Posts tagged ‘Husnul Khatimah’

Ingatlah Selalu Dosa Kita dan Lupakanlah Kebaikan Kita

Seorang Doktor pernah menyatakan dalam salah satu kajian tasawuf yang disampaikannya di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta pada hari Rabu 16 Desember 2009. Begini yang disampaikannya itu: Sesungguhnya amal-amal perbuatan dosa maksiat itu nanti akan ditenggelamkan dan dihapuskan oleh perbuatan-perbuatan kebajikan. Ungkapan ini dikutipnya dari Al-Qur’an Surah Huud ayat 114.
(lebih…)

9 Januari 2010 at 5:42 PM 1 komentar

Fleksibilitas Kehidupan

Fleksibilitas kehidupan bukan berarti hidup tanpa prinsip, dan bukan pula hidup tanpa memiliki pendirian. Kehidupan yang fleksibel artinya adalah hidup dengan penuh seni. Seni kehidupan itu dibutuhkan untuk memperoleh kesuksesan di dalam pergaulan, seperti bergaul sesama manusia, bergaul sesama makhluk Allah, dan yang paling penting adalah berkomunikasi aktif dengan Allah. Fleksibilitas adalah kemampuan untuk merespon (menyesuaikan diri) pada situasi yang baru, ataupun berubah untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan. Dan yang patut diingat, semua itu dilakukan tanpa meninggalkan karakter kita.
(lebih…)

13 Maret 2009 at 3:11 PM Tinggalkan komentar

Kiat Mengatasi Kesulitan

KIAT MENGATASI KESULITAN

Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

pada tanggal 19 Mei 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Selama ini kita sudah terjebak dalam suatu pandangan hidup yang sangat menyesatkan, sehingga kita tidak pernah merasa puas dan tak pernah bersyukur, kecuali hanya sedikit. Hal ini dikarenakan definisi kesuksesan hidup yang kita anut adalah definisi yang sangat membebani diri kita sendiri. Padahal kita bisa mendefinisikan kebahagiaan itu dengan sederhana. Beberapa pandangan yang keliru tentang kesuksesan, antara lain: pertama, sukses bukan sekedar menjadi kaya. Kedua, sukses bukan berarti tanpa kesulitan. Ketiga, sukses tidak datang secara kebetulan (keberuntungan). Kesuksesan adalah bagaimana menjalani kehidupan dengan menjadi diri sendiri, serta berfungsi dan melakukan yang terbaik sesuai dengan potensi dan kapasitas pribadi masing-masing.

Ada delapan bidang kesuksesan dalam hidup ini. Pertama, kepribdaian yang utuh. Kedua, keluarga yang sakinah. Ketiga, karir yang meningkat. Keempat, keuangan yang stabil. Kelima, kesehatan yang prima. Keenam, kerohanian yang meningkat. Ketujuh, komunitas sosial yang akrab. Dan kedelapan, kemampuan pembelajaran.

Kekhawatiran hari ini akan menambah kesusahan hari esok. Tapi orang yang bersemangat dapat menanggung kesusahannya sendiri.

Hal ini saja misalkan jika kita pahami, maka nantinya akan memberikan perubahan yang mendasar pada diri kita.

Akhir-akhir ini kita lihat, bahwa cara orang mengekspresikan kekecewaannya bisa merusak atau mengancam akidahnya sendiri. Misalnya berkenaan dengan kenaikan harga BBM. Belum secara resmi diumumkan kenaikan harga BBM, kebanyakan orang panik, seolah-olah yang menentukan kehidupannya itu bukanlah Allah, melainkan adalah harga BBM, dan kenaikan-kenaikan harga kebutuhan lainnya. Hal ini bukanlah cara yang arif bagi seorang muslim. Hanya dicoba dengan kenaikan harga, tapi sepertinya akidahnya menjadi rusak, lupa akan Tuhannya, seolah-olah tak ada lagi hari esok dengan kenaikan harga BBM dan meningkatnya harga-harga kebutuhan sehari-hari. Panik, seolah-olah ia lupa bahwa Allah ada di belakangnya. Allah SWT tak mungkin akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.

Kekecewaan apapun yang kita alami, jangan sampai kita meninggalkan Allah SWT. Jangan pernah putus asa dengan rahmat Allah.

Ketika badai dan gelombang kehidupan menerpa, apa yang akan terjadi pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, citra diri bangsa, dan dunia global? Bagaimana caranya orang beriman mengatasi persoalan kehidupannya ketika ia mengalami badai kehidupan?

Orang arif memberikan solusi, bahwa orang yang sanggup bertahan di tengah kesulitan hidup adalah orang yang berhasil mengatasi setiap tantangan. Apakah sebenarnya yang diperlukan ketika kita menghadapi tantangan? Kiatnya adalah sebagai berikut:

Pertama, hadapilah badai kehidupan dengan mengupayakan penenangan diri.

Sebesar apapun problem yang kita hadapi, maka yang pertama-tama harus dilakukan adalah menenangkan diri sendiri. Orang arif mengatakan, bahwa menenangkan diri adalah separuh dari penyelesaian masalah itu sendiri. Jadi, jika menghadapi masalah kehidupan, maka janganlah panik, bimbang, dan frustasi, dan jangan pula menempuh jalan pintas, karena sesungguhnya itu adalah jalan setan.

Bagaimanakah caranya menenangkan diri sendiri? Mengingat Allah pastilah akan menenangkan diri sendiri. Tapi sebaliknya, jika kita langsung panik, maka itu akan semakin memperparah persoalan. Rasulullah bersabda: “Apabila bala’ itu muncul, maka mata ini buta.” Jika orang melakukan dosa, maka mata batinnya yang buta. Jika orang kecelakaan, maka mata fisiknya yang tidak melihat.

Tawakkal dan penyerahan diri penuh kepada Allah SWT. Tawakkal terdiri dari empat tingkat: Pertama, tawakkalnya orang kafir. Kedua, tawakkalnya orang awam. Ketiga, tawakkalnya orang khawas. Dan keempat, tawakkalnya orang khawasul khawas.

Tawakkalnya orang kafir adalah tidak percaya akan tawakkal tersebut. Tawakkalnya orang awam mungkin seperti kebanyakan kita, yaitu setelah kita berusaha, kemudian kita serahkan segalanya kepada Allah SWT, kita yang berbuat Allah yang menentukan, kemudian barulah kita pasrah.

Tawakkalnya orang khawas adalah tawakkal yang benar-benar pasrah kepada Allah SWT. Dia tidak peduli lagi akan semuanya, asalkan Tuhannya tidak hilang. Tawakkal jenis ini sulit sekali untuk dilakukan.

Orang yang selalu bertawakkal tidak pernah merasa overloaded dalam menjalani kehidupannya. Mungkin pernah suatu saat kita mengalami memuncaknya problem kehidupan, sehingga sepertinya hidup ini membosankan, hambar, kering, dan tidak ada manfaatnya. Biasanya orang seperti ini karena merasakan suatu gejolak batin yang sangat luar biasa. Hal ini merupakan pertanda bahwa iman telah meninggalkan hati orang yang bersangkutan.

Orang yang selalu bertawakkal tidak akan pernah merasakan kelebihan beban. Ada orang-orang yang begitu padat kegiatan hariannya. Tapi tak sedikitpun ada perasaan lesu di wajahnya, dan semua agendanya terselesaikan. Orang yang seperti inilah yang disebut sebagai orang yang beriman. Orang yang beriman adalah orang yang selalu mengerjakan pekerjaannya dua kali. Satu kali dalam bentuk niat (blue print), dan yang kedua adalah implementasi. Seperti inilah orang yang mempunyai visi, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk misi, bahkan kemudian ke dalam bentuk kerja. Seperti inilah cara kerja Nabi Muhammad.

Orang yang mengerjakan pekerjaannya tanpa niat, tanpa program, maka sebetulnya orang seperti ini adalah orang awam, sekalipun dia sarjana. Dan sebaliknya, orang yang mengerjakan pekerjaannya dengan niat, kemudian diturunkan ke dalam bentuk visi misi, kemudian diimplementasikan ke dalam bentuk program kerja yang jelas, maka itulah sesungguhnya orang yang dikategorikan sebagai penerima amanah atau orang yang beriman.

Kalau ada yang ditimpa musibah, maka dekatilah Tuhan melalui pintu-pintu ibadah sunnat, zikir, wirid, dan pendekatan-pendekatan keagamaan lainnya. Kalau semua ini dilakukan, maka tidak mungkin Tuhan takkan menghargai hamba-Nya.

Tidak ada orang yang gagal setelah menjalani proses-proses serius yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk dirinya sendiri. Artinya, orang yang gagal adalah karena adanya mata rantai yang putus di dalam dirinya. Salah satu mata rantai yang tak boleh putus adalah doa yang sangat tulus kepada Allah SWT. Jangan hanya mengandalkan pekerjaan saja, tapi tanpa diiringi do’a, yang ini adalah sikap egois, seakan-akan tak membutuhkan Tuhan. Perencanaannya bagus misalkan, tapi tak semua perencanaan manusia itu akan terwujud, pasti ada saja kekurangannya.

Kedua, mereka mampu memandang kesulitan dan tantangan bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai batu loncatan keberhasilan.

Ada orang yang semua kesulitan dianggapnya sebagai suatu penghalang. Bedakan antara penghalang dan tantangan. Orang yang mempunyai iman tidak pernah merasa hal itu adalah penghalang, melainkan penghalang itu diturunkan kualitasnya menjadi tantangan, kemudian diturunkan lagi kualitasnya menjadi rutinitas. Orang yang seperti ini tidak pernah merasa lelah dalam menjalani kehidupannya. Mengapa? Karena ia ikhlas dalam menjalani kehidupan, sehingga hidupnya menjadi ringan. Jika ada yang merasa kelelahan dalam menjalani kehidupannya, maka dapat dipastikan di dalam dirinya itu tidak ikhlas. Dan orang yang seperti ini, lama-kelamaan akidahnya akan bisa terusik, tidak ikhlas menjadi hamba, tidak ikhlas menjadi khalifah Tuhan.

Ada orang yang sedikit saja menghadapi persoalan, maka akan mandeklah dia. Padahal persoalan tersebut bisa dilalui dengan baik. Orang yang terbiasa melewati jalan yang mulus, jika ada kerikil sedikit, maka akan menjadi permasalahan baginya. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang biasa menghadapi penderitaan. Bagi orang yang terbiasa menderita, maka suatu persoalan takkan dianggapnya sebagai penghalang, karena hal itu tak ada artinya dibandingkan dengan penderitaan masa lampaunya.

Dalam proses mencari Tuhan pun seperti ini. Jika ada problem, maka anggaplah hal tersebut sebagai pemicu untuk dekat kepada Tuhan. Malahan jika tanpa adanya problem, kadang kita menjadi berjarak dengan Tuhan. Apakah kenikmatan ataukah kekecewaan hidup yang sering mendekatkan diri kita kepada Allah? Berapa persentase kekecewaan hidup itu mendekatkan diri seseorang kepada Tuhannya, dan berapa pula persentase kenikmatan hidup itu mendekatkan dirinya kepada Tuhan? Jangan-jangan kenikmatan hidup itu lebih mendekatkan dirinya kepada setan.

Janganlah menganggap enteng cobaan Tuhan. Jangan pula menganggap cobaan tersebut sebagai bentuk kebencian Tuhan terhadap kita, tetapi anggaplah sebagai surat cinta Tuhan kepada kita. Tuhan merindukan kita, maka diberikan-Nya cobaan kepada kita.

Tantangan demi tantangan akhirnya menjadikan kita semakin terlatih dan semakin dewasa, untuk selanjutnya menang menghadapi kesulitan hidup. Kalau orang yang ditempa oleh tantangan demi tantangan, maka tantangan itu adalah rutin baginya. Bahkan mungkin tantangan tersebut dianggapnya bagaikan menguntai mata tasbih, yaitu sebagai sarananya untuk berzikir mengingat Allah. Tantangan demi tantangan akhirnya menjadikan kita semakin terlatih, yang kemudian kita akan mendapatkan kemudahan hidup karena hal tersebut.

Sikap positif memberikan kita keterbukaan hati untuk belajar dari pengalaman. Apakah yang dimaksud dengan sikap positif? Sikap positif adalah husnudz dzan, yaitu selalu berprasangka baik, tidak pernah berprasangka buruk terhadap Tuhan, juga tidak pernah berprasangka buruk terhadap orang lain. Tapi pada saat yang lain juga harus ada kewaspadaan.

Ketiga, memiliki sikap karakter yang benar.

Ada orang yang kalau dia ditimpa musibah, maka karakter dirinya muncul. Sehingga kita tak pernah membayangkan bahwa orang itu sedang mendapatkan musibah. Dia tetap menjalani kehidupannya dengan baik. Raut mukanya begitu terlihat polos dan tulus. Dia mampu menyembunyikan bahwa dirinya sebetulnya sedang mengalami problem. Baginya, problem tersebut hanyalah rutinitas. Salah satu hikmah berzikir dan berwirid adalah untuk menjalani penderitaan hari demi hari dalam kehidupan. Barangsiapa yang betah menyelesaikan wirid-wiridnya, maka orang itu pun juga akan betah dan mampu menyelesaikan problem yang dihadapinya. Tapi bagi orang yang tak terlatih bertasbih, maka biasanya akan kesulitan menghadapi problem kehidupannya.

Untuk meraih kemenangan dalam mengatasi kesulitan hidup, dibutuhkan sikap (karakter) yang tepat. Beberapa kualitas karakter jika dikembangkan, maka akan menjadi seperti senjata yang ampuh dalam menghadapi musuh. Di antaranya adalah daya tahan. Jika karakter kita bagus, maka daya tahan kita juga akan bagus, kreatif, dan ada pengharapan. Jika tidak mempunyai karakter, biasanya seseorang itu tidak mempunyai prinsip, daya tahannya kurang, kreativitasnya lemah, harapannya juga kosong. Biasanya orang yang seperti ini akan terombang-ambing oleh ganasnya kehidupan.

Membangun karakter (character building) tidak dipelajari di bangku sekolah, bahkan juga tidak diberikan di bangku kuliah. Yang ada adalah latihan-latihan, yang konklusinya adalah pengokohan karakter individu.

Kiat mengatasi kesulitan hidup

Kiat pertama, mengetahui gambaran besar.

Dalam hal ini, harus ada mapping (pemetaan) terhadap suatu persoalan. Jangan sampai kita tidak mengenali persoalannya. Misalkan, baru isu-isu, kita langsung meluap-luap. Kita jangan langsung bereaksi terhadap sebuah informasi jika informasi tersebut belum jelas.

Dalam menghadapi suatu persoalan, janganlah mengedepankan ketakutannya terlebih dahulu. Dalam hal ini, kita jangan melihat kekecilan diri kita sendiri, padahal setiap kita memiliki potensi. Ketika menghadapi problem yang besar, janganlah kekecilan diri kita yang dikedepankan. Semestinya dengan problem yang besar itu, kita kemudian mengatakan bahwa kita ini masih hidup. Kalau Tuhan mau mematikan kita, mungkin takkan datang problem tersebut. Semua garis hidup ini ada di tangan Allah. Sejarah masih bergulir dan belum selesai buat kita. Hari ini kita jatuh sampai ke tempat yang paling rendah, tapi dunia belum kiamat, kita masih hidup, sejarah masih bergulir, siapa tahu besok kita akan melenting melebihi yang lainnya.

Marilah kita bercermin. Dengan bercermin, kita bukan hanya melihat wajah kita, tapi dengan bercermin itu kita bagaikan bercermin di cermin Ilahi. Dengan bercermin kita mungkin bisa berkata, muka boleh tidak tampan, tapi hati dan jiwa kita harus teguh. Justeru karena cermin itu misalkan menampilkan yang kecewa dari luarannya, maka dalamnya harus unggul. Kalau kita sudah jelek rupa, kemudian juga jelek hati dan pikiran, maka kita tidak lagi memiliki apa-apa.

Kecenderungan budaya Timur adalah karakternya tidak ingin dikritik. Kalau dikritik, maka disangka diejek, dihina, dan sebagainya. Jarang sekali orang yang dikritik itu kemudian mengucapkan terima kasih kepada orang yang mengkritiknya. Dalam hal ini, bagi penggeritik juga harus santun dalam kritikannya. Ada banyak cara yang bisa dilakukan dalam mengkritik ataupun menasehati, yang itu bisa dilakukan dengan cara yang baik dan santun, tanpa harus menggurui. Barangsiapa yang gampang menyalahkan orang lain, maka orang tersebut perlu banyak belajar lagi mengenai akhlak di dalam Islam, walaupun ia sebenarnya terpelajar, sarjana, atau mungkin seorang profesor. Seorang yang terpelajar itu ialah orang yang tak mau menyalahkan orang lain. Dalam memberikan pesan, seorang terpelajar akan memberikan pesan itu dengan cara yang baik dan santun.

Karena tidak melihat gambaran besar atau gambaran utuh dari masalah yang dihadapinya, sehingga nantinya akan terjadi salah kaprah. Di Indonesia ini misalkan, ada kecenderungan bahwa Umat Islam terlalu gampang menarik kesimpulan. Terlalu gampang menyimpulkan sesuatu tanpa pernah melakukan penelitian yang lebih mendalam. Kalau seseorang itu dianggap jelek, maka semua pada orang tersebut jelek, walaupun ada sisi-sisi kebaikan dari orang tersebut. Sebaliknya, jika memuji seseorang, maka seseorang itu seakan-akan tidak ada kelemahannya. Padahal manusia itu tak ada yang sempurna. Yang lebih baik adalah, terimalah kebaikan dan keburukan orang tersebut secara selektif dan objektif. Kita bukan malaikat, melainkan hanya manusia biasa.

Kiat kedua, memandang kesulitan sebagai tantangan, bukan halangan.

Tantangan demi tantangan akhirnya membuat seseorang itu menjadi terlatih. Memandang setiap kesulitan bukanlah sebagai halangan, melainkan adalah suatu tantangan dan kesempatan untuk belajar dan menang. Dengan demikian, ada pengalaman dalam kehidupan, sehingga tidak mungkin kita akan jatuh pada lubang yang sama di dalam kehidupan ini. Jika ada orang yang jatuh pada lubang yang sama, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut tak pernah belajar dari pengalaman.

Memiliki persepsi yang positif terhadap setiap tantangan yang ada, maka akan memberikan dampak yang positif pula. Jadi, tidak pernah salah paham dengan kekecewaan yang dihadapi, walaupun sebetulnya itu menyakitkan. Tapi bagi yang bersangkutan, bahwa hal tersebut adalah tantangan, dan juga merupakan cobaan. Para pebisnis yang cepat putus asa, maka ia juga takkan pernah menjadi kaya. Yang tak diperkenankan adalah gambling (spekulatif). Karena itu, spekulatif diharamkan.

Ada tiga hal yang berbahaya bagi seseorang. Yang pertama adalah orang yang didikte oleh pemikiran spekulatif. Dia ingin potong kompas dalam mencapai kekayaan. Tidak ingin bersusah payah, tapi ingin mendapatkan untung yang banyak. Yang kedua adalah orang yang mistik, seolah-olah hidupnya selalu mengandalkan mistik, mendatangi dukun, minta wirid ke ustadz, dan sejenisnya. Semestinya, sebagai seorang yang positif, kita harus menampilkan nilai-nilai sikap objektif-positif pada diri sendiri. Yang ketiga adalah spiritualisasi kehidupan, yaitu tingkat rasionalnya itu kurang. Setiap kali persoalan-persoalan muncul, maka seakan-akan tak ada lagi hal yang dilakukan selain hanya dengan berdoa. Padahal belum dilakukan usaha-usaha yang rasional. Yang baik adalah, kita berusaha dahulu, kemudian usaha tersebut diiringi dengan do’a.

Jadi, spiritualisasi dalam menyelesaikan persoalan juga tidak dibenarkan di dalam Islam. Memang, setiap muncul persoalan kita harus meminta kepada Allah. Tapi tidak benar juga jika hanya dengan beredo’a untuk menyelesaikan persoalan tersebut tanpa adanya usaha-usaha yang dilakukan. Jika hanya dengan berdoa, namun tak pernah melakukan usaha-usaha yang nyata, yang ini sebenarnya gambling (spekulatif) juga. Do’a itu tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan. Do’a yang kita harapkan menyelesaikan persoalan adalah didahului dengan usaha yang nyata.

Memiliki persepsi yang positif terhadap setiap tantangan yang ada akan memberikan dampak yang positif pula. Jadi, berpandangan positif (positive thinking) pasti akan banyak manfaatnya untuk ketegaran mental (spiritual) kita. Jika ada orang yang mentalnya jatuh, maka perhatikanlah orang itu. Biasanya orang seperti ini suka berburuk sangka terhadap orang lain. Ada orang misalkan, bahwa sebaik apapun pekerjaan orang lain, maka pasti akan ditanggapinya dengan negatif. Jangan-jangan kita juga sering seperti ini.

Yang positif dari orang lain, sekalipun adalah bawahan kita, maka akuilah bahwa bawahan kita itu memang hebat. Ada orang yang tak mau mengagumi orang lain, apalagi prestasi itu muncul dari bawahannya. Orang yang seperti ini kemungkimam besar hidupnya tak pernah tenteram. Mengapa? Karena tidak mau melihat orang lain sukses. Dia ingin dirinya saja yang sukses. Begitu mendengarkan orang lain sukses, apalagi musuhnya misalkan, maka ia akan merasa tidak tenang.

Kiat ketiga, mengenal titik kritis pribadi kita

Ini adalah suatu pekerjaan berat, karena kita tak pernah mau mengintrospeksi diri kita sendiri. Seakan-akan setiap yang kita lakukan itu selalu benar. Kalau seperti ini, maka ketenteraman di dalam diri kita takkan pernah muncul.

Karena tidak sadar akan titik kelemahan tersebut, biasanya membuat kita selalu jatuh di lubang yang sama. Begitu juga jika tidak mau mengakui kesalahan, maka kesalahan bertubi-tubi akan kita dapatkan setiap saat. Tetapi jika kita mengakui bahwa diri kita bersalah, maka insya Allah kita tidak akan jatuh di lubang yang sama. Sebaliknya, sikap waspada dan latihan penguasaan diri membuat kita akan berhasil dan menang melewati masa-masa sulit dalam kehidupan kita.

Semua kesalahan-kesalahan itu kita terima sebagai suatu kenyataaan hidup. Begitu muncul di hadapan kita, sejarah berulang, tapi kita tak akan melewati lagi tempat yang sama.

Kiat keempat, mengatur prioritas hidup kita

Salah satu kelemahan kita adalah tidak cerdas mengatur prioritas kehidupan. Semuanya seakan-akan sama pentingnya. Semestinya kita memprioritaskan dalam hidup ini, mana yang penting, mana yang tidak. Kriteria penting dan tidak penting jangan diukur berdasarkan spontanitas emosional kita pada saat itu. Perlu untuk mengatakan tidak untuk hal-hal tertentu, dan iya untuk hal-hal yang tertentu pula. Sehingga memang ketegasan itu diperlukan dalam hidup ini. Orang yang tidak tegas, maka dia akan mengiyakan semuanya. Kadang-kadang kita terlalu baik, sehingga kemudian kita menjadi korban dari keterlalu-baikan kita itu.

Apa yang dikerjakan justeru membawa masalah baru dan bukan solusi untuk pemecahannya. Prioritas yang diatur secara tepat dan seimbang merupakan tindakan bijaksana untuk mengatasi tantangan dan kesulitan hidup. Di sinilah hebatnya Rasulullah SAW. Beliau selalu bertanya kepada para sahabatnya untuk mencari pemecahan masalah yang sedang dihadapi ketika itu. Beliau bukanlah tipe pemimpin yang otoriter. Di dalam kisah-kisah Al-Qur’an, salah satu kunci kesuksesan orang-orang hebat itu adalah selalu bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Orang-orang besar biasanya tidak spontan langsung mengambil suatu keputusan, melainkan mereka selalu meminta pertimbangan dari orang-orang yang ada di dekatnya. Mereka terbiasa untuk berdialog. Jika ada orang yang tidak mau berdialog, maka orang tersebut biasanya berjiwa kerdil dan tak mungkin bisa menjadi orang besar. Ciri-ciri orang besar adalah selalu mau berdialog dan meminta pandangan dari orang-orang di sekitarnya, sekalipun terhadap bawahannya.

Dalam suatu riwayat diceritakan, bahwa Nabi Muhammad pernah meminta pendapat dari para sahabat mengenai tindakan yang akan diambil terhadap para tawanan perang. Nabi Muhammad berkata, “Wahai para sahabat, tawanan perang ini sebaiknya diapakan?” Lalu berkatalah Umar ibn Khattab, “Interupsi Rasulullah. Menurut hukum adat, bahwa laki-laki dibunuh sedangkan perempuannya diperbudak.” Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq juga menginterupsi, “Interupsi Rasulullah. Menurut pendapat saya tidak seperti itu. Para tawanan ini adalah orang-orang hebat. Lebih baik kita memberikan pembebasan bersyarat kepada mereka. Kemudian mereka ditugaskan untuk mencerdaskan masyarakat Madinah ini yang buta keterampilan.” Lalu Rasulullah menjawab, “Oke, saya setuju pendapat Abu Bakar.”

Tidak ada orang yang besar tanpa mentradisikan di dalam dirinya, dalam sikapnya, serta dalam kepemimpinannya untuk selalu berdialog. Dialog di sini mungkin adalah musyawarah. Tapi musyawarah tidak identik dengan demokrasi. Demokrasi biasanya yang menang adalah yang mayoritas. Sedangkan pada musyawarah, bisa saja pendapat yang minoritas lah yang disetujui, mungkin karena pendapat minoritas itu lebih maslahat, lebih arif, dan bijaksana.

Kiat kelima, bergabung dengan komunitas yang membangun

Kalau kita ditimpa musibah, jatuh, pailit, dan sebagainya, Islam dalam hal ini menganjurkan untuk memiliki motivasi yang kuat dan sikap mental yang positif, membangun keyakinan dan harapan untuk bersikap pantang menyerah, serta meraih tujuan yang sukses, caranya adalah dengan bergabung ke dalam komunitas yang selalu berpikir positif. Tapi kalau sudah pailit, kemudian bergabung dengan orang-orang yang berjiwa kerdil, maka kemungkinan besar akan sulit sekali untuk bangun dari kegagalan tersebut. Biasanya juga orang yang gagal itu akan memilih bergabung bersama dengan orang yang gagal pula. Jika ini yang dilakukan, maka sama saja orang tersebut sudah terkubur hidup-hidup sebelum ia wafat.

Islam menganjurkan, bahwa ketika kita mengalami kegagalan, maka datanglah kepada orang yang berpandangan positif, kemudian berkonsultasilah dengan orang tersebut, maka kita akan hidup kembali. Pada umumnya, orang-orang yang mengalami kegagalan itu jatuh ke lembah yang paling dalam. Hal ini dikarenakan mereka akan mencari orang-orang yang senasib dengannya. Mestinya kan harus dibalik. Kali ini mungkin kita jatuh, tapi teman-teman lama kita masih banyak yang bisa membantu kita. Tapi kalau kita mencari teman yang senasib dengan kita, yaitu sama-sama orang yang mengalami kegagalan, maka yakinlah, kita akan semakin terperosok ke lubang kegagalan yang lebih dalam.

Bergabunglah dengan orang-orang yang positif. Berkonsultasilah dengan orang-orang yang tepat. Kalau kita sudah jatuh, maka berhati-hatilah dalam berkonsultasi. Kadang juga ketika berkonsultasi dengan orang yang tepat, mungkin bisa saja semakin tambah merontokkan kita. Sudah jatuh, diberikan pandangan lagi, yang itu bisa memeras kita jauh lebih jatuh lagi. Karena itu, berhati-hatilah dalam memilih orang yang akan dijadikan sebagai tempat berkonsultasi. Dalam hal ini, lihatlah dulu orangnya. Karena orang itu satu sisi mungkin bisa meningkatkan, tapi mungkin juga menjebloskan lebih dalam lagi. Alangkah lebih baiknya, sebelum berkonsultasi dengan siapa saja, maka serahkanlah diri kita kepada Allah SWT. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah. Wala hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azim. [nAvy]

16 Juni 2008 at 3:50 AM 7 komentar

Hakikat Kesuksesan

HAKIKAT KESUKSESAN

Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

pada tanggal 12 Mei 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ada lima langkah untuk mengembangkan hidup yang memiliki tujuan, yaitu: eksplorasi diri, determinasi diri, aktivitas diri, kolaborasi diri, dan evaluasi diri.

Pada point evaluasi diri, jika kita ingin jujur, maka hal yang paling sering dihindari adalah sebuah pujian. Pujian ini sering menganggu iman seseorang. Karena itu, biasakanlah diri untuk tahan dari berbagai pujian. Jangan sampai karena pujian, subjektifitas kita menonjol, sehingga nanti kita salah dalam menentukan langkah. Manusiawi jika seseorang itu dipuji dan pujian itu harus disyukuri. Sampaikanlah kepada yang memuji kita itu, bahwa yang pantas untuk dipuji hanyalah Allah SWT, karena apa yang ada pada diri kita sesungguhnya bersumber dari-Nya. Dengan hal ini akan membuat kita berhenti dari keangkuhan.

Kita takut untuk dinilai, sering enggan untuk melakukan evaluasi, karena takut melihat kegagalan. Jadi, orang yang tak ingin melihat kegagalannya sendiri, itu pertanda akan melakukan pembiaran terhadap kegagalannya juga.

Ciri-ciri orang yang melanggengkan kegagalan adalah: takut dikritik dan tidak mau mengevaluasi diri, bahkan tidak ingin mendengarkan kritikan orang lain. Dia hanya ingin mendengarkan pujian dari orang lain, tapi tidak ingin mendengarkan kritikan dari orang lain. Padahal sesungguhnya, mungkin kita lebih membutuhkan kritikan daripada pujian. Jika ada yang mengkritik kita, itu menandakan orang tersebut mencintai kita. Siapa tahu orang yang mengkritik itu adalah penyambung lidah daripada kehendak Allah SWT untuk memperbaiki diri kita. Jangan melihat orang yang mengkritik kita itu seperti setan, tapi anggaplah ia bagaikan malaikat utusan Tuhan untuk memberikan perbaikan terhadap diri kita. Lebih perlu diwaspadai adalah orang yang hanya suka memuji daripada mengkritik. Yang penting kritikan itu juga jangan sampai berlebihan, melainkan kritiknya adalah bil maw’izatil hasanah, yaitu kritikan yang baik dan cenderung konstruktif.

Dibutuhkannya evaluasi dan penilaian, agar kita dapat mengetahui sejauh mana kekurangan ataupun keberhasilan kita. Evaluasi diri bukan hanya menunjukkan kelemahan, evaluasi juga menunjukkan kelebihan-kelebihan. Tak ada orang yang kesalahannya 100%, dan juga tak ada orang yang benarnya 100%. Pasti di balik kesalahan ada terselip kelebihan-kelebihan. Pasti di balik kelebihan ada terselip kesalahan dan kekeliruan. Tidak ada yang sempurna selain daripada Allah SWT.

Pemahaman Kesuksesan

Apakah yang dimaksud dengan kesuksesan? Jika definisi kesuksesan yang kita pahami terlalu materialistis, maka jalan hidup yang kita tempuh akan keliru. Karena itu, kita perlu mendefinisikan apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kesuksesan tersebut. Jika kesuksesan itu ukurannya adalah nafsu, keinginan, dan biologi, maka terlalu rendah nilai kesuksesan itu. Dalam hal ini, kita tidak memberikan tempat untuk kesuksesan rohani.

Kesuksesan bagaikan pohon yang ditanam di tepi sungai. Memiliki sumber air yang tak pernah habis. Maka ia akan menghasilkan buah-buah keberhasilan pada musimnya. Biasanya kalau orang sukses, tapi penuh kemawasdirian, akan berlangganan kesuksesan itu. Tapi biasanyan kalau orang itu gagal, tidak mau mengevaluasi diri, maka orang itu akan berlangganan dengan kegagalan. Banyak orang yang kita lihat sukses dan selalu sukses. Sementara ada juga orang yang selalu gagal. Dalam hal ini, kita tentunya jangan menyalahkan Tuhan.

Beberapa pandangan yang keliru mengenai kesuksesan

Orang sering mendefinisikan kesuksesan itu hanya kekayaan. Jadi kalau orang tidak kaya, berarti orang itu gagal. Sukses bukan sekedar menjadi kaya. Kesuksesan juga bisa dalam hal membina kepribadian, sukses menjalin komunikasi dengan relasi, sukses untuk mencegah dirinya dari dosa dan maksiat. Begitu banyaknya cabang-cabang kesuksesan.

Sukses bagi seorang seniman tentunya berbeda dengan sukses bagi seorang pedagang. Sukses bagi seorang pegawai tentunya berbeda dengan kesuksesan seorang petani. Bagi seorang seniman misalkan, kesuksesannya adalah ketika menciptakan suatu puisi yang sangat indah melalui suatu proses yang mendalam, hingga ia melahirkan puisi-puisi yang indah, walaupun puisinya itu begitu pendeknya. Bagi seorang pegawai, kesuksesannya mungkin adalah promosi jabatan ataupun kenaikan gajinya.

Keliru juga jika dikatakan bahwa kesuksesan itu adalah berhasil tanpa kesulitan. Kalau seperti ini bukan sukses namanya. Kesuksesan adalah berbanding lurus dengan tingkat penderitaannya. Sukses itu bukannya tanpa tetesan keringat, seolah-olah kesuksesan tersebut diperoleh secara gratis. Kesuksesan yang didapat dengan mudah ini bisa saja malahan tidak berkah. Rasulullah mengingatkan, jika ingin mencicipi keberkahan, maka perolehlah dengan tetesan keringat. Karena itu Rasulullah juga mengatakan, bayarlah pegawai kalian sebelum keringatnya kering.

Sukses juga bukan datang karena keberuntungan. Jika ada orang yang sukses tanpa keringat, maka kesuksesan seperti ini adalah kesuksesan yang tidak normal. Segala sesuatu yang datangnya begitu gampang, maka kepergiannya juga akan begitu cepat. Karena itu, ilmu yang diperoleh melalui proses yang sangat mendalam, maka ilmu tersebut akan menjadi begitu melekat pada diri orang tersebut. Tetapi ilmu yang begitu gampang diperoleh, maka akan dengan gampang juga hilangnya.

Jadi, janganlah mudah puas dengan sesuatu yang didapat dengan mudah, gratis, gampang, yang diperoleh tanpa kesulitan, melainkan apa yang didapat itu adalah sesuatu yang tidak normal, sehingga menjadikan keberkahannya kurang.

Memahami arti kesuksesan

Jika kita mendefinisikan kesuksesan dengan hal-hal yang materil semisal harta dan jabatan, maka kearifan di dalam diri kita tidak akan muncul. Sukses ialah menjalani hidup dengan menjadi diri sendiri. Tidak usah kriteria orang lain yang kita gunakan. Jika orang lain bisa membangun rumah mewah, kita tentunya tidak usah mengukur kesuksesan dengan kesukesan yang diraih orang tersebut, melainkan yang terbaik adalah menjadi diri kita sendiri. Kita tidak harus sukses dengan rumah mewah, karena kemampuan yang ada pada kita tidak bisa mencapai yang seperti itu. Kita harus berbahagia dengan standar diri kita sendiri. Merasa cukup dengan apa yang telah diberikan oleh Allah (qana’ah), itulah kesuksesan kita yang merupakan kebahagiaan puncak.

Berfungsi dan melakukan yang terbaik sesuai dengan potensi dan kapasitas pribadi masing-masing. Jika pendidikan kita hanya SMP, sedangkan tetangga kita itu sarjana, maka sangat tidak bijaksana jika kita tetap memaksakan diri kita seperti mereka. Dalam hal ini, buatlah seolah-olah kita harus punya nilai plus ukuran diri kita sendiri. Misalkan, sementara banyak orang yang tak bisa menyekolahkan anaknya, maka kita patut bersyukur, bahwa kita bisa menyekolahkan anak kita hingga tamat SMA, yang itu merupakan kesukesan tersendiri bagi kita.

Kesuksesan adalah kemampuan untuk mewujudkan agar segala sesuatu menjadi lebih baik secara utuh dan holistik dari seluruh aspek kehidupan kita. Bukan rumah bersusun yang membuat orang itu bahagia, melainkan kebahagiaan batin inilah yang paling utama. Kebahagiaan itu tidak bisa dibeli, tidak bisa ditebus dengan apapun, kecuali kita harus melaluinya dengan proses yang sangat panjang dan mendalam. Kenyamanan bisa dibeli di hotel bintang lima, kelezatan bisa dibeli di restoran paling mahal, tapi kebahagiaan tak bisa dibeli, melainkan kebahagiaan tersebut hanya bisa didapatkan melalui proses olah batin kita sendiri. Sebegitu banyak orang yang mendambakan kebahagiaan batin, tapi tidak berhasil. Mengapa? Karena metode yang digunakan untuk mencapai kebahagiaan batin itu adalah metode materialistik. Disangkanya dengan membayar begitu mahal, ikut suatu training motivasi misalkan, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan seperti yang diharapkannya. Memang ketika baru-baru selesai dari training tersebut ada kelihatan hasilnya. Tapi setelah tiga bulan misalkan, kebahagiaan tersebut kemudian hilang lagi. Tentunya kita tidak menginginkan yang seperti ini, melainkan yang kita inginkan adalah keabadian kebahagiaan itu.

Jadi, jangan pernah merasa cukup dan puas dengan training pendek. Al-Qur’an diturunkan 23 tahun lamanya. Rasulullah mengajarkan Islam itu 23 tahun lamanya. Tidak mungkin hanya dengan sekejap saja. Kebahagiaan adalah harus dicapai dengan proses yang berliku-liku, yang proses itu tak pernah mengenal henti, kalau perlu hingga akhir hayat kita. Belajar itu bukan hanya ketika masa-masa muda misalkan. Karena itulah, ilmu mendidik itu dikritik. Di dalam dunia pendidikan dikenal suatu teori yang dinamakan Paedagogi (ilmu mendidik anak). Ternyata di dalam Islam mengkritisi teori ini. Islam menganjurkan untuk menuntut ilmu sepanjang hayat. Bukankah Al-Qur’an turun memerintahkan orang untuk belajar (iqra’/bacalah) ketika Rasulullah sudah berumur 40 tahun, dan wahyu itu diterima oleh Rasulullah hingga akhir hayatnya, yang di dalamnya terdapat proses pembelajaran Rasulullah yang dituntun oleh wahyu, walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Kemudian di dunia pendidikan juga dikenal teori Andragogi, yaitu metode pendidikan untuk seumur hidup, dan metode inilah yang sesuai dgn ajaran Islam. Jadi, kepuasan intelektual itu takkan pernah berhenti dan tidak mengenal usia.

Delapan bidang kesuksesan

Menurut ajaran Islam, ada delapan bidang kesuksesan. Orang akan dinilai sukses jika delapan hal ini dipenuhi.

Pertama, kepribadian yang utuh.

Sekalipun banyak uang, mendapat warisan dari orang tua, banyak rumah, tapi jika yang bersangkutan itu idiot, setengah sadar, dan gila, tentunya ia tidak mendapat kebahagiaan yang dimaksud. Jadi, karunia dasar yang Tuhan berikan kepada kita adalah dalam bentuk kepribadian yang utuh. Apakah yang dimaksud dengan kepribadian yang utuh? Kepribadian yang utuh bukanlah kepribadian yang pecah (split personality). Kepribadian yang pecah adalah kepribadian yang tidak memiliki pendirian. Orang yang seperti ini susah khusyu’ di dalam shalat dan biasanya munafik. Orang yang tidak memiliki pendirian sebetulnya adalah tipe orang yang tidak sadar dan tidak normal.

Menurut Psikolog, bahwa hampir semua orang itu mengalami gangguan jiwa. Namun tingkatannya ada yang parah dan ada juga yang tidak terlalu parah. Orang yang berusia di atas 30 tahun biasanya berpotensi untuk mengalami gangguan kejiwaan, karena jarak antara yang diharapkan dengan yang menjadi kenyataan begitu jauhnya. Dia menginginkan seratus, tapi kemampuan pada dirinya hanya bisa mencapai sepuluh. Akhirnya, jika harapan-harapan itu terlalu banyak, sedangkan kenyataan yang didapatkan jauh di bawah yang diharapkan, maka hal-hal tersebut kemudian berakumulasi, sehingga orang tersebut menjadi selalu tertekan, bahkan kadang memori jangka pendeknya menjadi lemah. Bertumpuknya akumulasi kekecewaan ini biasanya dikarenakan tidak mendapatkan pemecahan. Makanya, pemecahan yang terbaik adalah dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kepribadian yang utuh merupakan rahmat Allah yang paling berharga di dalam diri kita. Tak ada gunanya pencapaian yang telah kita raih jika kepribadian kita rusak dan bermasalah, sehingga semua pencapaian yang telah kita raih itu akan menjadi sia-sia.

Kedua, keluarga.

Tidak gampang sukses membina keluarga. Uang, pangkat, dan kekayaan tidak otomatis menjamin suatu keluarga menjadi bahagia. Kebahagiaan keluarga itu diciptakan, bukan tiba-tiba langsung turun dari atas langit. Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang dibina.

Memang kita akui, bahwa tidak mungkin ada keluarga yang seperti keluarga surga. Pasti setiap keluarga itu ada kelemahan-kelemahannya. Namun jangan sampai membiarkan keluarganya itu berada dalam suatu kondisi yang tidak penting. Misalkan, suatu masalah di dalam keluarga sebenarnya bisa dipecahkan, tapi karena yang berada di dalam rumah tangga itu masing-masing emosi dan sama-sama keras, maka akan sulitlah terbinanya kebahagiaan. Karena itulah, suatu kebahagiaan tersendiri jika melampaui usia 50 tahun kita tidak pernah mengalami proses-proses yang mengarah kepada kehancuran keluarga.

Persoalan keluarga juga kadang berdampak sangat luas sekali, misalkan berdampak ke pekerjaan. Jika ia seorang pimpinan, maka yang menjadi sasaran kekesalan adalah stafnya. Jika ia seorang staf, maka ia selalu ditegur oleh atasannya, karena gairah kerjanya tidak ada. Endapan-endapan negatif dari permasalahan keluarga tersebut akan mengikuti di manapun kita berada, termasuk di pekerjaan.

Ketiga, kesuksesan juga bisa diukur melalui karir seseorang.

Misalkan, di manapun ia ditempatkan, maka di situ ada kemajuan. Orang seperti ini biasanya diperebutkan oleh berbagai tempat pekerjaan. Sementara ada orang yang setengah mati membawa map untuk melamar kerja, sementara juga ada orang yang diperebutkan oleh tempat pekerjaan dengan gaji yang lumayan tinggi.

Jika riwayat hidup seseorang sungguh bagus dari ia kecil, termasuk juga prestasinya, insya Allah orang itu nantinya di era keterbukaan seperti sekarang ini pasti akan diperebutkan. Jadi, jika seseorang berprestasi, maka pekerjaanlah yang berebutan mencari dirinya. Tapi sebaliknya jika tidak memiliki prestasi, maka dialah yang mengejar pekerjaan. Karena itulah, karir dan prestasi ini memang harus dibina sejak dini.

Keempat, kesuksesan juga bisa diukur dari keuangan.

Bukan rahasia lagi, bahwa siapa saja yang memiliki uang, maka kemudahan-kemudahan hidup akan diperolehnya. Sebaliknya, siapa saja yang tidak mempunyai uang dan tidak mempunyai potensi lain selain uang, maka kesulitan hidup akan selalu bersamanya. Karena itulah, uang begitu pentingnya. Tapi yang paling penting lagi adalah berkah dari uang itu sendiri. Uang yang berkah tidak mesti harus banyak, melainkan cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan kita, bukan seluruh keinginan kita.

Kelima, kesehatan juga menjadi unsur terpenting dari kesuksesan.

Walaupun kita memiliki segalanya, tapi jika selalu sakit-sakitan, tentunya akan sulit sekali kita merasakan kebahagiaan. Rahasia kesuksesan Nabi Muhammad salah satunya adalah kesehatan. Nabi Muhammad adalah salah seorang yang paling sehat di masanya. Rahasia kesehatan Nabi Muhammad adalah makan pada saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Nabi Muhammad juga suka berpuasa.

Dalam hal makanan, ternyata sebagian penyakit itu berasal dari meja makan. Mengapa? Dahulunya mungkin penyumbang kematian terbesar adalah penyakit berbahaya seperti malaria, tipes, cacar, dan sebagainya. Sekarang, penyumbang kematian terbesar adalah penyakit jantung, kolesterol tinggi, asam urat, yang semuanya ini diperoleh di atas meja makan.

Rasulullah menganjurkan untuk tidak meniup makanan yang akan dimakan, sekalipun itu panas. Belakangan para dokter bersepakat betapa tidak bolehnya meniup makanan. Rahasia kesehatan Rasulullah juga adalah dalam hal pengobatan secara alami (herba). Nabi Muhammad juga suka berolahraga. Misalkan dalam hal ini, Rasulullah jika pergi ke masjid, jalur yang digunakan untuk pergi ke masjid berbeda dengan jalur ketika beliau pulang dari masjid.

Dalam suatu riwayat diceritakan, bahwa Rasulullah pernah menantang seorang pegulat tradisional Arab (mungkin seperti sumo) yang pegulat tersebut begitu kelewat sombong dan sering berkata-kata bahwa tak ada lagi yang bisa mengalahkannya di atas bumi ini. Pegulat tersebut badannya besar dan tinggi, sedangkan Rasulullah tidak sebesar pegulat tersebut. Begitu adu tanding dengan Rasulullah, hanya dengan beberapa gerakan, maka pegulat tersebut kalah (KO) pada pertandingan itu, padahal Rasulullah tidak sebesar pegulat tersebut, tetapi Rasulullah memang sehat. Di dalam hadits juga disebutkan, bahwa badannya Rasulullah itu padat, tidak gemuk, namun tidak juga kurus. Kukunya tergunting rapat, jenggotnya tercukur rapi, pokoknya tipe ideal pada waktu itu, dan juga parasnya tidak termakan usia.

Karena itu, kesehatan begitu pentingnya. Hampir tidak ada dalam setiap riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah itu sakit gigi. Rahasianya adalah Rasulullah selalu bersiwak. Jadi, sehatnya Rasulullah itu karena ia rajin berolahraga, selalu menjaga makanan, sering berpuasa, dan juga mencegah kemungkinan-kemungkinan adanya penyakit.

Keenam, adalah kerohanian.

Percuma pencapaian-pencapaian yang telah kita raih, jika tidak ada kebahagiaan rohani. Begitu nikmatnya setelah menyelesaikan ibadah, dan begitu tidak nikmatnya setelah melakukan dosa. Bagi orang yang masih memiliki iman, jika setelah melakukan dosa, maka ia akan merasa begitu berat dan menyesal. Sebaliknya, bagi orang yang tidak memiliki keimanan, maka setelah melakukan dosa itu ia tidak memiliki beban sama sekali. Orang yang tidak memiliki penyesalan setelah melakukan dosa, maka orang seperti inilah yang telah dikunci pintu ketenteraman hatinya oleh Allah.

Firman Allah:

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Q.S. Al-Baqarah: 7)

Ketujuh, berkomunikasi di dalam masyarakat.

Walaupun seseorang memiliki kepribadian yang bagus, keluarga yang bahagia, begitu juga karir, keuangan, kesehatan, dan kerohanian yang bagus, tapi terisolasi di dalam masyarakat, maka ini juga merupakan penderitaan tersendiri. Fitrahnya manusia adalah ingin mencintai orang banyak dan ingin dicintai orang banyak.

Komunitas sosial begitu pentingnya karena adalah sarana untuk beramal shaleh. Tidak mungkin seseorang bisa masuk surga hanya dengan bermodalkan keshalehan individu, tapi akan bisa masuk surga jika keshalehan individu dan keshalehan sosialnya berbanding lurus.

Firman Allah:

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-‘Ashr: 3)

Jadi, yang memasukkan seseorang itu ke dalam surga bukan hanya keimanannya (amanu), tapi juga amal shalehnya (wa amilush shalihati), yang amal shalehnya itu dapat dirasakan oleh orang lain. Sebaliknya, hanya dengan bermodalkan amal shaleh pun juga tidak akan memasukkan orang ke dalam surga jika ia tidak beriman. Jadi, memang antara keimanan dan amal shaleh itu harus seimbang dan berbanding lurus.

Kedelapan, kemampuan pembelajaran.

Menuntut ilmu juga merupakan suatu kepuasan tersendiri. Sekalipun semua hal di atas terpenuhi, tapi jika ilmu kita kosong, maka segala pencapaian yang kita raih juga tidak ada artinya apa-apa. Di dalam Islam selalu diingatkan akan hal ini, bahwa menuntut ilmu itu tak ada henti-hentinya sepanjang hayat kita. Bahkan wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah adalah pesan mengenai pentingnya menuntut ilmu (iqra’ bismirabbika)

Kesuksesan kita terukur dari satu hingga delapan ini. Inilah perbedaannya dengan orang-orang sekuler. Mereka tidak perlu kerohanian, tidak ada urusan mereka akan kepribadian yang utuh, dan mereka juga tidak mementingkan untuk berkomunikasi di dalam masyarakat. Karena itulah, individualisme begitu dominan di negara-negara barat (negara yang berfaham sekuler). Tak perlu bagi mereka untuk saling mengenal dengan tetangga. Tetapi di dalam Islam, hubungan baik kita dengan masyarakat sekitar sangat perlu untuk dijaga.

Jadi, inilah delapan bidang kesuksesan di dalam hidup kita: kepribadian yang utuh, keluarga yang sakinah, karir yang terus meningkat, keuangan yang stabil, kesehatan yang prima, kerohanian yang tangguh, komunitas sosial yang ideal, dan juga kemampuan pembelajaran yang senantiasa kita pertahankan. Jika semuanya kita miliki, maka itulah pilihan-pilihan Allah untuk kita di dunia, dan insya Allah kita juga akan berbahagia di akhirat. [4An]

16 Juni 2008 at 3:43 AM 2 komentar

Pembinaan Karakter

PEMBINAAN KARAKTER

Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

pada tanggal 21 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Pembinaan karakter kini memang menjadi suatu yang krisis. Hampir setiap orang sulit sekali untuk mempertahankan karakter aslinya. Pada umumnya banyak di antara kita begitu gampang berubah. Sedikit saja mendapat pengaruh dari luar, maka faktor internalnya menjadi berubah. Ini adalah hal yang sangat memprihatinkan. Jika sudah seperti ini, kiranya menjadi sulit untuk menyebarkan suatu kebaikan jika kita sendiri tidak memiliki pendirian yang tangguh.

Ada beberapa hal yang menyebabkan karakter seseorang itu menjadi gampang berubah, walaupun misalkan ibadah orang tersebut sangat baik, hubungan dengan sesama manusia juga baik, tetapi sering kali orang tersebut merasakan dirinya sangat lemah. Orang itu merasakan bahwa dirinya sangat lemah (tidak kuat) menghadapi suatu perubahan. Jika situasi sosial berubah, maka dirinya juga menjadi terpengaruh akan perubahan tersebut. Bahkan, perubahan cuaca pun kadang ikut mempengaruhi orang tersebut.

Ada lima karakter yang pada umumnya sering mempengaruhi pandangan hidup manusia, yaitu: karena rasa bersalah, rasa dendam, rasa takut, materi, dan pengakuan diri.

Pertama, seseorang berubah karena rasa bersalahnya (terpengaruh oleh rasa bersalahnya).

Ciri-cirinya adalah: jika ia telah melakukan dosa, apalagi dosa yang dilakukannya itu adalah dosa besar, maka ia seperti dikejar dan dihantui oleh perasaan bersalahnya. Perasaan berdosa ini biasanya membuat seseorang dalam bertindak menjadi sangat kaku, bahkan hidupnya cenderung pasrah, tidak ada semangat, dan tidak ada kreativitas.

Jangan pernah memandang enteng dosa, karena dosa bisa membuat seseorang itu menjadi tidak produktif, tidak kreatif, jalan pikirannya buntu, dan kehilangan semangat hidup. Karena itu, semua perbuatan dosa dilarang oleh Allah. Dosa itu bisa dipahami melalui pikiran, melalui kata hati, dan melalui firman Tuhan dan hadits Rasulullah. Walaupun kita tidak pernah membaca Al-Qur’an atau Hadits sekalipun, tetapi kita tetap bisa tahu bahwa apa yang kita lakukan itu bertentangan dengan nilai kebenaran. Misalkan perbuatan zina, mencuri, ataupun membunuh, tanpa kita membaca ayat Al-Qur’an pun, kita bisa mengetahui bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak benar. Sehingga, jika perbuatan dosa tersebut kita lakukan, maka pasti ada sesuatu yang salah di dalam diri kita. Perasaan bersalah ini tak mungkin akan hilang jika tanpa adanya penyadaran diri (taubat). Dosa tidak akan membuat seseorang itu produktif di dalam perjalanan hidupnya.

Kedua, seseorang berubah karena rasa dendamnya. Rasa dendamnya itu mempengaruhinya dalam setiap mengampil keputusan ataupun kesimpulan.

Orang seperti ini ciri-cirinya adalah nekat. Ia selalu melihat objek yang didendaminya itu seperti iblis. Dia pernah sakit hati terhadap sesuatu, karena itu ia dendam. Terhadap orang yang didendaminya itu, kiranya tak ada positifnya sekalipun. Maka kehidupan yang dilaluinya selalu penuh dengan benci, marah, dan dendam. Orang seperti ini takkan pernah bisa produktif. Jika ada orang yang bekerja karena dimotivasi oleh dendam, yakinlah maka rekan kerjanya akan gerah, apalagi malaikat.

Jangan pernah kita didikte atau mengambil suatu keputusan karena dimotivasi oleh perasaan dendam. Dendam ini dilarang oleh Allah, karena dendam itulah nantinya yang akan membakar energi orang tersebut. Ia akan loyo, akan jatuh sakit, dan juga akan hilang segala-galanya. Mengapa? Karena dendam di dalam dirinya itulah yang membuat orang tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.

Bagi orang yang menyimpan rasa dendam yang sangat mendalam, maka segala yang dilakukannya sehari-hari selalu tidak enak, seakan-akan setiap saat selalu penuh dengan wajah orang yang didendaminya itu. Bahkan mungkin ketika ia tidur dan bermimpi. Bahayanya, jika seseorang yang mengambil kesimpulan dan keputusan karena dimotivasi oleh dendam, maka kesimpulan dan keputusan yang dihasilkan tersebut akan sangat riskan.

Orang seperti ini biasanya agresif, dan menganggap orang yang didendaminya itu seperti setan. Ia anarkis dan destruktif. Jika konstruktif adalah bersifat permanen dan positif, maka destruktif lebih cenderung goyah dan meruntuhkan (menghancurkan). Karena itu, jangan pernah kita didikte di dalam mengambil suatu keputusan dengan perasaan dendam. Akibatnya bukan hanya kita yang merasakannya, bahkan keluarga dan orang yang ada di sekitar kita akan merasakan dampaknya.

Ketiga, dipengaruhi oleh rasa takut. Apapun keputusannya, selalu dipengaruhi oleh rasa takutnya.

Orang seperti ini biasanya penakut, misalkan takut terhadap hujan lebat sehingga badannya akan bergetar, bukan karena kedinginan, tetapi karena takut. Mendengar halilintar ia menjadi takut. Mendengarkan orang berteriak saja, maka jantungnya akan berdebar-debar. Orang seperti ini biasanya pernah mengalami trauma, dan traumanya itu tidak terselesaikan. Sehingga di dalam bertindak, ia akan selalu dipengaruhi oleh rasa takutnya itu. Orang seperti ini cenderung menjadi statis, tidak mau mengambil resiko, yang akhirnya orang ini menjadi kerdil. Orang seperti ini juga biasanya sering keliru dalam mengambil suatu tindakan. Jika kita terlalu didikte oleh perasaan takut, maka kita tidak bisa berbuat secara normal.

Keempat, terpengaruh karena materi atau kedudukan atau pangkatnya.

Orang seperti ini biasanya kelihatan egois. Sepertinya hanya dialah yang paling hebat. Tindakan-tindakan seperti ini cenderung juga menimbulkan kerugian terhadap dirinya sendiri, bahkan juga terhadap orang lain. Karena itu, jika kita mendapakan rezeki dari Allah, baik itu berupa materi (harta) atau dalam bentuk jabatan (kedudukan), maka jangan sampai materi dan jabatan tersebut membuat kita terpengaruh dalam mengambil suatu tindakan.

Ciri-ciri orang yang seperti ini, yaitu tidak ada lagi orang yang mampu mengerem pembicaraannya. Juga terlihat di dalam perbuatannya, seakan-akan dialah yang paling hebat. Selain itu juga dalam bentuk kebijakan, misalkan bahwa kebijakannya itu selalu diarahkan pada dirinya sendiri. Orang seperti ini cenderung tidak demokratis. Orang seperti ini biasanya menempuh kehidupan yang serba gampang, tidak ingin repot, dan kurang hati-hati. Mengapa? Karena kekuasaan ada di tangannya, yang ini bisa merugikan dirinya dan juga orang lain.

Kelima, terpengaruh karena pengakuan atas dirinya sendiri (aktualisasi diri).

Karena ingin mengaktualisasi dirinya tersebut di dalam masyarakat, sehingga ia tak pernah mempedulikan seberapa besarpun pengorbanan yang telah dan akan ia berikan, demi popularitas, yang penting dirinya terkenal.

Kelima karakter ini tidak sejalan dengan tuntunan di dalam Agama Islam. Misalkan orang yang bekerja dengan penuh rasa berdosa, maka ia akan seperti orang yang linglung, tidak pernah fokus, tak pernah ada semangat di dalam bekerja, karena ada kerusakan di dalam sistem batinnya. Karena itu, kita dilarang untuk melakukan perbuatan dosa. Semakin banyak dosa yang kita lakukan, maka kita akan semakin tidak fokus, karena ada kerusakan di dalam sistem batin kita. Sebaliknya, jika tidak ada salah yang kita lakukan, sekalipun pangkat kita rendah, sekalipun kita rakyat biasa, tetapi tetap ada keberanian pada diri kita. Bagi orang yang tidak pernah bersalah, ia berani karena ia benar, dan ia takut karena ia salah.

Begitu juga dengan rasa takut. Rasa takut itu pasti akan mengganggu kehidupan seseorang. Ada saatnya kita takut dan ada saatnya kita berani. Kapankah kita takut? Di dalam Bahasa Arab, jika “khasya” adalah takut kepada Allah, sedangkan “khawfun” adalah takut kepada makhluk Allah. Seseorang itu lebih tepat untuk khasya dibandingkan khawfun. Ketakutan kita kepada Allah itu harus lebih dominan dibandingkan ketakutan kita kepada hantu atau syaitan. Ketakutan kita kepada Allah itu harus lebih dominan dibandingkan ketakutan akan terbongkarnya aib kita di dalam masyarakat. Ketika ada aib pada diri kita, kita lebih takut aib tersebut diketahui oleh orang lain dibandingkan kita takut kepada Allah.

Selain lima karakter tersebut di atas, maka ada karakter yang keenam, yaitu orang yang dipengaruhi oleh nilai-nilai keagamaan. Inilah yang kita harapkan. Sehingga nilai keagamaan tersebut akan mewarnai kehidupan kita.

Jadi ada lima hal yang jangan sampai menjangkiti diri kita seperti tersebut di atas, yaitu rasa bersalah, dendam, takut, materi, dan aktualisasi diri yang berlebihan. Untuk mengobatinya adalah dengan cara kita harus kembali kepada Agama Islam sebagai pandangan hidup kita (way of life). [N4viY]

13 Juni 2008 at 1:12 PM 1 komentar

Tips Menjadi Orang yang Paling Bahagia

TIPS MENJADI ORANG YANG PALING BAHAGIA

Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar M.A.

pada tanggal 25 Februari 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Kita tidak meragukan, bahwa semua orang pernah merasakan kebahagiaan. Tetapi pertanyaannya: Bagaimanakah merasakan kebahagiaan itu lebih lama di dalam diri kita? Apa kiat-kiatnya agar kita bisa mempertahankan perasaan bahagia tersebut?

Mempertahankan rasa kebahagiaan memang tidak gampang. Ada orang yang bekerja keras, namun yang ia dapat bukan kebahagiaan dan ketenangan, melainkan kekeringan hidup. Ini merupakan pertanda, bahwa tidak secara otomatis orang yang bekerja keras akan mendapatkan kebahagiaan. Ada orang yang kehidupannya terlihat sangat santai, tetapi justru pada saat yang bersamaan, rasa bahagia itu langgeng di dalam dirinya.

Jadi, kebahagiaan tidak diukur dengan banyaknya materi yang kita kumpulkan, sehatnya badan kita, ataupun shalehnya keturunan-keturunan kita. Tetapi sesungguhnya, kebahagiaan dan kesejahteraan yang paling puncak adalah ketenangan jiwa kita.

Ada beberapa tips yang dihimpun para ulama setelah memperdalami Al-Qur’an dan Hadits. Tips menjadi orang yang paling bahagia tersebut adalah:

Pertama, keimanan menghapuskan keresahan.

Tidak ada kebahagiaan tanpa iman yang kuat. Tanpa keimanan, orang-orang yang tidak memiliki prinsip keyakinan di dalam jiwanya hanya akan mencapai kamuflase kehidupan. Sehingga, yang bisa menancapkan kebahagiaan di dalam diri kita adalah keimanan. Keimanan seperti apakah yang dimaksud tersebut?

Keimanan menghapuskan keresahan dan melenyapkan kegundahan. Keimanan adalah kesenangan yang diburu oleh orang-orang yang bertauhid dan hiburan bagi orang-orang yang ahli ibadah. Tauhid dan ibadah itu muaranya adalah kebahagiaan dan ketenangan. Pertanyaannya: Bagaimana mewujudkan keimanan yang bisa mengundang kebahagiaan? Bagaimana melakukan ibadah yang bisa menghasilkan ketenangan?

Keimanan memang kepada Allah SWT. Ibadah memang semata-mata untuk Allah, tidak dimaksudkan untuk untuk membahagiakan diri kita sendiri. Maksudnya, kita beribadah bukan karena ingin bahagia. Orang yang beriman dan beribadah karena mendambakan suatu kebahagiaan dan ketenangan, maka seolah-olah kebahagiaan dan ketenangan tersebut merupakan tuhan keduanya selain Allah SWT.

Iman dan ibadah itu tujuannya kepada Allah SWT, akan tetapi dampak dari keimanan dan ibadah tersebut adalah ketenangan. Bukan tujuan kita beriman dan beribadah supaya kita bahagia dan hidup tenang. Jika kita beriman dan beribadah hanya untuk mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan, berarti kita telah merendahkan posisi ibadah kita (misalkan shalat) hanya menjadi meditasi. Tujuan dari meditasi adalah untuk mencapai ketenangan batin, dan juga kebahagiaan rohani. Bagi Umat Islam, tujuan kita beribadah bukanlah untuk memperoleh ketenangan batin, melainkan ketenangan batin itu hanya sebagai akibat, bukanlah merupakan suatu tujuan.

Jika ada orang beribadah hanya untuk memperoleh ketenangan duniawi dan juga ketenangan batin, maka belumlah ia dapat disebut sebagai seorang mukhlishin (orang yang ikhlash).

Orang yang beriman dan beribadah hanya dengan tujuan kebahagiaan, maka dia pasti akan memperoleh kebahagiaan serta ketenangan tersebut. Tetapi, kebahagiaan dan ketenangan yang ia dapatkan itu tidaklah permanen. Yang bisa mempermanenkan kebahagiaan dan ketenangan tersebut adalah ibadah yang lillahi ta’ala.

Seringkali kita putus asa, misalkan kita sudah sering Shalat Tahajjud dan Puasa Sunnat, tetapi mengapa hati kita tak pernah bisa tenteram, serta tak pernah merasakan bahagia? Hal ini karena ibadah yang telah dilakukan tersebut hanya bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan dan ketenangan batin, bukan untuk memperoleh ridha Allah SWT.

Kita bukan menyembah ketenangan batin, karena tujuan kita beribadah bukanlah untuk mendapatkan ketenangan batin tersebut. Tujuan kita beribadah adalah untuk memohon ridha Allah SWT. Adapun nantinya setelah melakukan ibadah tersebut kita kemudian mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan, maka itu merupakan bonus dari penghambaan diri kita kepada Allah SWT. Kita jangan pernah kecewa jika setelah beribadah ternyata kebahagiaan dan ketenangan tersebut tidak pernah muncul di dalam hati kita.

Apakah yang menyebabkan kebahagiaan tersebut? Kita mungkin bisa mengatakan, ibadah. Tetapi, ibadah yang sangat intensif dan berkualitas itu sebenarnya dipicu oleh ketenangan batin. Misalkan, jika kita sedang mengalami stress, cemas, takut, atau sedang sakit, apakah kita bisa beribadah dengan baik? Apakah ada ketenangan dalam beribadah tersebut? Jawabannya, tidak ada. Jadi, kedua-duanya adalah saling tunjang-menunjang. Ibadah yang baik akan melahirkan ketenangan batin. Ketenangan batin akan melahirkan kualitas ibadah yang baik.

Dalam hal ini, yang patut diperhatikan adalah permulaan niat kita (innamal a’malu bin-niat), yaitu: Innash-shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin, bukanlah li tatma innil qulub (untuk ketenangan jiwa).

Jika ada orang yang beribadah hanya bertujuan untuk ketenangan batinnya, maka ia telah menurunkan kualitas ibadahnya menjadi seperti meditasi. Sedangkan meditasi bisa dilakukan oleh orang yang tidak bertuhan sekalipun. Yang penting, ketika meditasi tersebut ia bisa memfokuskan perhatiannya, misalkan dengan membayang-bayangkan suatu tempat yang indah dan tenang. Ketika bermeditasi, orang tersebut bagaikan sedang “fly” setelah minum obat penenang ataupun mengkonsumsi narkotika. Sehingga, jika efek dari obat tersebut habis, maka kembali ia mengalami ketidaktenangan.

Jadi, tips untuk menjadi orang yang paling bahagia adalah: beriman dan beribadah semata-mata hanya karena Allah SWT. Bukanlah tujuan kita untuk memperoleh kebahagiaan, ketenangan, serta ketenteraman batin, melainkan semua itu hanyalah efek samping dari penyembahan (ibadah) kita kepada Tuhan. Akan tetapi, Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Adil.

Kebahagiaan yang diperoleh karena sebelumnya memang diniatkan sebagai suatu tujuan, dibandingkan dengan kebahagiaan yang diperoleh karena sebelumnya diniatkan hanya karena Allah SWT, maka kebahagiaan yang pertama tidak permanen, sedangkan kebahagiaan yang kedua adalah permanen. Pada yang kedua tersebut (yang diniatkan karena Allah SWT), bahkan kita akan merasakan suatu ketenangan walaupun ibadah tersebut dilakukan ketika sedang sakit. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena ibadah yang kita lakukan hanyalah karena Allah SWT.

Ubahlah paradigma kita! Jika selama ini kita mungkin pernah mendengar para penceramah yang mengatakan: ala bi dzikrillah tatmainnil qulub (ketahuilah, bahwa dengan mengingat Allah, maka kita akan mendapatkan ketenangan batin). Sehingga muncullah di pikiran kita, bahwa untuk mendapatkan ketenangan batin, maka kita harus menyembah Tuhan. Hal tersebut tentunya salah.

Janganlah motivasi ketenangan batin tersebut yang membuat kita beribadah kepada Allah SWT, melainkan kita beribadah adalah untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Ridha Allah itulah nantinya yang akan melahirkan kebahagiaan yang permanen. Tanpa ridha dari Allah, maka kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang permanen tersebut.

Jika selama ini kebahagiaan itu tidak permanen, mungkin karena motivasi kita beriman dan beribadah bukanlah untuk mendapatkan ridha-Nya, melainkan kita terlalu egois. Belum apa-apa, kita sudah mengharapkan kebahagiaan dan ketenangan batin. Shalat Tahajjud yang rakaatnya panjang-panjang, serta puasa dan ibadah-ibadah lainnya, dilakukan dengan diboboti pamrih-pamrih yang sangat individual. Jadi, mana untuk Tuhan? Semuanya hanya untuk dirinya sendiri. Pura-pura saja sujud, pura-pura saja rakaat shalatnya banyak, tapi tujuannya bukan untuk Allah, melainkan hanya untuk egoisme dirinya sendiri. Padahal, aqimish-shalata li dzikri (dirikanlah shalat untuk menghayati dan mengingat Aku).

Seharusnya Shalat Tahajjud tersebut diniatkan untuk memberikan sesuatu yang terbaik dan terindah kepada Tuhan. “Inilah kadoku kepada-Mu ya Allah, sebagai tanda syukur terima kasihku kepada-Mu. Kuberikan ibadahku yang sangat tulus kepada-Mu, tanpa diembel-embeli oleh tujuan-tujuan jangka pendekku.” Kalau perlu tanpa berdo’a, karena Tuhan Maha Tahu. Dia lebih tahu apa yang kita inginkan. Yang penting, munajatnya yang paling panjang, bukan doanya. Selama ini mungkin kita tak pernah bermunajat, yang ada adalah doa, yaitu daftar keinginan.

Kedua, karena adanya keimanan dan keyakinan yang sangat kuat tersebut, maka tingkat tawakkal kita menjadi bertambah.

Semakin ma’rifat kita menjadi klop, maka semakin keimanan kita itu mencapai sasaran. Semakin ibadah kita hanya bertujuan untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT, maka perasaan pasrah diri (tawakkal) pasti akan terwujud di dalam diri kita.

Jika perasaan tawakkal itu muncul, maka yang lalu telah berlalu, dan yang telah pergi biarlah pergi. Biarkanlah masa lampau itu berlalu, dan juga jangan membebani kita lagi. Karena kita yakin bahwa Allah itu Maha Ada, Maha Adil, dan Maha Kuasa, maka kita serahkan diri kita kepada-Nya. Orang yang sudah beriman seperti ini, itulah orang yang telah mencapai ma’rifah yang sesungguhnya.

Jangan dipikirkan yang telah berlalu, karena telah pergi dan telah selesai. Orang yang selalu terbebani masa lampaunya, berarti ia telah meragukan Allah sebagai Maha Pemaaf. “Fa iza ‘azamta fa tawakkal ala-llah”. Setelah kita melakukan yang perfect dan terbaik untuk Allah, maka kemudian ber-tawakkal-lah kita kepada Allah. Tetapi jika kita telah melakukan dosa yang begitu banyak, lalu kemudian kita ber-tawakkal kepada Allah tanpa sebelumnya didahului dengan bertaubat, maka itu bukanlah disebut menyembah Tuhan, melainkan sebaliknya, yaitu mengejek dan menghina Tuhan.

Kalau sudah seperti itu, maka akan muncul sikap penerimaan Qadha’. “Qadha’” adalah garis tangan. Karena garis tangan kita memang sudah seperti ini, maka mau diapakan lagi. Kita sudah berusaha, tapi tetap saja seperti ini. Namun, jika kita tak pernah berusaha, namun berpasrah saja dengan garis tangannya itu, maka ini bukanlah dinamakan garis tangan, melainkan kemalasan.

Yakinlah, bahwa doa dan ibadah akan mampu mengubah takdir. Misalkan tertulis di Lauhul Mahfudz, bahwa hari ini kita akan mati. Kemudian lewat dari waktu kematian tersebut, ternyata kita tidak mati. Apakah ini berarti bahwa Lauhul Mahfudz tersebut salah? Jawabannya, Lauhul Mahfudz tidaklah salah. Karena di atas Lauhul Mahfudz masih ada Allah SWT. Malaikat hanya bisa mengetahui sampai Lauhul Mahfudz, tetapi tidak ada yang bisa memahami isi dari pengetahuan Tuhan.

Misalkan pada sebuah doa disebutkan: “Allahumma thawwil umurana (Ya Allah, panjangkanlah umur kami!)” Berkaitan dengan doa tersebut, bukankah telah ditetapkan di Lauhul Mahfudz, bahwa kita lahir pada tanggal sekian bulan sekian, kemudian akan wafat pada tanggal sekian bulan sekian. Yang ada di Lauhul Mahfudz itu adalah catatan formal, sedangkan catatan de facto-nya hanyalah Allah yang tahu.

Terimalah qadha’ yang telah pasti dan rizki yang telah dibagi itu dengan hati yang terbuka. Segala sesuatu itu ada ukurannya. Karena itu, enyahkanlah kegelisahan.

Jika kita sudah bersusah payah mencari rizki, tetapi kemudian rizki yang didapatkan hanya itu saja, maka mungkin itulah yang terbaik untuk kita. Memang sedikit, tapi itulah intinya berkah yang kita dapatkan. Untuk apa kita mendapatkan banyak, tapi tanpa berkah. Mana yang lebih baik, sedikit tapi berkah, atau banyak tapi tidak berkah? Maunya kita, yaitu banyak tapi berkah. Seandainya ada pilihan, sedikit tapi berkah, atau banyak tapi tidak berkah? Tentunya kita akan memilih sedikit tapi berkah. Buat apa banyak tapi tidak berkah, kalau kemudian kita dimasukkan ke penjara.

Berikutnya, bahwa dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenteram, dosa akan diabaikan, Allah akan menjadi ridha, dan tekanan hidup akan terasa ringan.

Orang yang selalu merasakan beban hidupnya menjadi semakin berat, maka orang tersebut adalah orang yang tidak ikhlas. Orang yang ikhlas tidak akan pernah merasakan kelebihan beban di dalam hidupnya. Mengapa? Karena ia akan mengembalikan semuanya kepada Allah. Orang yang selalu merasakan kelelahan di dalam hidupnya juga merupakan gejala tidak ikhlas. Sepertinya ia tidak ikhlas menjadi hamba di muka bumi ini. Sepertinya ia tidak ikhlas menjadi khalifah di atas dunia ini.

Berikutnya, janganlah kita menanti ucapan terima kasih dari sesama. Jika ada orang yang berbuat sesuatu dan kemudian menanti terima kasih, itu pasti ia tidak ikhlas. Melelahkan hidup seperti itu. Cukuplah pahala dari zat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Tak ada yang harus kita lakukan terhadap orang yang iri dan dengki kepada kita. Biarkan orang tersebut sibuk sendiri. Jangan kita layani orang-orang yang dengki dan iri terhadap kita tersebut. Yang penting, hidup kita lurus (shiratal mustaqim), jalan terus kita menuju Allah, biarkanlah orang tersebut berurusan dengan-Nya. [Hans]

8 Juni 2008 at 1:17 PM 12 komentar


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 410,699 hits
Mei 2017
S S R K J S M
« Jun    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: