Posts filed under ‘Kebudayaan’

Milad CBMKB ke Empat Dirangkai dengan Pelatihan

banner cbmkb_1_2

Pada Januari 2015 ini Grup Facebook Cinte Bahase Melayu KALBAR (CBMKB) menyelenggarakan Milad-nya yang ke-4 tahun. Grup yang mempunyai tagline “1Melayu, 1Borneo, 1Cite-Cite” ini mulai mewujud di dunia maya pada hari Ahad, 4 Shafar 1432 Hijriyyah, bertepatan dengan 9 Januari 2011 Miladiyyah. Mengikutkan Almanak Masehi/Miladiyyah, maka pada 9 Januari 2015 Miladiyyah grup yang akrab disebut dengan singkatan CBMKB ini genap berusia 4 (empat) tahun.
(lebih…)

6 Januari 2015 at 8:58 PM Tinggalkan komentar

Kembali Mendedahkan Bahasa Kita

Bahasa Melayu Bahasa Dunia_edit

Perjumpaan berbagai macam arus budaya yang kemudian berpusar pada dinamika masyarakat yang ada di dalamnya mau tak mau suka tak suka merupakan suatu keniscayaan. Pusaran budaya tersebut lebih dahsyatnya kemudian menjelma riak gelombang yang lambat laun mewujud ombak nan besar yang menghantam-hantam budaya di sekitarnya yang tak lain merupakan budaya pembentuknya. Ada beberapa kemungkinan yang bakal terjadi: budaya yang dihantam dilibas itu tetap berdiri namun terhuyung-huyung, budaya yang dihantam itu hancur berkeping-keping, budaya yang dihantam itu lebur ke dalam gelombang besar. Atau mungkin juga menjadi seperti pasir yang dihantam gelombang, yang terhempas ke tepian, yang butiran-butirannya bertabur-biaran terserak dilamun ombak nan garang, kemudian di suatu masa butiran-butiran pasir yang tercerai-berai itu berkumpul kembali ke tepian menjadi pantai nan indah selaksa pesona.
(lebih…)

26 Februari 2014 at 1:26 AM Tinggalkan komentar

Musik, Sastra, dan Aku

MUSIK, SASTRA, DAN AKU

Oleh: Hanafi Mohan

Dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga pencinta seni, meniscayakan aku untuk mencintai bidang ini. Lain lagi kota kelahiranku memang kota yang berada di bawah naungan keagungan adat resam budaya Melayu yang begitu kental. Sedari kecil, kami anak-anak Melayu memang sudah berakrab-akraban dengan dunia seni. Kami begitu mencintai seni dan budaya Melayu sebagaimana kami mencintai orang tua kami dan tanah tumpah darah kami, Bumi Khatulistiwa Bertuah, Pontianak.

Sebagai anak-anak yang dibesarkan dalam nilai-nilai kebudayaan yang begitu agung, kami tak hanya menjadi penonton di daerah kami, melainkan kami menjadi duta-duta budaya yang diandalkan untuk melestarikan seni budaya kami, memperkenalkannya, dan menjadi pelaku terdepan untuk menjaga eksistensi seni budaya kami.

Allahyarham (Almarhum) Al-Mukarram Al-Ustadz H. Kasim Mohan, beliaulah guru kami yang akan selalu kami kenang sepanjang hayat. Beliau memiliki intuisi seni yang begitu tinggi, serta memiliki kepedulian yang begitu besar dalam menjaga eksistensi seni budaya Melayu Pontianak. Beliau adalah seorang ulama, mantan Kepala Kampung (Lurah), pejuang (veteran perang), serta juga seniman dan budayawan. Melalui tangan dinginnya, kami dididik dalam kemuliaan akhlak Islam dan keluhuran adat resam budaya Melayu.

Beliau mengajarkan kami lantunan syair, pantun, nazam, burdah, ghazal, dan zikir hadrah. Selain itu, keanggunan tarian redat hadrah yang dipadu-padankan dengan gerak tari jepin dan serampang dua belas, serta jurus-jurus silat Melayu yang rancak dan bersemangat juga diajarkannya kepada kami. Sekilas Tarian Redat Hadrah menyerupai Tari Saman dan Seudati dari Aceh. Keserupaan itu tak lebih karena tarian-tarian tersebut sama-sama berasal dari Alam Budaya Melayu.

Dari didikan beliau yang tak kenal lelah dan tak kenal henti sepanjang hayatnya, sehingga jadilah kami anak-anak Melayu yang begitu mencintai seni budaya, dari seni musik, tari, sastra, hingga silat. Selain sebagai guru seni kami, beliau juga adalah guru agama yang mencerahkan kami. Ilmu Tarikhul Islam, Khat Arab Melayu, dan Ulumul Hadits adalah ilmu yang diajarkannya kepada kami di Madrasah Diniyah Awaliyah Haruniyah-Pontianak. Selain sebagai guruku, beliau juga merupakan pamanku, abang tertua dari Almarhum Ayahku. Beliau merupakan seorang autodidak yang mengagumkan, sekaligus seorang multitalenta yang berdedikasi tinggi. Ia menguasai berbagai alat musik seperti gitar, bas tongkang (bas klasik), biola, akordion, halmanian (harmonium) dan beberapa instrumen perkusi seperti tar (rebana) dan gendang Melayu. Suaranya juga begitu merdu ketika bernyanyi dan membawakan syair Melayu, qasidah dan syair hadrah, burdah, barzanji, dan qira’ah Al-Qur’an.

Kota tempatku dilahirkan dan dibesarkan adalah kota pesisir yang begitu terbuka. Karena itu pulalah, Budaya Melayu menjadi budaya yang begitu terbuka, yang mampu menyerap nilai-nilai keagungan dari budaya luar. Di bidang seni musik, kami juga dengan mudah menyerap keindahan musik dari berbagai peradaban, baik itu timur ataupun barat. Kami menyenangi musik Senandung Melayu, dan di waktu yang bersamaan kami juga bisa menikmati Musik Rock yang menghentak, Jazz yang dinamis, Musik Arab yang bersemangat, Musik India yang memikat, Musik Latin yang menggoda, dan entah musik-musik apalagi, yang semuanya dengan mudah kami serap dan nikmati seperti halnya musik tradisi Melayu. Anak-anak muda di kotaku bisa dengan fasih memainkan komposisi melodi Yngwie JM, Joe Satriani, Steve Pay, Carlos Santana, dan Gary More, bahkan musik Rock Deep Purple, Queen, Scorpion, Halloween, Deep Leppard, Dream Theater, sefasih mereka memainkan lagu-lagu Melayu dari Maestro Melayu seperti Tan Sri P. Ramlee AMN, Said Effendi, Husein Bawafi, dan Ahmad Jaiz.

Sehingga wajar kemudian ketika di Jakarta, ketika bersentuhan dengan berbagai aliran musik, maka aku dengan mudah pula menyerap estetika dan keindahan musik-musik tersebut. Sebut saja seperti R&B, disko, rap, reggae, hip-hop, instrumental klasik seperti Mozart, Beethoven, Vivaldi, instrumental modern seperti Yanni, Bond, Kitaro, Kenny G, Richard Claydermen, Safri Duo, Vanessa Mae, Maksim, Dave Koz, dsb. Bukan hanya itu, aku juga memiliki ketertarikan tersendiri dengan musik tradisional Jawa dan Sunda ketika aktif di Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Andaikan aku bisa memainkan angklung, gamelan, gending, dsb.

Dan suatu waktu aku mendapatkan kesempatan memainkan gamelan (atau mungkin gending), hanya dengan adaptasi beberapa saat, aku langsung bisa lancar memainkan instrumen tradisional Jawa itu. Di saat yang lain, aku mendapatkan kesempatan emas memainkan instrumen Biola, Ukulele, dan Gitar Dayak. Dan lagi-lagi, hanya adaptasi sebentar, aku langsung bisa memainkan alat-alat musik tersebut.

Jika kuingat-ingat itu, barulah aku menyadari, bahwa anak Melayu di kotaku memang adalah anak-anak yang setiap hari mengalun di telinga mereka keindahan musik dari berbagai peradaban, sehingga anak-anak Melayu adalah para autodidak yang luar biasa dalam hal musik. Dan ini terbukti pada diriku. Dan jika kuingat lagi, aku dulu sudah bisa memainkan alat musik pukul tradisional Melayu, yaitu Tar (sejenis rebana) pada saat aku masih SD. Bahkan ketika SD pun aku sudah bisa memainkan instrumen petik seperti gitar. Ketika SMP aku sudah lancar memainkan recorder, harmonika, dan mulai bisa memainkan piano/organ/keyboards.

Sebegitu hebatnyakah diriku? Sebenarnya tidak juga. Dan memang tidak hebat-hebat amat. Karena yang hebat hanyalah Allah Swt. Manusia tak ada artinya di hadapan Kemahabesaran-Nya. Diri ini tak lebih hanyalah setitik noktah.

Aku tak lebih hanyalah penggemar seni, yang dengan menggemari seni seakan-akan diri ini semakin sadar akan Kemaha-indahan-Nya. Dan bukan suatu yang baru pula jika kini aku menjadi penggemar sastra, karena memang aku dilahirkan dan dibesarkan dalam naungan budaya dan tradisi yang menjunjung tinggi nilai-nilai sastra. Dari kecil aku sudah biasa mendengarkan, bahkan membacakan syair-syair Melayu yang begitu syahdu dan penuh dengan nilai-nilai. Pantun juga menjadi bagian tersendiri dalam masyarakat kami. Tradisi lisan juga di hidup di masyarakat kami, sehingga dari orang tua-orang tua kami, penuturan cerita-cerita kepahlawanan Melayu juga tak jarang kami dengar, juga cerita Hang Tuah, Musang Berjanggut, Nujum Pak Belalang, Pak Ngeng, Putri Junjung Buih, Putri Dara Hitam, Batu Belah Batu Betangkup, Raja Tan Unggal, dsb. Lain lagi sastra-sastra yang bernuansa religius seperti burdah dan barzanji yang sudah mengiringi kami dari kami dilahirkan sebagai anak Melayu, hingga kami besar dalam budaya agung tersebut. Seni dan Sastra adalah keseharian kami sebagai Bangsa Melayu, kami berbicara dengan dialek Melayu yang bersenandung, berpantun, dan bersyair.

Itulah sedikit celotehanku mengenai musik, sastra, dan aku. [Aan]

Ciputat, Sabtu-Minggu, 14-15 Juni 2008

16 Juni 2008 at 5:08 AM Tinggalkan komentar

Kota yang Dibelah oleh Sungai

KOTA YANG DIBELAH OLEH SUNGAI

Oleh: Hanafi Mohan

Eee … sampan laju, sampan laju daghi ile’ sampai ke ulu

Sungai Kapuas, sungguh panjang daghi dulo’ membelah kote


Eeee… tak disangke, tak disangke dulo’ utan menjadi kote

Ghamai pendudoknye, Pontianak name kotenye

Dua bait awal lagu daerah Pontianak yang berjudul “Ae’ Kapuas” ini menggambarkan Kota Pontianak yang begitu lekat dengan Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Pontianak adalah kota yang wilayahnya dipisahkan oleh Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak yang tak lain adalah anak sungai dari Sungai Kapuas. Sungai Kapuas Besar memisahkan Pontianak Barat dengan Pontianak Utara. Untuk menuju ke Pontianak Utara dari Pontianak Barat (atau sebaliknya) bisa secara langsung menggunakan feri penyeberangan sungai. Sungai Kapuas Kecil memisahkan Pontianak Selatan dengan Pontianak Timur dengan penghubungnya berupa jembatan yang dikenal dengan sebutan Jembatan Kapuas. Sungai Landak memisahkan Pontianak Utara dengan Pontianak Timur dengan penghubungnya berupa jembatan yang dikenal dengan sebutan Jembatan Landak. Sedangkan Pontianak Selatan menyatu satu daratan dengan Pontianak Barat. Pemisah kedua wilayah tersebut hanyalah sebuah parit yang disebut Parit Besar.

Dalam Bahasa Melayu, Pontianak artinya hantu kuntilanak. Penamaan ini sesuai dengan sejarah ketika berdirinya kota pesisir sungai ini dua abad yang silam. Konon ketika itu, pendiri kota ini yaitu Syarif Abdurrahman Al-Qadri, bersama-sama dengan rombongannya yang melakukan perjalanan dari Mempawah untuk mencari daerah baru yang akan dijadikan kerajaan sampai di wilayah utara Pontianak yang kemudian dikenal sebagai kawasan Batulayang. Ketika sampai di wilayah Batulayang inilah, rombongan Syarif Abdurrahman Al-Qadri yang melakukan perjalanan dengan menggunakan kapal tiba-tiba mendapat gangguan dari makhluk halus sejenis hantu kuntilanak. Berdasarkan petunjuk yang didapat, Syarif Abdurrahman Al-Qadri kemudian memerintahkan kepada rombongannya untuk bermalam di tempat itu, karena daerah yang akan dituju sudah semakin dekat. Berdasarkan petunjuk yang didapat juga, Syarif Abdurrahman memerintahkan kepada rombongannya untuk menembakkan meriam, yang selain untuk mengusir gangguan hantu kuntilanak, juga untuk menjadikan penanda jatuhnya peluru meriam itu sebagai tempat yang akan mereka bangun sebagai wilayah kesultanan.

Simpang tiga pertemuan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak adalah tempat jatuhnya peluru meriam yang ditembakkan oleh rombongan Syarif Abdurrahman. Kawasan Simpang Tiga itu kemudian dikenal dengan nama Kampung Beting yang termasuk di dalam wilayah Kelurahan Dalam Bugis. Di kawasan inilah untuk pertama kalinya didirikan bangunan berupa masjid di Kota Pontianak yang ketika itu masih hutan belantara. Masjid yang merupakan bangunan pertama di Kota Pontianak itu kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman. Tak jauh dari Masjid Jami’ Kesultanan Pontianak itu kemudian didirikan Istana Qadriah Kesultanan Pontianak. Hingga kini, kedua bangunan bersejarah di Kota Pontianak itu masih tetap kokoh berdiri.

Pontianak memang dikenal sebagai Kota Air. Dengan Sungai Kapuas dan Sungai Landak sebagai sungai yang membelah kota serta puluhan parit (kanal) yang bermuara ke kedua sungai tersebut. Sekilas seperti Kota Venezia di Italia, atau Kota Amsterdam di Belanda. Sungai dan Parit menjadi salah satu jalur transportasi terpenting di Kota Khatulistiwa ini. Dari sampan kayu yang berukuran kecil hingga kapal-kapal berukuran besar bisa melalui Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Dan ada lagi satu alat transportasi angkutan barang yang cukup unik, yaitu Bandong. Merupakan kapal kayu yang berbentuk seperti rumah, yang bisa memuat dan mengangkut barang dalam jumlah yang cukup besar. Bandong ini biasanya dipergunakan untuk mengangkut barang melalui sungai ke daerah-daerah yang berada di hulu Sungai Kapuas dan Sungai Landak, dan daerah pedalaman lainnya di Kalimantan Barat. Kapal, motor air, dan bandong, baik yang berlabuh di pinggir sungai maupun yang sedang berjalan menyusuri sungai akan sering kita temui jika kita sedang berada di pinggiran sungai, dan tentunya akan menjadi pemandangan yang begitu menarik Belum lagi sampan dan speed boat yang lalu-lalang membawa penumpang menyeberangi sungai. Juga kehidupan masyarakat pesisir sungai yang tak kalah menariknya. Semua hal itu menjadikan keunikan tersendiri bagi Kota Pontianak. Namun sayang, semua keunikan itu belum digarap dan dikelola dengan baik oleh pemerintahan daerah setempat dan pihak-pihak lain yang terkait sehingga bisa menjadi wisata air yang akan menarik para wisatawan berkunjung ke Kota Khatulistiwa ini.

Pontianak adalah kesultanan terakhir yang didirikan di Provinsi Kalimantan Barat di masa lalu. Pontianak didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri yang sekaligus menjadi Sultan pertama di Kesultanan Pontianak ketika itu. Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri adalah putera seorang ulama terkenal di Kalimantan Barat yang bernama Habib Husain. Habib Husain ini berasal dari Negeri Hadralmaut-Yaman Selatan. Berdasarkan silsilahnya, Habib Husain ini merupakan keturunan Nabi Muhammad. Ketika di Kalimantan Barat, Habib Husain sempat menjadi ulama yang menyebarkan ilmu keislamannya di Kesultanan Matan dan Kesultanan Mempawah. Syarif Abdurrahman sendiri adalah putera dari perkawinannya dengan perempuan di Kesultanan Matan.

Beberapa kesultanan lainnya yang lebih dahulu didirikan di Kalimantan Barat di antaranya adalah: Kesultanan Tangjungpura, Kesultanan Matan, dan Kesultanan Sukadana di Kabupaten Ketapang (kini dimekarkan menjadi Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara), Kesultanan Sambas di Kabupaten Sambas, Kesultanan Mempawah dan Kesultanan Kubu di Kabupaten Pontianak, Kesultanan Landak di Kabupaten Landak, Kesultanan Sintang di Kabupaten Sintang, dan Kesultanan Sanggau di Kabupaten Sanggau. Walaupun didirikan paling akhir, namun karena letaknya yang strategis pada jalur perdagangan telah menjadikan Pontianak sebagai kota pelabuhan sekaligus sentra perdagangan dan sentra pemerintahan di Provinsi Kalimantan Barat.

Penduduknya yang heterogen telah menjadikan Pontianak sebagai kota yang kosmopolitan. Penduduk Pontianak rata-rata adalah penduduk pendatang, karena tadinya Pontianak hanyalah hutan belantara. Setelah berdirinya Kesultanan Pontianak, maka berdatanganlah orang-orang dari luar Kota Pontianak. Nama-nama kampung dan tempat yang ada di Pontianak menggambarkan asal daerah penduduk yang ada di tempat itu. Misalkan: Kampung Banjar Serasan menunjukkan bahwa penduduk yang ada di tempat itu berasal dari Banjarmasin dan Pulau Serasan. Kampung Bangka Belitung menunjukkan bahwa penduduk yang ada di tempat itu berasal dari Kepulauan Bangka Belitung. Kampung Tambelan Sampit menunjukkan penduduk yang ada di tempat itu berasal dari Pulau Tambelan di Kepulauan Riau dan Sampit di Kalimantan Tengah. Kampung Saigon menunjukkan penduduk yang ada di tempat itu berasal dari Saigon-Vietnam. Kampung Kamboja menunjukkan penduduknya berasal dari Negeri Kamboja. Dan beberapa kampung lainnya seperti Kampung Kuantan, Kampung Arab, Kampung Jawa, Kampung Bali, Siantan, dan Kampung Dalam Bugis. Beberapa nama tempat tersebut memang diakui berdasarkan kaitan daerah asal penduduk yang ada di kawasan tersebut. Namun apa yang telah saya tuliskan tersebut mungkin juga agak kurang valid, sehingga patut dilakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai asal daerah penduduk yang ada di kawasan-kawasan tersebut. Seperti penamaan beberapa kawasan mungkin saja bukan karena penduduk yang ada di kawasan tersebut berasal dari daerah yang kemudian dijadikan sebagai nama kawasan tersebut, karena mungkin saja ada hubungan lain, misalkan hubungan perdagangan di masa lalu di mana penduduk yang ada di tempat itu pernah berdagang atau berlayar ke suatu tempat, sehingga mereka menamakan kawasan tempat tinggal mereka berdasarkan tempat yang pernah mereka singgahi ketika melakukan pelayaran atau perdagangan tersebut. Atau mungkin juga ada hal-hal lainnya, sehingga terciptalah nama tersebut. Apa yang telah saya tuliskan di atas tak lebih hanyalah ingin menunjukkan heterogenitas Kota Pontianak. Penelitian yang mendalam lagi mengenai hal ini saya rasa begitu pentingnya.

Selain dikenal sebagai kota yang dibelah oleh sungai, Pontianak juga dikenal sebagai kota yang pas dilalui oleh garis khatulistiwa (equator) nol derajat. Sehingga Pontianak dijuluki sebagai Kota Khatulistiwa. Karena itu, cuaca di kota ini cukup panas dengan sinar mataharinya yang terik menyengat. Tempat berdirinya Tugu Khatulistiwa sebagai penanda ciri khas dan keunikan Kota Pontianak berada di wilayah Siantan Kecamatan Pontianak Utara. Di kawasan Tugu Khatulistiwa ini setiap tahunnya pada saat terjadinya peristiwa kulminasi matahari selalu rutin diadakan event budaya daerah, yaitu Festival Budaya Bumi Khatulistiwa

Mayoritas penduduk Kota Pontianak adalah Melayu dan Tionghoa. Karena merupakan kota pelabuhan, beberapa suku lainnya juga cukup banyak mendiami kota ini. Sedangkan Suku Dayak sebagai salah satu suku asli selain Melayu lebih banyak mendiami daerah-daerah hulu sungai dan pedalaman di Kalimantan Barat. Tapi kini juga tak dapat dipungkiri, bahwa Suku Dayak juga sudah cukup banyak mendiami daerah perkotaan seperti Pontianak.

Secara umum, bahasa pergaulan sehari-hari di Pontianak adalah Bahasa Melayu, yang juga dipergunakan secara luas di seluruh Kalimantan Barat. Hal ini membedakan Kalimantan Barat dengan tiga provinsi lainnya di Pulau Kalimantan, yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Di tiga provinsi tersebut, bahasa pergaulannya adalah Bahasa Banjar. Walaupun Bahasa Banjar masih termasuk rumpun Bahasa Melayu, namun tak dapat dipungkiri juga, bahwa terdapat perbedaan mendasar antara Bahasa Melayu dengan Bahasa Banjar.

Secara geografis, Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi yang berbatasan darat secara langsung dengan Malaysia Timur (Kalimantan Bagian Utara). Hal ini telah menjadikan Pontianak sebagai ibu kota Kalimantan Barat memiliki peranan strategis dalam hubungan antara dua negara serumpun (Indonesia dan Malaysia). Selain dengan Malaysia, Kalimantan Barat juga berhubungan erat dengan Negara Brunei Darussalam yang juga berada di Kalimantan Bagian Utara. Apalagi di masa lalu, beberapa kesultanan di Kalimantan Barat memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Kesultanan Brunei Darussalam.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, bahwa bagi yang sudah pernah berkunjung ke Kota Pontianak dan kemudian meminum air Sungai Kapuas, maka orang tersebut akan begitu sulit sekali untuk melupakan kota sungai yang begitu unik ini.

Berikut ini adalah bait terakhir dari lagu “Ae’ Kapuas” yang menggambarkan hal tersebut:

Sungai Kapuas punye ceghite, bile kite minom ae’nye

Walauponn pegi jaoh ke mane, sungguh susah nak ngelupa’kannye

Eee… Kapuas, eee … Kapuas [-,-]

Ciputat, 6 – 8 September 2007

6 Juni 2008 at 6:56 PM Tinggalkan komentar

Menyambut Lebaran di Pontianak dengan Letusan Meriam

Menyambut Lebaran di Pontianak dengan Letusan Meriam

Oleh: Hanafi Mohan

Eee … sampan laju, sampan laju daghi ile’ sampai ke ulu

Sungai Kapuas, sungguh panjang daghi dulo’ membelah kote

Itulah bait awal lagu daerah Pontianak yang berjudul “Ae’ Kapuas” yang menggambarkan Kota Pontianak yang begitu lekat dengan Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Pontianak adalah kota yang wilayahnya dipisahkan oleh Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak. Sungai-sungai tersebut cukup lebar dan dalam, sehingga bisa dilalui oleh kapal-kapal besar.

Pontianak adalah kesultanan terakhir yang berdiri di Kalimantan Barat pada abad ke-17. Didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri yang sekaligus menjadi Sultan pertama di Kesultanan Pontianak ketika itu. Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri adalah putera seorang ulama terkenal di Kalimantan Barat yang bernama Habib Husain. Habib Husain ini berasal dari Negeri Hadhralmaut-Yaman Selatan. Berdasarkan silsilahnya, Habib Husain ini merupakan keturunan Nabi Muhammad. Ketika di Kalimantan Barat, Habib Husain sempat menjadi ulama yang menyebarkan ilmu keislamannya di Kesultanan Matan dan Kesultanan Mempawah. Syarif Abdurrahman sendiri adalah putera dari perkawinannya dengan perempuan di Kesultanan Matan.

Dalam Bahasa Melayu, Pontianak artinya hantu kuntilanak. Penamaan ini sesuai dengan sejarah ketika berdirinya kota pesisir sungai ini dua abad yang silam. Konon ketika itu, pendiri kota ini yaitu Syarif Abdurrahman Al-Qadri, bersama-sama dengan rombongannya kemudian sampailah di kawasan Batulayang yang berada di wilayah utara Pontianak setelah melakukan perjalanan dari Mempawah untuk mencari daerah baru yang akan dijadikan kesultanan. Ketika sampai di Batulayang inilah, rombongan Syarif Abdurrahman Al-Qadri yang melakukan perjalanan dengan menggunakan kapal tiba-tiba mendapat gangguan dari makhluk halus sejenis hantu kuntilanak. Berdasarkan petunjuk yang didapat, Syarif Abdurrahman Al-Qadri kemudian memerintahkan kepada rombongannya untuk bermalam di Batulayang, karena daerah yang akan dituju sudah semakin dekat. Berdasarkan petunjuk yang didapat juga, Syarif Abdurrahman memerintahkan kepada rombongannya untuk menembakkan meriam, yang selain untuk mengusir gangguan hantu kuntilanak, juga sebagai penanda, bahwa di mana peluru meriam itu jatuh, maka di tempat itulah nantinya akan dibangun kesultanan.

Simpang tiga pertemuan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak adalah tempat jatuhnya peluru meriam yang ditembakkan tersebut. Kawasan tersebut kemudian dikenal dengan nama Kampung Beting yang termasuk di dalam wilayah Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Di kawasan inilah untuk pertama kalinya didirikan bangunan berupa masjid di Kota Pontianak yang ketika itu masih hutan belantara. Masjid yang merupakan bangunan pertama di kota ini kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman. Tak jauh dari Masjid Jami’ Kesultanan Pontianak tersebut kemudian didirikan Istana Qadriah sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak ketika itu. Hingga kini, kedua bangunan bersejarah di Kota Pontianak tersebut masih tetap kokoh berdiri.

Berkaitan dengan sejarah masa lalunya, menembakkan meriam menjadi tradisi tersendiri di Kota Pontianak ketika akan menyambut Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, serta ketika memperingati Hari Jadi Kota Pontianak. Tak jarang pula meriam dibunyikan ketika event-event budaya seperti Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) yang setiap tahun rutin dilaksanakan oleh pemerintahan daerah setempat. Bedanya, meriam yang menjadi tradisi masyarakat Kota Pontianak ini bukanlah terbuat dari besi dan berisikan mesiu, melainkan hanya meriam yang terbuat dari kayu log yang cukup panjang dan berdiameter agak besar (panjangnya 5 – 8 meter, dengan diameter 30 – 100 centimeter) dan berisikan karbit 3 – 5 ons sebagai pengganti mesiu yang kemudian disulut dengan api. Suara meriam karbit ini bisa menggelegar hingga mencapai radius 10 kilometer.

Meriam karbit, begitulah masyarakat Pontianak biasa menyebutnya. Merupakan tradisi unik yang ada Pontianak yang mungkin satu-satunya di Indonesia dan di dunia. Mengapa dikatakan unik? Di beberapa daerah mungkin saja terdapat tradisi serupa. Tapi sangat berbeda dengan tradisi meriam karbit yang ada di Kota Pontianak. Selain meriamnya berukuran besar, juga dibunyikan secara bergantian dan berhadap-hadapan antara kelompok yang ada di sisi sungai yang satu dengan kelompok yang ada di sisi sungai yang berseberangan. Dan ini bukan hanya satu dua kelompok, namun bisa mencapai puluhan kelompok yang berada di sepanjang pesisir Sungai Kapuas Kecil secara berhadap-hadapan seperti layaknya peperangan. Satu kelompok bisa memiliki 3 hingga 8 meriam karbit. Sehingga dapat dibayangkan keadaan Kota Pontianak ketika menyambut Hari Raya Idul Fitri, gegap-gempita dengan suara meriam yang menggelegar bersahut-sahutan bagaikan berada di dalam sebuah kota yang sedang dilanda peperangan. Bagi sebagian orang yang tak terbiasa, suara bising tersebut mungkin akan sangat mengganggu. Tapi lain lagi bagi kebanyakan masyarakat Kota Pontianak. Meriam karbit merupakan tradisi yang sudah mendarah daging bagi mereka, yang tak setiap hari dapat ditemui. Dulu tradisi ini pernah dilarang oleh polisi dan pemerintahan setempat. Bahkan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tradisi ini akan ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Baru dalam sekitar 13 tahun terakhir ini masyarakat Pontianak bisa melakukan tradisi mereka yang unik ini dengan leluasa tanpa adanya larangan dari polisi dan pemerintahan setempat.

Selain tradisi meriam karbit, di Kota Pontianak hingga kini juga terus hidup tradisi-tradisi lainnya berupa kesenian daerah dengan corak budaya Melayunya yang begitu kental, seperti Zikir Hadrah, Tari Zapin, Pantun, Syair, dan Tanjidor, serta tradisi Melayu pada upacara kelahiran, khitanan, khataman Al-Qur’an, pertunangan, pernikahan, dan kematian. Selain budaya dan tradisi Melayu, di Pontianak juga hidup dan berkembang budaya dan tradisi Tionghoa, seperti Barongsai, Cap Go Meh, dan Atraksi Naga. Selain itu, Kota Pontianak hingga kini juga masih memiliki tempat-tempat bersejarah, seperti Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrarahman, Istana Qadriah, dan Makam Keluarga Kesultanan Pontianak (dikenal dengan sebutan Makam Batulayang). Selain itu juga terdapat Taman Alun-alun Kapuas, Kawasan Kampung Beting, Museum Negeri, Duplikat Rumah Adat, Taman Agrowisata, Jembatan Kapuas, dan Jembatan Landak, serta Tugu Khatulistiwa yang merupakan ikon Kota Pontianak yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. [-Han-]

Ciputat, 6 – 8 September 2007

6 Juni 2008 at 6:49 PM 4 komentar

Seni Budaya yang Menawan

Seni Budaya yang Menawan

Oleh: Hanafi Mohan

Seni budaya Kota Pontianak juga begitu menawan. Ada Zikir Hadrah yang memukau, Tari Jepin yang bersemangat, Syair yang penuh kesyahduan, Pantun dengan sejuta pesona, Tanjidor yang memadukan musik tradisional dan modern, pesta perkawinan yang semarak dengan nilai-nilai agung tradisi, Senandung Melayu, Irama Joged dan Dondang yang begitu indah, Ghazal, Burdah, dan Barzanji yang penuh dengan nilai-nilai religius, dan masih banyak lagi pesona budaya yang hidup di kota ini.

Belum lagi kesemarakan lain yang ditampilkan oleh warga keturunan Tionghoa dengan barongsai dan atraksi naganya. Orang Dayak dengan tariannya yang menyimpan berjuta pesona.

Semuanya berkelindaan dalam harmonisasi seni budaya yang begitu anggun dan memendarkan cahaya keagungan. []

2 Juni 2008 at 8:34 AM 2 komentar


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 410,699 hits
Mei 2017
S S R K J S M
« Jun    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: