Posts tagged ‘Tasawuf’

Ingatlah Selalu Dosa Kita dan Lupakanlah Kebaikan Kita

Seorang Doktor pernah menyatakan dalam salah satu kajian tasawuf yang disampaikannya di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta pada hari Rabu 16 Desember 2009. Begini yang disampaikannya itu: Sesungguhnya amal-amal perbuatan dosa maksiat itu nanti akan ditenggelamkan dan dihapuskan oleh perbuatan-perbuatan kebajikan. Ungkapan ini dikutipnya dari Al-Qur’an Surah Huud ayat 114.
(lebih…)

Iklan

9 Januari 2010 at 5:42 PM 1 komentar

Ibadah Haji

Haji sebagai salah satu Rukun Islam mempunyai tujuan yang sangat mulia. Seringkali orang tidak memahami apa tujuan ibadah haji, sehingga begitu pulang dari ibadah haji, tidak banyak didapatkan hikmah dan manfaatnya. Kalau kita kaji firman Allah di dalam Surah Al-Hajj ayat 27-28, Allah telah memaparkan hikmah dan manfaat ibadah haji yang sangat banyak, yaitu:
(lebih…)

12 Desember 2008 at 10:45 AM 1 komentar

Puasa

PUASA

Disarikan dari Pengajian Tasawuf yang disampaikan oleh Drs. H. Wahfiudin, M.BA., pada tanggal 20 Agustus 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ayat yang menegaskan mengenai perintah berpuasa di Bulan Ramadhan adalah:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al-Baqarah: 185)

Sedangkan pada Al-Baqarah ayat 183 menyebutkan:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Pada Al-Baqarah ayat 183 hanya memerintahkan kewajiban puasa, namun tanpa menyebutkan waktu yang pasti mengenai kewajiban puasa tersebut. Sedangkan pada Al-Baqarah ayat 185 secara tegas menyebutkan bahwa kewajiban berpuasa tersebut adalah di Bulan Ramadhan.

Pada Al-Baqarah ayat 185 menyebutkan:

…fa man syahida min kumusy-syahra fal yashumhu …

… siapa yang menyaksikan di antara kamu datangnya bulan itu (Bulan Ramadhan), maka berpuasalah ….

Bulan Ramadhan adalah bulan kesembilan menurut penanggalan hijriyah. Ramadhan berasal dari kata “ramadha” (panas yang menghanguskan), sebab sebelum kedatangan Islam, penghitungan kalender itu berdasarkan pada matahari. Sehingga Bulan Ramadhan waktu itu setara dengan September. Dan memang kita ketahui, bahwa musim panas di Jazirah Arabia adalah pada bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Pada Bulan Juni, Juli, dan Agustus adalah puncak musim panas. Sehingga setelah Juni, Juli, Agustus terbakar oleh sinar matahari, maka September adalah sedang panas-panasnya. Siangnya begitu panjang. Pukul setengah empat sudah masuk waktu Shubuh. Matahari membakar batu. Ketika maghrib, matahari terbenam. Batu yang terbakar terkena sinar matahari seharian, kemudian mulai dingin. Tapi belum dingin betul, pagi lalu muncul lagi. Kemudian terkena panas lagi. Begitulah berbulan-bulan. Karena itulah, bulan yang panas menghanguskan disebut sebagai Bulan Ramadhan.

Setelah Ramadhan, maka masuklah Bulan Syawwal. Syawwal berasal dari kata “syawwala”. Biasanya di gurun-gurun pasir itu ada sumur (oase). Maka air di sumur itu setelah bulan-bulan yang panas itu lalu diangkat. Karena airnya habis ditimba, maka sumur itu menjadi kering. Syawwala artinya sumur yang sudah mengering karena airnya diangkat.

Pada Al-Baqarah ayat 183 disebutkan, bahwa puasa itu telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum Umat Nabi Muhammad.

Di Injil-Kitab Jeremia (36) ayat 9 disebutkan:

Adapun dalam tahun yang kelima pemerintahan Yoyakin bin Yosia, Raja Yahuda, dalam bulan yang kesembilan, orang telah memaklumkan puasa di hadapan Tuhan bagi segenap rakyat di Yerusalem. (Injil)

Jadi, sudah ada perintah puasa untuk umat-umat terdahulu (sebelum Umat Nabi Muhammad) melalui nabi-nabi yang diutus kepada umat tersebut. Bahkan Nabi Musa, dia naik ke gunung yang begitu tinggi, tembus ke awan, lalu tinggallah ia di atas gunung selama 40 hari 40 malam untuk melakukan ibadah i’tikaf. Karena itulah, di dalam dunia Islam ada kelompok-kelompok tarikat yang mempunyai tradisi suluk (khalwat) selama 40 hari. Inilah tradisi Nabi Musa. Di dalam Alquran, mengenai hal ini dijelaslan pada Surah Al-A’raf ayat 142, bahwa Nabi Musa digembleng selama 30 hari, kemudian lulus, lalu Allah tambahkan 10 hari lagi, sehingga menjadi 40 hari.

Nabi Isa pun digembleng 40 hari 40 malam. Seperti yang tertulis di Injil, bahwa Nabi Isa kemudian dibawa oleh roh (Jibril) ke padang gurun untuk diuji. Maka, setelah berpuasa 40 hari 40 malam, akhirnya laparlah Nabi Isa.

Dari hal ini, dapatlah kita ketahui, bahwa umat-umat terdahulu (sebelum Umat Nabi Muhammad) juga berpuasa. Di dalam Injil Lukas juga disebutkan mengenai Puasa Senin-Kamis. Yang menarik, adalah bagaimana sikap berpuasa seperti yang tertulis di Injil Matius:

Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram wajahmu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat, bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya, yaitu dikagumi oleh orang. (Injil)

Pesan moral yang ada di Injil sebenarnya sama dengan pesan moral di Agama Islam, yaitu kalau sedang berpuasa, janganlah ditunjuk-tunjukkan bahwa kita sedang berpuasa.

Di dalam Hadits Qudsi, Rasulullah menyampaikan pesan:

Allah tabara wa ta’ala berkata: setiap amal (perbuatan) keturunan Adam untuk si anak Adam itu sendiri, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan memberikan ganjarannya langsung. (Hadits Qudsi)

Pesan hadits qudsi ini adalah, bahwa setiap orang yang berbuat baik, maka orang tersebut bisa mengira-ngira ganjaran yang akan ia peroleh. Tetapi puasa, maka ganjarannya tidak ada yang tahu, hanya Allah yang tahu, dan itu adalah rahasia manusia dengan Allah.

Kembali kepada Injil Matius, juga disebutkan:

Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu (oleh Tuhan) yang ada di tempat tersembunyi. (Injil)

Puasa itu adalah urusan kita dengan Tuhan saja, jadi tak usah terlalu dinampak-nampakkan. Jika di hari-hari biasa (selain Bulan Ramadhan) kita bisa beraktivitas normal seperti biasanya, maka di Bulan Ramadhan pun selayaknya kita juga harus tetap beraktivitas seperti biasanya, masuk bekerja seperti biasanya tanpa harus terlambat, bekerja seperti biasanya tanpa harus bermalas-malasan.

Janganlah karena puasa kemudian menjadikan kita selalu minta keringanan. Sesungguhnya puasa itu bukanlah sesuatu yang akan mencelakakan kita, melainkan adalah sesuatu yang akan menggembleng kita. Dan orang takkan mati karena puasa.

Keistimewaan Ramadhan

Karena banyaknya keistimewaan Ramadhan (bulan rahmat, pengampunan, dan sebagainya), menurut Rasulullah:

Kalaulah orang mengetahui kebaikan-kebaikan yang ada pada Bulan Ramadan, niscaya mereka akan menginginkan agar Ramadan berlangsung sepanjang tahun. (Al-Hadits)

Rasulullah juga memberikan pesan:

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bulan Allah yang penuh berkah, rahmah, dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah, hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam yang paling utama. Saat demi saatnya adalah saat-saat yang paling utama. Inilah puncak segala bulan, penghulu segala bulan. (Al-Hadits)

Jika kita cermati lagi pesan Rasulullah tersebut, bahwa Ramadhan adalah bulan yang malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama.

Kita sering kali menganggap bahwa Ramadhan itu yang istimewa hanya siangnya saja. Ternyata kita lupa, bahwa malamnya pun istimewa. Memang, siangnya istimewa karena siangnya kita melakukan ibadah “shiyam” (puasa). Namun janganlah dilupakan, bahwa pada malam harinya pun kita dianjurkan untuk melakukan ibadah “qiyam” (shalat). Secara sederhana menurut terminologi fiqh, bahwa perbanyaklah ibadah di waktu malam, janganlah perbanyak tidur.

Malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Inilah yang sering diabaikan. Di siang harinya karena berpuasa, maka kita begitu mengistimewakan siang hari Ramadhan. Tapi setelah berbuka puasa, maka biasanya aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas yang sia-sia. Padahal malam di Bulan Ramadhan adalah malam-malam yang istimewa. Malam yang mana? Yaitu sejak Maghrib, itu sudah istimewa, yaitu kita berbuka puasa, kemudian Shalat Tarawih, kemudian membaca Alquran, tidur, apalagi di waktu “sahur”.

Sahur adalah nama waktu, yaitu sepertiga malam yang terakhir, kira-kira pukul setengah 2 sampai setengah 5. Sepertiga malam yang terakhir inilah yang disebut sebagai waktu “sahur”.

Sahur, jamaknya adalah “as-har”. “Wa bil as-haari hum yastaghfirun” (di waktu-waktu sahur, mereka terus memohon ampun kepada Allah). Mengapakah dianjurkan untuk memohon ampun di waktu sahur? Sebab di dalam hadis juga dijelaskan: di waktu sahur (sepertiga malam yang terakhir), Allahu yanzilu ilas-sama’iddunya (Allah turun ke langit yang terdekat dengan bumi, dan Allah mencari-cari orang yang berdoa di waktu sahur, dan Allah akan sangat malu untuk tidak mengabulkan doa orang yang berdoa di waktu sahur).

Maka, ketika Nabi ditanya, “Kapan saat berdoa yang paling baik?”

Nabi lalu mengatakan, “Di penghujung salat fardhu, wa fi jaufil laylil akhirah (di penghujung malam yang terakhir)”.

Maka perbanyaklah berdoa di waktu-waktu yang istimewa ini.

Yang istimewa dari Sahur adalah waktunya, bukanlah makannya (makan sahur). Mengapa? Karena di waktu sahur itulah doa-doa didengarkan dan diperhatikan. Oleh sebab itu, bangun di waktu sahur jangan hanya untuk makan. Kalau ada pesan Rasulullah yang berbunyi: Tasahharu fa inna fissahuri barakah (Bersahurlah kalian, sesungguhnya pada sahur ada keberkahan).

Keberkahan itu pada waktu sahurnya, bukan pada makan sahurnya. Kita sering mengartikan, bahwa keberkahan itu pada makan sahurnya. Sehingga, kitapun makan banyak-banyak pada saat sahur. Bukanlah ini yang dimaksud. Rasulullah mengatakan: Kalaupun yang kamu minum hanya seteguk air, maka itu sudah cukup.

Jadi, kalau memang banyak keberkahan di waktu sahur, mengapa kita tidak makan minum banyak-banyak, mengapa dikatakan oleh Rasulullah, bahwa seteguk air saja cukup.

Keberkahan itu bukan pada makan sahurnya, melainkan pada waktu sahurnya itu sendiri. Jadi makna: tasahharu (bersahurlah kalian), ternyata bukanlah makan sahur, tapi bangun di waktu sahur. Dan isilah waktu sahur jangan hanya dengan makan, melainkan sempatkanlah untuk Salat Tahajjud. Sesuai dengan namanya, yaitu tahajjada (bangun dan bangkit dari tidur), sehingga kalau kita sudah tidur, lalu bangun dan bangkit, maka itulah yang dinamakan sebagai tahajjud.

Setelah bangun dan bangkit itu, lalu bersegeralah untuk shalat. Sehingga salat yang dilakukan itu kemudian disebut sebagai shalat tahajjud. Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa shalat tahajjud hanya bisa dilaksanakan setelah terlebih dahulu tidur, maka memang benar adanya. Bagaimana bisa disebut sebagai shalat tahajjud (salat bangkit dari tidur), jika tidak tidur terlebih dahulu. Tetapi, bukan berarti nilainya rendah jika kita melakukan salat malam (salat sunnat) tanpa terlebih dahulu tidur, misalkan bagi orang yang bekerja pada malam hari, sehingga untuk melakukan salat sunnat pada malam hari ia tanpa terlebih dahulu tidur. Cuma, shalat sunnat yang dilakukan tanpa terlebih dahulu tidur, maka tidak dinamakan sebagai salat tahajjud.

Perbedaannya hanyalah pada nama shalatnya. Yang satu disebut tahajjud, sedangkan yang satunya lagi tidak disebut sebagai tahajjud. Lantas disebut sebagai salat apa? Sebut saja sebagai shalat lail (shalat malam). Tetapi berkenaan dengan pahala, sebenarnya sama saja. Substansinya, sama-sama dilakukan pada waktu yang istimewa (sepertiga malam/waktu sahur).

Jadi, sesuai dengan pesan Rasulullah tersebut di atas, bahwa biasanya kita terlalu mengistimewakan siangnya, tetapi lalai memanfaatkan malamnya. Di siang kita shiyam, di malam hari kita qiyam, terutama di waktu sahur. Bangun di waktu Sahur jangan hanya untuk makan sahur, tapi lakukan juga salat dua rakaat, lakukan doa bersama karena di waktu tersebut adalah saat doa dimustajabah oleh Allah.

Di siang hari kita melakukan ibadah lahiriah, yaitu berhenti makan dan minum, berhenti seks, berhenti dari membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat dan bisa mengurangi keberkahan puasa. Selain berpuasa secara lahiriah, kita juga berpuasa secara ruhaniah, yaitu:

– fa la yarfus (ngomong yang mengarah kepada syahwat),

– wa la yaskhaf (membenar-benarkan yang salah), dalam hal ini kita tidak melakukan hal yang salah itu, melainkan kita hanya membenarkan tindakan yang salah, maka ini juga tidak boleh kita lakukan. Ini sebenarnya sikap mental,

– wa la yajhal (jangan bersikap bodoh/kasar) .

Di malam hari ada ibadah yang secara lahiriah misalkan mengurangi tidur, kemudian ditambah dengan ibadah ruhaniahnya, seperti: shalat malam, berzikir, berdoa, wirid, baca Alquran.

Khutbah Rasulullah ketika menyambut Ramadhan:

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu-tamu Allah dan dimuliakan-Nya. Di bulan ini, desah nafasmu menjadi tasbih, tidurmua menjadi ibadah (ini yang seirng disalah-pahami), amal kebajikanmu diterima, doa-doamu dikabulkan. Maka memohonlah kepada Allah Tuhanmu, dengan niat yang tulus dan hati nurani yang suci, agar Allah membimbingmu mampu melakukan puasa dan membaca kitabnya (perbanyaklah membaca Alquran di Bulan Ramadhan). Celakalah orang-orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat nanti, karena itu bersedekahlah kepada fakir-miskin, muliakanlah para orang tuamu, sayangilah mereka yang muda, kuatkanlah hubungan silaturahim.

Nampak sekali, bahwa dari khutbah Rasulullah tersebut, bahwa hubungan manusia dengan Allah, maka nilai tertingginya adalah takwa. Sedangkan hubungan manusia dengan sesama manusia, maka nilai tertingginya adalah adil. Dalam hal ini, takwa dan adil itu tidak bisa dipisahkan.

I’dilu (adillah kalian), wa akrabu littaqwa (karena keadilan sangat dekat pada ketakwaan).

Hubungan antar manusia, nilai tertingginya adalah adil. Janganlah kita merusakkan hubungan antar manusia. Sebab, ketika kita merusakkan keadilan, berarti kita telah merusakkan hubungan antar manusia. Jika sudah seperti ini, maka kita menjadi tidak takwa kepada Allah, meskipun shalat yang kita lakukan bagus, juga puasa, zakat, dan haji yang telah kita lakukan begitu bagus.

Jadi, antara hubungan kita dengan Allah, janganlah dipisahkan dengan hubungan kita antar sesama manusia. Terutama dengan tetangga, kalau ada perbedaan pendapat antara kita, kalau ada konflik antara sesama manusia, maka belajarlah untuk memaafkan. Belajar untuk menyingkirkan dendam, marah, dan kecewa. Apapun yang pernah diperbuat oleh tetangga, kalau kita sulit memaafkannya, kitapun kemudian berkata:

Ya Allah, sebagaimana aku selalu mengharap maaf dan ampunan darimu, maka jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang mudah memaafkan orang lain.

Kita selalu mengharapkan maaf dan ampunan dari Allah, maka sudah selayaknyalah kita juga harus mau memaafkan orang lain. Dan ini adalah hal yang mudah dikatakan, tapi sulit untuk dilakukan. Sebagai manusia biasa, tentunya kadang-kadang ada problem, tapi kita selalu berusaha untuk memaafkan. Dan ternyata setelah kita bisa memaafkan, maka hidup ini menjadi nikmat dan lapang.

Maka di Bulan Ramadhan ini, lakukanlah puasa, qiyamullail, baca Alquran, yang itu semuanya adalah untuk membaguskan hubungan kita dengan Allah. Tapi jangan lupa, hubungan kita dengan manusia bagaimana? Urusan takwa dan ibadah kepada Allah jangan pernah dipisahkan dengan hubungan antar manusia.

Jagalah lidah kita, kendalikan pandangan kita dari yang tidak halal untuk dipandang.. Kendalikan pendengaran kita dari yang tidak halal untuk didengar. Kasihilah anak-anak yatim, agar nanti anak-anak yatim kita juga dikasihi orang. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosa kita. Angkatlah kedua tangan kita untuk berdoa di dalam shalat kita, karena itulah saat yang paling utama.

Jadi janganlah ragu, terutama ketika rakaat-rakaat terakhir untuk mengangkat tangan, berdoa kepada Allah. Qunut bukan hanya bisa dilakukan ketika salat shubuh, melainkan juga bisa kita lakukan pada shalat-shalat yang lain.

Saat kita sedang shalat, saat itulah Allah memandang hamba-hamba-Nya dengan tatapan penuh kasih, menjawab orang-orang yang menyeru-Nya, menyahut orang-orang yang memanggil-Nya, mengabulkan doa orang-orang yang memohon kepada-Nya.

Wahai manusia, sesungguhnya diri-dirimu tergadai oleh amal kebajikanmu.

Diri kita mau dimasukkan ke neraka oleh Allah. Tapi kita shalat, kita puasa, kita beribadah. Kalau begitu dimasukkan ke surga saja. Ketika mau dimasukkan ke surga, ternyata shalat kita banyak yang bolong, banyak tidak khusyu’nya. Maka tergadailah kita. Sudah melakukan amal kebajikan, tapi amal kebajikan tidak meloloskan kita ke dalam surga, karena dalam amal kebajikan itu banyak cacatnya: ada ujub, ada riya’. Karena itu, perbanyaklah istighfar. Sehingga yang tadinya amal kebajikan itu membebani kita, mau masuk ke surga tapi tertahan, maka beristighfarlah, supaya kekurangan-kekurangan dari ibadah-ibadah tersebut dihapuskan.

Punggung-punggungmu telah payah menanggung beban. Maka ringankanlah dengan sujud yang panjang.

Ketahuilah, Allah taala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya, bahwa Ia takkan mengazab orang-orang yang salat dan bersujud, takkan menggentarkan mereka, takkan menakutkan mereka dengan neraka di hari mereka berdiri di hadapan Allah nanti.

Wahai manusia, siapa di antaramu yang memberi makan buka puasa kepada orang-orang beriman yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah ada ganjaran yang setara dengan ganjaran pembebasan seorang budak, dan ampunan atas dosa-dosanya.

Jadi, sangat dianjurkan untuk memberi makan kepada orang-orang yang sedang berbuka puasa.

Di tengah khutbah itu, tiba-tiba seorang sahabat menyela, “Ya Rasulullah, tak semua orang di antara kami sanggup memberi makan buka puasa pada orang lain. Kami juga miskin.”

Maka Rasulullah seperti tidak mendengar selaan itu. Rasul terus melanjutkan khutbahnya:

Lindungilah dirimu dari api neraka, walau hanya dengan sebiji kurma. Lindungilah dirimu dari api neraka, walau hanya dengan seteguk air.

Jadi, semua itu bisa dilakukan dengan seminimal mungkin.

Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, maka dia akan berhasil melewati Shiratal Mustaqim di hari ketika kaki-kaki lain tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan para pembantunya di bulan ini, maka Allah akan meringankan pertanggungjawabannya di hari kiamat nanti. Siapa yang menahan kejahatannya di bulan ini, maka Allah akan menahan murkanya di hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang memuliakan anak yatim di bulan ini, maka Allah akan memuliakannya di hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang menghubungkan tali persaudaraan di bulan ini, maka Allah akan menghubungkannya dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang memutuskan kekeluargaan di bulan ini, maka Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang melakukan shalat sunnat di bulan ini, maka Allah akan menetapkan pembebasan dari api neraka untuknya. Siapa yang melakukan shalat fardhu, maka baginya ada ganjaran seperti 70 kali shalat fardhu di bulan lain. Siapa yang memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, maka Allah akan memberatkan timbangan pada hari ketika timbangan-timbangan ringan. Siapa yang membaca satu ayat Alquran di bulan ini, ganjarannya setara dengan mengkhatamkan Alquran di bulan lain.

Wahai manusia, sesungguhnya pintu-pintu surga telah terbuka untukmu. Maka memohonlah kepada Tuhanmu, agar Ia tak pernah menutupnya lagi bagimu. Pintu-pintu neraka telah tertutup, maka memohonlah kepada Tuhanmu agar Ia tidak pernah membukanya lagi bagimu. Setan-setan telah terbelenggu, maka memohonlah kepada Tuhanmu agar mereka tak pernah lagi bisa menguasaimu.

Di tengah khutbah Rasulullah itu, Sayyidina Ali ibn Abi Thalib lalu berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, perbuatan apa yang paling utama di bulan ini?”

Nabi pun menjawab, “Ya Abal Hasan, perbuatan yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan oleh Allah.”

Dalam hal ini, kalaupun tidak berbuat baik, setidaknya janganlah berbuat yang haram. Tidak berbuat haram saja, desah nafasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah. Tapi kalau kita melakukan ibadah, melakukan juga yang haram, maka semua amal ibadah kita akan menjadi rusak.

Demikianlah, Ramadhan adalah bulan kebangkitan rohani kita. []

13 September 2008 at 8:15 AM 2 komentar

Tingkatan Zuhud Dihubungkan dengan Hal yang Disukai

TINGKATAN ZUHUD DIHUBUNGKAN DENGAN HAL YANG DISUKAI

Disarikan dari Pengajian Tasawuf yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. pada tanggal 13 Agustus 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ada petuah-petuah para pendahulu kita (termasuk juga sahabat), dan juga ada hadis Rasulullah yang menyatakan:

Apabila kamu melihat seseorang hamba yang telah diberinya diam dan zuhud, dekatilah hamba itu. Sesungguhnya dia akan mengajarkanmu ilmu hikmah. (Al-Hadits).

Jika ada di antara kita, orang tersebut tidak banyak maunya, tidak cerewet, tidak neko-neko, pandangannya lurus. Lantas orang itu juga menampilkan penampilan zuhud. Sesungguhnya orang itu mempunyai uang, memiliki kekuasaan, tetapi orang tersebut tidak mau menampilkan diri sebagaimana halnya orang yang kaya dan berkedudukan. Rasulullah mengatakan, bahwa dekatilah orang tersebut, karena orang tersebut akan memberi hikmah.

Apakah hikmah?

Hikmah yaitu suatu informasi yang langsung menembus hati kita. Sekalipun orang itu bukan sarjana, juga bukan tokoh masyarakat, tapi apabila orang itu menampilkan dua kriteria ini (pendiam dan zuhud), maka orang seperti ini adalah kekasih Tuhan.

Seorang guru pernah mengatakan, jika pergi ke suatu kampung, carilah masjid yang paling tua di kampung itu. Datanglah lebih awal ke masjid tersebut, misalkan jauh sebelum salat maghrib. Kemudian carilah orang yang paling pertama masuk ke masjid tersebut. Orang tersebut biasanya duduk tafakkur dan juga tidak berkata-kata. Orang yang datang paling awal itu biasanya juga pulang paling akhir. Jika mendapati orang seperti ini, maka dekatilah ia, mintalah orang itu untuk mendoakan kita.

Orang yang seperti ini biasanya bukanlah orang sembarangan. Insya Allah orang seperti ini sudah mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Tuhan. Apalagi menurut orang-orang di sekitar tempat itu, bahwa pekerjaan orang tersebut memang seperti itulah adanya. Maka, bersahabatlah dengan orang tersebut, karena dia bukanlah orang sembarangan.

Jika engkau menginginkan dicintai oleh Allah, maka berzuhudlah di dunia ini. (di akhirat tentunya sudah tidak ada lagi zuhud). Rasulullah telah menjadikan sifat zuhud sebagai sebab dicintai oleh Allah. Jika ingin dicintai oleh Allah, maka berzuhudlah.

Apakah zuhud?

Zuhud adalah menghindari diperbudak oleh dunia (bukanlah membenci dunia). Orang yang dicintai oleh Allah adalah orang yang berada pada tingkatan derajat yang paling tinggi. Siapakah itu? Yaitu orang-orang yang menampilkan penampilan zuhud. Pemahaman sebaliknya (mafhum mukhalafah), bahwa orang yang mencintai dunia itu mendatangkan kemurkaan Allah.

Orang yang berorientasi kepada dunia, seolah-olah hidupnya hanya untuk menikmati dunia, menggenggam dunia, maka orang yang seperti ini tidak akan dicintai oleh Tuhan. Kita mencari-cari dunia, bukanlah kita segala-galanya untuk dunia. Dunia adalah kendaraan menuju akhirat, bukanlah kita yang sebaliknya dinaiki dunia.

Hadis lain mengatakan:

Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah akan memasukkan hikmah ke dalam hatinya. Maka lisannyapun berkata dengan hikmah. Allah mengenalkan kepadanya akan penyakit dunia dan obatnya sekaligus. Lalu Allah akan mengeluarkannya dari dunia dengan selamat ke dalam negeri kesejahteraan (surga).

Bagi orang yang zuhud, ada vibrasi positif yang mengalir di dalam diri orang tersebut, sehingga ucapan-ucapan orang yang seperti itu adalah hikmah, seperti tidak ada satu katapun yang mubazir yang keluar darinya, tak ada sepotong katapun yang sia-sia keluar dari mulut orang tersebut.

Ada orang yang berbicara selama dua jam, tetapi tidak ada yang bisa ditangkap, atau hanya sedikit sekali. Ada juga orang yang pendek bicaranya, tapi padat maknanya, mengiang-ngiang di telinga kita, dan tidak akan pernah terlupakan. Itulah ciri-ciri kekasih Tuhan.

Ada orang yang kiaiy besar, profesor doktor, sangat ilmiah, menarik pembawaannya, tetapi ketika kita pulang ke rumah, maka terlupakanlah semua yang disampaikan orang itu. Atau mungkin kita ingat, tapi tidak mempunyai daya tukik untuk mencegah kita melakukan dosa dan maksiat.

Tetapi sebaliknya, orang yang sudah terinstalasi ke dalam dirinya hikmah dari Allah, maka setiap kali kita akan melakukan dosa dan maksiat, maka terbayang-bayanglah wajah orang itu.

Rasulullah bersabda:

Celakalah bagi dunia, celakalah bagi dinar dan dirham. (Al-Hadits)

Maksudnya, jangan sampai mata uang itu yang membuat kita kalap, membuat kita buta, dan yang membuat kita terlena.

Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, Allah telah melarang kami menyimpan emas dan perak. Maka apakah yang seharusnya kami simpan?”

Dijawab oleh Rasulullah, “Salah seorang dari kamu hendaknya selalu membuat lisannya selalu berzikir, membuat hatinya untuk bersyukur, dan isteri yang shalihah yang membantunya untuk urusan akhirat.”

Mungkin banyak para isteri yang justeru mengajak para suaminya untuk menuntut dunia. Dan tidak sadar menjauhkan suaminya dari akhirat.

Firman Allah:

Perbekalan masa depan di rumah abadi (syurga) nanti adalah at-taqwa. (Al-Qur’an)

Umar ibn Khattab berkata: “Berzuhud terhadap dunia itu menenangkan hati dan jasad.

Kalau ada di antara kita yang tidak tenang, selalu gelisah, kering, walaupun sedang banyak uang, itu tandanya kita kurang zuhud.

Zuhud itu menenteramkan batin,

Bilal (sahabat, yang kemudian menjadi muazzinnya Rasulullah) berkata: “Sesungguhnya Allah menyuruh kita untuk berzuhud terhadap dunia. Akan tetapi kita malah menyukainya.

Ada orang yang di dalam pikirannya itu selalu uang. Untuk hal-hal yang tidak mendatangkan keuntungan materil baginya, maka ia takkan melakukannya.

Sengaja untuk menghindarkan akhirat, memburu dunia, maka dalam hal ini sebenarnya Tuhan sudah memalingkan perhatian orang tersebut ke dunia saja, dan hilang akan akhiratnya.

Tingkat Zuhud

Zuhud yang pertama, yaitu jika seorang yang berzuhud kepada dunia, tapi orang ini menyukai dunia, hatinya cenderung kepada dunia. Ini adalah tingkatan zuhud yang standard.

Zuhud yang kedua, yaitu ketika seseorang yang meninggalkan dunia dengan ringan, gampang sekali meninggalkan urusan dunia, karena dianggapnya hina dan dihubungkannya kepada apa yang diinginkan. Tak ada artinya dunia ini jika dibandingkan dengan kemulian akhirat.

Tingkatan ini sebenarnya juga masih ada kelemahan, karena kadang-kadang juga masih riya’. Ada orang yang meriya’kan zuhudnya. Orang yang seperti ini, pasti bukanlah contoh zuhud.

Zuhud yang ketiga, yaitu seorang yang berzuhud dengan ringan, tanpa beban, dia berzuhud dengan kezuhudannya. Inilah tingkatan yang paling tinggi.

Orang yang zuhud, tidak memandang kepada zuhudnya, kecuali ia memandang kepada yang dizuhudkannya. Orang yang zuhud sejati, dia tidak sadar bahwa dirinya itu zahid (zuhud).

Kalau ada orang yang menyadari dirinya berbuat baik, maka ini memang baik, tapi belumlah yang terbaik. Yang kita cari adalah kita tidak sadar kalau kita sudah melakukan kebaikan. Kita sudah tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan itu adalah kebaikan. Karena kalau seseorang masih sadar kalau dia sudah melakukan kebaikan, maka suatu waktu nanti dia akan riya’.

Tingkatan Zuhud yang dihubungkan dengan hal yang disukai

Tingkatan paling rendah, zuhudnya karena takut akan siksaan.

Tingkatan menengah, zuhudnya karena mengharapkan pahala. Ia lupakan neraka, tapi ia memohon surga. Maka ia melakukan perbuatan baik karena diiming-imingi oleh surga.

Tingkatan tertinggi, zuhudnya karena suka kepada Allah, bukan takut neraka, bukan ingin surga. Dia takut, dan dia mencintai Tuhannya. Berharap bertemu dengan Allah, hatinya tidak peduli lagi dengan kenikmatan-kenikmatan dan azab. Inilah zuhudnya orang-orang yang mencintai Allah. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang ma’rifah.

Tidak ada orang yang mencintai khusus kepada Allah, kecuali orang-orang yang mengenali Tuhannya. Tidak mungkin jiwa kita akan mampu mengenali Tuhan kalau kita ini berlumuran dosa.

Tiga cara mendekati Tuhan

Pertama, ketika kita sudah melakukan dosa, maka cara masuk yang paling baik untuk dekat dengan Tuhan adalah dengan beristighfar. Ketika beristighfar, maka di situ terbayanglah ketakutan kita terhadap Allah yang Maha penyiksa. Maka pada saat itu nyali kita menjadi kecil, dan kita menjadi sangat kecil dan takut kepada Tuhan. Inilah cara masuk yang paling bagus untuk dekat kepada Allah.

Kedua, dia tidak berdosa, tetapi orang itu ditimpa musibah: anaknya meninggal, suami atau isterinya tiba-tiba sakit keras. Ada musibah, maka ia pasti ingat Tuhan. Pada posisi seperti ini juga merupakan jalan masuk untuk menuju Tuhan.

Pasti kita ingat Tuhan pada saat melakukan dosa. Jika ada orang yang sudah tidak ingat lagi dengan Tuhan ketika dia melakukan dosa, maka jenis orang seperti ini merupakan jenis orang yang dibenci oleh Tuhan.

Ketika kita melakukan dosa, ternyata kita masih takut, masih ingat Tuhan, masih bertobat, maka itu adalah tanda-tanda bahwa kita masih di dalam lingkup cinta Tuhan. Tapi kalau sudah tidak ada lagi panggilan istighfar setelah kita melakukan dosa dan maksiat, maka memang sudah mati orang itu secara spiritualnya, sekalipun biologisnya masih hidup.

Ketika ditimpa musibah kemudian kita dekat dengan Tuhan, maka itu adalah undangan. Yang menjadi persoalan adalah bagi orang yang sudah dekat dengan Tuhan, yang maqamnya sudah tinggi, tidak ada musibah yang bisa mengingatkan dirinya lebih dekat dengan Tuhan. Tidak pernah lagi mau melakukan dosa, sehingga tidak ada pemancing yang sangat kuat untuk mendekatkan dirinya dengan Tuhan.

Seperti inilah yang dialami oleh umat Islam secara umum. Soal isi perut tidak ada masalah, deposito sudah cukup, tanpa kerjaan, sudah pensiun, tapi insya Allah tujuh turunan takkan terlantar. Pakaian, kendaraan, rumah, semuanya tidak ada maslah. Fasilitas primer, sekunder, dan luxury nya pun sudah lengkap. Orang yang seperti ini membutuhkan metode untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Biasanya orang yang terfasilitasi seluruh kehidupannya, maka sulit untuk intensif dekat dengan Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan biasanya karena ada gelombang besar kehidupan yang menimpanya. Jadi Tuhan itu identik dengan Maha Penolong. Ketika kita sudah tidak membutuhkan pertolongan karena kita sudah merasa cukup, maka pada saat itu kita menjadi susah untuk dekat dengan Tuhan. Cara yang paling tepat untuk orang yang seperti ini ialah lewat pintu ar-raja’.

Hati-hatilah orang yang tenang karena dunianya lengkap, biasanya jiwa orang itu tidak akrab dengan Tuhan. Jangan pernah membiarkan hubungan kita dengan Tuhan biasa-biasa saja. Apakah kita akan terus membiarkan diri kita biasa-biasa saja dengan Tuhan? Yang kita inginkan adalah hubungan intensif itu sendiri. Dan intensitas kehidupan kedekatan dengan Tuhan itu memang harus diupayakan. Musibah tidak ada masalah. Dosa tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah pada saat kita stabil.

Orang stabil membutuhkan apa yang disebut dengan ar-raja’, yaitu rasa harap yang sangat dalam terhadap Tuhan.

Ar-raja’ adalah sesuatu yang tidak permanen, sifatnya masih keluar-masuk. Ada pula yang disebut dengan hal (fluktuatif/berubah-ubah). Yang kita inginkan adalah permanen. Kalau itu sudah permanen, maka itulah yang disebut sebagai maqam.

Pada umumnya, situasi batin kita sebagai orang awam barulah setingkat hal, yaitu misalkan kalau lagi lagi mood, maka dekatlah dengan Tuhan. Padahal yang kita rindukan adalah, sedetik pun kita takkan pernah mau berpisah dengan Tuhan.

Apa lagi yang seharusnya kita lakukan setelah fase ar-raja’ ini?

Yang kita inginkan adalah yang disebut sebagai fase mahabbah. Inilah yang abadi. Kalau kita menjadi pencinta sejati terhadap Tuhan, maka hati ini takkan pernah menjadi gersang. Semua penderitaan itu terasa nikmat.

Permasalahannya adalah ketika kita berada dalam keadaan normal. Ini adalah ujian yang paling berat. Pada umumnya, kita tidak pernah ada yang resah, karena fasilitas hidup kita sudah lengkap. Kalau kita hidup pada batas normal seperti ini, maka jangan sampai hidup kita nanti sepanjang itu pula berjauhan jarak dengan Tuhan, kita hanya mengingat Tuhan pada saat shalat lima waktu, itupun mungkin hanya separuh dari salat itu kita mengingat Tuhan.

Kalau perut kekenyangan, terlalu banyak makan daging, kalorinya berlebihan, energi berpikirnya segar, biasanya Tuhan itu berjarak. Tuhan itu lebih gampang muncul di perut lapar ketimbang perut kekenyangan. Hidup yang paling berarti di dunia ini adalah selalu dekat dengan Tuhan.

Jadi, ada empat situasi batin yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Dosa dan maksiat, musibah, hajat yang sangat besar, dan situasi normal.

Kita mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan mengenai dosa, apalagi bagi orang yang sudah sering mendapatkan siraman rohani, intensif mengikuti pengajian, karena secepatnya kita akan beristighfar jika melakukan dosa, walaupun hanya dosa kecil.

Kita juga tidak mengkhawatirkan kalau ada musibah, karena kita pasti akan mengembalikan segalanya kepada Tuhan.

Kita juga tak terlalu khawatir jika ada kebutuhan yang sangat besar, walaupun dibutuhkannya begitu darurat. Kita tak perlu meragukannya, karena kita pasti akan meminta bantuan kepada Allah.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika kita sedang tidak dalam keadaan membutuhkan apa-apa dalam kehidupan ini (kehidupan kita normal). Ini yang harus dicermati. Jika dalam keadaan seperti ini, apakah yang harus kita lakukan?

Dalam keadaan seperti ini, yang bisa kita lakukan adalah:

– Ar-raja’, yaitu kita jangan mau kehilangan Tuhan. Kalau sepanjang hari ini kita belum ingat Tuhan, sedangkan kita selalu berzikir, shalat, dan ibadah lainnya, tapi ingat kepada Tuhan begitu dangkalnya, tentunya ini merupakan suatu permasalahan. Kedangkalan ingatan kita terhadap Tuhan merupakan pertanda, bahwa Tuhan itu jauh. Bukan Tuhan jauh dari kita, tetapi kitalah yang menjauhkan diri kita dengan-Nya. Cepatlah mengembalikan posisi batin itu. Kembalilah akrab dengan Tuhan.

Dalam situasi normal, jangan pernah meninggalkan shalat-shalat sunnat rawatib. Jangan hanya ketika ada masalah saja kita baru melakukan shalat sunnat rawatib. Jangan pula pernah meninggalkan shalat-shalat sunnat yang lain, termasuk juga jangan mengurangi jumlah rakaat salat dhuha, salat tahajjud, dan salat-salat sunnat lainnya yang biasa kita lakukan. []

13 September 2008 at 8:01 AM 1 komentar

Makna Qana’ah

MAKNA QANA’AH

Disarikan dari Pengajian Tasawuf

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

pada tanggal 7 Mei 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ada suatu ungkapan:

Idra’ ilallahi laa tadra’ ilannaas waqna’ bi ahsin fa innal ‘izza laa finnaas.

“Rendah dirilah kalian kepada Allah, dan jangan rendah diri kepada manusia. Merasa cukuplah kamu dengan tanpa berharap kepada manusia, karena kemuliaan itu tidak dengan berharap kepada manusia.”

Yang dimaksudkan di sini bukanlah untuk memutuskan tali silaturahim, tapi yang dimaksudkan adalah untuk tidak mengandalkan jalan hidup hanya kepada manusia dan melepaskan diri dengan Tuhan.

Rendah diri yang paling bagus itu adalah rendah diri yang ditujukan kepada Allah SWT, bukan mempertuhankan manusia, walau sehebat apapun manusia tersebut.

Wastaghni ankullizi qurban wa dirahmi. Innal ghaniyu manistaghna ‘aninnaas.

“Merasa cukuplah kamu dari setiap kerabat dan sanak saudara. Sesungguhnya orang kaya itu adalah orang yang tidak bergantung kepada manusia.”

Jadi, dalam hal ini ada kemandirian. Kalau ada orang yang nasibnya selalu digantungkan kepada orang lain dan sama sekali menafikan peran Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa, maka seluruh jalan pikirannya adalah bagaimana menarik simpati orang itu tapi tidak lagi bagaimana khusyu’ terhadap Allah SWT.

Tanda-tanda bagi orang yang sangat mencintai dunia, yaitu:

Orang yang mencintai dunia, melampaui cintainya kepada Tuhannya, maka orang ini sulit untuk memperoleh ketenangan.

Orang yang betul-betul mencintai Tuhannya, tidak mensyarikatkan Tuhan dengan makhluk apapun, maka orang itu nantinya akan mengalahkan seluruh kepentingan-kepentingan untuk isi dunia ini demi untuk Tuhannya.

Ciri-ciri orang yang masih mencintai dunia, maka lihatlah dalam kesehariannya. Apakah energi yang kita gunakan selama dalam satu hari lebih banyak untuk dunia atau untuk Tuhan? Kemungkinan kebanyakan kita lebih memfokuskan energi untuk hal-hal yang bersifat duniawi. Paling yang kita gunakan untuk mengingat Tuhan itu hanya sedikit waktu saja. Dan ini adalah hal yang manusiawi.

Dalam Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyebutkan, bahwa cinta kepada Tuhan sudah tidak lagi menjadi faktor pengikat yang luar biasa.

Kesehariannya mungkin bisa saja adalah bekerja, dan hal-hal duniawi lainnya, namun semua ingatannya selalu tertuju kepada Tuhan. Semua pekerjaannya selalu lillahi ta’ala, meskipun pada saat yang bersamaan menyelesaikan urusan pekerjaannya. Sehingga, jika bertabrakan antara waktu kerja dengan waktu ibadah, maka apapun yang terjadi, ia akan menghentikan pekerjaannya itu.

Yang harus menjadi fokus utama kita adalah pengabdian kepada Allah, sedangkan yang lainnya hanyalah sebagai pendukung. Kecuali jika dalam keadaan darurat, misalkan ketika sedang shalat, kita melihat anak kita yang masih kecil merangkak keluar rumah yang kemungkinan akan terjatuh jika dibiarkan. Maka dalam hal ini alangkah lebih baiknya kita batalkan shalat dahulu, kemudian menyelamatkan anak tersebut. Setelah anak itu dirasa aman, barulah kita melakukan shalat lagi. Dalam keadaan darurat seperti ini, jika kita tetap melakukan shalat dengan mengabaikan anak tersebut sehingga ia terjatuh misalkan, maka kita dikatakan sebagai al-ghulu, yaitu beragama secara fanatik buta dan berlebih-lebihan.

Apakah sebenarnya darurat itu?

Dalam Islam ada tiga kepentingan. Pertama, kepentingan darurat (daruriyah). Kedua, kepentingan mendesak (hajjiyah). Dan ketiga, kepentingan sekunder (tahsiniyah).

Dalam hal ini, kita harus bisa memilah antara kepentingan tersebut jika berhubungan dengan ibadah atau perintah agama lainnya.

Ada kaidah: dar-ul mafasidu muqaddamul ‘ala jaddul mas’alih (menolak bahaya itu lebih utama daripada melakukan sesuatu yang bermanfaat).

Seorang muslim yang baik adalah seorang yang mempunyai kriteria dan sudah mampu menjalankan kriteria itu dengan baik, mampu memilah kebutuhannya sendiri. Kemampuan kita untuk membuat perhitungan-perhitungan dan kalkulasi-kalkulasi kebutuhan, maka inilah yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali di sini. Orang yang menginginkan di luar daripada kebutuhan daruriyatnya, maka orang tersebut sudah cukup. Apalagi kebutuhan tahsiniyatnya sudah terpenuhi, maka ini adalah lebih dari cukup. Kalau masih menginginkan lagi, maka ini biasanya lebih mengarah pada dosa. Orang seperti ini biasanya tak pernah puas akan kebutuhannya.

Imam Al-Ghazali menyebutkan, bahwa orang yang miskin itu hakikatnya adalah orang yang tak pernah merasa puas. Sedangkan orang yang kaya hakikatnya adalah orang yang merasa qana’ah.

Al-Ghina ghinan nafs (Orang yang paling banyak kebutuhannya, maka itulah orang miskin. Sedangkan orang yang tidak banyak kebutuhannya, maka itulah orang kaya).

Dalam definisi tasawuf, orang yang paling banyak kebutuhannya sesungguhnya adalah orang miskin. Sedangkan jika orang itu sudah tak banyak lagi kebutuhannya, maka sesungguhnya orang tersebut sudah menjadi orang kaya.

Menurut Abul Qasim Al-Junaidi, Ibrahim bin Ahmad, Al-Khawash, dan kebanyakan ulama berpendapat, bahwa keutamaan fakir melebihi kaya.

Ada orang yang mengatakan, bahwa baginya yang telah dimilikinya tersebut sudah lebih cukup ketimbang Tuhan memberikan kekayaan yang lebih dari itu.

Jadi ternyata, tidak semua doa orang itu sama. Ada orang yang selalu berdoa menginginkan kekayaan. Tapi ada juga orang yang tidak mau meminta kekayaan, ia takut nantinya jangan-jangan kekayaannya itu akan memisahkan dirinya dengan Tuhan. Ini menyangkut sesuatu yang sangat mendasar, karena menyangkut pandangan hidup kita.

Menurut Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Atha’, bahwa orang kaya yang bersyukur itu lebih utama daripada orang fakir yang bersabar.

Diriwayatkan dari Rasulullah, bahwa ketika itu para fakir (golongan pekerja) mengadu kepada Rasulullah mengenai orang-orang kaya yang menjadi saudagar mereka yang memiliki banyak keutamaan. Mereka orang-orang fakir itu menanyakan, “Ya Rasulullah, kami juga ingin seperti yang Rasulullah gambarkan itu, yaitu orang kaya menyumbang dan sebagainya, tapi kami tak bisa menyumbang, karena tak memiliki harta.”

Lalu dijawab oleh Rasulullah, “Maukah kalian jika aku beritahukan rahasianya, jika kalian mengamalkan ini, pasti di surga akan lebih mulia daripada orang-orang kaya itu?”

Lalu para orang faqir itu mengatakan, bahwa mereka mau diberitahu rahasia yang ditawarkan oleh Rasulullah itu. Rasulullah pun mengatakan rahasia tersebut, bahwa siapapun yang membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu akbar 33 kali setiap usai shalat fardhu, maka pahalanya nanti akan lebih hebat daripada pahalanya orang kaya yang memberi shadaqah.

Setelah diberitahu hal ini, para orang fakir (para pekerja) itu asyik berzikir setelah selesai shalat fardhu. Sehingga kemudian, para saudagar yang mempekerjakan para pekerja tersebut heran dengan kelakuan para pekerjanya yang seharusnya langsung bekerja setelah selesai shalat, tapi kini mereka (para pekerja) itu asyik dengan zikir mereka di masjid. Belakangan setelah mengetahui hal yang dilakukan para pekerjanya itu, para pemilik modal ini kemudian melakukan hal yang sama. Bahkan lebih asyik lagi dibandingkan dengan para pekerjanya, karena mereka (para pemilik modal itu) tidak harus bekerja membanting tulang seperti halnya para pekerja mereka.

Kemudian para orang fakir (para pekerja) mengajukan keberatan kepada Rasulullah, karena mereka tidak bisa lagi kompetitip dengan bos (saudagar) mereka.

Rasulullah kemudian menyatakan “zaalika fadhlullahi yu’tihimayyasya’” (yang demikian itu adalah anugerah Allah yang dianugerahkan-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya).

Jadi, orang kaya yang shaleh yang suka bershadaqah merupakan pilihan Tuhan.

Hadits ini mengajarkan kita, bahwa lebih baik menjadi orang kaya yang bersyukur dibandingkan menjadi orang fakir yang sabar.

Disebutkan juga pada riwayat tersebut, bahwa utusan orang fakir yang datang menghadap Rasulullah itu kemudian berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya orang-orang kaya dapat menjalankan kebaikan. Mereka menjalankan ibadah haji dan umrah, membantu orang sakit dengan harta. Yang semua itu merupakan simpanan amal bagi mereka. Sedangkan kami ini tidak mampu untuk menjalankan semua itu.”

Meskipun sudah dijawab oleh Rasulullah sebelumnya bahwa Allah memberikan keutamaan kepada orang kaya yang pemurah, tapi para orang fakir tersebut tak pernah putus asa, bahwa mereka juga ingin seperti orang-orang kaya tersebut. Orang miskin seperti inilah yang disukai oleh Allah SWT. Kemudian Rasulullah memberikan solusi. Setelah itu, para orang fakir tersebut menanyakan lagi hal yang hampir serupa. Kemudian dijawab oleh Allah seperti tersebut di dalam Al-Qur’an, bahwa yang membedakan kemudian, meskipun orang kaya membaca subhanallah, wal hamdulillah, wallahu akbar, tapi usahakanlah anda bisa lebih khusyu’ lagi dari orang-orang kaya itu sendiri. Menjadi orang miskin itu tidak selamanya akan terkalahkan oleh orang kaya, sekalipun orang kaya itu pemurah, Karena pada umumnya orang kaya itu sulit berkonsentrasi karena terlalu banyak memikirkan hartanya, apalagi misalkan jika manajemennya adalah manajemen tradisional.

Jadi, apabila orang kaya membaca subhanallah, walhamdulillah, wallahu akabar, dan orang fakir pun membaca seperti itu, niscaya orang kaya itu tidak disamakan dengan orang fakir, meskipun orang kaya itu mengeluarkan infaq kepadanya sepuluh ribu dirham dan ditambah juga dengan seluruh amal kebajikannya. Jika ada kesungguhan orang miskin ingin memperbaiki kualitas hidupnya di mata Allah, maka Allah akan memberikan pointnya lebih tinggi kepada orang miskin dibandingkan kepada orang kaya, walaupun sama-sama khusyu’. Tapi mengapa orang miskin bisa mendapatkan point lebih tinggi daripada orang kaya? Karena, jika orang kaya khusyu’, maka tidak ada masalah dengan keluarganya. Sedangkan bagi orang miskin yang khusyu’, bahwa di sisi lain mereka juga selanjutnya harus membanting tulang untuk menafkahi keluarganya.

Dalam hal ini, tidak perlu kita mempertajam jarak psikologis antara kaya dan miskin. Inilah ajaran agama yang sesungguhnya. Jika bahasa agama kita seperti ini, maka orang miskin tak perlu lagi mencurigai orang kaya. Dan orang kaya pun tidak usah merasa angkuh dan memandang enteng terhadap orang miskin. Kalau sudah seperti ini, berarti kemiskinan dan kekayaan itu kedua-duanya adalah pilihan.

Setelah mendengarkan hadits di atas, utusan kaum fakir itu kemudian kembali dan memberitahukan kepada orang-orang miskin lainnya, bahwa Rasulullah mengatakan, walaupun sama-sama berzikir, tetapi yang mendapat point lebih besar adalah orang miskin. Menurut Rasulullah, bahwa yang penting adalah yang paling ikhlash. Jika sama-sama ikhlash, maka manakah yang paling khusyu’ di antara keikhlasan tersebut. Karena itulah, kekayaan dan kemiskinan jangan dipertentangkan. Jangan memandang enteng si miskin karena miskinnya, karena siapa tahu kemiskinannya itu mengangkat derajatnya di hadapan Tuhan. Jangan pula kagum sekagum-kagumnya terhadap orang kaya, karena siapa tahu karena kekayaannya itu justru Tuhan jauh dengannya. Dengan demikian, kaya dan miskin itu di hadapan Allah mempunyai timbangan yang sama.

Tujuan akhir dari perjalanan dunia ini adalah mencintai Allah dan menjinakkan hati kepada-Nya.

Apakah kita mampu untuk menjinakkan jiwa kita? Sepanjang yang menjadi dominasi di dalam pikiran kita sehari-hari bukanlah Tuhan, maka itu merupakan pertanda bahwa masih ada yang kita cintai selain dari Tuhan. Ukurlah tingkat kualitas cinta kita terhadap Tuhan. Apakah yang lebih banyak menyita perhatian kita Selama 24 jam? Apakah Tuhan atau mungkin makhluk Tuhan? Sepanjang kita lebih mengedepankan ciptaan Tuhan, maka hal itu merupakan pertanda bahwa kita belum mencintai Tuhan secara proporsional dan ideal, meskipun hal ini belum tentu berdosa. Mencintai harta itu bukan dosa. Mencintai makhluk Tuhan itu bukan dosa. Yang berdosa adalah ketika pada saat mengambil dan mencintainya itu tidak menurut prosedur syar’i.

Tidak ada yang salah jika orang itu cinta kepada kemewahan, harta, dan sebagainya. Dalam hal ini, tidak ada yang salah jika mencita-citakan sesuatu yang baik semisal harta dan kemewahan. Yang salah adalah jika pada saat memperolehnya adalah dengan cara yang tidak dibenarkan oleh agama.

Tujuan itu tidak akan tercapai kecuali setelah mengenal kepada-Nya, dan tidak berpaling daripada-Nya. Kefakiran dan kekayaan itu kadang-kadang termasuk di antara hal-hal yang dapat memalingkan daripada-Nya.

Karena tidak dapat mencintai Allah sekaligus mencintai dunia, maka apa yang seharusnya kita lakukan?

Orang yang mencintai sesuatu itu selalu disibukkan dengan yang dicintainya. Baik pada waktu ia berpisah dengannya, maupun pada saat ia bersama dengannya. Kelebihan dari mencintai Tuhan adalah bahwa Tuhan akan selalu menemani kita kapan dan di manapun. Kelemahan dari mencintai dunia bahwa berangsur-angsur kita ditinggalkan oleh yang kita cintai itu.

Dunia itu mengasyikkan bagi orang-orang yang lalai. Orang yang terhalang dari dunia itu disibukkan untuk mencarinya. Dan orang-orang yang mampu atas dunia itu disibukkan dengan memeliharanya dan bersenang-senang.

Mencintai Tuhan itu takkan pernah membuat seseorang rugi, baik di dunia, maupun di akhirat. Jika kita mencintai Tuhan dengan semaksimal mungkin, maka kita tak perlu takut tidak mendapatkan jodoh misalkan. Karena kekasih kita yang paling puncak sudah kita miliki. Mau meminta apalagi jika ternyata kita sudah memiliki yang menciptanya. Ini merupakan hiburan bagi yang belum mendapatkan jodoh. Jika masih ada semacam perasaan gelisah karena belum mendapatkan jodoh, maka hal itu menandakan bahwa cintanya terhadap Tuhan belumlah maksimal. Jika orang itu benar-benar mencintai Tuhan, maka yang lainnya itu hanyalah mengikuti.

Jika ingin dipuji orang, maka tinggalkan orang, dapatkan Tuhannya. Karena jika orang tersebut dikejar-kejar, maka orang tersebut akan semakin jauh. Tapi jika kita mengejar Tuhannya, maka nantinya akan ada cahaya batin (inner beauty) yang muncul.

Inilah berkahnya dekat dengan Tuhan. Ketika kita mengejar-ngejar sesuatu itu, maka hal itu akan semakin jauh. Tapi begitu kita lepaskan semuanya dan dekat dengan Tuhan, malahan semuanya akan berdatangan.

Janganlah menyedot energi mencintai makhluk Tuhan, karena makhluk itu akan semakin liar dan semakin jauh. Pusatkanlah perhatian untuk merangkul Tuhan Sang Pencipta semuanya, maka yang lainnya insya Allah akan mengikuti. Ini adalah rahasia sufistik. Jika kita mencintai Tuhan, maka otomatis yang lainnya juga akan mencintai kita, karena di sini kita menjadi magnet. Dan keuntungannya begitu banyak jika kita mencintai Tuhan. Kalau mencintai puncaknya (yaitu Tuhan), maka kita akan selalu tenang. Namun jika yang kita cintai adalah makhluknya (harta, manusia, dan sebagainya), maka Tuhannya lepas, sedangkan hartanya belum tentu didapat.

Sabda Rasulullah: Laisal ghina an kasratil ‘arad innamal ghina ghinan nafs (Tidaklah kaya itu dari banyaknya harta, akan tetapi kaya itu adalah kaya jiwa). [H.R. Muttafaqun ‘Alaih]

Jiwa yang kaya adalah lebih penting daripada memiliki harta yang banyak. Tetapi, sering kali menjadi prasyarat untuk memiliki jiwa yang kaya itu adalah terpenuhinya basic need kita. Bagaimana mungkin bisa hidup tenang, jika kebutuhan pokok kita tidak ada.

Menurut teori Maslow (terlepas dari berbagai macam kritik atas teori ini), bahwa tak mungkin orang bisa memelihara keamanan dirinya sendiri jika basic neednya tidak terpenuhi.

Hanya orang yang kenyang yang bisa memperhitungkan keamanan dirinya. Sebaliknya, jika tidak ada keamanan diri, tidak peduli nyawanyapun akan dipertaruhkan.

Setelah terpenuhinya basic need dan keamanan dirinya, biasanya orang seperti ini perlu bersosialisasi di masyarakat. Karena ada kepuasan tersendiri jika ia bisa berbuat sesuatu di masyarakat. Seseorang itu butuh dicintai, dan juga butuh mencintai. Jangan dikira bahwa kebutuhan kita itu hanya untuk dicintai. Tetapi kebutuhan untuk mencintai juga ada. Caranya adalah dengan bersosialisasi di masyarakat. Hal ini baru bisa dipikirkan jika anak tangga pertama (basic need) dan anak tangga kedua (keamanan) terpenuhi.

Setelah itu kemudian juga dibutuhkan aktualisasi diri. Ia tidak mempedulikan berapapun biaya yang harus dikeluarkan. Ia tidak mempedulikan hal ini, asalkan ia mendapatkan kepuasan diri dengan bisa mengaktualisasikan dirinya di dalam masyarakat.

Kelemahan teori ini adalah tidak berlaku bagi orang yang beriman. Bagi orang yang beriman, setinggi apapun tingkatan sosial mereka, maka ia akan tetap dekat dengan Tuhan, tetap sujud di atas tempat yang paling rendah.

Inilah hebatnya menjadi orang yang beriman. Bagi yang kaya maka tak akan merasa kaya, sedangkan yang miskin maka tak akan merasa terhina.

Hal ini membuktikan, bahwa Teori Maslow itu hanya cocok bagi orang yang tidak beriman. Dengan demikian, beruntunglah kita karena memiliki iman. Orang yang beriman itu panjang umurnya. Mengapa? Karena stressnya kurang. Kalau mau memperpanjang umur, maka kuatkanlah iman. Karena itulah, orang yang beriman itu adalah iman-aman-amanah. Iman itu Bahasa Arab artinya aman. Aman itu artinya iman. Orang yang aman pasti punya iman. Dan orang yang beriman pasti amanah. Mu’minun artinya adalah orang yang merasa aman. Mu’minun asalnya berarti orang yang beriman. Jadi, orang yang beriman itu adalah orang yang merasa aman. Adakah iman di hati kita? Rasakanlah ketenangan itu. Jika hati ini tidak tenang, maka kemungkinan kita tidak beriman.

Orang yang beriman adalah orang yang selalu merasa aman walau apapun yang akan terjadi pada dirinya. Inilah saya, inilah garisan tangan saya.

Kita kembalikan semuanya kepada Tuhan, Innalillahi wa inna ilayhi raji’un.

Dalam hal ini, innalillahi … mestinya bukanlah ucapan yang dialamatkan untuk kesedihan, melainkan sebetulnya dialamatkan untuk kebahagiaan. Jika ada keluarga kita yang meninggal, maka kita mengucapkan innalillahi … yang berarti kita harus berbahagia, jangan bersedih. []

16 Juni 2008 at 3:38 AM 2 komentar

Fakir Miskin

FAKIR MISKIN

Disarikan dari Pengajian Tasawuf

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar M.A.

pada tanggal 2 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Hamba yang sangat dipuji Allah adalah hamba yang merasa miskin di hadapan kebesaran Allah. Sedangkan hamba yang tidak terpuji adalah mereka yang merasa kaya di hadapan Allah. Sebagai seorang yang beriman, sedapat mungkin kita selalu merasa faqir dan juga selalu merasa miskin di hadapan kebesaran Allah SWT.

Salah satu tanda-tanda keangkuhan dan kesombongan seseorang, bahwa ia selalu merasa kaya, sekalipun ia sedang menghadap kepada Allah. Pada saat kita sedang sujud di hadapan Allah, maka lupakanlah kekayaan dan semua yang kita miliki. Hamba yang paling cepat mendaki ke langit menuju ke haribaan Allah adalah hamba yang merasa miskin dan merasa tidak memiliki apa-apa di hadapan Allah.

Kita sangat sadar, bahwa semua yang kita peroleh itu hanya titipan Allah. Titipan itu hanyalah sementara. Ketika kita meninggal, maka yang mengantar kita sampai di pemakaman hanya kain kafan. Semewah apapun seseorang, maka tidak akan ada hartanya yang mengantar sampai ke liang kubur.

Ketika di liang kubur, sama saja antara orang kaya dengan orang miskin. Memang ada yang dipeti-matikan dengan peti yang sangat mewah, tapi peti mewah itu tak akan memberikan arti apa-apa bagi seseorang. Karena itu, kita dianjurkan untuk tidak menggunakan peti mati, kecuali dalam keadaan terpaksa dan kondisi tertentu yang mengharuskan menggunakan peti mati.

Jadi, kita tidak ada arti apa-apa di hadapan kebesaran Allah SWT. Karena itu, siapapun yang ingin dicintai Allah, maka selalulah ia merasa miskin, terutama ketika menghadap-Nya. Bahkan kalau perlu kita pun merasa miskin di hadapan manusia.

Firman Allah:

Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah: 273)

Maksudnya, bahwa ada orang yang dia itu menjadi miskin karena dia melakukan misi ketuhanan. Kalau dia mencari nafkah (rezeki), dia mungkin akan menjadi kaya. Tapi jika ia mencari nafkah tersebut, kemungkinan umatnya akan ketinggalan, serta tidak mendapatkan apa-apa. Hal inilah yang diwanti-wanti oleh Allah SWT. Jadi sesungguhnya kemiskinannya itu adalah kemiskinan yang sudah diperhitungkan.

Di beberapa pulau di Indonesia yang sudah ditinggalkan ustadz, yang kemudian beberapa Jum’at berturut-turut tidak bisa lagi Shalat Jum’at. Bukan karena tidak ada umat, dan bukan pula tidak ada masjid, melainkan tidak ada lagi yang bisa meyampaikan khutbah di tempat itu. Akhirnya, ada beberapa anak muda yang sangat produktif yang kemudian terpanggil untuk datang ke tempat tersebut. Dia kemudian menjadi guru ngaji, dan juga menjadi ustadz di sana. Karena hal tersebut, dia tidak ada lagi waktu untuk mencari nafkah, sehingga dengan sendirinya orang seperti ini termasuk sebagai orang miskin. Inilah antara lain yang dimaksudkan oleh ayat tersebut di atas, yang mana orang-orang seperti ini sangat patut untuk dibantu.

Sabda Rasulullah:

Ittaqillaha faqiran la talqi ghaniyyan.

“Bertemulah kepada Tuhanmu dalam keadaan faqir, dan janganlah menemuinya dalam keadaan kaya.”

Orang miskin di mata Tuhan itu penting, dan tidak ada bedanya dengan orang kaya, asalkan orang miskin itu termasuk miskin yang taat. Ini tidak berarti bahwa orang kaya itu tidak mempunyai tempat di mata Tuhan, meskipun banyak rintangan bagi orang kaya itu. Sehingga orang kaya yang pemurah lebih tinggi martabatnya di mata Tuhan dibandingkan orang miskin yang taat. Jadi sesungguhnya, yang dimaksudkan bukanlah tinggalkan dunia, melainkan carilah dunia tapi jangan pernah lupakan akhirat.

Suatu pepatah mengatakan (pepatah Imam Syafi’i):

I’mallidunyaka ka-annaka ta’i syu-abada wa’malli akhiratika ka-annakatamuutughada.

“Carilah duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi, carilah akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.”

Maksudnya, jika kita membayangkan kehidupan abadi, maka pasti kita akan bekerja optimal mencari dunia ini. Tetapi jika kita membayangkan besok akan mati maka kita akan menshadaqahkan harta kita dan ibadah kita pasti mencapai puncaknya. Jadi, jangan dipertentangkan antara dunia dengan akhirat. Karena dunia adalah pintu masuk ke akhirat.

Addunya mir-atul akhirat.

“Pencerminan akhirat kita itu adalah apa yang kita rasakan di dunia ini.”

Jadi, untuk mengetahui apakah nanti kita akan masuk neraka atau surga, maka lihatlah apa yang kita lakukan di dunia ini.

Rasulullah bersabda:

Innallaha yuhibbul faqiiral muta’affif abal a’yal.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang fakir yang menjaga kehormatan diri yang menjadi bapak keluarga.”

Dia merasa fakir, tetapi kefakiran dan kemiskinannya itu terhormat. Ada orang miskin tapi tidak terhormat. Maka jadilah orang miskin yang terhormat. Dia memang miskin secara harta, tapi dia kaya dengan hati. Dia dekat selalu dengan Tuhannya, dia selalu merindukan Nabinya, dia selalu rajin berkomunikasi dengan Al-Qur’an, dan dia tidak pernah terlepas dari mengingat Tuhan.

Ibnu ‘Abbas pernah berkata: “Terkutuklah orang yang memuliakan seseorang karena kekayaannya, dan meremehkan seseorang karena kefakirannya.”

Jangan-jangan kebanyakan dari kita adalah seperti ini, yang selalu memandang seseorang dari kekayaannya. Jika orang tersebut kaya, maka kita akan memuliakannya, tapi jika orang tersebut miskin maka kita akan meremehkannya.

Rasulullah bersabda:

Yadkhulu fuqaraa-u ummatil jannata qabla aghniyaa-iha bi khamsimi-atin ‘amin.

“Orang-orang faqir dari umatku masuk surga sebelum orang-orang kaya di antara mereka dengan selisih waktu 500 tahun.”

Tuballiman bidahilal islami wa qaana’isyuhu qafafan waqana ‘abidin.

“Berbahagialah orang-orang yang mendapatkan petunjuk Islam dan kehidupannya merasa cukup dan tidak menjadi beban orang lain dan puas dengan yang ada.”

Inilah yang dinamakan qana’ah. Orang yang paling kaya ialah orang yang merasa puas terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. Sedangkan orang yang miskin ialah orang yang selalu merasa tidak punya apa-apa.

Orang yang miskin adalah orang yang banyak maunya, sekalipun hartanya banyak. Orang kaya yang paling hina adalah orang kaya yang suka meminta-minta. Kalau orang miskin meminta-minta mungkin masih dapat dikatakan wajar, tapi jika orang kaya suka meminta-minta, sungguh terhinalah orang seperti ini, dan rendah martabatnya di mata Allah.

Kalau memohon banyak kepada Allah, itulah yang terpuji. Tapi jika meminta kepada makhluk Tuhan, itulah yang tidak terpuji. [Aan]

13 Juni 2008 at 12:45 PM Tinggalkan komentar

Tasawuf

TASAWUF

Disarikan dari Pengajian Umum

yang disampaikan oleh:

Drs. H. Wahfiuddin M.BA.

pada tanggal 5 Maret 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Allah berfirman dalam An-Nisaa ayat 59:

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisaa: 59)

Secara harfiah, “uli” berasal dari kata “wala” yang artinya yang memiliki (yang menguasai). “al-amr” bermakna urusan (persoalan). Jamaknya adalah “umr”. “wa ilallahi turja’ul umur” (dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan). “al-amr” juga berasal dari kata “amara – ya’muru”. “amara” artinya memerintah, “al-amr” artinya perintah (kewenangan). Jadi, secara harfiah “ulil amri” adalah orang-orang yang menguasai persoalan, dan oleh karena itu mempunyai kewenangan.

Tugas Rasul

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 151 dijelaskan 3 (tiga) tugas Rasul. Hal yang sama juga terdapat pada Surah Al-Jumu’ah ayat 2, yaitu:

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (Q.S. Al-Jumu’ah: 2)

Pada ayat yang lain disebutkan:

Kamaa arsalnaa fiikum rasuulan minkum yatluu ‘alaikum aayaatinaa, wa yuzakkiikum, wa yu’allimukumul kitaaba wal hikmah, …

“Sebagaimana telah kami utus kepada kalian seorang Rasul dari golongan kalian juga (dari golongan manusia seperti kamu) dengan tiga tugas, membacakan kepadamu ayat-ayat kami, mensucikan kamu, dan mengajarkan kepada kalian al-kitab (al-hikmah), …”

Pada ayat tersebut dinyatakan, bahwa Rasul itu bukan dari golongan jin ataupun malaikat, melainkan dari golongan manusia. Dan tugas Rasul tersebut adalah:

1.”yatlu” berasal dari kata “tala” atau ”tilawah” yaitu membacakan kepadamu ayat-ayat kami.

2. “zakka – yuzakki – tazkiyah” artinya mensucikan kamu.

3.“kitab” artinya ketentuan-ketentuan (bukan semata-mata buku). Banyak orang mengartikan “kitabullah” itu buku Allah. Kata-kata “kataba” sering diartikan menulis, padahal “kataba” lebih luas dari menulis, yaitu “menentukan”. Tidaklah memusibahi kita, kecuali apa yang Allah telah “kataba”, yaitu “yang Allah telah menentukan untuk kita”. Bentuk pasifnya yaitu “kutiba”. Kalimat “kutiba ‘alaikumushshiyam” bukan artinya “telah ditulis”, tetapi “telah ditetapkan untukmu”. Maka “kitabun” atau “kitab”, misalkan dalam konteks Surah An-Nisaa ayat 103: “…innash-shalaata kaanat ‘alal mu’miniina kitaaban …” yang artinya:

innash shalaata : sesungguhnya shalat itu

kaanat ‘alal mu’miniina: adalah bagi orang-orang yang beriman

kitaaban : shalat adalah “kitab”, yaitu ketentuan

Makanya, ketika membaca “Alif lam mim. Zaalikal kitaab”, zaalikal kitab bukan artinya “inilah buku”, karena ketika ayat ini diturunkan, Al-Qur’an belum ada dalam bentuk buku, melainkan ayat Al-Qur’an masih dalam proses turun, kemudian dihafal. Setelah Rasulullah wafat, barulah Al-Qur’an ditulis dalam bentuk buku. Karena itu, makna “kitaab” bukanlah berarti “buku”, melainkan adalah berarti “ketentuan”.

Tugas Rasul seperti disebutkan pada ayat di atas (Surah Al-Baqarah ayat 151) yaitu “mengajarkan kepada kalian al-kitab, yaitu ketentuan-ketentuan, hukum-hukum”

wal hikmah”, yang berarti tujuan-tujuan dari hukum itu sendiri, atau manfaat-manfaat dari hukum. Misalkan, mengapa ada ketentuan bahwa harus bayar zakat? Hikmahnya (tujuannya) yaitu: “kaila yakuuna duulatan bainal aghniya-i minkum” yaitu dengan adanya zakat, maka akan mencegah harta berputar kepada segelintir orang kaya saja, supaya harta tersebut tersebar kepada orang-orang yang tak mampu. Mengapa ada shalat? Maka kemudian dijelaskan, bahwa “innash shalata tanha anil fahsya-i wal munkar”, shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Apa hubungan shalat dengan tercegahnya orang dari perbuatan keji dan mungkar? Inilah, bahwa ada “kitab”nya atau ketentuannya dan ada “hikmah”nya atau tujuan (manfaat) dari ketentuan tersebut.

Selanjutnya:

…wa yu’allimukum maa lam takuunu ta’lamuun.

… dan menta’limkan kamu apa-apa yang kamu tidak bisa mengetahuinya (kecuali Rasul yang mengajarkannya).

Jadi, tugas Rasul itu ada 3 (tiga) — disingkat Tugas 3T —, yaitu:

1) Tilawah, yaitu membacakan ayat-ayat Allah.

2) Tazkiyah, yaitu mensucikan manusia. Mensucikan di sini bukanlah mensucikan tubuh, melainkan mensucikan ruh (tazkiyaturruh).

3) Ta’lim. Ta’limnya ada dua, yaitu ta’lim yang sifatnya “legal” ketentuan-ketentuan dan manfaatnya, dan menta’limkan apa-apa yang gaib bagi manusia (yang tidak bisa diketahui manusia), kecuali Rasul yang mengajarkannya.

Apa yang dimaksudkan dengan “menta’limkan apa-apa yang tidak kamu ketahui”?

Allah adalah “Al-‘Alim” yang artinya memiliki pengetahuan. “’alima” artinya mengetahui, sedangkan “’alim” artinya Maha Mengetahui.

Ilmu Allah dilepas di dua tempat. Pertama, ada ilmu Allah yang oleh Allah dilepas di alam semesta. Itulah ilmu yang mengatur “qaun”, yaitu kejadian-kejadian alam yang kita sebut sebagai hukum alam. Jadi, ilmu Allah yang ditempatkan di alam itulah yang menjadi takdir Allah yang mengendalikan peristiwa-peristiwa alam. Inilah ilmu yang “qauniyah”, yang juga disebut sebagai “hukum alam” atau “sunnatullah”. Kedua, ada ilmu yang dilepaskan oleh Allah berupa wahyu, yaitu ilmu Allah yang ada di dalam Al-Qur’an.

Lalu, bagaimana manusia memahami ilmu Allah yang di “qauniyah” dan ilmu Allah yang ada di Al-Qur’an tersebut? Untuk mengetahuinya, maka manusia melakukan “abshara – yubshiru”, yaitu melakukan pengamatan, pencatatan, dan pengukuran (observasi). Maka didapatlah serangkaian data. Berdasarkan data-data itu, manusia mengembangkan hipotesa-hipotesa. Kemudian hipotesa itu dieksperimenkan dengan cara deduktif. Setelah itu hasilnya didapatlah konklusi (kesimpulan). Sehingga, ilmu Allah yang tadinya ada di alam, maka oleh manusia kemudian digali, diproses dengan scientific method dipindahkan ke dalam diri manusia.

Begitu juga ilmu Allah yang ada di Al-Qur’an. Diobservasi, maka didapatlah data. Misalkan, janganlah riba’. Riba’ itu bisa di dalam jual beli, bisa di dalam pinjam-meminjam. Kalau tidak boleh ada riba’, lalu bagaimana kita mengembangkan ekonomi tanpa riba’? kemudian dikembangkanlah hipotesa berupa bank yang non ribawi, asuransi yang non ribawi, perdagangan yang non ribawi. Tapi itu baru hipotesa. Kemudian dieksperimenlah secara deduktif, dan akhirnya didapatlah konklusi (kesimpulan) yang kemudian dinamakan “ekonomi syari’ah”.

Semua ilmu Allah yang ada di alam dan di Al-Qur’an yang digali oleh manusia, kemudian disebut sebagai “ilmu hushuli”, yaitu ilmu yang diikhtiarkan oleh manusia. Tapi jangan lupa, selain ada ilmu Allah yang dilepas di alam, ada juga ilmu Allah yang disampaikan berupa wahyu, dan ada juga ilmu Allah yang tetap ada pada Allah. Allah bisa memberikan ilmu tersebut kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Ilmu ini tidak dihasilkan dan tidak digali dari ikhtiar manusia, melainkan ilmu yang dihadiahkan begitu saja oleh Allah yang di Al-Qur’an disebut “milladunna ‘ilmu” atau yang biasa disebut “ilmu ladunni”, yaitu ilmu yang dihadirkan oleh Allah (ilmu hudhuri). Karena itu, ada orang-orang yang tidak pernah belajar melalui jalur akademis, tapi jika Allah mau, maka Allah akan berikan ilmu tersebut. Biasanya ilmu ini diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul.

Mengapa seorang Rasul mampu melakukan tugas-tugas 3T tersebut? Karena Rasul juga diberlakukan 3T oleh malaikat. Jadi apa-apa yang ditilawahkan oleh Rasul bukanlah buatan Rasul sendiri, melainkan Rasul sebelum juga telah ditilawahkan oleh Jibril. Rasul juga mendapatkan tazkiyah dari Jibril. Rasul juga dita’lim oleh Jibril. Karena itu Rasul kemudian bisa mentilawah, mentazkiyah, dan menta’lim. Jibril bisa mentilawah, mentazkiyah, dan menta’limkan kepada Rasul tak lain karena Jibril telah lebih dahulu ditilawah, ditazkiyah, dan dita’limkan oleh Allah.

Kemudian Rasul mentilawah, mentazkiyah, dan menta’limkan umat-umat pada masanya, yaitu generasi para sahabat. Tapi, tidak semua sahabat-sahabat Nabi menjalani 3T itu dengan sempurna, karena mereka (sahabat-sahabat itu) juga adalah manusia biasa. Bagi orang-orang yang bisa menjalani 3T ini dengan sempurna, maka ia akan bisa mendekati derajat kenabian, tetapi mereka tidaklah lantas disebut sebagai Nabi. Yang ini disebut sebagai derajat waliyullah, yang mereka ini patut menyandang sebagai pewaris para Nabi (warasatul anbiya).

athiullah wa ‘athiurrasul wa ulil amri minkum.

“taatilah Allah taatilah Rasul dan taati ulil amri.”

Jika kini sudah tidak ada Rasul, lantas siapakah yang akan ditaati? Yang akan ditaati itu adalah mereka yang kemudiam disebut sebagai pewaris para Rasul, yang silsilahnya jelas tersambung hingga kepada Rasul (musalsal). Taati ulil amri, maksudnya adalah ulil amri yang juga merupakan pewaris para Nabi. Ulil amri adalah orang yang menguasai persoalan.

Dalam bertasawuf, yang penting bukan zikir dan wiridnya, tetapi siapa mursyidnya. Ilmu pengetahuan dan keahlian boleh saja diketahui dan dikuasai, tapi harus jelas sumbernya dari mana. Bukannya Islam melarang orang untuk autodidak (belajar sendiri). Autodidak itu boleh, tapi untuk memperkaya ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, batang tubuh (inti) dari ilmu itu harus dipelajari dari sumber-sumber yang autentik.

Dalam tasawuf, hal ini begitu pentingnya. Sebab bukan soal wiridnya, melainkan siapa yang menjadi mursyidnya, yang membimbing ruh mendekati Allah. Menjadi suatu kewajaran bagi orang yang sudah melakukan olah rohani secara intens, yang kemudian ia bisa mencapai suatu tingkatan ketajaman-ketajaman ruhaniah, misalkan: ia bisa mengalami dan melihat apa-apa yang tidak bisa dialami dan dilihat oleh orang lain.

Begitu terlihat (kasyaf), yang itupun baru kasyaf tingkat rendah, orang tersebut kemudian bisa menyaksikan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Maka di sinilah godaan akan bisa masuk. Apakah yang gaib-gaib itu dari malaikat atau dari Allah, atau justru itu mungkin dari iblis? Inilah kasus yang akhir-akhir ini sering muncul, seperti mengaku sebagai Nabi, dan sebagainya.

Karena itulah, dalam beragama begitu pentingnya kita memiliki mursyid yang bersilsilah dan autentik. Setelah bertemu dengan mursyid yang warasatul anbiya, yang waliyullah, yang sudah terlatih dan teruji dengan ibadah-ibadah yang ketat, yang pemahaman agamanya begitu mendalam, yang akhlaknya begitu baik, maka mursyid tersebut akan memberikan latihan-latihan. Apapun latihannya tersebut, maka akan menjadi baik. Ketika kita mengamalkannya, maka mursyid tersebut akan mengontrolnya.

Memang, tidak diingkari bahwa ada wirid dan bacaan tertentu yang membuat orang bisa menjadi begitu kharismatik, yang seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat menawan, dan banyak orang yang senang kepadanya. Maka jangan heran, banyak yang jatuh cinta kepadanya setelah mengamalkan suatu wirid. Yang ujung-ujungnya akan menjerumuskan kepada hal-hal yang semakin menjauhkan dari Allah. Namun jika ada mursyid, maka sang mursyid akan mengontrol dan mengingatkan jika ada sesuatu yang melenceng tersebut.

Apakah waliyullah dan warasatul anbiya itu masih ada sampai sekarang? Tentunya masih ada, karena telah tertulis di dalam Al-Qur’an, dan ayat tersebut masih berlaku hingga sekarang.

Ciri seorang waliyullah tersebut adalah adalah:

Pertama, ketenteramannya yang luar biasa, terlihat dari akhlaknya yang mulia. Mengapa bisa seperti ini? Karena mereka sungguh beriman dan bertakwa. Dan orang-orang seperti ini selalu terpancar dari dirinya “al-busra”, yaitu kebahagiaan, keceriaan, semangat, dan optimisme.

Kedua, dalam sebuah hadits qudsi dijelaskan, bahwa seorang waliyullah adalah orang yang begitu gemar beribadah, yaitu dengan melakukan yang wajib dan juga yang sunnah. Makanya kalau ada yang mengaku mursyid, tapi ibadahnya kendor, maka hati-hatilah. Karena kegemarannya beribadah itu, Allah mengatakan, “Aku mencintai dia, maka Aku akan menjadi pendengarannya saat dia mendengar.” Di sinilah yang kemudian terjadi “kharikul ‘adah”, yaitu orang tersebut diberikan Allah kemampuan melihat apa yang orang biasa tidak bisa melihatnya, kemampuan mendengar yang orang biasa tidak bisa mendengarnya, inilah orang-orang yang doa-doanya diperhatikan oleh Allah.

Ketiga, meskipun mereka memiliki “super natural power”, tapi para wali itu cenderung menyembunyikannya. Tidak mudah ia mempertontonkan kesaktian-kesaktiannya.

Keempat, ia memiliki tauhid yang murni dan kebergantungan yang total, yaitu hanya bergantung kepada Allah.

Kelima, ia sungguh-sungguh mewarisi akhlak dan tugas Rasul.

Itulah kriteria-kriteria seorang mursyid yang memang benar-benar waliyullah dan juga warasatul anbiya. [Aan]

8 Juni 2008 at 2:11 PM Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 423,400 hits
September 2017
S S R K J S M
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • Mari...mari tikam yang nak cepat kaya. fb.me/1tVskMDtG 3 weeks ago
  • Di beberapa kampong di Borneo Barat yang berada di sempadan administratif indonesia-Malaysia, bukan lagi bendera... fb.me/w5Pg6Pyf 1 month ago
  • Untuk menegakkan nasionalisme itu memerlukan pendukung yang teramat banyak pula tentunya. Segala macam cara pun... fb.me/3iqVa7gAu 1 month ago
  • Jikalau terbiasa dengan tradisi "mudzakarah", menghargai pandangan yang berbeda itu seumpama tarikan dan hembusan nafas insani. 1 month ago
  • Sebentar gék ni bakal ramai yang ikot-ikot merayekan tujoh puloh taon lebéh negeri kampong halaman/negeri tanah kelahérannye kena' jajah. 1 month ago

%d blogger menyukai ini: