sering kali menganggap bahwa Ramadhan itu yang istimewa hanya siangnya saja. Ternyata kita lupa, bahwa malamnya pun istimewa. Memang, siangnya istimewa karena siangnya kita melakukan ibadah “shiyam” (puasa). Namun janganlah dilupakan, bahwa pada malam harinya pun kita dianjurkan untuk melakukan ibadah “qiyam” (shalat). Secara sederhana menurut terminologi fiqh, bahwa perbanyaklah ibadah di waktu malam, janganlah perbanyak tidur.

Malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Inilah yang sering diabaikan. Di siang harinya karena berpuasa, maka kita begitu mengistimewakan siang hari Ramadhan. Tapi setelah berbuka puasa, maka biasanya aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas yang sia-sia. Padahal malam di Bulan Ramadhan adalah malam-malam yang istimewa. Malam yang mana? Yaitu sejak Maghrib, itu sudah istimewa, yaitu kita berbuka puasa, kemudian Shalat Tarawih, kemudian membaca Alquran, tidur, apalagi di waktu “sahur”.

Sahur adalah nama waktu, yaitu sepertiga malam yang terakhir, kira-kira pukul setengah 2 sampai setengah 5. Sepertiga malam yang terakhir inilah yang disebut sebagai waktu “sahur”.

Sahur, jamaknya adalah “as-har”. “Wa bil as-haari hum yastaghfirun” (di waktu-waktu sahur, mereka terus memohon ampun kepada Allah). Mengapakah dianjurkan untuk memohon ampun di waktu sahur? Sebab di dalam hadis juga dijelaskan: di waktu sahur (sepertiga malam yang terakhir), Allahu yanzilu ilas-sama’iddunya (Allah turun ke langit yang terdekat dengan bumi, dan Allah mencari-cari orang yang berdoa di waktu sahur, dan Allah akan sangat malu untuk tidak mengabulkan doa orang yang berdoa di waktu sahur).

Maka, ketika Nabi ditanya, “Kapan saat berdoa yang paling baik?”

Nabi lalu mengatakan, “Di penghujung salat fardhu, wa fi jaufil laylil akhirah (di penghujung malam yang terakhir)”.

Maka perbanyaklah berdoa di waktu-waktu yang istimewa ini.

Yang istimewa dari Sahur adalah waktunya, bukanlah makannya (makan sahur). Mengapa? Karena di waktu sahur itulah doa-doa didengarkan dan diperhatikan. Oleh sebab itu, bangun di waktu sahur jangan hanya untuk makan. Kalau ada pesan Rasulullah yang berbunyi: Tasahharu fa inna fissahuri barakah (Bersahurlah kalian, sesungguhnya pada sahur ada keberkahan).

Keberkahan itu pada waktu sahurnya, bukan pada makan sahurnya. Kita sering mengartikan, bahwa keberkahan itu pada makan sahurnya. Sehingga, kitapun makan banyak-banyak pada saat sahur. Bukanlah ini yang dimaksud. Rasulullah mengatakan: Kalaupun yang kamu minum hanya seteguk air, maka itu sudah cukup.

Jadi, kalau memang banyak keberkahan di waktu sahur, mengapa kita tidak makan minum banyak-banyak, mengapa dikatakan oleh Rasulullah, bahwa seteguk air saja cukup.

Keberkahan itu bukan pada makan sahurnya, melainkan pada waktu sahurnya itu sendiri. Jadi makna: tasahharu (bersahurlah kalian), ternyata bukanlah makan sahur, tapi bangun di waktu sahur. Dan isilah waktu sahur jangan hanya dengan makan, melainkan sempatkanlah untuk Salat Tahajjud. Sesuai dengan namanya, yaitu tahajjada (bangun dan bangkit dari tidur), sehingga kalau kita sudah tidur, lalu bangun dan bangkit, maka itulah yang dinamakan sebagai tahajjud.

Setelah bangun dan bangkit itu, lalu bersegeralah untuk shalat. Sehingga salat yang dilakukan itu kemudian disebut sebagai shalat tahajjud. Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa shalat tahajjud hanya bisa dilaksanakan setelah terlebih dahulu tidur, maka memang benar adanya. Bagaimana bisa disebut sebagai shalat tahajjud (salat bangkit dari tidur), jika tidak tidur terlebih dahulu. Tetapi, bukan berarti nilainya rendah jika kita melakukan salat malam (salat sunnat) tanpa terlebih dahulu tidur, misalkan bagi orang yang bekerja pada malam hari, sehingga untuk melakukan salat sunnat pada malam hari ia tanpa terlebih dahulu tidur. Cuma, shalat sunnat yang dilakukan tanpa terlebih dahulu tidur, maka tidak dinamakan sebagai salat tahajjud.

Perbedaannya hanyalah pada nama shalatnya. Yang satu disebut tahajjud, sedangkan yang satunya lagi tidak disebut sebagai tahajjud. Lantas disebut sebagai salat apa? Sebut saja sebagai shalat lail (shalat malam). Tetapi berkenaan dengan pahala, sebenarnya sama saja. Substansinya, sama-sama dilakukan pada waktu yang istimewa (sepertiga malam/waktu sahur).

Jadi, sesuai dengan pesan Rasulullah tersebut di atas, bahwa biasanya kita terlalu mengistimewakan siangnya, tetapi lalai memanfaatkan malamnya. Di siang kita shiyam, di malam hari kita qiyam, terutama di waktu sahur. Bangun di waktu Sahur jangan hanya untuk makan sahur, tapi lakukan juga salat dua rakaat, lakukan doa bersama karena di waktu tersebut adalah saat doa dimustajabah oleh Allah.

Di siang hari kita melakukan ibadah lahiriah, yaitu berhenti makan dan minum, berhenti seks, berhenti dari membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat dan bisa mengurangi keberkahan puasa. Selain berpuasa secara lahiriah, kita juga berpuasa secara ruhaniah, yaitu:

– fa la yarfus (ngomong yang mengarah kepada syahwat),

– wa la yaskhaf (membenar-benarkan yang salah), dalam hal ini kita tidak melakukan hal yang salah itu, melainkan kita hanya membenarkan tindakan yang salah, maka ini juga tidak boleh kita lakukan. Ini sebenarnya sikap mental,

– wa la yajhal (jangan bersikap bodoh/kasar) .

Di malam hari ada ibadah yang secara lahiriah misalkan mengurangi tidur, kemudian ditambah dengan ibadah ruhaniahnya, seperti: shalat malam, berzikir, berdoa, wirid, baca Alquran.

Khutbah Rasulullah ketika menyambut Ramadhan:

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu-tamu Allah dan dimuliakan-Nya. Di bulan ini, desah nafasmu menjadi tasbih, tidurmua menjadi ibadah (ini yang seirng disalah-pahami), amal kebajikanmu diterima, doa-doamu dikabulkan. Maka memohonlah kepada Allah Tuhanmu, dengan niat yang tulus dan hati nurani yang suci, agar Allah membimbingmu mampu melakukan puasa dan membaca kitabnya (perbanyaklah membaca Alquran di Bulan Ramadhan). Celakalah orang-orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat nanti, karena itu bersedekahlah kepada fakir-miskin, muliakanlah para orang tuamu, sayangilah mereka yang muda, kuatkanlah hubungan silaturahim.

Nampak sekali, bahwa dari khutbah Rasulullah tersebut, bahwa hubungan manusia dengan Allah, maka nilai tertingginya adalah takwa. Sedangkan hubungan manusia dengan sesama manusia, maka nilai tertingginya adalah adil. Dalam hal ini, takwa dan adil itu tidak bisa dipisahkan.

I’dilu (adillah kalian), wa akrabu littaqwa (karena keadilan sangat dekat pada ketakwaan).

Hubungan antar manusia, nilai tertingginya adalah adil. Janganlah kita merusakkan hubungan antar manusia. Sebab, ketika kita merusakkan keadilan, berarti kita telah merusakkan hubungan antar manusia. Jika sudah seperti ini, maka kita menjadi tidak takwa kepada Allah, meskipun shalat yang kita lakukan bagus, juga puasa, zakat, dan haji yang telah kita lakukan begitu bagus.

Jadi, antara hubungan kita dengan Allah, janganlah dipisahkan dengan hubungan kita antar sesama manusia. Terutama dengan tetangga, kalau ada perbedaan pendapat antara kita, kalau ada konflik antara sesama manusia, maka belajarlah untuk memaafkan. Belajar untuk menyingkirkan dendam, marah, dan kecewa. Apapun yang pernah diperbuat oleh tetangga, kalau kita sulit memaafkannya, kitapun kemudian berkata:

Ya Allah, sebagaimana aku selalu mengharap maaf dan ampunan darimu, maka jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang mudah memaafkan orang lain.

Kita selalu mengharapkan maaf dan ampunan dari Allah, maka sudah selayaknyalah kita juga harus mau memaafkan orang lain. Dan ini adalah hal yang mudah dikatakan, tapi sulit untuk dilakukan. Sebagai manusia biasa, tentunya kadang-kadang ada problem, tapi kita selalu berusaha untuk memaafkan. Dan ternyata setelah kita bisa memaafkan, maka hidup ini menjadi nikmat dan lapang.

Maka di Bulan Ramadhan ini, lakukanlah puasa, qiyamullail, baca Alquran, yang itu semuanya adalah untuk membaguskan hubungan kita dengan Allah. Tapi jangan lupa, hubungan kita dengan manusia bagaimana? Urusan takwa dan ibadah kepada Allah jangan pernah dipisahkan dengan hubungan antar manusia.

Jagalah lidah kita, kendalikan pandangan kita dari yang tidak halal untuk dipandang.. Kendalikan pendengaran kita dari yang tidak halal untuk didengar. Kasihilah anak-anak yatim, agar nanti anak-anak yatim kita juga dikasihi orang. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosa kita. Angkatlah kedua tangan kita untuk berdoa di dalam shalat kita, karena itulah saat yang paling utama.

Jadi janganlah ragu, terutama ketika rakaat-rakaat terakhir untuk mengangkat tangan, berdoa kepada Allah. Qunut bukan hanya bisa dilakukan ketika salat shubuh, melainkan juga bisa kita lakukan pada shalat-shalat yang lain.

Saat kita sedang shalat, saat itulah Allah memandang hamba-hamba-Nya dengan tatapan penuh kasih, menjawab orang-orang yang menyeru-Nya, menyahut orang-orang yang memanggil-Nya, mengabulkan doa orang-orang yang memohon kepada-Nya.

Wahai manusia, sesungguhnya diri-dirimu tergadai oleh amal kebajikanmu.

Diri kita mau dimasukkan ke neraka oleh Allah. Tapi kita shalat, kita puasa, kita beribadah. Kalau begitu dimasukkan ke surga saja. Ketika mau dimasukkan ke surga, ternyata shalat kita banyak yang bolong, banyak tidak khusyu’nya. Maka tergadailah kita. Sudah melakukan amal kebajikan, tapi amal kebajikan tidak meloloskan kita ke dalam surga, karena dalam amal kebajikan itu banyak cacatnya: ada ujub, ada riya’. Karena itu, perbanyaklah istighfar. Sehingga yang tadinya amal kebajikan itu membebani kita, mau masuk ke surga tapi tertahan, maka beristighfarlah, supaya kekurangan-kekurangan dari ibadah-ibadah tersebut dihapuskan.

Punggung-punggungmu telah payah menanggung beban. Maka ringankanlah dengan sujud yang panjang.

Ketahuilah, Allah taala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya, bahwa Ia takkan mengazab orang-orang yang salat dan bersujud, takkan menggentarkan mereka, takkan menakutkan mereka dengan neraka di hari mereka berdiri di hadapan Allah nanti.

Wahai manusia, siapa di antaramu yang memberi makan buka puasa kepada orang-orang beriman yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah ada ganjaran yang setara dengan ganjaran pembebasan seorang budak, dan ampunan atas dosa-dosanya.

Jadi, sangat dianjurkan untuk memberi makan kepada orang-orang yang sedang berbuka puasa.

Di tengah khutbah itu, tiba-tiba seorang sahabat menyela, “Ya Rasulullah, tak semua orang di antara kami sanggup memberi makan buka puasa pada orang lain. Kami juga miskin.”

Maka Rasulullah seperti tidak mendengar selaan itu. Rasul terus melanjutkan khutbahnya:

Lindungilah dirimu dari api neraka, walau hanya dengan sebiji kurma. Lindungilah dirimu dari api neraka, walau hanya dengan seteguk air.

Jadi, semua itu bisa dilakukan dengan seminimal mungkin.

Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, maka dia akan berhasil melewati Shiratal Mustaqim di hari ketika kaki-kaki lain tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan para pembantunya di bulan ini, maka Allah akan meringankan pertanggungjawabannya di hari kiamat nanti. Siapa yang menahan kejahatannya di bulan ini, maka Allah akan menahan murkanya di hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang memuliakan anak yatim di bulan ini, maka Allah akan memuliakannya di hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang menghubungkan tali persaudaraan di bulan ini, maka Allah akan menghubungkannya dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang memutuskan kekeluargaan di bulan ini, maka Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang melakukan shalat sunnat di bulan ini, maka Allah akan menetapkan pembebasan dari api neraka untuknya. Siapa yang melakukan shalat fardhu, maka baginya ada ganjaran seperti 70 kali shalat fardhu di bulan lain. Siapa yang memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, maka Allah akan memberatkan timbangan pada hari ketika timbangan-timbangan ringan. Siapa yang membaca satu ayat Alquran di bulan ini, ganjarannya setara dengan mengkhatamkan Alquran di bulan lain.

Wahai manusia, sesungguhnya pintu-pintu surga telah terbuka untukmu. Maka memohonlah kepada Tuhanmu, agar Ia tak pernah menutupnya lagi bagimu. Pintu-pintu neraka telah tertutup, maka memohonlah kepada Tuhanmu agar Ia tidak pernah membukanya lagi bagimu. Setan-setan telah terbelenggu, maka memohonlah kepada Tuhanmu agar mereka tak pernah lagi bisa menguasaimu.

Di tengah khutbah Rasulullah itu, Sayyidina Ali ibn Abi Thalib lalu berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, perbuatan apa yang paling utama di bulan ini?”

Nabi pun menjawab, “Ya Abal Hasan, perbuatan yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan oleh Allah.”

Dalam hal ini, kalaupun tidak berbuat baik, setidaknya janganlah berbuat yang haram. Tidak berbuat haram saja, desah nafasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah. Tapi kalau kita melakukan ibadah, melakukan juga yang haram, maka semua amal ibadah kita akan menjadi rusak.

Demikianlah, Ramadhan adalah bulan kebangkitan rohani kita. []

13 September 2008 at 8:15 AM 2 komentar

Tingkatan Zuhud Dihubungkan dengan Hal yang Disukai

TINGKATAN ZUHUD DIHUBUNGKAN DENGAN HAL YANG DISUKAI

Disarikan dari Pengajian Tasawuf yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. pada tanggal 13 Agustus 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ada petuah-petuah para pendahulu kita (termasuk juga sahabat), dan juga ada hadis Rasulullah yang menyatakan:

Apabila kamu melihat seseorang hamba yang telah diberinya diam dan zuhud, dekatilah hamba itu. Sesungguhnya dia akan mengajarkanmu ilmu hikmah. (Al-Hadits).

Jika ada di antara kita, orang tersebut tidak banyak maunya, tidak cerewet, tidak neko-neko, pandangannya lurus. Lantas orang itu juga menampilkan penampilan zuhud. Sesungguhnya orang itu mempunyai uang, memiliki kekuasaan, tetapi orang tersebut tidak mau menampilkan diri sebagaimana halnya orang yang kaya dan berkedudukan. Rasulullah mengatakan, bahwa dekatilah orang tersebut, karena orang tersebut akan memberi hikmah.

Apakah hikmah?

Hikmah yaitu suatu informasi yang langsung menembus hati kita. Sekalipun orang itu bukan sarjana, juga bukan tokoh masyarakat, tapi apabila orang itu menampilkan dua kriteria ini (pendiam dan zuhud), maka orang seperti ini adalah kekasih Tuhan.

Seorang guru pernah mengatakan, jika pergi ke suatu kampung, carilah masjid yang paling tua di kampung itu. Datanglah lebih awal ke masjid tersebut, misalkan jauh sebelum salat maghrib. Kemudian carilah orang yang paling pertama masuk ke masjid tersebut. Orang tersebut biasanya duduk tafakkur dan juga tidak berkata-kata. Orang yang datang paling awal itu biasanya juga pulang paling akhir. Jika mendapati orang seperti ini, maka dekatilah ia, mintalah orang itu untuk mendoakan kita.

Orang yang seperti ini biasanya bukanlah orang sembarangan. Insya Allah orang seperti ini sudah mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Tuhan. Apalagi menurut orang-orang di sekitar tempat itu, bahwa pekerjaan orang tersebut memang seperti itulah adanya. Maka, bersahabatlah dengan orang tersebut, karena dia bukanlah orang sembarangan.

Jika engkau menginginkan dicintai oleh Allah, maka berzuhudlah di dunia ini. (di akhirat tentunya sudah tidak ada lagi zuhud). Rasulullah telah menjadikan sifat zuhud sebagai sebab dicintai oleh Allah. Jika ingin dicintai oleh Allah, maka berzuhudlah.

Apakah zuhud?

Zuhud adalah menghindari diperbudak oleh dunia (bukanlah membenci dunia). Orang yang dicintai oleh Allah adalah orang yang berada pada tingkatan derajat yang paling tinggi. Siapakah itu? Yaitu orang-orang yang menampilkan penampilan zuhud. Pemahaman sebaliknya (mafhum mukhalafah), bahwa orang yang mencintai dunia itu mendatangkan kemurkaan Allah.

Orang yang berorientasi kepada dunia, seolah-olah hidupnya hanya untuk menikmati dunia, menggenggam dunia, maka orang yang seperti ini tidak akan dicintai oleh Tuhan. Kita mencari-cari dunia, bukanlah kita segala-galanya untuk dunia. Dunia adalah kendaraan menuju akhirat, bukanlah kita yang sebaliknya dinaiki dunia.

Hadis lain mengatakan:

Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah akan memasukkan hikmah ke dalam hatinya. Maka lisannyapun berkata dengan hikmah. Allah mengenalkan kepadanya akan penyakit dunia dan obatnya sekaligus. Lalu Allah akan mengeluarkannya dari dunia dengan selamat ke dalam negeri kesejahteraan (surga).

Bagi orang yang zuhud, ada vibrasi positif yang mengalir di dalam diri orang tersebut, sehingga ucapan-ucapan orang yang seperti itu adalah hikmah, seperti tidak ada satu katapun yang mubazir yang keluar darinya, tak ada sepotong katapun yang sia-sia keluar dari mulut orang tersebut.

Ada orang yang berbicara selama dua jam, tetapi tidak ada yang bisa ditangkap, atau hanya sedikit sekali. Ada juga orang yang pendek bicaranya, tapi padat maknanya, mengiang-ngiang di telinga kita, dan tidak akan pernah terlupakan. Itulah ciri-ciri kekasih Tuhan.

Ada orang yang kiaiy besar, profesor doktor, sangat ilmiah, menarik pembawaannya, tetapi ketika kita pulang ke rumah, maka terlupakanlah semua yang disampaikan orang itu. Atau mungkin kita ingat, tapi tidak mempunyai daya tukik untuk mencegah kita melakukan dosa dan maksiat.

Tetapi sebaliknya, orang yang sudah terinstalasi ke dalam dirinya hikmah dari Allah, maka setiap kali kita akan melakukan dosa dan maksiat, maka terbayang-bayanglah wajah orang itu.

Rasulullah bersabda:

Celakalah bagi dunia, celakalah bagi dinar dan dirham. (Al-Hadits)

Maksudnya, jangan sampai mata uang itu yang membuat kita kalap, membuat kita buta, dan yang membuat kita terlena.

Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, Allah telah melarang kami menyimpan emas dan perak. Maka apakah yang seharusnya kami simpan?”

Dijawab oleh Rasulullah, “Salah seorang dari kamu hendaknya selalu membuat lisannya selalu berzikir, membuat hatinya untuk bersyukur, dan isteri yang shalihah yang membantunya untuk urusan akhirat.”

Mungkin banyak para isteri yang justeru mengajak para suaminya untuk menuntut dunia. Dan tidak sadar menjauhkan suaminya dari akhirat.

Firman Allah:

Perbekalan masa depan di rumah abadi (syurga) nanti adalah at-taqwa. (Al-Qur’an)

Umar ibn Khattab berkata: “Berzuhud terhadap dunia itu menenangkan hati dan jasad.

Kalau ada di antara kita yang tidak tenang, selalu gelisah, kering, walaupun sedang banyak uang, itu tandanya kita kurang zuhud.

Zuhud itu menenteramkan batin,

Bilal (sahabat, yang kemudian menjadi muazzinnya Rasulullah) berkata: “Sesungguhnya Allah menyuruh kita untuk berzuhud terhadap dunia. Akan tetapi kita malah menyukainya.

Ada orang yang di dalam pikirannya itu selalu uang. Untuk hal-hal yang tidak mendatangkan keuntungan materil baginya, maka ia takkan melakukannya.

Sengaja untuk menghindarkan akhirat, memburu dunia, maka dalam hal ini sebenarnya Tuhan sudah memalingkan perhatian orang tersebut ke dunia saja, dan hilang akan akhiratnya.

Tingkat Zuhud

Zuhud yang pertama, yaitu jika seorang yang berzuhud kepada dunia, tapi orang ini menyukai dunia, hatinya cenderung kepada dunia. Ini adalah tingkatan zuhud yang standard.

Zuhud yang kedua, yaitu ketika seseorang yang meninggalkan dunia dengan ringan, gampang sekali meninggalkan urusan dunia, karena dianggapnya hina dan dihubungkannya kepada apa yang diinginkan. Tak ada artinya dunia ini jika dibandingkan dengan kemulian akhirat.

Tingkatan ini sebenarnya juga masih ada kelemahan, karena kadang-kadang juga masih riya’. Ada orang yang meriya’kan zuhudnya. Orang yang seperti ini, pasti bukanlah contoh zuhud.

Zuhud yang ketiga, yaitu seorang yang berzuhud dengan ringan, tanpa beban, dia berzuhud dengan kezuhudannya. Inilah tingkatan yang paling tinggi.

Orang yang zuhud, tidak memandang kepada zuhudnya, kecuali ia memandang kepada yang dizuhudkannya. Orang yang zuhud sejati, dia tidak sadar bahwa dirinya itu zahid (zuhud).

Kalau ada orang yang menyadari dirinya berbuat baik, maka ini memang baik, tapi belumlah yang terbaik. Yang kita cari adalah kita tidak sadar kalau kita sudah melakukan kebaikan. Kita sudah tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan itu adalah kebaikan. Karena kalau seseorang masih sadar kalau dia sudah melakukan kebaikan, maka suatu waktu nanti dia akan riya’.

Tingkatan Zuhud yang dihubungkan dengan hal yang disukai

Tingkatan paling rendah, zuhudnya karena takut akan siksaan.

Tingkatan menengah, zuhudnya karena mengharapkan pahala. Ia lupakan neraka, tapi ia memohon surga. Maka ia melakukan perbuatan baik karena diiming-imingi oleh surga.

Tingkatan tertinggi, zuhudnya karena suka kepada Allah, bukan takut neraka, bukan ingin surga. Dia takut, dan dia mencintai Tuhannya. Berharap bertemu dengan Allah, hatinya tidak peduli lagi dengan kenikmatan-kenikmatan dan azab. Inilah zuhudnya orang-orang yang mencintai Allah. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang ma’rifah.

Tidak ada orang yang mencintai khusus kepada Allah, kecuali orang-orang yang mengenali Tuhannya. Tidak mungkin jiwa kita akan mampu mengenali Tuhan kalau kita ini berlumuran dosa.

Tiga cara mendekati Tuhan

Pertama, ketika kita sudah melakukan dosa, maka cara masuk yang paling baik untuk dekat dengan Tuhan adalah dengan beristighfar. Ketika beristighfar, maka di situ terbayanglah ketakutan kita terhadap Allah yang Maha penyiksa. Maka pada saat itu nyali kita menjadi kecil, dan kita menjadi sangat kecil dan takut kepada Tuhan. Inilah cara masuk yang paling bagus untuk dekat kepada Allah.

Kedua, dia tidak berdosa, tetapi orang itu ditimpa musibah: anaknya meninggal, suami atau isterinya tiba-tiba sakit keras. Ada musibah, maka ia pasti ingat Tuhan. Pada posisi seperti ini juga merupakan jalan masuk untuk menuju Tuhan.

Pasti kita ingat Tuhan pada saat melakukan dosa. Jika ada orang yang sudah tidak ingat lagi dengan Tuhan ketika dia melakukan dosa, maka jenis orang seperti ini merupakan jenis orang yang dibenci oleh Tuhan.

Ketika kita melakukan dosa, ternyata kita masih takut, masih ingat Tuhan, masih bertobat, maka itu adalah tanda-tanda bahwa kita masih di dalam lingkup cinta Tuhan. Tapi kalau sudah tidak ada lagi panggilan istighfar setelah kita melakukan dosa dan maksiat, maka memang sudah mati orang itu secara spiritualnya, sekalipun biologisnya masih hidup.

Ketika ditimpa musibah kemudian kita dekat dengan Tuhan, maka itu adalah undangan. Yang menjadi persoalan adalah bagi orang yang sudah dekat dengan Tuhan, yang maqamnya sudah tinggi, tidak ada musibah yang bisa mengingatkan dirinya lebih dekat dengan Tuhan. Tidak pernah lagi mau melakukan dosa, sehingga tidak ada pemancing yang sangat kuat untuk mendekatkan dirinya dengan Tuhan.

Seperti inilah yang dialami oleh umat Islam secara umum. Soal isi perut tidak ada masalah, deposito sudah cukup, tanpa kerjaan, sudah pensiun, tapi insya Allah tujuh turunan takkan terlantar. Pakaian, kendaraan, rumah, semuanya tidak ada maslah. Fasilitas primer, sekunder, dan luxury nya pun sudah lengkap. Orang yang seperti ini membutuhkan metode untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Biasanya orang yang terfasilitasi seluruh kehidupannya, maka sulit untuk intensif dekat dengan Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan biasanya karena ada gelombang besar kehidupan yang menimpanya. Jadi Tuhan itu identik dengan Maha Penolong. Ketika kita sudah tidak membutuhkan pertolongan karena kita sudah merasa cukup, maka pada saat itu kita menjadi susah untuk dekat dengan Tuhan. Cara yang paling tepat untuk orang yang seperti ini ialah lewat pintu ar-raja’.

Hati-hatilah orang yang tenang karena dunianya lengkap, biasanya jiwa orang itu tidak akrab dengan Tuhan. Jangan pernah membiarkan hubungan kita dengan Tuhan biasa-biasa saja. Apakah kita akan terus membiarkan diri kita biasa-biasa saja dengan Tuhan? Yang kita inginkan adalah hubungan intensif itu sendiri. Dan intensitas kehidupan kedekatan dengan Tuhan itu memang harus diupayakan. Musibah tidak ada masalah. Dosa tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah pada saat kita stabil.

Orang stabil membutuhkan apa yang disebut dengan ar-raja’, yaitu rasa harap yang sangat dalam terhadap Tuhan.

Ar-raja’ adalah sesuatu yang tidak permanen, sifatnya masih keluar-masuk. Ada pula yang disebut dengan hal (fluktuatif/berubah-ubah). Yang kita inginkan adalah permanen. Kalau itu sudah permanen, maka itulah yang disebut sebagai maqam.

Pada umumnya, situasi batin kita sebagai orang awam barulah setingkat hal, yaitu misalkan kalau lagi lagi mood, maka dekatlah dengan Tuhan. Padahal yang kita rindukan adalah, sedetik pun kita takkan pernah mau berpisah dengan Tuhan.

Apa lagi yang seharusnya kita lakukan setelah fase ar-raja’ ini?

Yang kita inginkan adalah yang disebut sebagai fase mahabbah. Inilah yang abadi. Kalau kita menjadi pencinta sejati terhadap Tuhan, maka hati ini takkan pernah menjadi gersang. Semua penderitaan itu terasa nikmat.

Permasalahannya adalah ketika kita berada dalam keadaan normal. Ini adalah ujian yang paling berat. Pada umumnya, kita tidak pernah ada yang resah, karena fasilitas hidup kita sudah lengkap. Kalau kita hidup pada batas normal seperti ini, maka jangan sampai hidup kita nanti sepanjang itu pula berjauhan jarak dengan Tuhan, kita hanya mengingat Tuhan pada saat shalat lima waktu, itupun mungkin hanya separuh dari salat itu kita mengingat Tuhan.

Kalau perut kekenyangan, terlalu banyak makan daging, kalorinya berlebihan, energi berpikirnya segar, biasanya Tuhan itu berjarak. Tuhan itu lebih gampang muncul di perut lapar ketimbang perut kekenyangan. Hidup yang paling berarti di dunia ini adalah selalu dekat dengan Tuhan.

Jadi, ada empat situasi batin yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Dosa dan maksiat, musibah, hajat yang sangat besar, dan situasi normal.

Kita mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan mengenai dosa, apalagi bagi orang yang sudah sering mendapatkan siraman rohani, intensif mengikuti pengajian, karena secepatnya kita akan beristighfar jika melakukan dosa, walaupun hanya dosa kecil.

Kita juga tidak mengkhawatirkan kalau ada musibah, karena kita pasti akan mengembalikan segalanya kepada Tuhan.

Kita juga tak terlalu khawatir jika ada kebutuhan yang sangat besar, walaupun dibutuhkannya begitu darurat. Kita tak perlu meragukannya, karena kita pasti akan meminta bantuan kepada Allah.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika kita sedang tidak dalam keadaan membutuhkan apa-apa dalam kehidupan ini (kehidupan kita normal). Ini yang harus dicermati. Jika dalam keadaan seperti ini, apakah yang harus kita lakukan?

Dalam keadaan seperti ini, yang bisa kita lakukan adalah:

– Ar-raja’, yaitu kita jangan mau kehilangan Tuhan. Kalau sepanjang hari ini kita belum ingat Tuhan, sedangkan kita selalu berzikir, shalat, dan ibadah lainnya, tapi ingat kepada Tuhan begitu dangkalnya, tentunya ini merupakan suatu permasalahan. Kedangkalan ingatan kita terhadap Tuhan merupakan pertanda, bahwa Tuhan itu jauh. Bukan Tuhan jauh dari kita, tetapi kitalah yang menjauhkan diri kita dengan-Nya. Cepatlah mengembalikan posisi batin itu. Kembalilah akrab dengan Tuhan.

Dalam situasi normal, jangan pernah meninggalkan shalat-shalat sunnat rawatib. Jangan hanya ketika ada masalah saja kita baru melakukan shalat sunnat rawatib. Jangan pula pernah meninggalkan shalat-shalat sunnat yang lain, termasuk juga jangan mengurangi jumlah rakaat salat dhuha, salat tahajjud, dan salat-salat sunnat lainnya yang biasa kita lakukan. []

13 September 2008 at 8:01 AM 1 komentar

Hikmah di Balik Penciptaan Syaitan

HIKMAH DI BALIK PENCIPTAAN SYAITAN

Disarikan dari Pengajian Ahad

yang disampaikan oleh:

Prof. KH. Ali Mustafa Ya’qub, M.A.

pada tanggal 6 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ketika Allah akan menciptakan khalifah di bumi (yaitu manusia), maka para malaikat protes kepada Allah. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 30 disebutkan:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesunggunya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Khalifah artinya adalah “pengganti dari yang tidak ada”. Oleh karena itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq disebut sebagai “Khalifah Rasul”, karena menggantikan posisi Rasulullah SAW setelah Rasulullah wafat. Umar bin Khattab juga disebut sebagai “khalifah”, karena menggantikan posisi Abu Bakar Ash-Shiddiq. Karena itu, jangan sekali-kali kita menyebut “Khalifah Allah”. Al-Qur’an ataupun Hadits tak pernah menyebutkan “Khalifah Allah”. Khalifah Allah berarti pengganti Allah. Kalau begitu Allah ke mana kalau digantikan. Al-Qur’an hanya menyebutkan: “Aku (Tuhan) akan membuat pengganti di bumi”.

Menurut para ahli tafsir, berdasarkan riwayat dari Abdullah ibnu Abbas, memang sebelum diciptakannya makhluk yang bernama manusia, bahwa dunia pernah didiami oleh makhluk yang bernama “Banul Jan”. Makhluk itu berbuat kerusakan, yang kemudian Allah akan menciptakan penggantinya lagi.

Dari persepsi pemahaman malaikat sepeti disebutkan pada ayat di atas, malaikat sepertinya “protes”. Malaikat mengatakan, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Allah kemudian mengatakan, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita “bertanya” kepada Allah. Mengapa kita sudah taat, tapi masih diberi musibah dan bencana?

Jadi, apa sebenarnya hikmah di balik Allah menciptakan syaitan?”

Ada 3 (tiga) kategori makhluk. Yang pertama disebut “malaikat”, yang kedua disebut “manusia”, dan yang ketiga disebut “Jin”. Ketiga-tiganya ini memiliki karakter yang berbeda.

Malaikat diciptakan oleh Allah hanya memiliki sifat untuk selalu taat kepada Allah. Allah menerangkan karakter malaikat ini, bahwa malaikat tidak pernah durhaka kepada Allah dan selalu mengerjalan apa yang diperintahkan.

Manusia ada yang taat kepada Allah, dan juga ada yang tidak taat kepada Allah. Yang taat disebut mu’min, yang tidak taat disebut kafir.

Jin memiliki watak seperti manusia, yaitu ada yang taat dan juga ada yang tidak taat.

Pertanyaannya, di mana syaitan?

Secara bahasa, “syaitan” berarti adalah sesuatu yang tidak mau mengikuti aturan. Dalam istilah, “syaitan” adalah makhluk Allah yang tidak mau taat terhadap perintah-perintah Allah, baik dia itu berupa jin, maupun berupa manusia.

Malak” (jama’nya malaikat) berarti memiliki watak yang taat. “Jin” artinya tutup, karena tidak terlihat. “Manusia” atau “Insan” terambil dari kata “nisiyan”, yang artinya lupa.

Al-Qur’an menegaskan:

Wa kazalika ja’alna liqulli nabiyyin ‘aduwwan syayaatiinal insi wal jin.

“Dan demikianlah setiap Nabi kami ciptakan musuh-musuh berupa syaitan yang terdiri dari manusia dan jin.”

Jadi semakin jelaslah, bahwa syaitan itu dapat berupa manusia, dan dapat juga berupa jin. Sedangkan “iblis” yang kita kenal selama ini, artinya sama dengan arti “syaitan”, yaitu makhluk yang tidak taat kepada Allah. Iblis bukan nama, melainkan sebutan untuk sifat seorang jin yang tidak taat terhadap perintah Allah. Nama sebenarnya dari iblis tersebut adalah “Haris”. Iblis itu sifatnya, nama dirinya adalah “Haris” yang berarti “penjaga”. Mengapa disebut “Haris”? Konon karena mendapat tugas untuk menjaga surga. Ketika diperintahkan untuk sujud kepada Nabi Adam, maka semua malaikat kemudian sujud. Jin yang bernama “Haris” yang kemudian dikenal sebagai “Iblis” kemudian tidak mau taat.

Setelah itu, Iblis kemudian terkutuk dan tidak boleh tinggal di surga. Iblis kemudian meminta kepada Allah agar tidak dimatikan sampai waktu kiamat. Permintaan atau doa iblis itu ternyata dikabulkan oleh Allah.

Kemudian muncul pertanyaan, apakah Iblis adalah makhluk yang percaya kepada Allah? Mungkin dapat dikatakan, bahwa Iblis itu memang percaya kepada Allah. Dan kalau “percaya” itu diterjemahkan dengan kata “mu’min”, maka dapatlah dikatakan bahwa Iblis itu mu’min.

Allah bertanya kepada Iblis, “Mengapa kamu tidak mau sujud kepada Adam ketika kamu Aku perintahkan?”

Iblis pun menjawab, “Saya lebih hebat dari Adam. Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan Engkau menciptakan Adam dari tanah.”

Menurut Iblis, bahwa api itu lebih baik dari tanah. Makanya kemudian Iblis mengganggap bahwa ia tidak pantas untu tunduk kepada makhluk yang terbuat dari tanah.

Watak dari api adalah selalu meninggi dan selalu ke atas. Ini menunjukkan bahwa api merupakan watak sombong. Karena itu, watak Iblis adalah sombong. Dari kesombongannya itulah yang kemudian menyebabkan ketidak-taatan.

Berbeda dengan tanah, bahwa di manapun tanah umumnya selalu diposisikan pada bagian yang paling bawah. Jadi, watak tanah itu antara lain adalah merendahkan diri dan tidak arogan. Watak tanah yang kedua, bahwa biarpun dilemparkan kotoran, maka tanah akan selalu memberikan yang terbaik, menghasilkan buah-buahan yang lezat, dan sebagainya. Karena itu, manusia seharusnya mempunyai watak tanah ini.

Seperti disebutkan di atas, bahwa Iblis itu percaya kepada Allah. Tapi, percaya kepada Allah namun tidak taat kepada Allah, maka hal tersebut tidak akan berarti apa-apa. Yang menyelamatkan manusia nantinya adalah percaya dan taat kepada Allah.

Selanjutnya, bahwa doa (permintaan) iblis ternyata dikabulkan oleh Allah. Dalam Al-Qur’an dikisahkan permintaan iblis ini:

Rabbi ‘anzirni ila yaumi yub’atsu.

“Wahai Tuhanku, berilah kami masa tangguh jangan Kamu matikan, sampai manusia nanti dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat!”

Permintaan iblis ini memang dikabulkan, tapi tidak pas seratus persen. iblis meminta kepada Allah agar tidak dimatikan sampai manusia dibangkitkan dari kubur, yang berarti hari kiamat. Padahal, sesudah manusia dibangkitkan dari kubur, maka tidak ada lagi kematian. Yang ada adalah hidup kekal selama-lamanya.

Maka, Allah mengabulkan doa iblis tidak persis iblis diberi umur panjang sampai pada hari manusia dibangkitkan, tapi hanya sampai pada waktu yang ditentukan. Jadi, iblis diberi “kelebihan” untuk tidak mati, yang kelebihan inilah kemudian digunakan iblis untuk merayu dan menggoda manusia. Pengalaman iblis dalam menggoda manusia sejak zaman Nabi Adam hingga hari yang ditentukan tersebut sungguh luar biasa. Jangankan orang biasa, Nabi saja bisa tergoda.

Kalau begitu, apa hikmahnya Allah menciptakan iblis (syaitan) ini? Karena ternyata, syaitan ini di dunia membuat kemungkaran dan kemaksiatan. Menurut manusia, alangkah lebih baiknya misalkan jika syaitan itu tidak diciptakan, sehingga dunia ini akan baik semuanya. Seandainya tidak ada iblis, mungkin kejahatan tidak akan pernah ada di dunia ini.

Hikmah penciptaan syaitan antara lain:

Pertama, bahwa seandainya tidak ada Syaitan, maka tidaklah dapat diketahui manakah manusia yang baik dengan yang tidak baik. Karena tanpa adanya syaitan, maka tidak ada kriteria antara baik dengan tidak baik.

Lebih bagus mana antara malaikat dengan manusia? Ada pendapat yang mengatakan, bahwa manusia lebih bagus daripada malaikat. Karena manusia ketika taat kepada Allah, maka ketaatannya itu terjadi setelah ia melawan syaitan. Ketika manusia taat, hal ini dilalui setelah manusia berhasil melumpuhkan syaitan. Sedangkan malaikat ketika taat kepada Allah, tidak berperang melawan syaitan. Ketaatan malaikat karena wataknya memang taat. Karena itu di kalangan malaikat, mungkin tidak ada istilah malaikat yang baik dengan yang tidak baik.

Manusia mempunyai karakter untuk tidak puas dengan pemberian yang ada. Manusia memiliki kreatifitas untuk berusaha. Ketika usahanya itu berhasil dan mendapatkan hasil yang maksimal, maka di situlah manusia merasa puas. Karena itu, manusia tak ingin seperti orang yang berada di dalam penjara, yang selalu terkekang kebebasannya.

Kedua, seandainya Allah tidak menciptakan syaitan dan kemudian Allah akan memasukkan manusia ke dalam surga, maka kriteria apa yang digunakan oleh Allah untuk menentukan bahwa yang ini mendapat tingkatan surga yang tinggi, sedangkan yang lainnya mendapatkan tingkatan surga yang rendah. Tentunya kriteria tersebut tidak ada, yang akhirnya semuanya mendapat tingkatan surga yang sama. Padahal amal yang dilakukan manusia berbeda-beda. Ada yang amal ibadahnya tinggi, dan ada juga yang amal ibadahnya rendah. Lantas di mana keadilan Tuhan jika manusia dengan amal ibadah yang berbeda-beda, tapi dimasukkan ke dalam tingkatan surga yang sama? Inilah hikmah diciptakannya syaitan, maka manusia kemudian bervariasi dalam menjalankan amal ibadahnya. Di sinilah letak keadilan Tuhan.

Bahwa dalam mewujudkan keadilan Tuhan terhadap manusia, tanpa adanya syaitan, maka manusia tidak akan mendapatkan godaan. Apabila Tuhan kemudian memberikan surga kepada manusia dan surga itu sama, maka di sinilah tidak ada keadilan Tuhan, sedangkan amal ibadah masing-masing manusia berbeda-beda.

Ketiga, bahwa manusia memiliki ketidak-puasan hanya untuk menerima. Ketidak-puasan itu diwujudkan dalam bentuk tinggi rendahnya amal dan ketaatan manusia setelah manusia melakukan perlawanan terhadap syaitan. [Aan]

13 Juni 2008 at 12:54 PM 1 komentar

Fakir Miskin

FAKIR MISKIN

Disarikan dari Pengajian Tasawuf

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar M.A.

pada tanggal 2 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Hamba yang sangat dipuji Allah adalah hamba yang merasa miskin di hadapan kebesaran Allah. Sedangkan hamba yang tidak terpuji adalah mereka yang merasa kaya di hadapan Allah. Sebagai seorang yang beriman, sedapat mungkin kita selalu merasa faqir dan juga selalu merasa miskin di hadapan kebesaran Allah SWT.

Salah satu tanda-tanda keangkuhan dan kesombongan seseorang, bahwa ia selalu merasa kaya, sekalipun ia sedang menghadap kepada Allah. Pada saat kita sedang sujud di hadapan Allah, maka lupakanlah kekayaan dan semua yang kita miliki. Hamba yang paling cepat mendaki ke langit menuju ke haribaan Allah adalah hamba yang merasa miskin dan merasa tidak memiliki apa-apa di hadapan Allah.

Kita sangat sadar, bahwa semua yang kita peroleh itu hanya titipan Allah. Titipan itu hanyalah sementara. Ketika kita meninggal, maka yang mengantar kita sampai di pemakaman hanya kain kafan. Semewah apapun seseorang, maka tidak akan ada hartanya yang mengantar sampai ke liang kubur.

Ketika di liang kubur, sama saja antara orang kaya dengan orang miskin. Memang ada yang dipeti-matikan dengan peti yang sangat mewah, tapi peti mewah itu tak akan memberikan arti apa-apa bagi seseorang. Karena itu, kita dianjurkan untuk tidak menggunakan peti mati, kecuali dalam keadaan terpaksa dan kondisi tertentu yang mengharuskan menggunakan peti mati.

Jadi, kita tidak ada arti apa-apa di hadapan kebesaran Allah SWT. Karena itu, siapapun yang ingin dicintai Allah, maka selalulah ia merasa miskin, terutama ketika menghadap-Nya. Bahkan kalau perlu kita pun merasa miskin di hadapan manusia.

Firman Allah:

Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah: 273)

Maksudnya, bahwa ada orang yang dia itu menjadi miskin karena dia melakukan misi ketuhanan. Kalau dia mencari nafkah (rezeki), dia mungkin akan menjadi kaya. Tapi jika ia mencari nafkah tersebut, kemungkinan umatnya akan ketinggalan, serta tidak mendapatkan apa-apa. Hal inilah yang diwanti-wanti oleh Allah SWT. Jadi sesungguhnya kemiskinannya itu adalah kemiskinan yang sudah diperhitungkan.

Di beberapa pulau di Indonesia yang sudah ditinggalkan ustadz, yang kemudian beberapa Jum’at berturut-turut tidak bisa lagi Shalat Jum’at. Bukan karena tidak ada umat, dan bukan pula tidak ada masjid, melainkan tidak ada lagi yang bisa meyampaikan khutbah di tempat itu. Akhirnya, ada beberapa anak muda yang sangat produktif yang kemudian terpanggil untuk datang ke tempat tersebut. Dia kemudian menjadi guru ngaji, dan juga menjadi ustadz di sana. Karena hal tersebut, dia tidak ada lagi waktu untuk mencari nafkah, sehingga dengan sendirinya orang seperti ini termasuk sebagai orang miskin. Inilah antara lain yang dimaksudkan oleh ayat tersebut di atas, yang mana orang-orang seperti ini sangat patut untuk dibantu.

Sabda Rasulullah:

Ittaqillaha faqiran la talqi ghaniyyan.

“Bertemulah kepada Tuhanmu dalam keadaan faqir, dan janganlah menemuinya dalam keadaan kaya.”

Orang miskin di mata Tuhan itu penting, dan tidak ada bedanya dengan orang kaya, asalkan orang miskin itu termasuk miskin yang taat. Ini tidak berarti bahwa orang kaya itu tidak mempunyai tempat di mata Tuhan, meskipun banyak rintangan bagi orang kaya itu. Sehingga orang kaya yang pemurah lebih tinggi martabatnya di mata Tuhan dibandingkan orang miskin yang taat. Jadi sesungguhnya, yang dimaksudkan bukanlah tinggalkan dunia, melainkan carilah dunia tapi jangan pernah lupakan akhirat.

Suatu pepatah mengatakan (pepatah Imam Syafi’i):

I’mallidunyaka ka-annaka ta’i syu-abada wa’malli akhiratika ka-annakatamuutughada.

“Carilah duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi, carilah akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.”

Maksudnya, jika kita membayangkan kehidupan abadi, maka pasti kita akan bekerja optimal mencari dunia ini. Tetapi jika kita membayangkan besok akan mati maka kita akan menshadaqahkan harta kita dan ibadah kita pasti mencapai puncaknya. Jadi, jangan dipertentangkan antara dunia dengan akhirat. Karena dunia adalah pintu masuk ke akhirat.

Addunya mir-atul akhirat.

“Pencerminan akhirat kita itu adalah apa yang kita rasakan di dunia ini.”

Jadi, untuk mengetahui apakah nanti kita akan masuk neraka atau surga, maka lihatlah apa yang kita lakukan di dunia ini.

Rasulullah bersabda:

Innallaha yuhibbul faqiiral muta’affif abal a’yal.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang fakir yang menjaga kehormatan diri yang menjadi bapak keluarga.”

Dia merasa fakir, tetapi kefakiran dan kemiskinannya itu terhormat. Ada orang miskin tapi tidak terhormat. Maka jadilah orang miskin yang terhormat. Dia memang miskin secara harta, tapi dia kaya dengan hati. Dia dekat selalu dengan Tuhannya, dia selalu merindukan Nabinya, dia selalu rajin berkomunikasi dengan Al-Qur’an, dan dia tidak pernah terlepas dari mengingat Tuhan.

Ibnu ‘Abbas pernah berkata: “Terkutuklah orang yang memuliakan seseorang karena kekayaannya, dan meremehkan seseorang karena kefakirannya.”

Jangan-jangan kebanyakan dari kita adalah seperti ini, yang selalu memandang seseorang dari kekayaannya. Jika orang tersebut kaya, maka kita akan memuliakannya, tapi jika orang tersebut miskin maka kita akan meremehkannya.

Rasulullah bersabda:

Yadkhulu fuqaraa-u ummatil jannata qabla aghniyaa-iha bi khamsimi-atin ‘amin.

“Orang-orang faqir dari umatku masuk surga sebelum orang-orang kaya di antara mereka dengan selisih waktu 500 tahun.”

Tuballiman bidahilal islami wa qaana’isyuhu qafafan waqana ‘abidin.

“Berbahagialah orang-orang yang mendapatkan petunjuk Islam dan kehidupannya merasa cukup dan tidak menjadi beban orang lain dan puas dengan yang ada.”

Inilah yang dinamakan qana’ah. Orang yang paling kaya ialah orang yang merasa puas terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. Sedangkan orang yang miskin ialah orang yang selalu merasa tidak punya apa-apa.

Orang yang miskin adalah orang yang banyak maunya, sekalipun hartanya banyak. Orang kaya yang paling hina adalah orang kaya yang suka meminta-minta. Kalau orang miskin meminta-minta mungkin masih dapat dikatakan wajar, tapi jika orang kaya suka meminta-minta, sungguh terhinalah orang seperti ini, dan rendah martabatnya di mata Allah.

Kalau memohon banyak kepada Allah, itulah yang terpuji. Tapi jika meminta kepada makhluk Tuhan, itulah yang tidak terpuji. [Aan]

13 Juni 2008 at 12:45 PM Tinggalkan komentar

Pandangan Hidup Manusia Menurut Islam

Manusia Sebagai Khalifatullah

Fungsi dan kedudukan manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah di bumi. Tujuan penciptaan manusia di atas dunia ini adalah untuk beribadah. Sedangkan tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk mendapatkan kesenangan dunia dan ketenangan akhirat. Jadi, manusia di atas bumi ini adalah sebagai khalifah, yang diciptakan oleh Allah dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya, yang ibadah itu adalah untuk mencapai kesenangan di dunia dan ketenangan di akhirat.

(lebih…)

13 Juni 2008 at 12:32 PM 17 komentar


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 416,076 hits
Juli 2017
S S R K J S M
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: