Informasi Alquran mengenai Kehidupan Manusia di Alam Arham (rahim ibu)

5 Maret 2009 at 8:18 AM 12 komentar


Alam arham adalah ketika manusia berada di rahim ibunya. Arham adalah bentuk jamak dari kata “rahim”. Rahim berarti kasih sayang. Alam arham adalah suatu alam di mana manusia dibentuk atas dasar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Saat di alam arham ini, sejak itulah terjalin kasih sayang yang disebut silaturahim.

Sebelum rahim itu ditempelkan kepada manusia, sebelum ditempelkan kepada manusia rasa kasih sayang Allah itu di sifat rahim tersebut, maka dia (rahim) berbicara kepada Allah, “Tuhan, inilah saatnya aku berlindung kepada-Mu dari putusnya tali kasih sayang.”

Dijawab oleh Allah, “Ketahuilah wahai rahim, Aku akan terhubungkan dengan orang yang menghubungkan denganmu, dan Aku akan memutuskan hubungan dengan orang yang memutuskanmu.” (Hadits Qudsi)

Kalau kita bertanya, apakah sekarang Allah sedang menyayangi kita atau tidak? Maka jawabannya, apakah sekarang kita sedang memutuskan persaudaraan atau tidak. Ketika durhaka terhadap ibu kita, maka berarti kita putus dari rahmat Allah. Ketika bermusuhan dengan saudara kita, berarti kita putus dengan rahmat Allah. Karena itulah, seperti diinformasikan Alquran, bahwa dosa kedua sesudah durhaka kepada Allah adalah dosa memutuskan silaturahim.

(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (Q.S. Al-Baqarah: 27)

Dosa pertama manusia adalah mengingkari janji dengan Allah. Jika orang tersebut mulanya bertauhid tapi kemudian syirik, maka itu berarti dia melanggar janji dengan Allah. Semua ibadah yang dia lakukan menjadi tidak berarti. Dosa kedua adalah memutuskan apa yang diperintahkan oelh Allah untuk dihubungkan, yaitu silaturahim.

Informasi dari Alquran mengenai alam rahim adalah sebagai berikut:

(12) Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (13) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). (14) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Q.S. Al-Mu’minun: 12-14)

Ketika di dalam rahim ibu, jasad kita diciptakan dalam 7 tahap. Pertama, saripati tanah. Kedua, nuthfah (air mani yang bercampur dengan telur). Ketiga, ‘alaqah (segumpal darah yang melekat pada dinding rahim). Keempat, mudgah (segumpla daging yang warnanya merah kehitam-hitaman). Kelima, tulang-belulang. Keenam, tulang itu dibungkus oleh daging. Ketujuh, diberi bentuk lain, maksudnya dia tidak sama dengan bapaknya, tidak sama dengan ibunya, tidak sama dengan orang yang lain, sehingga tak ada manusia yang sama. Jangankan wajahnya, jangankan organ tubuhnya, bahkan sidik jarinya pun berbeda. Sehingga, karena sidik jari setiap manusia itu unik dan pasti berbeda, maka salah satu manfaatnya adalah polisi menjadi mudah mengidentifikasi kejahatan yang dilakukan oleh seseorang melalui sidik jari yang ditinggalkannya.

Dalam suatu buku berjudul “Al-Arqam wa Tarqim fil Qur’anil Karim (Angka dan Bilangan dalam Al-Qur’an)” diuraikan, bahwa al-insaan (dalam bahasa Arab) yang artinya adalah manusia jumlah hurufnya adalah 7 (alif, lam, alif, nun, sin, alif, nun). Mengapa al-insan itu terdiri dari 7 huruf? Karena manusia diciptakan dalam rahim melalui 7 tahap. Kemudian dia hidup di alam dunia 7 hari dalam sepekan. Nanti setelah meninggal dunia, maka 7 alam lagi yang akan dijalani manusia, yaitu sakaratul maut, alam barzah, kiamat, yaumul ba’ats, yaumul mahsyar, neraka, dan, surga.

Karena itulah, ibadah haji itu serba tujuh: thawaf 7 putaran, sa’i 7 kali bolak-balik antara Shafa dan Marwa, melontar Jamrah 7 kali. Jadi semua ini sudah diatur secara sistematis oleh Allah.

Disebutkan juga di buku tersebut, bahwa manusia berada di antara pengaruh dua makhluk, sebelah kanannya malaikat, sebelah kirinya setan. Setan di dalam bahasa Arab adalah asy-syaithaanu. Malaikat bahasa Arabnya adalah al-malaaikatu. Jumlah huruf kedua-duanya sama-sama 7 huruf. Al-malaaikatu (alif, lam, mim alif hamzah, kaf, ta) dan Asy-syaithaanu (alif, lam, syin, ya, tha, alif, nun).

Kalau seperti ini, mungkinkah Alquran itu karangan Nabi Muhammad? Tidak mungkin.

Selanjutnya dalam buku itu juga disebutkan, bahwa kata-kata al-malaaikat dan kata-kata asy-syaithaan itu di Alquran terulang sama banyaknya, yaitu sama-sama 89 kali. Selanjutnya, masing-masing mempengaruhi manusia dengan 7 cara pula. Malaikat mempengaruhi manusia melalui 7 cara, dan setan pun menyesatkan manusia melalui 7 cara.

Setelah bentuk lain sempurna (seluruh organ tubuh manusia sempurna), disebutkan di dalam Alquran:

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Q.S. Al-Hijr: 29)

Pada usia berapakah ruh tersebut ditiupkan? Di Alquran memang tidak disebutkan, tetapi di hadis disebutkan, yaitu pada usia 4 bulan (120 hari). Karena itulah, ibu-ibu yang hamil ketika 4 bulan mulai terasa di perutnya. Ketika itulah baru disebut manusia. Jadi, penggabungan ruh dan jasad itu terjadi di alam rahim. Karena manusia itu diciptakan dari dua komponen super, yaitu ruhnya dari Allah dan jasadnya dari tanah, maka manusia terikat dengan pemenuhan kebutuhan ruhani dan jasmani.

Perkembangan kejadian jasad 7 tahap menjadi sempurna sesudah 4 bulan Allah meniupkan ruh-Nya, maka jadilah manusia sebagai makhluk yang mono-dualistik (dua komponen dalam satu diri), yaitu komponen Ilahiah berupa ruh dan komponen benda berupa jasad.

Manusia menjadi hidup karena bergabungnya ruh dengan jasad. Begitu ruh keluar dari jasad, berarti manusia mati. Jasmani manusia asalnya tanah, jenisnya materi, sifatnya syahadah, kondisinya berubah dan rusak, masanya di dunia saja, kebutuhannya santapan jasmani, nilai ukuran santapan jasmani adalah uang. Ruhani manusia asalnya dari cahaya Allah, jenisnya immateri (bukan benda), sifatnya gaib, kondisinya kekal, masa hidupnya dunia sampai akhirat, kebutuhannya santapan ruhani, nilai ukurannya adalah pahala.

Semakin banyak pahala yang diproduksi dari iman dan amal shalaeh, maka akan semakin bahagia ruhnya. Semakin mampu manusia memproduksi uang, maka semakin terpenuhi kesempurnaan kebutuhan jasmaninya, sehingga semakin bahagia jasadnya. Tapi yang patut diingat, uang itu berguna untuk jasad yaitu selama jasad itu hidup, sedangkan jasad itu hanya hidup di dunia. Jadi, yang banyak uangnya bisa bahagia, namun hanya di dunia. Baru bahagia akhiratnya jika uangnya diubah menjadi pahala, seperti diinfakkan, dizakatkan, dan disedekahkan.

Sesudah digabungkan ruh dan jasad di alam rahim, lalu oleh Allah diberi hidayah (petunjuk). Di dalam Alquran disebutkan, bahwa Allah menciptakan manusia untuk mengujinya:

(1) Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (2) Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (3) Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Q.S. Al-Insaan: 1-3)

Maka Allah memberikan petunjuk kepada manusia, yaitu: Pertama, hidayatul wujdan (naluri). Kedua, hidayatul hawaas (indera). Ketiga, hidayatul ‘aqli (akal atau logika). Keempat, hidayatud-diin (petunjuk agama atau iman).

Binatang diberikan petunjuk oleh Allah berupa hidayatul wujdan (naluri). Binatang tergerak mencari makan melalui nalurinya. Dia merasa ada bahaya, dia harus menghindar dari bahaya tersebut karena nalurinya. Hidayatul wujdan ini diberikan kepada binatang, tumbuh-tumbuhan, dan manusia.

Kemudian disempurnakan lagi dengan hidayatul hawaas (indera), yaitu berupa pendengaran, penglihatan, perabaan, pencicipan, dan penciuman. Indera ini diberikan kepada binatang dan manusia, sedangkan tumbuh-tumbuhan tidak.

Kemudian disempurnakan lagi dengan hidayatul ‘aqli (logika/akal). Di sini berlaku hukum sebab-akibat. Indera begitu terbatas, sehingga akal menyempurnakannya. Misalkan, mata kita bisa saja melihat sesuatu yang itu bukanlah realitas sebenarnya. Mata kita melihat bahwa bulan itu lebih besar dari bintang, ternyata sebenarnya bintang itu lebih besar dari bulan. Indera (dalam hal ini mata) begitu terbatas apa yang bisa dicapainya. Karena itulah, akal pun mengatakan, bahwa tidak benar kalau bulan itu lebih besar dari bintang, melainkan bintanglah yang lebih besar dari bulan. Tetapi akal itu hanya bisa menjangkau alam yang syahadah (alam yang nyata), yang itu bisa diriset dan diobservasi. Alam ini bukan yang syahadah saja, melainkan juga ada yang gaib. Untuk yang gaib, maka turunlah wahyu dari Allah kepada para Rasul, yaitu disampaikan bahwa di balik alam yang nyata dan tampak ini, maka Yang Gaib dan Yang Menciptakannya adalah Allah. Maka, orang yang menerima petunjuk itu disebut hidayatud-diin (petunjuk agama), yang kemudian jadilah iman.

Ketika Allah memberikan akal, maka kepada orang kafir juga diberikan. Tetapi hidayatud-diin (petunjuk agama) hanya diberikan kepada orang yang beriman.

Apakah lagi yang terjadi di alam rahim?

Ketika di alam rahim itu ditetapkan oleh Allah qadar (ukuran), yaitu rencana Allah kepada manusia. Ada empat qadar yang ditetapkan oleh Allah, yaitu: umur, rezeki, bahagia, dan sengsara. Hal ini termaktub di dalam Alquran:

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Q.S. 65 Ath-Thalaaq: 3)

Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (Q.S. 33 Al-Ahzaab: 38)

(22) Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (23) (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (Q.S. 57 Al-Hadiid: 22-23)

Qadar manusia itu ada dua macam, yaitu ada khair (baik) dan syar (buruk). Baik dan buruk dalam qadar tersebut berdasarkan pandangan dan ukuran manusia. Contohnya yang baik adalah kaya, sedangkan yang buruk itu adalah miskin. Yang baik itu pintar, yang buruk itu bodoh, dan sebagainya. Jadi, semuanya sudah direncanakan oleh Allah bagi masing-masing manusia, yaitu sakitnya kapan, sehatnya kapan, kayanya berapa, miskinnya berapa, dan sebagainya. Inilah program dari Allah.

Dalam hal ini, kepada manusia diperintahkan untuk berusaha dan berdoa. Allah berfirman:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Q.S. Al-Baqarah: 286)

Doa dan usaha manusia itu bertemu dengan rencana Allah, misalkan direncanakan bahwa orang tersebut miskin, tapi dia kemudian berusaha dan berdoa, sehingga Allah kemudian memutuskan berupa qadha’. Qadar yang tadi diputuskan oleh Allah, yang putusan Allah mengenai qadar ini terdiri dari dua, yaitu ada yang berubah dan ada yang tetap. Kalau Allah mengatakan, bahwa doa dan usaha orang tersebut dipertimbangkan untuk diubah, maka orang yang tadinya direncanakan menjadi miskin maka kemudian berubah menjadi kaya. Atau meskipun dia berdoa dan berusaha, maka orang itupun diujinya dengan yang tidak berubah. Meskipun dia berdoa dan berusaha, namun ditetapkan oleh Allah bahwa ujiannya berupa miskin.

Yang berubah dan yang tetap ini dua-duanya adalah ujian. Kalau ujian berarti ada yang lulus dan ada yang gagal. Ketika diubah orang tersebut menjadi kaya, maka itu adalah ujian. Jika dia bersyukur, berarti orang tersebut lulus diuji dengan kekayaan. Namun jika ia kemudian menjadi sombong, berarti orang tersebut telah kufur nikmat dan ia gagal menghadapi ujian berupa kekayaan.

Atau orang tersebut tidak diubah oleh Allah, sehingga yang tadinya direncanakan miskin sehingga orang tersebut tetap miskin, maka ini juga merupakan ujian. Jika dia bersabar, maka dia lulus ujian Allah tersebut. Tetapi kalau kemudian dia putus asa, misalkan kemudian dia bunuh diri, berarti orang tersebut telah gagal menghadapi ujian Allah.

Jadi kalau begitu, antara orang miskin dan orang kaya, maka kesempatan masuk surga dan masuk nerakanya sama saja. Kaya dan miskin itu sama-sama merupakan ujian dari Allah. Orang sehat dan orang sakit juga merupakan sama-sama ujian. Orang yang diuji dengan kemiskinan maka dia harus sabar, sehingga dia luluslah di dalam ujian tersebut, sehingga surgalah tujuannya. Tetapi jika dia diuji dengan kemiskinan itu kemudian dia putus asa, maka dia tidak lulus dari ujian tersebut, sehingga nerakalah tempatnya.

Bagi orang yang diuji dengan kekayaan maka dia harus bersyukur, sehingga surgalah tempatnya. Tetapi jika diuji dengan kekayaan kemudian dia menjadi kufur nikmat, maka nerakalah tempatnya. Ketika diuji dengan kekayaan, lalu orang tersebut kufur nikmat misalkan selalu berjudi, maka bisa saja orang tersebut kemudian diubah menjadi miskin. Ketika diubah menjadi miskin, kemudian orang tersebut insaf dan bertaubat yang itu berarti ia bersabar, maka luluslah ia dalam ujian tersebut. Tetapi jika kemudian ia kemudian putus asa, misalkan dengan bunuh diri, maka tidak luluslah ia dalam ujian tersebut.

Atau ada juga yang direncanakan oleh Allah menjadi kaya, yang kemudian orang tersebut kufur nikmat, tetapi kemudian orang tersebut tetap diteruskan oleh Allah untuk menjadi kaya, maka ini juga merupakan ujian.

Jadi, ada dua kejadian di alam rahim (alam arham). Pertama, yaitu integrasi ruh dengan jasad. Kedua, yaitu direncanakan qadarnya.

Yang juga perlu dipahami, bahwa rezeki dan umur itu berbeda qadarnya. Kalau umur itu ada batas waktunya, yaitu ajal. Sedangkan rezeki tak ada batas waktunya. Rezeki itu sangat fleksibel. Jika umurnya ditetapkan 72 tahun, antara 0 tahun hingga 72 tahun, maka umur tersebut masih fleksibel. Sehingga di antara jeda waktu tersebut, jika dia bunuh diri, maka orang tersebut akan mati, walaupun awalnya ditetapkan oleh Allah umurnya adalah 72 tahun. Tapi ketika dia berumur 72 tahun, maka tak bisa lagi fleksibel, ajalnya tak bisa lagi ditawar-tawar walaupun dengan cara apapun.

Selanjutnya yang juga harus diingat, janganlah lupa, bahwa di alam rahim itulah kepribadian manusia dibentuk. Kepribadian manusia dibentuk oleh tiga komponen, yaitu: malakah (watak), bi-ah (lingkungan), dan tarbiyah (pendidikan). Jadi, kepribadian kita seperti sekarang ini karena dibentuk oleh tiga komponen tersebut.

Watak (yang itu merupakan bawaan) dibentuk oleh tiga fase, yaitu ketika ibu bapak kita senggama bagaimana keadaan spiritualnya, ketika di dalam kandungan bagaimana keadaan spiritual ibunya, dan ketika disusui. Karena itulah, kepribadian si ibu ketika mengandung akan begitu mempengaruhi kepribadian anaknya itu nanti. Jika si ibu ketika mengandung anaknya itu misalkan bisa mengkhatamkan Alquran bahkan bisa mengkhatamkan berkali-kali, maka hal ini tentunya akan membentuk kepribadian si anak menjadi baik.

Yang membentuk kepribadian selanjutnya adalah lingkungan, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan permainan, dan lingkungan sekolah. Selanjutnya, yang membentuk kepribadian adalah pendidikan, yaitu pendidikan usia dini, dasar, menengah, dan tinggi.

Karena itulah, begitu pentingnya peran pembentukan kepribadian anak ketika di dalam kandungan ibu. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah menyuruh memilih istri itu yang shalehah. Sampai-sampai Rasulullah menyatakan bahwa hindarkan olehmu perempuan yang cantik tapi pribadinya busuk. Hal ini karena istri itu akan membentuk kepribadian anak, yaitu ketika senggama, ketika mengandung, dan ketika menyusui anaknya.

Jadi, ketika sedang menyusui, biasakanlah untuk selalu berzikir ataupun membaca Alquran. Kalau suami sedang marah, maka tunda dahulu menyusui anak. Suami istri janganlah bertengkar ataupun saling marah ketika istri sedang menyusui anaknya. []

Disarikan dari Pengajian Ulumul Qur’an yang disampaikan oleh Drs. H. Umay M. Dja’far Shidiq pada tanggal 10 Februari 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

About these ads

Entry filed under: Islamika, Tafsir. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , .

Ukhuwah Islamiyah Qadariyah-Jabariyah

12 Komentar Add your own

  • 1. putra_kalbar2008  |  23 Agustus 2009 pukul 12:19 PM

    tulisan nya sangat bermanpaat untuk di baca dan di renungi ,trima kasih

    Suka

  • 2. xsan  |  26 Agustus 2009 pukul 7:50 AM

    thanks alot…

    Suka

  • 3. Asharie  |  5 Oktober 2009 pukul 4:21 PM

    Semoga Allah menambah dan memberkati ilmu y telah engkau miliki.

    Suka

  • 4. Qoeswanto  |  14 Oktober 2009 pukul 8:52 AM

    Terimakasih atas sajiannya.Ini baik untuk menjadi pemahaman bagi orang-orang yang sadar akan hidupnya dan dapat dimengerti apa yang ada disekitar kita.Sekali lagi Terimakasih semuanya dan semoga apa yang tertuang dapat bermanfaat dan mendapat Ridlo-Nya,Amin.

    Suka

  • 5. hari_sobri  |  18 Februari 2010 pukul 1:52 AM

    Bermanfaat nih.. thanks ..

    ———
    Utk semuanya yg sudah comment dan baca, mudah2an tulisan ini bermanfaat bagi kita semuanya…, maaf komentarnya baru sekarang dibalas dan maaf juga tak bisa dibalas satu-satu

    Suka

  • 6. lucy  |  20 Mei 2010 pukul 3:03 PM

    subhanallah….
    terima kasih infonya (baru baca…)

    Suka

  • 7. Pujex Carlox's blog  |  2 Juni 2011 pukul 4:58 PM

    [...] Informasi Alquran mengenai Kehidupan Manusia di Alam Arham (rahim ibu) [...]

    Suka

  • 8. ferry  |  17 Juni 2011 pukul 7:00 PM

    alhamdulillah ya ALLAH….setelah saya membaca tulisan di atas, saya seperti mendapat petunjuk baru dari ALLAH S.W.T

    Suka

  • 9. sribayu  |  3 Oktober 2011 pukul 9:34 AM

    Berkat doa saya kepada Allah agar diberi imu yg bermanafaat,lantas saya ketemu dgn blog ini.Alhamdulilah.
    Walaupun saya telah melewati waktu mengandungkan bayi utk saya ikuti petua2 disini,tapi masih belum terlambat utk saya berdoa kepada Allah agar ditunjukkan jalan yg lurus kepada anak2 saya.InsyaAllah.

    Suka

  • 10. rianto  |  16 Februari 2012 pukul 3:48 PM

    alhamdulillah sangat bermanfaat ustad

    Suka

  • 11. Emon ismail  |  10 September 2012 pukul 11:26 AM

    Mohon ampun ya Allah aku telah berdoasa kepada’Mu… Aku sangat bersyukur karena membaca tulisan di atas dan ahirnya masi ada kesempatan untuk aku bertaubat… Terimaksi ustad atas penjelasamu tentang kehidupa manusia di alam arham.. Semoga Allah selalu bersamamu..
    Amin

    Suka

  • 12. nabila ayu  |  6 September 2013 pukul 12:51 PM

    bermanfaat banget buat belajar dan renungan…thank

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
http://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 312,365 hits
Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • Selamat jalan Prof. Dr. Ir. Suhardi, S.S., M.Sc. Semoga sentiasa dicucuri limpahan rahmat dan kasih sayang Allah Rabbul 'Izzati. 9 hours ago
  • Live TVRI Kalbar: "Memacu Prestasi Dayung Kalbar, Menjelang Khatulistiwa Boat Race", jam 05.30 petang ini. 1 day ago
  • Hain katha sangram ki. Vishwa ke kalyaan ki. Dharm adharm aadi anant. Satya asatya kalesh kalnak. Sawarth ki katha parmartha ki. 5 days ago
  • RT @ZaimSaidi: Tahu Kenapa Rupiah dibubuhi frase "NKRI"? - Chirpstory chirpstory.com/li/226054 via @chirpstory 6 days ago
  • Shakti hain bhakti hain. Janmo ki mukti hain. Jeevan ka ye sampurn saar hain. 6 days ago

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: