Posts tagged ‘Melayu’

Raja Ali Haji, Muqaddimah Kitab “Bustân al-Kâtibîn”

lukisan ilustrasi_Raja Ali Haji

Adapun kelebihan ilmu wal kalam amat besar sehingganya mengata setengah hukama, segala pekerjaan pedang boleh diperbuat dengan qalam. Adapun pekerjaan-pekerjaan qalam tiada boleh diperbuat dengan pedang, maka ini ibarat yang terlebih sangat nyatanya. Dan beberapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, dengan seguris qalam jadi tersarung, terkadang jadi tertangkap dan terikat dengan pedang sekali.

[Muqaddimah Kitab “Bustân al-Kâtibîn” (Taman Para Penulis), Penulis: Raja Ali Haji ibnu Raja Ahmad ibnu Raja Haji Fisabilillah ibnu Opu Daeng Celak]

Iklan

14 Juni 2015 at 7:45 AM Tinggalkan komentar

Milad CBMKB ke Empat Dirangkai dengan Pelatihan

banner cbmkb_1_2

Pada Januari 2015 ini Grup Facebook Cinte Bahase Melayu KALBAR (CBMKB) menyelenggarakan Milad-nya yang ke-4 tahun. Grup yang mempunyai tagline “1Melayu, 1Borneo, 1Cite-Cite” ini mulai mewujud di dunia maya pada hari Ahad, 4 Shafar 1432 Hijriyyah, bertepatan dengan 9 Januari 2011 Miladiyyah. Mengikutkan Almanak Masehi/Miladiyyah, maka pada 9 Januari 2015 Miladiyyah grup yang akrab disebut dengan singkatan CBMKB ini genap berusia 4 (empat) tahun.
(lebih…)

6 Januari 2015 at 8:58 PM Tinggalkan komentar

Tengku Amir Hamzah, Muqaddimah SMLR

sastra-melayu-dan-raja-rajanya

SEMOGA
Kitab kecilku ini,
Sebagai selampai melambai, (lebih…)

19 Oktober 2014 at 12:44 PM Tinggalkan komentar

Kembali Mendedahkan Bahasa Kita

Bahasa Melayu Bahasa Dunia_edit

Perjumpaan berbagai macam arus budaya yang kemudian berpusar pada dinamika masyarakat yang ada di dalamnya mau tak mau suka tak suka merupakan suatu keniscayaan. Pusaran budaya tersebut lebih dahsyatnya kemudian menjelma riak gelombang yang lambat laun mewujud ombak nan besar yang menghantam-hantam budaya di sekitarnya yang tak lain merupakan budaya pembentuknya. Ada beberapa kemungkinan yang bakal terjadi: budaya yang dihantam dilibas itu tetap berdiri namun terhuyung-huyung, budaya yang dihantam itu hancur berkeping-keping, budaya yang dihantam itu lebur ke dalam gelombang besar. Atau mungkin juga menjadi seperti pasir yang dihantam gelombang, yang terhempas ke tepian, yang butiran-butirannya bertabur-biaran terserak dilamun ombak nan garang, kemudian di suatu masa butiran-butiran pasir yang tercerai-berai itu berkumpul kembali ke tepian menjadi pantai nan indah selaksa pesona.
(lebih…)

26 Februari 2014 at 1:26 AM Tinggalkan komentar

Lingkungan Taat Beragama

Di sebuah kampong bernama Kampong Tambelan (Kelurahan Tambelan Sampit, dalam ucapan orang Pontianak, “Sampit” diucapkan “Sampet“), di sinilah aku dilahirkan dan dibesarkan. Sebagian masyarakat Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat mengenal kampong yang satu ini sebagai kampong yang Islami atau kampong yang religius. Kampongku ini pas terletak di pesisir Sungai Kapuas. Karena masih berada di dekat dan di sekitar kawasan Kesultanan Pontianak yang berada di Kecamatan Pontianak Timur, maka adat resam budaya Melayu juga masih sangat kental di kampongku ini.
(lebih…)

14 Februari 2010 at 12:42 PM 10 komentar

Andaikan Setiap Hari adalah ‘Asyura

Hari ‘Asyura, mungkin banyak yang tahu tentang hari yang bersejarah ini, dan mungkin juga banyak yang tidak tahu hari yang satu ini. Hari apa tuh ‘Asyura? Setelah Senin, sebelum Jum’at, atau antara Kamis dan Minggu? Atau salah satu nama hari dari tujuh hari yang kita kenal? Dari Bahasa apa tuh ‘Asyura, kok aneh banget?

Tapi mudah-mudahan anda sekalian adalah orang yang tahu mengenai Hari ‘Asyura.

(lebih…)

7 Januari 2009 at 2:22 PM 1 komentar

Membaca dari Belakang

Ini adalah pengalaman paling pribadi dari diriku, yaitu membaca dari halaman belakang (halaman akhir), berlawanan dengan kebiasaan kita selama in, yaitu membaca dari halaman depan (halaman awal). Aneh mungkin, tapi kau cobalah kawan membaca seperti ini, niscaya kau akan mendapatkan sensasi yang lain daripada biasanya. Oh ya, untuk sementara ini mungkin hanya cocok digunakan untuk membaca novel, untuk bacaan yang lainnya aku belum pernah mencobanya.

Bayangkan, ketika membaca novel, maka kau mengetahui terlebih dahulu endingnya, setelah itu beranjak lembar demi lembar kau akan mengetahui cerita awalnya. Inilah sensasinya menurutku. Si pengarang novel mungkin menyusun cerita novel itu dengan logikanya sendiri yang itu sangat khas bagi setiap penulis. Maka kita selaku pembacanya tidak harus mengikuti logika penulis novel tersebut. Ketika novel tersebut sudah berada di tangan kita sebagai pembacanya, maka kita bebas sebebas-bebasnya untuk mengapresiasi novel tersebut.

Inilah membaca jungkir balik, awal menjadi akhir, akhir menjadi awal. Atau, awal tetap awal, akhir tetap akhir, tapi kita membaca akhirnya terlebih dahulu, sedangkan awalnya akan kita baca paling akhir. Jika si pengarang novel mempunyai logikanya sendiri dalam menulis jalinan ceritanya, maka tak ada salahnya kita juga memiliki logika tersendiri, serta cara tersendiri dalam membaca karya si penulis novel tersebut.

Sudah saatnya jangan lagi kita mau mengikuti logika para penulis novel tersebut. Sudah saatnya jangan lagi kita mau terjerumus oleh cara pandang si penulis novel terhadap cerita yang ia buat itu. Pembaca memiliki logikanya sendiri, memiliki kemerdekaannya sendiri, memiliki cara tersendiri, ….

Inilah revolusi para pembaca, inilah perlawanan para pembaca, …

“Edan,” kata temanku.

Lalu kujawab, “Tak ada yang lebih edan daripada para penulis cerita itu, kawan. Coba kau pikir, adakah orang yang lebih edan dibandingkan dengan orang yang mengkonstruksi suatu cerita hingga panjangnya beratus-ratus halaman banyaknya. Kemudian yang lebih edan lagi adalah kita, karena sudah mau mengikuti logika para penulis itu hanya untuk mengetahui ending ceritanya seperti apa, jalinan ceritanya seperti apa. Karena itu, agar kita tak terjerumus dengan logika para penulis itu, alangkah lebih baiknya kita membaca endingnya terlebih dahulu. Jika endingnya bagus, maka kita lanjutkanlah membaca karyanya itu. Tapi kalau endingnya jelek, maka tak ada salahnya kita memutuskan untuk tidak membaca novel tersebut. Selesai, kan?”

Dengan wajah seperti dilipat-lipat, temanku merenggut, “Sungguh edan, alias sableng bin gendeng kau itu,” kemudian temanku itupun berlalu dari hadapanku. Sedangkan aku tertawa terkekeh-kekeh melihat wajah temanku yang seperti kertas habis diremas-remas itu, atau mungkin seperti baju yang tak pernah disetrika, kalau orang Melayu Pontianak menyebutnya “ronyok“, kalau orang Jakarta mungkin menyebutnya “kucel“. Tahu kan kau yang kumaksud ini, kawan? []

Ciputat, Minggu – 29 Juni 2008 17.07 – 17.32 WIB

12 Desember 2008 at 11:33 AM 1 komentar

Pos-pos Lebih Lama


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 431,510 hits
November 2017
S S R K J S M
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • Pernah dengar khutbah Shalat Juma'at. Sepanjang khutbahnya bercerita tentang satu mitologi Yunani Kuno. Awak kira tu khatib salah tempat lah 2 hours ago
  • Tak terlalu suka jika khutbah Shalat Juma'at tu isinya apa2 yg lagi diriuh2kan di media massa. Nampak kali khatibnya tu terbawa2 opini media 2 hours ago
  • Nama akun Twitter-nya pakai nama salah satu negeri di Borneo Barat, tapi isi twit-nya tak ada satu pun yg berkenaan dgn negeri yg dimaksud. 3 hours ago
  • Retweeted I Love Papua (@love_papua): “Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun ada... fb.me/AM1Pi1yJ 1 week ago
  • RT @love_papua: “Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun ada orang yang memiliki kepandaian tinggi, akal budi, da… 1 week ago

%d blogger menyukai ini: